Diperkenalkan Sebagai Calon Istri

1022 Kata
"Nona, kau begitu cantik. Tidak salah tuan muda menjadikan Nona calon istrinya." Hahahaha! Ingin Salwa tertawa keras di depan bibi Marimar yang saat ini sedang membentuk rambut panjangnya dengan alat hairstylist. Apa yang ada di dalam pikiranmu, Bibi? Salwa sama sekali tak menginginkan pernikahan yang akan segera berlangsung nanti. Lihatlah, apakah ia nampak bahagia? Setiap harinya bagi Salwa adalah duku nestapa. Seringnya ia mendapat perlakuan kasar dari Kaisar semakin menambah daftar duka di dalam hatinya. Dan bibi Marimar berkata dengan begitu yakin bahwa Salwa akan bahagia hidup dengan lelaki kejam itu! "Aku hanya berharap bisa segera memberikannya anak, Bi." Semakin lebar senyum Marimar mendengarnya. "Tentu saja, Nona. Seluruh keluarga besar akan menyambut hal itu nanti dengan suka cita. Penerus tuan besar sudah sepantasnya lahir. "Itu artinya, aku juga akan cepat pergi dari rumah ini, Bi," sambung Salwa membuat wajah kepala pelayan perempuan itu langsung hilang senyumnya secara perlahan. "Nona, tidak boleh berkata seperti itu. Nona Salwa dan tuan Kaisar pasti akan hidup bahagia dengan anak-anak kalian nanti yang pasti lucu." Apalagi ini Bibi? Anganmu terlalu tinggi, sedangkan aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Salwa jadi mengeluh dalam hati. Namun, melihat binar bahagia pelayan itu, ia tak mau lagi menyambung apapun. Salwa kini menatap cermin dengan pantulan dirinya sendiri yang begitu cantik. Salwa hanya bisa meratapi masa mudanya yang harus terkurung di dalam istana milik Kaisar. "Bibi, aku sangat merindukan ayah." Salwa tertunduk dengan airmata yang hampir saja menetes. Bibi Marimar meletakkan kembali alat stylish. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Salwa berusaha untuk menenangkan. "Suatu saat, Nona akan mendapatkan kembali kebahagiaan Nona. Jadi untuk sekarang, bersabarlah menghadapi tingkah tuan muda. Nona hanya melihat sisi kerasnya seorang Kaisar, namun, kalau nanti Nona tahu, betapa rapuhnya tuan muda kami itu, Nona tidak akan pernah sanggup untuk meninggalkannya sendiri." Salwa menatap Marimar dari cermin, ada kesedihan tergambar dari wajah yang selalu tersenyum itu. Salwa tidak tahu apa yang Marimar maksud, yang ia tahu, Kaisar kejam kepadanya! Suara langkah kaki, lebih tepatnya langkah sepatu yang terdengar teratur mendekat. Salwa sudah bisa menebak siapa itu. "Cepatlah," titah Kaisar yang kini sudah berdiri di depan pintu. "Baik, Tuan. Aku akan segera turun." Bibi Marimar melepas Salwa untuk melangkah lalu turun mengikuti Kaisar yang sudah lebih dulu. Lelaki itu berjalan dengan cepat hingga Salwa kesulitan mengimbangi langkahnya. Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Salwa duduk di samping Kaisar yang sesekali melihatnya sinis dan tajam. Tatapannya serasa menguliti Salwa hidup-hidup. "Ingat, kalau ada yang bertanya siapa kau, katakan kau calon istriku." "Aku mengerti, Tuan." Diam lagi. Hening lagi. Kaisar dan Salwa akhirnya sampai di sebuah rumah megah bak istana pula. Beberapa petugas keamanan berjajar dan sibuk mengatur mobil tamu yang baru masuk ke dalam gerbang. Meski tak seluas rumah Kaisar, tapi Salwa yakin, si pemilik rumah ini adalah orang yang juga punya kedudukan penting. Ia juga pasti seorang pebisnis handal seperti Kaisar. Salwa seperti biasa, akan menggamit lengan Kaisar dan berjalan dengan tenang dan anggun di samping lelaki itu. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang sudah disulap menjadi tempat acara berlangsung. Orang-orang kaya dengan jas-jas mahal mereka memenuhi ruangan. Para perempuan cantik yang mendampingi. Salwa sendiri sangsi itu benar-benar pasangan asli mereka. Para orang kaya seperti mereka biasanya lebih suka membawa simpanan untuk menemani mereka ketimbang istri sendiri. "Kaisar, kau sangat gagah." Seorang perempuan cantik dan seksi menatap Kaisar penuh arti kala mereka tak sengaja berpapasan. Kaisar hanya tersenyum, berbasa basi sebentar lalu sempat terlihat pula, perempuan itu menatap Salwa penuh tanda tanya. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya Safira. Dari rekan bisnis kita yang lain, aku mendengar berita itu. Aku tentu sangat berduka." Dengan penuh simpati, perempuan itu berkata. Salwa sendiri nampak tersengat hatinya setiap kali ada yang mengucapkan belasungkawa kepada Kaisar atas kematian Safira yang tak sengaja tertabrak oleh Kaisar itu. "Kai, aku juga sangat geram mendengar berita bahwa penabrak Safira melarikan diri. Benar-benar pengecut! Kalau aku jadi kau, mungkin aku sudah melemparnya dari gedung tinggi untuk membalas kematian calon istriku." Pria di samping perempuan itu berkata dengan geram, Kaisar hanya menarik segaris senyum tipis, apalagi saat ia menoleh dan melihat Salwa yang nampak pucat mendengar hal itu. "Yang sudah mati, tidak bisa kembali. Aku sudah mendapatkan penggantinya." Kaisar menunjuk Salwa yang masih berusaha tetap tenang. "Dia cantik sekali," kata lelaki itu. "Dia calon istriku." Hampir saja lelaki dan perempuan itu tersedak. Mungkin, mereka sama seperti orang lain, menganggap Kaisar begitu cepat melupakan dan menggantikan Safira dengan perempuan lain. Setelah berbasa basi singkat, Kaisar kembali berjalan, menjabat sapaan dari pebisnis lain dengan Salwa yang berusaha sebaik mungkin memainkan perannya, menebar senyum palsu kepada siapa saja yang memandang dan menyapa. "Tuan, aku ingin ke toilet." Salwa berbisik dengan pelan. "Pergilah, jangan lama dan cepat kembali." Kaisar nampaknya sibuk sekali meladeni beberapa orang yang yang mengajaknya berbincang. Salwa dilepaskan begitu saja. Salwa segera mencari toilet karena ia memang sudah tidak tahan lagi untuk menuntaskan hasrat ingin buang air kecilnya. Gaunnya sedikit membuatnya kesusahan berjalan cepat hingga ia tak sengaja menabrak seseorang. "Maaf, aku tak sengaja." Salwa membungkukkan badannya sesaat lalu menatap seseorang di depannya. Seorang lelaki tampan dengan kemeja dan jas yang membuatnya semakin memikat. "Toilet?" tanya lelaki itu. "Ya, aku mencarinya kemana-mana." "Di sebelah sana, Nona. " "Oh, terima kasih Tuan. Beruntung aku bertemu denganmu." Salwa segera pergi menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh lelaki itu. Sedang lelaki itu juga segera berlalu ke depan, ke tempat acara berlangsung. Sekembalinya Salwa dari toilet, ia tertegun melihat Kaisar sedang berbincang hangat dengan lelaki tadi. Ia segera mengambil posisi di samping Kaisar, takut Kaisar akan murka jika ia terlambat kembali di sampingnya. "Nona?" Lelaki itu menyapa, Salwa hanya memberikan senyum manisnya. "Dia calon istriku, Mark." "Oh. Dia sangat cantik, Kai," puji lelaki itu. Kaisar tak menimpali lagi. Ia asyik berbincang dengan Mark juga para pebisnis lain. Salwa hanya mengekor kemanapun Kaisar melangkah. Salwa bisa merasa lelaki bernama Mark itu sesekali mencuri pandang kepadanya. Beberapa kali pula senyum manis lelaki itu terulas untuknya. Salwa membalasnya ragu, tentu saja tak terlihat oleh Kaisar senyum Salwa untuk lelaki itu. Namun, beberapa kali Kaisar menoleh ke arahnya, seolah tahu apa yang sedang dilakukan Salwa, membalas senyuman lelaki lain diam-diam dan itu adalah sebuah pelanggaran baginya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN