Salwa sedang menjemur baju kala ia mendengar suara klakson mobil tepat di depan istana indah milik Kaisar. Awalnya, Salwa tak mau dan tak tertarik melongo ke bawah, melihat siapa kiranya yang datang. Sebab, suara klakson mobil terdengar semakin nyaring.
"Aku sedari tadi membunyikan klakson tidak ada satu pun petugas keamanan yang segera datang!" Suara itu terdengar memaki seorang petugas keamanan yang baru saja datang.
"Maaf, Nyonya Merry. Tadi ada sedikit masalah di belakang."
"Alasan saja! Cepat susun rapi mobilku di garasi!"
Salwa yang berada tepat di atas balkon khusus menjemur pakaian jadi tahu siapa yang marah-marah itu. Ia tak habis pikir, bagaimana tidak ada kerjaannya ibu tiri Kaisar itu. Tinggal meneruskan sedikit saja jalan mobilnya maka ia akan sampai di garasi. Nampaknya, perempuan itu sudah kehabisan akal, apa mungkin di otaknya hanya ada kekuasaan sehingga ia bisa semena-mena dengan orang lain.
Salwa meneruskan kegiatannya menjemur baju, tapi, tak sengaja pula, ibu tiri Kaisar yang muda itu melihatnya. Keduanya jadi bertatapan. Ia tersenyum sinis. Salwa tak mau menggubris perempuan itu. Ia lebih memilih meneruskan pekerjaannya, menjemur pakaian hingga selesai.
Merry sendiri sudah terlihat memasuki rumah megah Kaisar. Salwa yakin, para pelayan mungkin sudah berjejer dengan terpaksa untuk menyambut kedatangannya yang tidak jelas ada kepentingan apa itu.
"Aku ingin ke ruang kerja Kaisar, Marimar," katanya dengan begitu yakin kepada kepala pelayan.
"Maaf Nyonya, kunci ruangan itu ada di tangan ketua. Tuan Kaisar tidak mengizinkan orang lain masuk selain ketua dan dirinya saja." Marimar berkata dengan tenang serasa menunduk hormat.
"Kau pasti mengada-ada, Marimar. Aku ini ibu tiri Kaisar. Harusnya aku berhak memasuki ruang mana saja di rumah ini."
Bibi Marimar mengikut langkah Merry yang bergerak menuju ruang pribadi Kaisar itu. Marimar hanya menggeleng kecil melihat kelakukan istri tuan besar.
Terlihat Merry menggerak-gerakkan gagang pintu. Ekspresinya kesal dan sebal setengah mati.
"s**t!" Ia mengumpat.
Lalu ia berjalan kembali, menuju balkon tempat dimana Salwa saat ini sedang berkegiatan. Ia mendekat kepada Salwa yang tak berkata apapun meski ia sudah menyadari kedatangan Merry di belakangnya.
"Kau memang lebih pantas menjadi pelayan!" cacinya tiba-tiba.
Salwa diam saja, malas menanggapi perempuan itu. Ia tak ada urusan dengan siapapun di rumah itu selain dengan Kaisar. Urusannya dengan Kaisar juga bukan tentang kenyamanan. Salwa terpaksa berada di rumah besar bak istana milik Kaisar yang kejam.
"Hei, kau tuli?!" Merasa tak digubris, akhirnya Merry kembali bersuara. Salwa menghentikan gerakannya bertepatan dengan kain terakhir yang kini sudah berkibar tertiup angin secara perlahan.
"Aku tidak ada urusan dengan Nyonya," jawab Salwa tenang. Bibi Marimar tersenyum kecil di belakang Merry karena melihat Salwa yang begitu tenang dan berani kepada istri tuan besar yang kurang aja itu.
"Aku adalah ibu tiri Kaisar! Aku nyonya besar! Kau bisa aku tendang dari rumah ini hanya dengan sekali bisikkan kepada suamiku!"
Salwa tersenyum singkat. "Nampaknya aku memang membutuhkan itu, Nyonya. Aku akan sangat bersyukur bisa keluar dari rumah ini tanpa susah payah!"
Salwa berjalan menjauh, Merry mencengkram lengannya. Lalu membisikkan kata-kata, "jangan pernah berpikir bisa mendapatkan Kaisar dengan begitu mudah! Aku tidak akan membiarkan itu."
Sekian detik, Salwa diam. Merry masih mencengkram lengannya kuat.
"Siapa yang mengizinkanmu melakukan itu kepada calon istriku?!"
Suara itu membuat Salwa juga Merry tersentak. Refleks, Merry melepaskan cengkraman tangannya. Ia menolehkan kepala. Dilihatnya, Kaisar sedang berdiri memandangnya tajam dengan asisten setia yang selalu berdiri di belakangnya.
"Ehmmmm ... Kai, aku hanya ingin mengambil beberapa berkas karena ayahmu memintaku mengambilnya tadi. Tadinya aku ingin menunggu di dalam ruangan pribadimu ..."
"Tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke sana selain orang yang aku kehendaki! Lagipula, apa ayahku lupa dia punya asisten yang bisa datang ke sini!"
"Aku yang berinisiatif untuk mengambilnya, Kai, aku ..."
"Terserah, tunggu saja di ruang tamu. dan kau, pergi ke kamarmu. Aku tidak memintamu menjemur pakaian seperti ini!" Kaisar memandang Salwa yang hanya bisa mengerutkan dahi. Bukannya, lelaki itulah yang memerintahkan ia menjadi pelayan di rumah itu.
Dasar aneh!
Salwa hanya mengangguk, ia segera berjalan menjauh. Bisa ia lihat lewat sudut matanya, Merry memandangnya dengan sorot tak suka.
"Steve, ambilkan berkasnya. Aku akan menemui gadis itu di kamarnya."
Semakin nyalang mata Merry mendengarnya. Kaisar berlalu begitu saja. Ia mengepalkan jemari. Sedari awal melihat Kaisar, ia memang sudah menyukai anak tirinya itu. Menjadi istri tuan Mahendra tentu hanya untuk menjamin kehidupannya yang sempat susah dahulu. Kaisar sendiri tak habis pikir, kenapa ayahnya malah menikahi perempuan liar dan nakal seperti Merry? Perempuan penggoda yang kerap menggodanya lewat sorotan mata juga gerakan sensual di depannya. Hal itu justru membuat Kaisar jadi semakin jijik melihat perempuan itu.
Salwa baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya ketika ia melihat Kaisar duduk di sofa kamar itu. Lelaki tampan yang kancing bajunya dibiarkan terbuka beberapa hingga bulu dadanya terlihat itu sedang menatapnya.
"Tuan, aku ingin berganti pakaian." Salwa menunduk.
"Gantilah di depanku."
Salwa menggeleng cepat. Kaisar mendekatinya. Salwa mundur ke belakang. Sampai akhirnya ia terpojok dan tak bisa mundur lagi.
Kaisar tak melakukan apapun, tapi, lelaki itu memandangnya dengan begitu lekat. Salwa jadi berdebar-debar.
"Kalau ada dia, lepaskan semua pekerjaan rumah! Aku tidak mau perempuan jalang itu menghina calon istriku. Itu sama saja menghinaku!"
"Ba-baik, Tuan. Sekarang, biarkan aku berganti pakaian."
Kaisar tak langsung menjauhkan dirinya. Ia masih menundukkan kepalanya menatap Salwa intens. Jarak yang begitu dekat, hangat nafas Kaisar juga wangi tubuhnya yang maskulin, membuat Salwa bergidik sendiri. Lelaki itu begitu mendominasi.
Sekian waktu dengan Kai yang masih memojokkan Salwa di dinding, lelaki itu akhirnya melepaskan Salwa. Ia berbalik, menjauh. Salwa menarik nafas panjang sekaligus lega bersamaan. Ia yakin, kalau tak segera lepas dari Kaisar, ia bisa gila secara perlahan. Mentalnya bisa tertekan setiap hari.
Salwa bergegas mengganti pakaiannya. Namun, gerakannya terhenti ketika bibi Marimar datang membawa gaun indah.
"Mari, Nona, perias akan mendandani Nona Salwa."
"Aku?"
"Ya, Nona. Tuan akan membawa Nona ke acara pesta teman bisnisnya."
Salwa menarik nafas panjang lagi, nampaknya ia akan bersandiwara lagi, untuk memainkan peran seorang puteri yang akan menghadiri sebuah pesta bersama pangeran tampan dengan menebar senyum palsu kepada setiap orang yang akan ia temui.
Apa Kaisar akan menciumnya lagi seperti saat di acara makan malam bersama keluarga besarnya seperti kemarin dulu?
Entahlah, Kaisar tak tertebak dan Salwa rasa ia akan mengidap penyakit serangan jantung mendadak jika Kai terus memperlakukannya seperti itu tanpa ia duga!