"Apa yang Tuan lakukan?!" Salwa memekik, kala sadar siapa yang sedang mengendus perutnya saat ini. Dress tidur itu tersingkap, kepala seseorang terlihat begitu dekat dengan perutnya. Oh tidak! Wajah itu bahkan sudah terasa begitu menempel di atas perutnya yang rata. Terasa hangat nafas lelaki itu memburu. b******n! Salwa mengutuk di dalam hati. Ternyata selain kejam, lelaki itu juga pria m***m!
"Diam! Aku tidak memintamu bertanya!" bentak Kaisar lalu ia mengangkat wajahnya. Salwa buru-buru menarik kaki hingga jadi menekuk.
"apa yang Tuan lakukan?! Apa kurang kerjaan sehingga mengendus aku seperti tadi?" Tak urung, emosi dan amarah Salwa meledak juga meski ia mengungkapkannya dengan suara gemetar.
Kaisar nampak menyeringai. Ia bangkit dari tempat tidur lalu bersidekap di depan d**a di samping ranjang Salwa.
"Aku sudah terbiasa melakukannya dengan Safira, bukannya kau adalah penebus nyawa bagi calon istriku yang sudah mati itu? Harusnya kau menyerahkan dirimu sepenuhnya untukku." Kaisar berkata dengan dingin.
Salwa menggeleng. Benar, benar dia yang telah mengakibatkan Salwa meninggal sehingga ia harus rela menggantikan sosok Safira untuk Kaisar.
Tapi jelas ia dan Safira berbeda. Ia tidak mungkin bisa menduplikat Safira seratus persen termasuk semua kebiasaan perempuan itu yang sering bergumul di atas ranjang bersama Kaisar selama ini. Jelas, Salwa tidak bisa melakukannya.
"Aku tidak akan melakukannya, Tuan, sebelum aku menikah." Salwa menunduk, berharap Kaisar mengerti.
Lelaki itu mencengkram dagu Salwa kuat, hingga Salwa jadi meringis kesakitan. Satu telapak tangan Kaisar yang lebar menangkup satu p******a Salwa yang terlindung dari balik dress tidur kemudian meremasnya.
"Akh!" Salwa tanpa sadar melenguh, antara sakit juga suatu perasaan lain yang belum pernah dirasakannya. Gelombang hantaran rasa nikmat berpadu dengan sakit juga harga diri yang mulai terinjak. Salwa menjerit. Kaisar menikmati wajah kesakitan bercampur nikmat yang berusaha ditahan itu dengan puas.
Kaisar melepaskannya, lebih tepatnya menghempaskan Salwa ke samping hingga gadis itu terjerembab di atas permukaan kasur empuk. Salwa tidak menangis meski harga dirinya terasa tercabik. Ini pelecehan! Namun, Salwa tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku bahkan yakin kau sudah tidak suci lagi!"
Setelah berkata seperti itu, Kaisar melenggang keluar. Salwa menatap pintu yang terbuka dengan sembilu menghujam tepat di jantungnya. Salwa menjatuhkan diri, merosot ke bawah tepatnya ke atas permadani di atas lantai kamar itu.
"Kau benar-benar b******n, Kaisar!" Salwa memukul bantal sekerasnya, apalagi saat ingat Kaisar meledek dirinya yang sudah tak suci lagi. Tentu saja Kaisar bicara asalan saja. Dia seratus persen masih perawan!
"Kau boleh saja memaksa aku menjadi Safira, tapi bukan berarti kau bebas menyamakan aku dan dia! Aku masih suci! Aku tidak seperti kalian yang melakukannya bebas meski tanpa ikatan!" Salwa meraung di tengah malam buta.
Ia lelah menangis kemudian jatuh tertidur.
*****
Di dalam kamarnya sendiri, saat ini Kaisar sedang berbaring. Ia teringat wajah lugu yang kadang menjadi garang ketika merasa tersakiti. Salwa. Tentu saja ia berbeda jauh dengan Safira.
Safira akan melakukan apapun yang Kaisar mau, bahkan setiap Kai menginginkan penyatuan, perempuan itu bersedia merangkak dan melayani Kaisar. Namun, berbeda dengan Salwa dan itu membuat Kaisar semakin geram saja.
"Berani sekali dia menolakku!" Kai mendengus.
Ia jadi melamun, untuk beberapa saat, wajah Salwa membayangi ingatannya. Ia bisa merasakan betapa kencang dan padatnya benda yang ia remas paksa tadi. Bahkan tubuh Salwa yang polos kini menghantui jejak malamnya.
Kaisar mendengus. Tidak! Ia benci Salwa! Bagaimanpun, gads itu sudah menghilangkan nyawa Safira. Gadis itu harus membayar semua hal yang sudah hilang dari hidupnya.
"Kau akan membayar mahal semua ini! Aku akan membuatmu bertekuk lutut, karena aku Kaisar! Kau hanya perempuan sialan yang sudah membuat kekasihku mati! Tepat beberapa hari sebelum kami akan menikah! Jadi kau harus menanggung akibatnya!" Kaisar memberontak dalam hati.
Meski ia menyadari, Salwa memiliki pesona tersendiri, tubuhnya yang indah bahkan jauh di atas Safira dulu. Tetap saja, lelaki itu benci kepadanya.
Seperti keesokan harinya ketika Salwa baru saja selesai mandi, ia menemukan Kaisar sudah rapi di atas meja makan.
Lelaki itu tidak menggubris kehadirannya. Salwa memilih membantu pekerjaan pembantu di dapur. Namun, buru-buru bibi Marimar melarangnya.
"Nona, tuan Kaisar sudah menunggu Nona."
"Biarkan aku di sini, Bi. Aku tidak bisa ke sana."
"Tuan akan marah, Nona."
Ketika sedang berdebat pelan dengan bibi Marimar, suara pecahan piring terdengar dari arah meja makan.
Bibi Marimar buru-buru pergi, ia segera menghadap tuan Kaisar dengan tenang.
"Panggil perempuan itu! Dia pikir dia tuan putri sehingga aku harus menunggunya begini!"
Bibi Marimar menarik nafas panjang kemudian membungkuk sesaat dan mengangguk cepat.
"Nona, pergilah, jangan sampai semua piring melayang lebih banyak."
"Maafkan aku, Bibi." Salwa menunduk, merasa tak enak sebab karena dirinya lah pelayan lain kerepotan. .
Akhirnya Salwa berjalan gontai menuju meja makan. Kaisar menatapnya berang.
"Maafkan aku, Tuan. Aku akan melayanimu."
Kaisar tidak berkata apapun, ia melihat Salwa yang dengan sedikit gemetar menuangkan nasi beserta lauk pauk ke piring lelaki itu.
"Berdiri di situ sampai aku selesai makan!"
"Baik, Tuan."
Salwa menarik nafas panjang. Ia tersiksa dengan sikap Kaisar tapi ia sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan.
Kaisar tetap saja seseorang yang berkuasa atas dirinya. Ia sendiri yang sudah menyerahkan diri untuk menjadi penebus nyawa juga penebus hutang ayahnya. Ia harus kuat.
"Siapkan dirimu, beberapa hari lagi kita akan menikah. Ingat, jangan mempermalukan aku."
Salwa diam. Kaisar menoleh lalu melengos lagi. Salwa menabahkan hati, ia hanya diam terpaku. Setelah Kaisar selesai dengan makannya. Ia memanggil Marimar.
"Biarkan dia bekerja, membantu pekerjaan pelayan mulai hari ini!"
"Tuan?" Bibi Marimar nampak tercengang.
"Bahkan selama dua puluh tahun mengabdi menjadi pembantu di rumah ini juga tidak akan membuatnya bisa mengembalikan hutang-hutang ayahnya!" sambung Kaisar lagi.
Salwa menunduk, ia menatap bibi Marimar, pandangannya mengisyaratkan bibi Marimar untuk mengiyakan saja. Kemudian, Kaisar melangkah, Steve datang membawakan jas kerjanya.
Salwa lalu membereskan meja makan dalam diam. Bibi Marimar menatapnya iba. Kali ini tak ada kata keluar dari mulutnya. Salwa sendiri membantu semua pekerjaan pelayan. Setidaknya hal itu telah biasa ia lakukan saat di rumah dulu.
Ketika malam, Salwa belum bisa tertidur, ia melihat Kaisar hendak masuk ke dalam mobilnya dari tirai jendela. Lelaki itu nampaknya akan pergi ke club malam. Hal biasa yang dilakukan pria kaya seperti dirinya.
Salwa tersentak ketika Kaisar menoleh lalu menatap tajam ke arahnya. Salwa segera menutup tirai. Kaisar seperti makhluk asing saja yang siap membunuhnya!