Gondok! Kesal! Marah!
Itulah hal yang sedang menguasai Salwa saat ini. Bekas ciuman paksa dari bibir lelaki kejam bernama Kaisar itu masih terasa di bibirnya sendiri. Salwa baru saja selesai mengenakan baju tidurnya. Hari memang sudah mulai gelap, segelap pandangan Salwa tentang Kaisar saat ini.
Berapa kali Salwa terlihat menarik nafas panjangnya. Pusing kepalanya menghadapi Kaisar yang mau menang sendiri. Ya sudah ya, Salwa hanya bisa mengeluh di dalam hati sebab mengeluh di depan Kaisar berarti cari mati.
Sebuah kebetulan saat Salwa sedang termenung memikirkan nasibnya yang sial, seseorang berdeham cukup kuat. Suaranya sampai menggetarkan jantung Salwa hingga ia menjadi deg-degan setengah mati. Suara yang kerap mengeluarkan kata-kata kasar bahkan sering menghinanya. Ah! Kenapa lelaki itu muncul lagi? Salwa jadi berdecak kesal dalam hatinya.
"Tuan Kaisar, maaf aku melamun." Salwa menundukkan sesaat kepalanya, memberi penghormatan kepada yang mulia Kaisar.
"Memang apa kerjaanmu selain melamun? Kau selalu melamun, pekerjaan tidak berguna!"
Salwa mengatupkan rahang mendengar nada jengkel dari Kaisar. Kemudian Kaisar maju, mendekati dirinya. Jantung Salwa rasanya mau loncat dari serabut-serabutnya.
Ya Tuhan, pria ini mau apa?! Salwa sudah berteriak dalam hati, apalagi menyadari Kai semakin dekat bahkan kini hanya berjengkal inci dari wajahnya.
"Apa yang Tuan mau?" Salwa bertanya dengan takut-takut sambil terus mundur ke belakang. Kai sendiri masih terus maju hingga Salwa jadi terpojok. Tatapan tajam itu begitu mendominasi. Kai bisa mencium harum tubuh Salwa yang baru selesai berendam dengan aromaterapi itu. Ia juga terbayang dua benda bulat menantang yang sempat dilihatnya sewaktu ia mencium paksa Salwa di bathtub beberapa saat yang lalu. Bahkan, Kai jadi membandingkan punya Salwa dan Safira. Salwa jelas lebih besar dan padat. Kai tiba-tiba merasa sesuatu bergejolak.
Sementara Salwa sendiri masih dihinggapi ketakutan. Kai lelaki penuh misteri yang bisa saja berbuat semaunya ketika ia menginginkan sesuatu.
"Turun, makan malam bersama!" titahnya kemudian.
Salwa menarik nafas lega sekaligus mendengus kesal di dalam hati. Dalam hatinya ia memaki, kenapa meminta turun untuk makan saja harus ada adegan begini!
"Kenapa diam? Kau tidak punya mulut?!"
Tersentak lagi Salwa. Buru-buru ia memberi perhatiannya kepada Kaisar agar lelaki itu tak marah.
"Iya, Tuan. Aku akan segera turun."
Lelaki itu membalikkan tubuhnya. Ia berjalan menjauh, meninggalkan Salwa yang masih berusaha mengatur nafasnya sendiri saat ini. Salwa menghembuskan nafas lega. Ia segera mengikuti langkah Kaisar yang sudah melenggang dengan tubuh tegapnya.
"Nona Salwa, silahkan menuju ke meja makan." Bibi Marimar menyambut Salwa di ujung tangga.
"Tidak usah disambut begitu, Marimar. Dia bukan Safira!"
Bibi Marimar hanya mengangguk patuh, ia juga menepuk pundak Salwa lembut berusaha menenangkan. Sorot matanya menyiratkan untuk memaklumi perilaku Kaisar. Salwa sendiri hanya bisa menyabarkan diri. Ia tahu diri, kehilangan Safira masih membuat Kaisar terguncang meski ia tampak santai. Dan dialah alasan kehilangan itu.
"Duduk, makan dengan teratur!" titah Kaisar lagi dengan Salwa yang sudah duduk di seberang. Salwa diam mematung, bingung harus melakukan apa dulu.
"Tuangkan makanan itu! Apa yang kau tunggu heh?!" Suara Kaisar meninggi melihat Salwa yang kebingungan. Salwa sendiri hanya bisa meremas erat ujung gaun tidurnya sebelum ia mulai melayani Kaisar. "Jangan terlalu banyak! Kau tidak
tahu aku anti makan nasi dalam porsi sebanyak ini?!"
Mana aku tahu! Aku bukan pengasuhmu! Salwa mendengus dongkol dalam hatinya.
"Maaf, Tuan Kaisar. Aku akan belajar banyak hal tentangmu." Sembari mengurangi porsi nasi menjadi lebih sedikit, Salwa juga menundukkan kepalanya.
Kemudian setelah selesai menuangkan nasi berikut lauk pauknya, Salwa menuangkan juga untuknya. Ia ingin segera selesai makan. Lebih cepat lebih baik.
"Heh kenapa kau makan seperti dikejar setan begitu?!"
Lagi, Salwa tersentak. Memang ia makan jadi lebih cepat demi segera pergi dari meja makan itu. Rupanya hal itu diperhatikan oleh Kaisar. Ya, setannya kau! Karena itu aku makan cepat! Lagi, Salwa merutuk dalam hati. Setelah itu, ia makan dengan perlahan.
Kaisar menyeringai singkat melihat Salwa yang kemudian makan dengan lebih pelan. Ia menikmati rasa takut yang sedang disaksikannya dari perempuan yang sudah mengobarkan rasa benci di hatinya.
"Aku sudah selesai, Tuan. Bolehkah aku ke kamarku?"
"Kamarmu?" Kaisar tertawa sinis.
"Ehmmmm, maaf, maksudku kamar bekas Safira."
"Hei! Jangan sebut namanya! Kau benar-benar tidak tahu diri!" Suara Kaisar tiba-tiba meninggi, bahkan sendok juga garpunya terlepas dari jari jemari.
Kemarahan nampak jelas dari matanya. Salwa merasakan jantungnya jadi berdegup kencang. Ya Tuhan, aku jadi serba salah! Salwa mengeluh dalam hati lagi. Ia bingung menghadapi Kaisar yang suka tiba-tiba meledak seperti ini.
"Tuan muda, ada telepon dari tuan besar."
Salwa menarik nafas lega ketika Steve, orang kepercayaan Kaisar datang membawa ponsel mahalnya. Perhatian Kaisar teralihkan. Ia juga menyudahi acara makan malam tak menyenangkan itu, meninggalkan Salwa sendiri. Salwa bergegas membereskan bekas makanan mereka tadi. Ia ingin secepatnya berada di dalam kamar bekas Safira.
"Nona, kembalilah ke kamar, biarkan pelayan yang membersihkannya." Bibi Marimar bergegas mengambil alih tapi Salwa menggeleng.
"Biarkan aku mencucinya, Bi."
"Jangan, Nona. Tuan Kaisar akan marah."
"Tapi ..."
"Kembalilah ke kamar, Nona. Beristirahatlah."
Salwa hampir menangis mendengarnya. Setidaknya, di rumah ini dengan Kaisar yang begitu kejam terhadap dirinya, Salwa masih bisa tersenyum karena bibi Marimar memperlakukannya dengan sangat baik.
"Terima kasih, Bibi. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan agar tuan Kaisar memaafkanku. Dia sangat membenciku, Bi." Salwa tertunduk.
"Aku mengerti, Nona. Biarkan saja, seriring berjalannya waktu, tuan Kaisar akan melunak."
Salwa mengangguk lesu, ia kemudian meninggalkan Marimar dan menuju tangga. Setelah membersihkan mulut dan mencuci muka di wastafel kamar luas itu, Salwa berbaring. Pandangannya mengarah ke langit-langit.
Entah apa kabar ayahnya. Ia tidak bisa menghubungi ayahnya sebab Kaisar menutup semua akses termasuk tidak mengizinkan Salwa menggunakan ponsel. Salwa jadi tidak sabar untuk berjumpa ayahnya dua minggu lagi.
Perlahan airmata gadis itu mengalir. Ia tidak mengerti, kenapa harus berada di posisi seperti ini. Kaisar memang tidak pernah berlaku kasar dengan fisiknya, setidaknya belum sampai saat ini. Namun, kata-kata juga sikap yang ditunjukkan Kaisar benar-benar bisa membunuh Salwa secara perlahan. Seperti hendak menghancurkan mental gadis itu dengan sengaja.
Memang mahal harga sebuah nyawa, tapi bukan berarti, ia pantas mendapatkan ini bukan? Ia tak sengaja menabrak calon istri Kaisar. Namun, apalah daya, Salwa kini bak sapi dicucuk hidungnya. Menurut adalah hal yang bisa dilakukannya.
Memikirkan Kaisar yang membuat Salwa serba salah, membuat Salwa jadi mengantuk. Namun, di tengah malam, ia merasakan tubuhnya berat, seperti ada yang menindih. Salwa membuka mata, melihat lelaki itu sedang bergerilya di atas tubuhnya sendiri!