"Nanti Bibi akan menemani aku?" tanya Salwa sambil menyisir rambut panjangnya. Bibi Marimar baru saja datang, membawakannya buah untuk Salwa nikmati di siang terik ini. Ia sendiri baru saja selesai mandi sebab sedari pagi, membantu beberapa pelayan berkebun di belakang sana.
Pagi tadi ketika Kaisar melangkah keluar ia melihat Salwa bersama para pelayan sedang bercengkrama. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menatap sebentar ke arah Salwa lalu pergi begitu saja.
"Tidak, Nona. Nanti akan ada supir mengantar Nona Salwa ke tempat di mana Nona akan mencoba gaun pengantin."
"Kenapa Bibi tidak temani aku?" Salwa gusar.
"Apa yang Nona takutkan? Di sana ada tuan muda."
Justru itu yang aku takutkan, Bi. Kau tak tahu saja, lelaki itu bahkan lebih dingin dari es batu di mesin pendingin sana.
Salwa jadi perang batin. Ia sedang gelisah. Entahlah, semenjak masuk dan berada di istana milik Kaisar itu, setiap hari bagi Salwa ada siksaan. Dipandang sedemikian tajam juga ditatap sedemikian benci oleh Kaisar menyiksa batin Salwa sendiri.
"Bibi, apa dia memang begitu?" tanya Salwa pada Marimar yang baru saja hendak keluar.
"Begitu apanya, Nona?" tanya bibi Marimar balik sambil menghentikan langkahnya.
"Ehmmmm ... tak apa, Bi. Lupakanlah."
"Nona, percayalah, suatu saat, tuan muda akan berubah. Ia hanya perlu menyesuaikan diri karena kematian nona Safira kemarin."
Ya, tapi aku yang sudah menabrak kekasihnya, sampai perempuan itu meninggal. Hingga Kaisar membenciku setengah mati.
Salwa hanya bisa mengatupkan rahangnya setelah itu. Ia juga tidak mau bertanya ini itu lagi. Gadis itu terduduk lemas. Beberapa saat kemudian, Marimar kembali masuk.
"Nona, bersiap dan turunlah, supir sudah menunggu."
Salwa mengangguk sembari menarik nafas panjang. Ia segera turun menuju supir yang sudah disiapkan. Kaisar sendiri sudah menunggunya. Setibanya di tempat mencoba gaun pengantin, Salwa malah mendapat semburan kata-kata kasar dari lelaki itu.
"Kenapa kau lama sekali?! Kau pikir dirimu seorang putri hingga aku harus menunggumu selama ini?!"
Salwa menggigit bibirnya. Ia menahan sesak di d**a.
"Maaf, Tuan." Salwa menunduk. Lagipula kalau mau menyalahkan kenapa tidak menyalahkan supir yang lama menjemputnya? Atau kalau memang tidak mau menunggu lama, bukannya Kaisar bisa menelepon dirinya agar ia bisa menyusul dengan naik taksi atau angkutan umum lainnya.
"Aku paling tidak suka menunggu!"
Ya jadi sekarang aku harus bagaimana? Menjilat sepatumu agar kau tak marah lagi?!
Salwa mendengus gondok di dalam hatinya. Sedang Kaisar sudah melangkah ke dalam. Lalu ia keluar lagi, dengan raut dongkol yang nampaknya sengaja dipertontonkan, ia berdecak kesal.
"Tunggu apa lagi?! Mau sampai kering di sana?!
Salwa tersentak antara kesal juga kaget. Ia segera mengikuti langkah Kaisar. Lelaki itu menunjuk seorang pelayan yang segera melayani Salwa. Pelayan itu nampak takut-takut pula, takut nanti kena marah juga oleh lelaki kaya yang dihormati itu.
"Mari, Nona. Kami sudah meyiapkan gaun pengantin yang indah untuk Nona."
Salwa mengikuti langkah sang pelayan. Kaisar sendiri duduk di
depan, menunggu Salwa yang sedang mencoba gaun itu. Tak berapa lama kemudian, Salwa kembali keluar. Untuk sesaat Kaisar tertegun. Salwa sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih yang begitu pas di tubuh indahnya.
"Bagaimana, Tuan?"
"Bagus, setidaknya dia punya bentuk tubuh yang tidak akan membuatku malu di pelaminan nanti."
Hati salwa jadi melengos, ia hanya memandang kosong pada dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Ia memang cantik sekali. Gaun putih itu melambangkan sesuatu yang suci, dalam hal ini harusnya pernikahan. Namun, sayang sekali, pernikahan mereka tak seputih gaun pengantinnya. Penuh noda juga intrik dan hanya demi kepentingan pribadi tuan muda Kaisar Devano Mahendra.
Kaisar kemudian keluar dari ruangan, ia pergi dengan mobilnya meninggalkan Salwa yang mematung dalam sesak dadanya sendiri. Kaisar seolah sedang menunjukkan kebencian yang begitu nyata untuknya. Mungkin, Kaisar terkenang sosok Safira yang juga pernah mencoba gaun itu beberapa minggu yang lalu. Salwa menunduk, tiba-tiba saja ingin menangis. Ia segera meminta pelayan membuka gaun itu. Tak pantas rasanya memakai sesuatu yang indah dan suci itu terlalu lama. Salwa jadi merasa iba pada dirinya sendiri.
***
Salwa pulang dengan wajah lesu. Dibentak-bentak di depan pelayan wedding organizer membuatnya ingin berteriak di telinga Kaisar. Biar sekalian lelaki kejam itu budeg! Tapi, Salwa belum punya keberanian untuk itu. Bayangkan saja, setiap ia berpapasan dengan Kaisar, nyalinya malah menciut. Apalagi terkenang dosanya yang mengakibatkan Safira meninggal.
"Nona Salwa." Bibi Marimar datang dari belakang, menyambutnya dengan senyum. Salwa hanya tersenyum kecut.
"Bibi mengagetkan aku saja."
"Bagaimana hari ini, Nona? Pasti menyenangkan bisa mencoba gaun pengantin dan saling memuji dengan tuan muda."
What?
Apa bibi Marimar melihat ia yang sumringah? Apa yang menyenangkan dari tingkah Kaisar yang begitu tak berperasaan kepadanya siang tadi? Ia malu. Mencoba gaun pengantin rasanya seperti sedang mencoba gaun penuh duri yang membuat Salwa terluka di sana sini.
"Hari ini ... tak menyenangkan, Bibi." Akhirnya Salwa jujur daripada ia memendam rasa sakit sendirian.
Bibi Marimar tersenyum, lalu mengajak Salwa untuk naik ke atas.
"Maklumi saja tuan muda, Nona. Dia memang sedikit sensitif terhadap orang baru yang hadir di dalam hidupnya. Tapi, saya percaya, suatu saat, tuan muda akan menggilai Nona lebih dari apapun."
Semakin masam senyum Salwa mendengarnya. Kenapa kepala pelayan perempuan itu yakin sekali dengan perkataannya yang Salwa rasa mustahil?
"Iya Bibi, suatu keajaiban tuan Kaisar akan berbaik hati kepadaku nanti yang sudah membuat calon istrinya meninggal."
"Nona, bersabar lah, meluluhkan hati lelaki yang tengah berduka memang tidak mudah. Tapi, saya yakin Tuan Kaisar akan berubah seiring berjalannya waktu. Percayalah, Nona, dia sebenarnya sangat baik."
Salwa akhirnya menganggukkan kepala, sudahlah, membicarakan Kaisar hanya akan membuat kepala Salwa berdenyut ngilu.
"Nona mau berendam?" tanya pelayan itu.
"Boleh, Bi."
Ya, berendam mungkin bisa membuat Salwa lebih tenang. Padahal sebelum pergi mencoba gaun pengantin tadi, ia juga sudah mandi. Namun, nampaknya Salwa memang membutuhkan air untuk mendinginkan otak yang terasa mendidih.
Saat Salwa sedang berendam, ia mendengar derap langkah kaki memasuki kamarnya. Salwa menajamkan pendengarannya.
"Bibi?"
Tak ada jawaban. Salwa berusaha mengacuhkan, mungkin bibi Marimar sedang mengerjakan sesuatu di kamarnya. Ia kembali memejamkan mata, tapi saat ia membuka matanya, ia tersentak kaget. Dilihatnya lelaki yang membentaknya siang tadi sedang bersandar di dinding kamar mandi tak jauh darinya yang sedang berendam.
Salwa berusaha menutup tubuhnya dengan tangan walau busa yang banyak itu telah menutup sempurna bagian tubuh sensitifnya.
"Kenapa harus ditutupi?" tanya Kaisar dengan pandangan mengejek.
"Sebab, Tuan tidak berhak melihatnya." Salwa membuang wajahnya, tak mau menatap Kaisar yang menatapnya dengan sangar.
"Kau akan menjadi pengantinku. Bahkan kalau aku menginginkan tubuhmu saat ini juga, kau tidak bisa menolaknya."
Kaisar mendekat, mencengkram lengan Salwa yang dipenuhi busa membuat Salwa tersentak dan refleks menaikkan tubuhnya. Dua benda bulat itu menantang. Terlihat begitu indah di mata Kaisar yang sudah terbakar emosi sekaligus amarah.
Lelaki itu memegang kepala Salwa, sedikit menjambak rambutnya hingga Salwa mendongak ke atas. Lalu bibir Kaisar menelusuri leher jenjang itu perlahan. Salwa mencengkram bath up keras.
"Lepaskan aku, Tuan!" Salwa berontak tapi Kaisar menahan dirinya, membungkam bibir gadis itu beringas hingga Salwa hampir kehabisan nafas. Nafas Salwa tersengal, mengimbangi ciuman dengan diselingi gigitan kesal dan gemas bersamaan di bibirnya hingga terasa membengkak.
Kaisar melepaskan pagutannya dengan pandangan merendahkan. Salwa menahan mati-matian agar airmatanya tidak tumpah.
"Mahal bukan, harga sebuah nyawa?" tanya Kaisar dingin lalu pergi meninggalkan Salwa yang diam membisu di dalam bath up. Barulah setelah Kaisar menghilang dari kamarnya, tangis Salwa pecah.
"Aku juga tidak bermaksud membunuhnya, b******n!"
Salwa menggeram penuh amarah dan menangis sesegukan dengan tangan menangkup wajahnya. Ia terhina tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sebentar lagi setelah ia menjadi istri Kaisar, lelaki itu juga pasti akan semakin semena-mena terhadap dirinya. Kaisar juga rupanya sudah menyiapkan rencana-rencana gila untuk gadis itu. Salwa bergegas keluar dari kamar mandi setelah selesai menumpahkan kekesalannya sendiri.
Kepala Salwa pening, menghadapi Kaisar yang kejam dan gila membuatnya migrain seketika. Entah besok, mungkin dia bisa stroke!