Mertua Nakal

1344 Kata
Iringan mobil datang berduyun-duyun menuju sebuah rumah megah yang dihuni Mahendra dan istrinya. Kaisar menatap dingin rumah megah yang baginya tak memiliki ketenangan lagi apalagi semenjak sang ayah menikahi perempuan yang hanya berjengkal jari usia darinya itu. "Jangan banyak bicara saat sudah tiba di sana kelak." Memangnya aku mau bicara apa? Tapi Salwa hanya mengangguk pelan. Tentu saja sekarang ia harus mengikuti semua instruksi. Tentu saja ia juga tidak diperbolehkan memilih. Hidup Salwa hanyalah sebatas menjawab iya untuk Kaisar. "Kenapa kau diam?" "Eh, iya, Tuan Kaisar aku mengerti maksudmu." "Bagus! Nanti di dalam kau akan melihat banyak manusia licik termasuk ibu tiriku. Abaikan dia, seperti aku yang muak melihatnya selama ini." "Baik, Tuan." Salwa tidak mau banyak bertanya mengenai silsilah keluarga Kaisar. Tidak pula mau tahu tentang ibu tirinya yang akan ia lihat rupanya malam ini. Mobil berhenti tepat di depan garasi panjang yang sudah berderet mobil mewah. Salwa tidak tahu seberapa kaya keluarga Mahendra ini, tapi melihat dari luar saja ia sudah bisa membayangkan dan menebak, bahwa harta ayahnya tak ada sekian persen dibanding keluarga Mahendra. "Ayo turun, bersikaplah anggun dan congkak malam ini, angkat dagumu ketika berjalan bersamaku. Aku ingin menunjukkan dirimu yang tinggi dibanding orang-orang k*****t yang nanti akan kita temui di dalam sana." Salwa menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa perkara sikap juga harus sedemikian diatur seperti ini? Salwa mulai tak nyaman. Untuk sekian detik ia jadi melamun setelah turun dari mobil mewah milik Kaisar. "Hei, apa yang tunggu. Gamit lenganku cepat!" Suara jengah penuh perintah itu membuat Salwa segera tersadar. Ia segera melangkah mendekat lalu mengalungkan satu lengannya melingkar di lengan Kaisar. Saat melakukan itu, hati Salwa jadi tak karuan. Kali terakhir ia mengalungkan lengannya adalah dengan mantannya terdahulu, lelaki yang sudah berselingkuh dan akhirnya membuat Salwa tak mau lagi berhubungan dengan lelaki sampai saat ini, setidaknya sampai hari ini dengan lelaki yang ia masuki hidupnya karena terpaksa-Kaisar. "Jangan tunjukkan kegugupanmu, aku bisa saja menciummu di depan semua orang malam ini." Suara pelan itu membuat Salwa terhenyak. Apa katanya? Menciumku? Dia sudah gila! Salwa jadi mendengus di dalam hati. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa berbuat banyak. Hanya inilah yang ia bisa. Menuruti semua perintah Kaisar, asal jangan bercinta di depan orang banyak saja! Kalau itu, Salwa akan berontak mati-matian. Membayangkan ia harus menikah dengan Kaisar yang kejam saja ia sekarang jadi gemetaran, apalagi kalau lelaki itu nekat melakukan hal gila seperti itu. "Kaisar, kau datang." Seorang perempuan muda menyambut kedatangan Kaisar dan Salwa di ruang tengah. Kaisar menepisnya, membuat Salwa mengerutkan dahi. "Sudahi basa basimu, Merry. Aku hanya ingin menghadiri acara ini tanpa banyak bicara." "Kaisar, kau lupa aku adalah ibumu sekarang? Atau kau menginginkan aku melakukan hal yang lain? Kita bisa bermain di kamar belakang, ayahmu tak akan ..." "Dasar murahan! Kau tidak melihat ada calon istriku di sampingku saat ini?!" Rahang Kaisar mengeras. Ia menatap ibu tirinya dengan tajam dan dingin. Salwa sendiri hanya bisa menatap keduanya dengan bingung. Oh, ini rupanya tampang ibu tiri yang tidak disukai oleh Kaisar. Memang benar nakal dan penggoda! Merry menghentikan aksinya merayu karena Mahendra menuju mereka saat ini. Ia juga sempat melemparkan pandangan sengit ke arah Salwa yang terlihat diam dan hanya memandang dirinya. "Lihatlah, murahan sekali dia!" desis Kaisar jengah. Salwa hanya diam saja dan mengikuti Kaisar ke ruang keluarga yang sudah disulap dengan meja makan besar dengan banyak anggota keluarga yang sudah berkumpul di sana. Semua orang memandang Salwa penuh tanda tanya. "Kai, bukannya Safira baru saja meninggal, kau sudah punya gandengan baru?" Salah satu di antara saudaranya yang hadir bertanya dengan menyudutkan. "Ya, yang mati tidak bisa hidup lagi. Aku sudah punya pengganti Safira." "Kau pasti tidak serius, Kai. Kami tahu kau begitu terpukul karena kepergian Safira." "Aku bahkan akan menikah dengan dia." Kaisar membuat semu orang bungkam. "Tidak percaya?" tanya Kaisar sambil menaikkan satu alisnya. Kaisar menghadapkan wajah Salwa ke wajahnya sendiri, lalu tanpa aba-aba, ia memagut bibir Salwa yang terkejut bukan main. Kaisar melakukannya tanpa malu sedikit pun di depan semua anggota keluarga besarnya. "KAISAR!" Suara Mahendra menggelegar. Kaisar melepaskan ciumannya dari bibir Salwa yang hanya bisa terdiam dan menahan sesak di d**a. Tapi, ia mencoba bersikap biasa, seolah itu bukan masalah. Tampak di seberang, ibu tiri Kaisar menatapnya tak suka. Kaisar lalu menarik kursi meminta Salwa duduk sementara ia sendiri duduk di sebelahnya. Salwa menenangkan jantungnya yang berdegup kencang sebab semua mata kini tertuju kepadanya. Acara makan malam apa ini?! Salwa hanya bisa mendengus di dalam hati. *** Acara makan malam penuh basa basi membuat Kaisar muak setengah mati. Nampak ayahnya berbincang penuh semangat dengan anggota keluarga lain yang menurut Kaisar tidak lebih dari para penjilat. Merry sendiri terus menatap Kaisar dari kejauhan. Kalau Salwa boleh menjabarkan, ibu tiri Kaisar itu seperti singa betina yang sedang birahi. Sekali waktu keduanya beradu pandang, Salwa menatap perempuan itu sama dinginnya. "Jangan lemah di depan keluargaku, kau harus bisa seperti Safira. Dia selalu berani." Tenggorokan Salwa rasanya jadi tercekat. Apa Kaisar sedang menduplikat Safira yang sudah meninggal ke dalam dirinya? Tentu saja Salwa dan Safira orang yang berbeda. Namun, lagi-lagi Salwa hanya mengangguk, apa yang ia bisa selain mematuhi semua perintah? "Kaisar, kapan kau akan menikahi gadis ini?" tanya Mahendra serius. "Secepatnya. Aku tidak akan menundanya lebih lama lagi. Dalam beberapa hari ke depan aku akan menikahi dia." "Kau sangat bernafsu, Kai." Kelakar itu hanya disambut Kaisar dengan tawa dingin. Salwa di sampingnya hanya diam saja. Makanan yang masuk ke tenggorokannya terasa hambar. Ia benar-benar buta mengenai kehidupan Kaisar beserta keluarganya. Bayangkan saja, ia adalah orang asing yang datang tiba-tiba karena satu insiden yang mengakibatkan Safira kehilangan nyawa dan membuat Salwa akhirnya harus menggantikan posisi Safira kemarin. Sebenarnya, sikap dingin dan arogansi yang ditampilkan oleh Kaisar membuat Salwa tidak betah sama sekali. Namun, Sekali lagi Salwa harus sadar diri, ia memang tidak diharapkan betah dan hidup nyaman, karena ia hanyalah penebus hutang dan penebus nyawa bagi Kaisar. "Kami akan kembali, pernikahan aku dan dia akan berlangsung tak lama lagi." Semua orang mengangguk. Kaisar meraih jemari Salwa lalu menggandengnya dan menyeretnya keluar. Salwa memandang pasrah dirinya yang seperti alat juga boneka bagi lelaki itu. Entah sampai kapan ia begini. "Masuk!" titah Kaisar kepada Salwa yang sudah dekat dengan mobil. Lelaki itu kembali dingin. Salwa menarik nafas panjang. Sepertinya ini akan berat baginya. Mobil kemudian berjalan pelan, Kaisar pandangannya sendiri menatap lurus ke depan. Salwa diabaikan seolah tak ada. "Tuan Kaisar," panggil Salwa lirih. Tak ada sahutan, Salwa jadi menarik nafas panjang lagi. "Apa yang mau kau bicarakan?" Salwa mengangkat wajahnya, akhirnya ada sahutan juga dari bongkahan es kutub utara di sampingnya itu. "Bolehkah aku menemui ayahku satu kali dalam satu minggunya?" Kaisar diam tak langsung menyahut. "Satu kali dalam dua minggu." Salwa mengatupkan rahang. Sungguh berat sekali. Salwa dan ayahnya sangat dekat, selama ini mereka sering menghabiskan waktu bersama, Salwa akan memasak, masakan kesukaan ayahnya jika ia di rumah. Ia akan membuatkan ayahnya kopi setiap pagi. Kini, Salwa harus menahan getirnya hati saat mendapati kenyataan ia dan ayahnya akan jarang bertemu. "Tuan, sampai kapan akan menahan aku?" Akhirnya dengan berani, Salwa menanyakan hal itu kepada Kaisar. Lain dengan tadi, kini tanggapan Kaisar langsung menoleh dan menatapnya. "Jangan berpikir untuk kabur," "Aku tidak berpikir seperti itu, Tuan. Tapi kau juga tidak bisa selamanya menahanku." Entah keberanian darimana, kata-kata pemberontakan itu meluncur begitu saja dari mulut Salwa. "Lahirkan anak untukku. Setelah anak itu berusia dua tahun, aku akan membebaskanmu untuk pergi." Salwa diam membisu, benarkah ia harus melakukan itu? Bagaimana mungkin ia akan melakukan hubungan badan dengan Kaisar yang membencinya? Demi anak? Apa ia akan sanggup meninggalkan anaknya kelak. Salwa menunduk, tapi ia juga tidak mau menjadi boneka bagi Kaisar selamanya. Kalau memang itu jalan yang ia punya untuk melepaskan diri dari lelaki yang membencinya itu, apa yang bisa ia perbuat selain mengiyakan. "Aku setuju, Tuan." Kaisar diam tak menyahut. Mereka sampai di depan rumah megah Kaisar. Salwa turun dengan susah payah dari mobil karena sepatu tingginya membuat ia kesulitan berjalan dan membuatnya cukup lelah. "Tidurlah, besok kau akan mencoba baju pengantin." Salwa mengangguk lemah. Tidak ada dipikirannya akan menikah secepat ini apalagi dengan lelaki yang sama sekali tidak mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN