bc

Mesmerize

book_age16+
207
IKUTI
1.7K
BACA
revenge
love-triangle
possessive
badboy
confident
drama
twisted
city
office/work place
first love
like
intro-logo
Uraian

Cais dan Cato adalah dua bersaudara yang menyukai wanita yang sama. Cais seorang dokter residen yang dijuluki malaikat, karena sikapnya yang lembut dan penyayang. Sedangkan, Cato seorang marketing perusahaan rokok yang dijuluki iblis. Karena memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan adiknya.

Indi, wanita itu, seharusnya dijodohkan pada Cais tapi dia menjatuhkan hatinya pada Cato, tidak peduli semua orang menasehatinya untuk tidak percaya begitu saja kepada pria itu. Mereka diam-diam menjalin hubungan bahkan Indi rela memberikan segalanya untuk Cato.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 Cato dan Cais
Indi menyeka keningnya, tidak mendapatkan kursi roda untuk membawa ibunya menuju ruangan dokter jantung. Sebulan yang lalu ibu nya melakukan operasi bypass di rumah sakit jantung terkenal di Jakarta, hanya saja mereka diperbolehkan melakukan check up di RSUD tempat tinggalnya. Ibu Indi menepuk bahunya, "Sudah jalan saja." "Tapi lumayan jauh bu, nanti ibu capek," kata Indi. "Ya pelan-pelan." "Ibu sih nggak mau check up di rumah sakit swasta saja, kita tidak perlu bolak-balik begini jadinya, bu." Mereka menggunakan layanan bpjs, untuk rawat inap sangat membantu sekali. Tapi untuk rawat jalan dan terapi sedikit repot, Indi harus bolak balik mengurus administrasi. "Sudah jangan mengeluh terus, kalau jalan sudah dari tadi sampai." Indi tersenyum, dia menggandeng lengan ibunya dan mereka berjalan menuju ruangan dokter jantung. "Ibu Laura. Bagaimana keadaannya?" Dokter bertanya. "Sudah baik, Dok." Dokter jantung di RSUD, bernama dr. Endang, seorang wanita seumuran ibunya, tapi bertubuh mungil dan sangat aktif. dr. Endang meresepkan obat, mereka menoleh ke arah pintu saat pintu ruangan diketuk. Sosok pemuda dengan jubah dokter muncul di sana, Indi melirik namanya. Residen. Indi pusing dengan istilah-istilah yang menempel di seragam putih milik dokter-dokter. Apalagi di rumah sakit ini, bahkan yang mengecek tensi ibunya adalah seorang co-as, tidak seperti waktu di Jakarta. Maklum saja rumah sakit kota mereka berafiliasi dengan fakultas kedokteran universitas ternama. "dr. Cais?" dr. Endang meliriknya. "Ada apa?" Cais? Kening Indi berkerut, dokter itu terlihat sangat ramah dan murah senyum. "Sedikit urusan pribadi, dokter." Pria yang dipanggil Cais tersenyum sumringah. "Ada apa? Saya sedang ada pasien," tanya dr. Endang lagi. "Justru ada urusan dengan pasien." Dia tertawa lagi, membuat Indi dan ibunya menatap heran. "Halo, Tante Laura." Pria itu malah menyapa ibunya. "Siapa ya?" Kening ibu Indi berkerut. "Ini Cais, memang jarang ketemu sih. Cais Astartalis." Seketika wajah Ibu Indi terperangah, "Cais? Anaknya Fatma?" Dia tersenyum dan mengangguk. Ibu Indi segera berdiri dan memeluk pemuda itu. "Astaga, sudah besar dan gagah begini. Sudah jadi dokter pula." Cais tersenyum lagi. "Ini sahabat mama saya, dok." Cais menjelaskan pada dr. Endang, membuat dokter itu mengangguk. "Tadi mama menelpon, katanya tante mau check-up ke sini, jadi buru-buru aku datang." "Astaga. Jadi merepotkan. " "Ya tidaklah." "Eh ini Indi, kamu masih ingat." Indi mengingat samar, dia menggeleng. "Sudah selesai? Dok, aku culik dulu ya pasiennya," kata Cais pada dokter Endang.  Dr. Endang mengangguk. Mereka keluar, "Duduk di kantin saja yang dekat. Kalau tempat makan lumayan jauh, nanti tante lelah." "Oke," sahut Indi cepat. Cais menatapnya, senyum terus tersungging di bibir dokter Cais. "Aku nebus obat dulu." Indi berkata. "Eh sini, biar aku minta tolong sama kolegaku saja. Kalau pake BPJS antrinya lama." Indi mengangguk, mengucapkan terima kasih. Mereka berjalan menuju kantin. Dokter Cais tampaknya disenangi oleh penghuni rumah sakit, sejak mereka jalan di lorong sampai di kantin. Tak henti-hentinya dia ditegur, dan insting Indi segera bekerja untuk mengetahui kalau dokter itu diidolakan. "Jadi bagaimana kabar mama kamu?" Ibu Indi bertanya. "Baik tante. Mama sedih karena sudah lama tidak bertemu dengan tante." "Sudah sangat lama, sejak menikah dengan papa kamu. Mama kamu sibuk sekali." Cais mengangguk-angguk. "Dan ... ini anak tante?" Dia menoleh pada Indi. Akhirnya dia dianggap juga, keluh Indi. "Baru sadar ada orang di sini?" Cais tampak terkejut mendengar kata-kata Indi. "Indi jangan judes ah, maaf ya Cais, anak tante galak. Tapi dia sebenarnya baik dan lembut." Ibu Indi tertawa, Indi menyeruput es jeruknya. "Tidak apa-apa tante. Oh iya, mama mengajak tante makan malam di rumah nanti malam." "Dalam rangka apa ya?" "Ulang tahunku." dr. Cais tertawa. "Wah! Hari ini kamu ulang tahun? Selamat ulang tahun ya. Apa ada semacam pesta?" "Tidak. Tidak ada acara, cuma kebetulan saja hari ini aku ulang tahun." "Indi, kamu mau nggak? Tante sekarang sulit pergi sendirian jadi harus tanya sama anak tante ini dulu, mau mendampingi atau tidak." Ibu Indi tertawa. "Terserah ibu saja." "Kalau begitu sampai bertemu nanti malam." dr. Cais menyungingkan senyum menawan. ***** Ibu Indi mencubitnya keras, "Nanti di sana kamu jangan galak. Coba kamu lembut sedikit, mana tau bisa pacaran sama dokter Cais. Liat tuh idola begitu." "Aku nggak tertarik sama dokter," kata Indi. "Banyak alasan saja kamu, emang ada yang mau dokter sama cewek judes macam kamu?" Ibu Indi tertawa. "Terlalu banyak godaan nanti, makan hati aja punya suami dokter. Belum perawat-perawat yang genit, belum lagi rekan sekerjanya. Takutnya doyan selingkuh sana sini." "Astaga Indi! Pantas aja kamu nggak nikah-nikah. Pandangan kamu sama pria itu begitu." "Jadi kita naik apa, bu? Apa panggil taxi online?" Mobil mereka sudah dijual untuk biaya operasi di Jakarta. Memang biaya rumah sakit ditanggung BPJS, hanya saja untuk sewa kontrakan, makan, dan lain-lain cukup menguras biaya juga. Apalagi Indi sudah resign dari pekerjaannya karena menemani ibu di rumah sakit, tinggal ayahnya saja yang masih bekerja. Ayahnya dosen di salah satu universitas swasta. "Ibu telepon Mas Maulana aja, minta antar dia." Maulana adalah sepupu Indi. Ternyata Mas Maulana sedang available untuk mengantar mereka, lumayan hemat, pikir Indi. Mas Maulana mengantar mereka ke rumah dokter Cais. Mereka disambut dokter Cais dan wanita sebaya ibu Indi. Itu pasti ibunya. "Fatma." "Laura." Mereka berpelukan bahkan ibu dokter Cais sampai menangis. "Ini Indi? Ayu sekali." Fatma memeluknya dan mencium pipi Indi. "Jangan tertipu penampilannya, dia ini judes, galak," kata ibu Indi tertawa. "Cais aja sampai kaget tadi." "Tidaklah tante, bagus itu. Ciri-ciri wanita modern." Cais nyeletuk. "Maksudnya kalau diam itu wanita kuno? Ucapanmu menyinggung Cais," tegur Fatma. "Aduh. Pria selalu salah di mata wanita," keluh Cais Mereka tertawa, termasuk Indi juga. "Ayo masuk." Fatma menggandeng tangan Ibu Indi. "Suamimu mana?" "Sedang di luar kota, dia sibuk sekali," jelas Fatma. Mereka duduk di meja makan dan menikmati hidangan. "Ayo sayang, makan yang banyak," kata Fatma pada Indi. "Terima kasih tante." "Malu-malu ya," goda Cais. "Dokter sudah bisa melawan sekarang?" ejek Indi. Mereka segera tertawa. "Jangan panggil dokter, kalian itu seumuran," kata Fatma. "Masa?" Indi bertanya lagi. "Iya, kan tante sama ibumu hamilnya barengan. Bahkan kami berniat menjodohkan kalian sejak masih di perut. Cais tersenyum dan melirik Indi, Indi tersenyum tipis. Terdengar suara seseorang mengucapkan salam. "Eh, itu anak tante yang pertama, abangnya Cais pulang." "Cato?" tanya Laura. "Masih ingat, Jeng?" "Tentu saja, kan aku ibu asuhnya sampai umur dua tahun," jawab Laura. Indi memandang pria yang baru masuk itu. Dia juga balas menatapnya, mereka bertatapan. "Cato sini. Makan malam bareng sama Tante Laura dan anaknya," panggil Fatma. "Nantilah ma, mandi dulu. Aku keringatan." Dia langsung menghilang. "Kerja apa dia sekarang?" tanya Laura. "Itulah pusing aku, dia marketing di pabrik rokok. Disuruh membantu papanya di perusahaan nggak mau." "Yah biar ajalah, yang penting senang," sahut Fatma. Tak lama kemudian pria bernama Cato itu kembali, rambutnya basah dia duduk di samping Indi. Menyalami Indi dan ibunya. Indi melirik, tangannya besar dan sedikit kasar, beda dengan tangan Cais. "Kamu ingat Tante Laura?" "Tentu saja ingat." Dia tersenyum. "Mama kan selalu menceritakan dia, tapi terakhir bertemu pas aku SMP ya? Udah lama banget. Sama Indi aku juga tau." "Iya, soalnya mamamu jarang mengajak kalian kalau reuni, apalagi mamamu jarang ikutan kumpul-kumpul arisan," sahut ibu Indi. "Kamu tau Indi?" "Ya, ingat dong. Waktu SMP itu kami bertemu. Dia cinta pertamaku." Cato tertawa, membuat wajah Indi memerah. Hanya saja Cais melihat seperti tak suka. "Indi masih SD dong," kata Fatma tertawa. "Haha ... aku cepat dewasa, Ma." Berbeda dengan Cais yang terlihat ramah dan murah senyum, Cato terlihat seperti hot guy di film-film. Jantung Indi saja berdebar terus sedari tadi saat melihat pria itu, apalagi suaranya berat dan serak. Indi dan Cais sebaya, sedang umur mereka dengan Cato terpaut dua tahun. "Hei." Cato memanggiknya, dia menyelipkan sesuatu ke tangan Indi. "Apa ini?" Kertas? Indi terperangah. "Call me." Cato menyeringai. "Seperti zaman dulu aja," ejek Indi. "Terus, apa aku menulis di tangan gitu?" Cato dan Indi mengobrol lama, "Oh jadi kamu ibu kos ya? Kebetulan aku cari kos." "Ibu kos apanya? Itu kos-kosan ibuku, aku cuma narik tagihan aja. Sesekali aku ambil sih uangnya." Indi tertawa. Dia malah asyik mengobrol berasama Cato, sedang Ibunya dan Tante Laura berbincang akrab di ruang lain. Cais mendatangi mereka, "Seru sekali obrolannya." "Nggak juga," jawab Indi. "Bang Cato memang banyak bahan, maklumlah marketing. Kerjanya jualan." Cais tersenyum. "Halah, dokter diam aja dok. Malam ini nggak ada pasien." Cato tertawa. "Cais dan Bang Cato beda sekali kepribadiannya." "Jangan percaya rayuannya, dia itu playboy," kata Cais. "Bohong. Ini saja lagi jomblo," balas Cato. Indi tertawa. "Padahal Indi sama aku tadi galak banget, sama Bang Cato jadi begini. Memang penakluk wanita," keluh Cais. "Hei! Jangan matikan kartu kamu." Setelah mulai larut mereka meninggalkan rumah Keluarga Astartalis, dijemput lagi oleh Mas Maulana. Cato segera kembali ke kamarnya, sedang Cais dan Fatma masih di teras rumah. "Ma, kenapa wanita selalu lebih menyukai Bang Cato ketimbang aku?" Fatma menatap anaknya, "Kenapa adek ngomong begitu sih?" Fatma selalu memanggil Cais adek dan Cato abang. Walaupun sekarang mereka sudah berumur. "Habis, liat aja tadi. Padahal aku dulu yang bertemu Indi. Tapi abang yang lebih cepat akrab dengannya." "Adek suka Indi ya? Cie..." Fatma menggodanya. Wajah Cais memerah. "Ya udah, nanti mama bilang sama Tante Laura untuk menjodohkan kalian ya, makanya adek jangan mau kalah dong. Ayo berjuang." Cais tertawa, "Beneran ya ma." Fatma menggandeng lengan anaknya dan masuk ke rumah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook