Mendengar ucapan Indi barusan, Cais malah tertawa. Dia seperti tidak peduli, terus melajukan mobilnya dengan tenang. Sebenarnya Indi mengetahui kenapa Cais bersikap demikian. Hanya saja ... "Kenapa kamu malah tertawa? Kamu tuh memang aneh, Cais." Indi merengut. "Terus aku harus menangis mendengar kata-kata kamu itu?" ejek Cais. "Setidaknya kamu harus bersimpati. Gimana? Katanya kamu bertanggung jawab terhadap ponakan kamu. Gimana kalau seandainya dia mendapat ayah tiri yang kejam." Sebenarnya Indi tidak tahan harus tertawa di saat situasi seperti ini, namun, mungkin benar apa yang Cais katakan. Mereka kadang harus tertawa agar tetap waras. Cais menggeleng, tersenyum simpul. "Solusi itu sangat mudah Indi. Aku kan udah menawarkannya padamu, tapi kamu yang menolaknya." Akhir-akhir ini,

