"Gavin?!" Iva memekik girang, tak percaya pada sosok yang tiba-tiba muncul dengan senyuman lebar, sembari menggeret koper cukup besar. Melempar asal majalah yang tengah dibacanya. Wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh bangkit dari sofa yang didudukinya, berderap cepat menuju putranya yang cukup lama tak bertemu, karena harus mengurus perusahaan cabang yang berada di luar kota. "Ya ampun," Gavin terkekeh, ketika tubuhnya terdorong ke belakang dan nyaris terjengkang. Andai saja tak segera menyeimbangkan tubuh. Usai mendapat pelukan penuh semangat dari Iva. "Kangen ya?" Bisiknya yang membuat Iva mengurai pelukan, sebelum kemudian menepuk gemas pundak putranya. "Ck! Masih perlu tanya? Kamu itu kelewatan, udah tau jarang pulang. Setidaknya rutin telepon Mama kek, biar nggak terus-terusan cem

