64. Mengais Harap

2063 Kata

Sesak itu menghantamnya secara telak. Entah untuk yang ke berapa kali Anin mengusap kasar buliran air mata yang jatuh ke pipi dengan punggung tangan. Menatap wajah wanita paruh baya yang masih setia memejamkan mata. Hal yang membuat Anin tiba-tiba terjemah perasaan takut yang mulai merongrong dengan liar. Mata itu, pasti akan kembali terbuka kan? Memberinya senyuman hangat. Hal yang menjadi penopang Anin untuk menjalani hidup seberat apa pun. Nyaris separuh hidupnya, Anin hanya bisa mencecap kasih sayang dari Ningrum. Sekali pun wanita itu bukan sosok yang sudah melahirkannya ke dunia. Tapi bagi Anin, beliau tak ubahnya ibu kedua. Hal serupa yang sering kali Ningrum katakan. Jika kehadiran Anin, bukanlah sebuah beban. Melainkan anugrah di tengah kehidupannya yang biasa berteman sepi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN