“Diam! Diam!”
Bintang menatap kakak kembarnya dengan hati teriris. Cewek itu terus saja menangis dan mencengkram kaus Revro, sementara tubuhnya yang gemetar dipeluk kuat oleh sang pacar. Bravo berlutut di samping ranjang Hikari, membuka selimut yang menutup seluruh tubuh hingga wajah itu dengan kasar. Dia bahkan memaki dokter dan suster yang berniat mencegah. Mereka saat ini ada di ruang ICU, di dekat Hikari yang sudah meninggal dunia.
“Bintang, diam!” perintah Bravo lagi dengan suara tegas namun pelan. Dia menggenggam erat tangan dingin Hikari, kemudian menatap sang kembaran di belakangnya itu dengan tatapan tajam. “Kenapa kamu nangis, sih? Hikari lagi tidur!” Bravo kemudian menatap Revro. Keningnya mengerut dalam. “
Lo juga! Kenapa ikutan nangis? Kalian kenapa, sih? Reffal, Bintang sama Revro kenapa nangis? Hikari lagi tidur, nanti dia keganggu!”
Sungguh, Bintang tidak tahan dengan pemandangan tersebut. Kakak kembarnya yang selalu bersikap tegas, kini berubah rapuh dan seperti kehilangan kewarasannya. Ini adalah bukti cinta Bravo yang besar dan kuat untuk Hikari.
Hikari yang bahkan tersenyum tipis di tidur panjangnya. Tidur abadinya.
“Brav,” panggil Reffal memberanikan diri. Jika tidak disadarkan, selamanya Bravo akan hidup dalam kepalsuan. “Hikari udah nggak ada!”
“Lo ngomong apa, sih?!” seru Bravo tidak senang. Dia kembali menatap wajah damai Hikari dan mengusap rambutnya lembut. “Nev,” panggil Bravo. Bahkan cowok itu menyebut nama kecil Hikari sekarang. “Mereka semua bilang lo udah nggak ada. Nggak logis banget, kan? Jelas-jelas, lo ada di sini, di depan gue.”
Kedua tangan Reffal mengepal kuat dan dia memalingkan wajah. Nama Reinhard muncul di benaknya dan Reffal bersumpah, dia tidak akan membiarkan cowok b******k itu lolos dari hukuman berat!
Karena Hikari tidak merespon, Bravo berhenti meracau. Cowok itu menunduk lantas menggeram tertahan. Sedih, marah, semua campur aduk di dalam hatinya. Minta dikeluarkan dalam bentuk teriakan, makian, umpatan atau apa pun yang bisa membuatnya merasa plong. Tapi, dia tidak bisa. Semua seolah tertahan di dalam dadanya, hingga menimbulkan sesak luar biasa di sana.
“Kenapa, Nev?” tanya Bravo dengan nada bergetar dan mata yang basah oleh air mata. Cowok itu menatap wajah Hikari lagi dan tersenyum pahit. “Kenapa lo tinggalin gue?”
Revro menuntun Bintang menuju Bravo dan Hikari. Tadi, Revro sempat bertemu dengan Haikal, ayah Hikari, saat beliau ingin menyelesaikan semua urusan adminstrasi. Pria itu nampak tegar dan berkata semua akan baik-baik saja. Tidak seperti Aurora, ibunda Hikari. Wanita itu berulang kali jatuh pingsan hingga akhirnya harus dirawat.
“Brav, Hikari nggak akan senang liat lo begini.” Revro meremas sebelah pundak Bravo yang kembali menggeram tertahan. Kejatuhan dan keterpurukan Bravo tergambar jelas. Seolah-olah, cowok itu ingin semua orang di dunia paham akan rasa sakitnya kehilangan seseorang yang begitu dia cintai. “Dia bakalan sedih.”
“Kenapa dia menyerah, Rev? Kenapa dia lebih milih untuk tidur dibandingin terjaga dan menyapa gue? Kenapa?”
Seandainya Revro tahu jawabannya...
“Gue... cinta... sama... dia....” Suara itu benar-benar menyayat hati, hingga Bintang memutuskan untuk berlutut dan memeluk tubuh sang kakak. “Walau sulit dipercaya, tapi, anak-anak yang waktu itu datang dari masa depan bikin gue yakin kalau gue akan bersatu selamanya sama Hikari, Rev.”
Meilin dan Zefran. Dua nama itu kini menyusup dalam otak dan hati Revro. Mempertanyakan kedatangan mereka waktu itu, yang katanya menggunakan mesin pembalik waktu. Dua anak kecil menggemaskan, cantik dan tampan, yang mengaku sebagai anak dari Hikari dan Bravo.
Apa... apa sekarang eksistensi kedua anak itu menghilang dari masa depan, seiring dengan meninggalnya Hikari?
Pintu ruang ICU itu mendadak terbuka. Revro menoleh, pun dengan Bintang dan Reffal. Ketiganya membeku saat dua remaja berbeda jenis kelamin, di mana si cowok memakai kacamata dan sangat mirip dengan Bravo, masuk ke dalam ruangan ICU. Keduanya tersenyum. Revro bahkan bisa melihat senyuman Hikari pada si cewek berambut indah di samping cowok berkacamata itu.
Jangan-jangan...
“Meilin? Zefran?”
Walau ragu, Revro mengikuti instingnya untuk mengucapkan nama-nama tersebut. Kedua remaja itu saling tatap dan kembali menatap Revro, Bintang juga Reffal yang sudah bergabung bersama saudara sepupunya itu.
“Halo, Om Revro.” Si cewek menyapa Revro, membuat cowok itu tersentak dan bergegas menghampirinya. Dipegangnya kedua pundak cewek itu tegas. “Aku senang Om mengenaliku.”
“Kamu... kamu benar-benar Meilin?!” tanya Revro dengan nada tinggi yang tanpa dia sadari itu. Meilin mengangguk mantap dan menunjuk cowok berkacamata di sampingnya dengan menggunakan ibu jari. “He’s Zefran. My twins. I’m sure you konw it, Uncle.”
Tuhan... kalau Meilin dan Zefran tetap hidup, itu artinya...
“Hikari—maksud gue... aku... Om....” Revro mengumpat pelan yang masih bisa didengar oleh Meilin juga Zefran, sehingga keduanya tersenyum geli. “Mama kalian... Mama kalian, Hikari Nevandra Putra, kan? Di masa depan, Mama kalian baik-baik aja?”
Bravo yang mendengar percakapan itu kontan mengangkat kepalanya dan menatap kedua remaja tersebut. Seakan berkaca, itulah yang Bravo sadari ketika menatap si cowok berkacamata. Lalu, senyuman cewek di sampingnya, senyuman menenangkan itu adalah senyuman milik... Hikari.
“She’ll be fine, Dad,” kata Zefran tegas. Dia menunjuk Hikari dengan menggunakan dagu sambil bersedekap. Bintang bahkan mengerjap saat melihat tingkah cowok berkacamata yang disebut-sebut oleh Meilin dan Revro sebagai Zefran itu. Tingkah tengilnya mirip sekali dengan Bravo dulu. “I mean... Mom. She’ll be fine. You don’t have to worry.”
“Tapi... dokter bilang kalau Hikari....”
“Look,” potong Meilin dengan nada riang. Senyuman itu semakin melebar, membuat Bravo terpana dibuatnya. Bintang, Revro dan Reffal segera mengikuti Meilin dengan pandangan, saat cewek itu melangkah dengan riang menuju Hikari dan mencium pipinya lama. “She’s back.”
Apa?
Bravo langsung menoleh ke arah Hikari, memerhatikan gerakan naik-turun di d**a cewek itu. Kelegaan itu menghantamnya, begitu dia bisa melihat d**a Hikari naik-turun walau dalam tempo pelan. Seakan belum percaya, Bravo segera mendekatkan wajahnya ke wajah Hikari, mencoba merasakan hela napas cewek itu dari hidungnya.
Kemudian, Bravo terpaku.
Mata bulat sempurna Hikari menyambutnya. Senyuman Hikari menyambutnya.
“Hai,” sapa Hikari lemah. Tangan cewek itu terangkat, membelai sebelah pipi Bravo. “Maaf, bikin lo cemas.”
“Hi... kari...?” panggil Bravo tidak percaya. Dia takut ini hanya mimpi. Dia takut di saat dia tersadar nanti, Hikari sudah tidak ada. Sudah dikebumikan. Kalau ini memang hanya mimpi, dia ingin meminta pada Tuhan untuk tidak dibangunkan. “Elo... benar-benar... bangun...?”
Hikari mengangguk pelan.
Revro jatuh terduduk di lantai akibat rasa lemas karena kelegaan yang membanjiri dirinya. Bintang yang kaget segera menghampiri Revro, merangkul pundak cowok itu.
“Ini... gimana bisa... semua ini....”
“Mama pernah cerita,” kata Zefran kalem, “kalau dia sempat mati suri saat muda dulu. Gara-garanya, ada seorang psikopat b******k yang—“ Zefran kemudian menatap Meilin. “Yang ngapain Mama, Kak Lin?”
“Nusuk Mama, pikun!”
“Ah!” Zefran menjentikkan jari dan mengangguk. “Nusuk Mama! Saking brengseknya—“
“Zefran mulutnya!” seru Bintang galak. Cewek itu melotot, kesal karena mulut keponakannya dari masa depan itu selalu saja mengumpat. Heran! Apa Bravo mengajari anak-anaknya hal yang aneh-aneh?
Mendengar omelan Bintang, Zefran langsung mingkem. Meilin tertawa, sementara Hikari tersenyum lembut. “Zefran emang takut sama Tante Bintang dari kecil,” kata Meilin geli.
Berdeham, Zefran melanjutkan, “Saking jahatnya,” katanya mengganti kata umpatan itu dengan yang lebih sopan, “dia pernah nyuruh orang buat godain Om Revro, supaya Om Revro sama Tante galak....” Zefran berdeham lagi karena Bintang kembali memelototinya. “Supaya Om Revro sama Tante Bintang pisah. Siapa sih namanya, Kak Lin?”
“Sesuatu yang menyinari bumi di malam hari,” jawab Meilin sok bijak. Cewek itu melirik semua orang di ruangan ini dan tersenyum simpul saat meliat keterkejutan di wajah mereka.
“BULAN?!” seru Bintang, Revro, Bravo dan Reffal bersamaan. Tidak menyangka kalau Bulan dan Reinhard saling mengenal.
“Gimana bisa Reinhard kenal sama Bulan?” tanya Revro lebih kepada dirinya sendiri. Kemudian, dia menatap anak Hikari dari masa depan tersebut, yang baru saja membeberkan fakta baru. “Kamu tau darimana, Meilin?”
“Ada deh!” Meilin mengedipkan sebelah matanya. Puas sekali. “Informasi yang Lin kasih cukup sampai di sini, Om. Nanti, Om dan semuanya akan tau di persidangan.” Cewek itu lantas menyeret Zefran, setelah sebelumnya mencium pipi Hikari dan Bravo. “Ayo pulang, Fran! Mama sama Papa pasti khawatir.”
Melihat kebingunan di wajah semua orang, Meilin cepat-cepat menambahkan, “Mama sama Papa di masa depan maksudnya. Maklum, kita mutusin main ke sini nggak bilang-bilang, soalnya Zefran lagi ngambek sama Papa dan kabur dari rumah.”
Mendengar pengakuan anak ceweknya, Bravo segera mendelik ke arah Zefran dan melotot. Zefran mendengus dan menjulurkan lidahnya. “Aku mau cium pipi Mama dulu, Kak Lin!” teriaknya manja.
Anak ini... batin Bintang, Revro dan Reffal bersamaan sambil menggeleng. Jelas, sifat Zefran mirip dengan Bravo.
Sepeninggal kedua orang dari masa depan itu, semua menatap Hikari dengan tatapan haru. Bintang bahkan memeluk Hikari erat, tidak mau melepaskan dan mengucapkan kata maaf berulang kali. Revro mengacak rambut Hikari lembut, sementara Reffal mencubit pipinya gemas. Ketiganya kemudian memutuskan untuk ke luar. Selain ingin memberi kabar bahagia ini kepada kedua orang tua Hikari dan dokter, Bintang, Revro dan Reffal ingin membiarkan Bravo dan Hikari berduaan saja.
“Lo kenapa diam aja?” tanya Hikari, di saat ruang ICU sudah kembali tenang. Bravo tidak langsung menjawab. Cowok itu menatap sekilas, lantas menunduk.
“Maaf,” ucapnya lirih. “Maaf karena gue nggak becus melindungi lo, Hikari.” Bravo menarik napas panjang. “Gue nggak bisa menjaga dan melindungi lo.”
Hikari tersenyum dan menarik tangan Bravo, sehingga cowok itu mendekat ke arahnya. Cewek itu lantas menyuruh Bravo untuk duduk di dekatnya, kemudian memeluknya. Bravo yang kaget hanya bisa diam.
“Lo tau? Sebelum gue sadar, gue ngerasa takut sendirian di tempat asing yang gelap itu,” jelas Hikari masih tetap tersenyum. Kepalanya mendongak dan menatap manik Bravo yang sangat dia sukai. “Tapi, gue dengar suara lo. Lo yang memanggil gue dengan panggilan... Nev.”
DEG!
“Saat itulah, gue berhasil menemukan jalan ke luar. Jalan pulang. Pulang ke lo.”
Bravo tersenyum tipis dan mencium kening Hikari lembut, dalam dan lama. Hikari sendiri memejamkan mata, meresapi ciuman hangat Bravo di keningnya. Kemudian, cowok itu balas memeluk Hikari sambil mengusap punggung cewek itu dan menaruh dagunya di atas kepala Hikari.
“We’ll be fine,” kata Bravo tegas.
Hikari mengangguk.
“We’ll be fine,” ulang Hikari. “Aku, kamu... juga Meilin dan Zefran.”
Bravo menunduk dan tersenyum jahil kepada Hikari. “Udah ‘aku-kamu’ nih ceritanya?”
Hikari tertawa renyah dan mencium kilat bibir Bravo.
Selamanya, mereka akan tetap bersama. Bintang dan Revro, Hikari dan Bravo.
-END-