Chapter 16

1434 Kata
Suasana mendadak kacau.             Bintang yang tidak menyangka jika Reinhard akan menusuknya, hanya bisa membelalak kala melihat Hikari, dengan sisa kekuatan di tubuhnya, berlari ke arahnya dan mendorongnya. Sahabatnya itu menggunakan dirinya sendiri sebagai perisai, sehingga cewek itu yang terluka akibat tusukan dari pisau yang direbut Reinhard darinya.                  Menatap bagaimana Hikari tersenyum lembut ke arahnya membuat Bintang menangis dan menyerukan nama sang sahabat. Hikari jatuh terduduk dengan perut yang mengeluarkan darah segar. Sayangnya, Bintang tidak memperhitungkan Reinhard. Cewek itu berlari ke arah Hikari, dengan Reinhard yang masih berada di antara mereka.             Lalu, Reinhard segera menghunuskan pisaunya ke arah Bintang.             Tapi, Bintang berhasil menyadari niat Reinhard di menit-menit terakhir. Cewek itu berhasil menghindar walau pisau tersebut menyabet lengannya. Tak cukup sampai di situ, Reinhard segera mendorong Bintang hingga cewek itu limbung ke arah dinding, menghantam kerasnya dinding tersebut dan menyebabkan pelipisnya mengeluarkan darah.             Kemudian, cewek itu jatuh terduduk dengan mata terpejam.             “b******k!!!”             Teriakan menggelegar itu datang sepersekian detik setelah Reinhard menoleh. Detik berikutnya, sebuah tinjuan mampir ke wajahnya dengan sangat keras, hingga dia merasa dunia berputar dan kepalanya seperti hancur berkeping-keping. Telinganya bahkan sempat berdengung sejenak.             “b******k! b******k! b******k!!!”             Lagi, teriakan itu menggelegar. Reffal hanya bisa membeku di tempatnya, menyaksikan bagaimana Revro menghajar Reinhard dengan membabi-buta. Pukulan kemudian makian. Terus seperti itu.             Revro seperti kerasukan.             Di tempatnya, mengangkat sebagian tubuh Hikari kemudian memeluknya, Bravo terlihat takut. Dia menggenggam erat tangan putih Hikari yang begitu dingin di telapak tangannya sendiri. Cewek itu masih sadar, bernapas dengan susah payah dan wajah yang amat pucat. Tersenyum lembut dan hangat ke arahnya.             Bintang yang jatuh tak sadarkan diri berada dalam pengawasan Reffal. Dia tidak bisa berbuat apa pun untuk mencegah Revro yang terus saja menghajar Reinhard tanpa ampun, bahkan di saat cowok psikopat itu sudah kewalahan dan nyaris pingsan.             Sampai kemudian, tindakan Revro terhenti karena kedatangan Tristan dan Dergo. Dua saudara sepupunya.             “Stop! Lo bukan pembunuh!” tegas Tristan. Dia menahan Revro, sedangkan Dergo mendekati Reinhard. Di belakang kedua cowok itu, nampak beberapa pria berseragam cokelat berdatangan dan mengamankan Reinhard. Salah satu di antara mereka kemudian menelepon ambulans.             “Biar gue bunuh b******n k*****t itu! Gue akan bunuh dia!!!” seru Revro kalap. Pemberontakkannya berhenti ketika suara Tristan kembali terdengar dan berhasil mengembalikan kesadarannya.             “Lebih baik lo liat keadaan Bintang. Dia luka dan pingsan.”             Langsung saja, Revro melepaskan diri dari Tristan dan segera menghambur ke arah Bintang. Diambilnya tubuh Bintang dari rangkulan Reffal dan dikecupnya kening cewek itu berulang kali sambil memeluknya dengan sangat erat. “You’ll be fine, sweetheart... you’ll be fine....”             Kemudian, Revro tersentak dan menoleh. Dia ingat jika Hikari mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatan Bintang.             “Hikari!” Revro menyerahkan Bintang pada Reffal dan menyuruh saudara sepupunya itu untuk menjaga Bintang. Dia menuju Hikari dan menggenggam erat tangan cewek itu yang masih bebas. “Hikari, lo akan baik-baik aja. Lo harus percaya sama gue, lo akan baik-baik aja!”             Mencoba bernapas normal meski sulit, Hikari tersenyum ke arah Revro. “Terima kasih, karena jadi sahabat yang baik untuk gue selama ini,” katanya terengah dan terbata.             Lalu, Revro dan Bravo membeku.             Hikari memejamkan kedua matanya bersamaan dengan para petugas medis yang datang dengan menggunakan ambulans. ### Kedua mata Bintang terbuka.             Cewek itu menatap sekitarnya dan menemukan sosok Revro di sampingnya. Cowok itu tersenyum dengan wajah lelah dan mata sedikit merah, seperti habis menangis.             “Kamu... nangis...?” tanya Bintang pelan. Cewek itu membiarkan Revro menggenggam tangannya dan menaruh wajahnya di tangan tersebut. “Revro...?”             “Syukurlah kamu udah sadar, Ntang,” kata Revro dengan nada lega yang terdengar jelas di kedua telinga Bintang. Kepala cewek itu diperban, pun dengan lengannya yang terkena sabetan pisau Reinhard. “Aku benar-benar takut....”             Tersenyum tipis, Bintang mengarahkan sebelah tangannya ke kepala Revro, kemudian mengusapnya pelan. “Aku baik-baik aja,” katanya meyakinkan. “Kak Bravo?”             Mendengar nama Bravo disebut, tubuh Revro kontan menegang. Dia kembali teringat Hikari. Tadi, kedua orang tua cewek itu datang setelah diberitahu, kemudian Mama Hikari menangis keras di pelukan Papa Hikari. Ketika dokter berbicara dengan mereka dan menyatakan bahwa Hikari berada dalam kondisi yang kritis, wanita yang sudah melahirkan Hikari ke dunia itu langsung jatuh tak sadarkan diri.             Sadar dengan keterdiaman dan ketegangan Revro, Bintang mencoba duduk. Dia menatap Revro dengan tatapan menuntut, kemudian menoleh ketika pintu kamar inapnya dibuka. Di sana, Reffal muncul sambil tersenyum lelah.             “Syukur lo udah sadar, Ntang,” kata cowok itu tulus. Dia masuk dan berdiri di samping Revro. Reffal melirik Revro sekilas dan menarik napas panjang. Revro dan Hikari memang sangat dekat, seperti kakak-adik. Wajar jika cowok itu merasa terpukul dengan berita kritisnya Hikari. “Orang tua lo tadi datang, Ntang. Cuma, sekarang mereka lagi pulang untuk ambil baju ganti lo dan Bravo.”             “Kak Bravo di mana? Kenapa dia nggak ada di sini?” tanya Bintang lagi. Kemudian, dia tersentak ketika mengingat kejadian sebelum ini. Dicengkramnya pergelangan tangan Reffal dan menatap cowok itu dengan mata berkaca juga sorot ketakutan yang terbaca jelas. “Hikari? Di mana Hikari?”             Karena Reffal hanya diam, Bintang mengguncang tangan cowok itu. Air mata sudah mengalir di wajah mulusnya yang sedikit memar. “DI MANA HIKARI?!”             “Hikari... kritis.” Revro yang menjawab. Cowok itu mengangkat wajah, menatap Bintang dengan tatapan tegas yang juga bercampur dengan sorot kesedihan. “Hikari... di ruang ICU.”             Tangan Bintang yang mencengkram pergelangan tangan Reffal meluruh begitu saja. Cewek itu juga menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan Revro. Bintang menggeleng lantas terkekeh sendiri.             “Kalian bercanda,” katanya mencoba menyangkal. Namun, karena Revro dan Reffal tidak bersuara lagi, Bintang langsung menangis histeris dan turun dari ranjang.             Menuju ruang ICU.             Di sana, di kursi tunggu, kakak kembarnya terlihat berantakan. Seolah-olah, separuh jiwanya sudah menghilang entah ke mana. Baju yang terkena noda darah, rambut yang acak-acakan, juga wajah yang terlihat... hancur.             “Kakak...,” lirih Bintang. Saat Bravo menoleh, hati Bintang bagaikan tercabik-cabik. Kakak kembarnya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Itu artinya, Hikari... Hikari benar-benar....             “Bintang?” Bravo segera berdiri dan mencoba bersikap normal walau terasa sangat sulit. Dia mendekati Bintang dan menangkup wajah adiknya itu. “Kamu nggak apa-apa? Baik-baik aja, kan?”             Bintang memegang kedua pergelangan tangan Bravo yang masih menangkup wajahnya. “Kak, gimana Hikari? Dia baik-baik aja, kan? Hikari nggak akan kenapa-napa, kan?”             Mendengar nama Hikari disebut, Bravo langsung diam. Cowok itu memeluk Bintang erat dan menangis di pundak adik kembarnya itu. Seumur hidupnya, Bravo tidak pernah menangis. Ini yang pertama kalinya. Dia ketakutan, dia frustasi, dia merasa hancur.             Hikari, cewek yang sangat dicintainya itu, sedang berjuang sendirian di dalam sana.             Revro menoleh saat mendengar sedikit keributan di dekat pintu ruang ICU. Jantungnya mendadak berpacu cepat. Terasa sakit dan sesak. Tubuhnya menggigil entah kenapa. Kedua tangannya mengepal kuat sampai buku-buku tangannya memutih dan dia mendapati diri mendekati seorang dokter, suster dan kedua orang tua Hikari sedang berbicara.             “Revro?”             Panggilan Reffal itu menyadarkan Bravo dan Bintang. Keduanya menoleh ke arah Revro dan tak dapat dipungkiri, jantung mereka seolah melakukan maraton. Bintang segera merangkul erat lengan Bravo, sementara Reffal langsung menyusul Revro.             “Dokter? Ada... apa?” tanya Revro terbata. Semakin dia bernapas, sesak itu semakin terasa. Reffal sudah ada di sampingnya, meremas pundaknya erat untuk berbagi kekuatan. Revro bahkan tidak memedulikan tangisan kuat Mama Hikari. Dia juga tidak peduli kalau saat ini, wanita itu sudah pingsan di pelukan suaminya.             Dokter di hadapan Revro menarik napas panjang dan menggeleng. “Maaf.” Hanya itu kalimat yang diucapkan olehnya, sebelum kemudian dia pergi begitu saja.             Revro menatap kosong kaca jendela ruang ICU di depannya. Air mata itu kemudian mengalir turun, seiring dengan rasa sakit pada dadanya yang semakin kuat. Reffal menunduk, tapi tangannya bertahan pada pundak Revro dan semakin menguatkan remasannya.             “Rev... ro...?”             Panggilan pelan nyaris berbisik itu membuat Reffal menoleh. Cowok itu menatap kasihan ke arah Bintang yang wajahnya terlihat sangat berantakan akibat menangis. Bintang mendekati Revro, kemudian mencengkram lengan pacarnya itu. “Ada... apa...?”             Tidak ada jawaban. Revro seolah pergi ke dimensi lain, sedangkan raganya ada di sini. Tidak ada suara tangis dari cowok itu, tapi air mata terus saja mengalir. Justru, tangis seperti itulah yang begitu menyesakkan d**a. Membuat semua orang merasakan kesedihan yang sama, meski tidak saling mengenal.             Bintang ikut menatap ke arah kaca jendela di depannya. Di sana, sosok Hikari terlihat. Wajah pucatnya tetap cantik. Kemudian, Bintang langsung menutup mulut dengan kedua tangan, menggeleng terus-menerus dan berteriak keras memanggil nama sang sahabat.             Menangis tersedu-sedan dan akhirnya jatuh berlutut di atas lantai.             Menyaksikan itu semua, Bravo menunduk. Tubuhnya lantas meluruh begitu saja. Kedua tangannya mengepal kuat di atas paha. Tetesan air mata itu membasahi celana jeans nya. Hatinya hancur. Sakit dan sesak. Telapak tangannya mulai berdarah akibat terlalu kuku jarinya yang menancap di sana.             Lalu, Bravo berteriak. Gila-gilaan. Tidak memedulikan semua orang yang menatapnya. Tidak peduli bahwa tempat ini adalah tempat yang dilarang untuk menimbulkan keributan.             Yang Bravo inginkan hanya satu. Seluruh dunia harus tahu mengenai kesedihan, kehilangan dan kehancurannya.             Hikari Nervandra Putra. Jam kematian 23.00 WIB. ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN