Chapter 15

1988 Kata
Pertama-tama, Revro, Bravo, dan Reffal mencari ke sekitar kampus.             Karena Bintang ada kerja kelompok, otomatis cewek itu akan ada di kampus sampai pulang. Saat ini, Bintang ada di tangan Reinhard, dan itu artinya, Reinhard menculik Bintang ketika Bintang pulang.             Tapi, tidak ada yang bisa mereka bertiga temukan di sana. Sesuatu yang ketiganya harapkan bisa membawa mereka ke tempat Bintang dan Hikari. Bahkan Revro, Bravo dan Reffal tidak tahu bagaimana cara Reinhard menculik Hikari.             “Di sini nggak ada apa-apa!” seru Revro frustasi. Cowok itu mondar-mandir sambil mengacak rambut dan menggeram. Tangannya bahkan sudah memerah akibat meninju dinding di dekatnya berulang kali. “Nggak ada sesuatu yang bisa jadi pegangan kita buat nemuin Bintang sama Hikari!”             “Tenang, Rev,” kata Reffal seraya menepuk pundak saudara sepupunya tersebut. Dia mengerti kekhawatiran Revro pada Bintang, pun Bravo pada Hikari. Sungguh, kalau Shareen, pacar tercintanya itu juga diculik oleh seorang psikopat, Reffal pasti akan kalut dan panik seperti kedua cowok di depannya itu. “Kita pasti bisa nemuin mereka.”             “Bintang pasti ketakutan.” Revro mulai meracau tidak jelas. Dia duduk di lantai, bersandar pada dinding sambil memeluk kedua lututnya. Cowok itu seakan kehilangan separuh jiwanya. “Bintang pasti ketakutan, Ref!”             “Bintang itu kuat, Rev,” sahut Bravo. Dia saling tatap dengan Revro. “Bintang adik kembar gue. Gue yakin, dia kuat menghadapi Reinhard maupun rasa takutnya sendiri. She’s strong more than you know.”             Revro diam. Dia bukannya tidak ingin memercayai kekuatan dan keberanian Bintang, tapi, yang menjadi masalah di sini adalah Reinhard. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Bintang menangis waktu itu, meminta pertolongannya, karena ulah dan ancaman dari Reinhard. Bintang juga nyaris celaka berulang kali karena kesintingan Reinhard.             Tuhan... tolong lindungi Bintang dan Hikari. Dia tidak akan sanggup kehilangan Bintang, cewek yang sangat berarti dan sangat dicintainya itu. Pun dengan Hikari, sahabatnya sejak kecil yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Adik yang tidak pernah dia miliki.             “Gue nggak nyangka kampus semegah kampus kalian ini, bisa punya sarang laba-laba dan lumayan berdebu juga.”             Kalimat Reffal itu membuat Revro membeku. Tak lama, cowok itu berdiri dan menatap arah yang ditatap oleh Reffal. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh dan napasnya terasa berat.             “Rev? Lo kenapa?” tanya Bravo tegang. Masalahnya, sikap Revro sangat aneh sekarang. Bukannya sejak tadi cowok itu bersikap normal, sih. Bravo bahkan sempat mengira kalau Revro sudah mulai gila saking cemasnya pada sang kembaran. Tapi, saat ini, Revro kembali bersikap aneh dan sedikit tegang.             Membuatnya ikut merasakan hawa dingin tersebut. Perasaan kacau-balau, tidak karuan sekaligus firasat aneh di dalam hatinya sendiri.             “Reffal... biasanya, kalau orang diculik dan disekap, di mana mereka bakal menyekap si korban menurut lo?” tanya Revro terbata.             Reffal yang tidak mengerti, kontan mengangkat satu alis. Pertanyaan Revro benar-benar tidak masuk akal. Kenapa coba, saudara sepupunya itu harus menanyakan hal tersebut?             “Pokoknya ruangan nggak terpakai gitu,” jawab Reffal. “Kalau nggak di ruang bawah tanah, ya di gudang.”             “Apa....” Revro membasahi bibir bawahnya. “Apa, di dua tempat itu berdebu? Banyak sarang laba-laba?”             “Rev, lo mulai kalut sepertinya. Lo mulai nggak bisa mengontrol diri lo sendiri.” Reffal meremas kuat pundak Revro. Ditatapnya tegas kedua mata Revro yang terlihat tidak fokus tersebut. “Percaya sama gue, kita akan menemukan Bintang dan Hikari. Kita akan selamatkan mereka berdua dari genggaman Reinhard.”             “Bukan itu masalahnya, Ref,” kata Revro. Dia menatap Bravo yang sejak tadi hanya diam. Seolah mengisyaratkan sesuatu kepada Bravo, yang anehnya ditangkap oleh cowok tersebut hingga membuatnya menggeleng tanpa sadar sambil melangkah mundur dan menabrak pilar di belakangnya.             Bravo tahu, ini semua tentang Hikari.             Tentang orang yang sangat dicintainya. Separuh jiwanya, seperti Bintang yang merupakan separuh jiwa Revro.             Sebab, kalau ini mengenai Bintang, Revro pasti tidak akan menatap ke arahnya dengan sorot menyesal dan meminta maaf seperti ini. Revro pasti akan langsung pergi dari tempat ini, menyusuri semua tempat yang dia tahu untuk segera menemukan Bintang.             “Maaf kalau gue nggak pernah cerita ke lo, semenjak lo berpacaran dengan Hikari, Brav. Gue mengira Hikari akan cerita ke lo langsung.” Revro mengusap wajahnya dengan sebelah tangan dan mengumpat. “Hikari punya penyakit asma. Akut. Dia nggak bisa terlalu lelah, dia nggak boleh ada di tempat yang berdebu dan kotor.”             Bravo langsung meluruh begitu saja, hingga membuat Reffal kaget dan segera menghampiri.             “Kita harus bergegas,” kata Revro. Kini, dia menjelma menjadi orang lain di mata Bravo dan Reffal. Wajah itu, wajah yang tadinya nampak frustasi, kini berubah dingin. Bengis, tanpa belas kasihan. Mata itu menyorot tajam dan menusuk. Revro yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah Revro yang asli. Revro dengan semua sifat dari klan Abimanyu yang mendarah-daging dalam dirinya. “Akan gue bunuh Reinhard dengan tangan gue sendiri, kalau sampai Bintang dan Hikari kenapa-napa!” ### “Hikari? Hikari!”             Bintang mulai putus asa dan ingin menangis rasanya, tatkala menatap Hikari yang masih saja tidak mau membuka mata, tapi cewek itu tahu kalau Hikari masih sadar. Sahabatnya itu terlihat susah payah untuk bernapas dan sangat tersiksa. Air mata bahkan mengalir turun dari rongga matanya.             “Hikari... gue mohon, lo harus bertahan dan harus kuat! Gue akan berusaha mengeluarkan kita berdua dari sini.” Bintang mulai menangis juga, tidak tahan dengan keadaan Hikari saat ini. Bahkan sekarang, cewek itu mulai membayangkan wajah Revro, Bravo dan kedua orang tuanya.             Mendadak, pintu terbuka. Bintang segera memasang sikap waspada. Cewek itu bergeser dan memasang tubuhnya di depan Hikari guna melindungi sang sahabat dari jamahan Reinhard.             Reinhard mengerutkan kening ketika melihat aura Bintang yang berubah. Cewek itu memasang wajah dingin dan menatapnya tajam. Tidak ada lagi sosok hangat dan lembut dari seorang Bintang yang dikenalnya sejak kecil. Kalau bukan karena cewek itu yang melupakannya, mungkin dia tidak akan bertindak sejauh ini.             Tapi, jika dipikir lagi oleh Reinhard, ada baiknya juga Bintang melupakannya. Cowok itu jadi bisa bertemu dengan Hikari. Cewek yang menarik perhatiannya dan melupakan rasa cintanya pada Bintang.             Dan dia akan menjadikan Hikari sebagai miliknya. Seutuhnya, selamanya.             “Kenapa lo sembunyiin Hikari dari gue?” tanya Reinhard datar. Dia tidak tahu darimana datangnya keberanian Bintang, tapi, dia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi rencananya.             “I won’t let you lay a finger on her!” tegas Bintang. Susah payah, meski kedua kakinya terikat, Bintang berdiri. Dia menentang Reinhard yang berjalan mendekatinya. “Gue bakal lindungi Hikari!”             “Lo bisa apa, Bintang? Lo bahkan nggak bisa membuka ikatan di tangan dan kaki lo itu.” Reinhard tertawa sinis. Dia mencengkram dagu Bintang, dan Bintang tidak takut. Dia sendiri bingung ke mana rasa takutnya pergi. Bintang merasa dirinya mendapat support dan dukungan dari Revro, Bravo dan kedua orang tuanya.             “Lo terlalu meremehkan gue, Reinhard.”             Reinhard tersentak kala melihat senyuman dingin dan misterius Bintang tersebut. Ini yang pertama kalinya, Bintang memperlihatkan sisi tersembunyinya.             Di saat Reinhard terperangah akan perubahan sikap Bintang, cowok itu menjadi lengah. Dia tidak menyadari kalau Bintang ternyata sudah berhasil membuka tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya dan kini, cewek itu merangkul leher Reinhard kemudian mengarahkan pisau lipat yang tadi dipakainya untuk membuka tali.             “Elo?!” geram Reinhard.             “Saran gue, jangan pernah remehkan orang lain, terutama cewek. Dan, jangan lupa periksa ruangan yang akan lo pakai untuk menyekap sandera lo, apa udah benar-benar kosong, atau masih ada barang yang tersisa.”             Sebenarnya, Bintang juga kaget ketika menemukan pisau lipat ini di atas meja di sudut ruangan. Sambil melompat-lompat karena kedua kakinya terikat kuat, dia menuju meja tersebut dan mengambil pisau tersebut. Kemudian, dia kembali ke tempat Hikari dan terjatuh, sehingga menyebabkan cewek itu kembali terduduk.             Dan tak lama, Reinhard masuk ke ruangan ini.             “Lo nggak akan sanggup membunuh orang lain, Bintang. Hati lo terlalu baik. Lo cewek lemah yang bahkan nggak akan sanggup ngeliat kucing mengemis minta makan pada orang lain.” Reinhard masih bisa tersenyum b******k ke arah Bintang yang terlihat muak kepadanya. Cewek itu semakin kuat merangkul leher Reinhard dan mengarahkan ujung pisau lipat itu ke nadi di leher Reinhard.             “Gue udah bilang, lo terlalu meremehkan orang lain.” Bintang balas tersenyum. Senyuman yang sangat menantang dan dingin di mata Reinhard. “Entah lo emang tau tentang keluarga gue, atau lo tau tapi lo lupa.”             Apa? Apa maksud cewek ini?             “Lo lupa? Oke, akan gue ingatkan.” Bintang menghilangkan senyumannya. Wajah dingin itu masih terlihat dan Reinhard merasa bulu romanya meremang, entah kenapa. “Gue Bintang Maladewi Bagaskara. Anak dari Kenzano Altar Bagaskara dan Keisya Ananstasya. You know what? Mereka terkenal di kampusnya dulu. Nyokap gue, si cewek pemberani karena melawan pembunuh berdarah dingin, sedangkan bokap gue dijuluki... malaikat kematian!” (Baca: The Sweet Angel of Death)             Reinhard terkesiap. Dia tidak pernah tahu kalau orang tua Bintang pernah memiliki sejarah seperti itu. Pantas saat ini, Bintang seolah menjelma menjadi orang lain. Ternyata, sisi tersembunyi itu warisan langsung dari kedua orang tuanya, yang mungkin memang tidak pernah disadari oleh Bintang sebelumnya.             b******k!             Dia terlalu meremehkan Bintang selama ini!             “Dan lo tau? Revro, pacar gue yang sangat gue cintai, orang yang dulu gue tinggalin hanya karena gue takut akan ancaman konyol lo itu, adalah keturunan dari tiga serangkai Abimanyu. Gue yakin, lo kenal siapa itu klan Abimanyu.”             Siapa yang tidak? Rahang Reinhard mengeras. Para Abimanyu adalah orang-orang yang disegani dan ditakuti oleh semua lawan mereka!             “Sekarang, cepat lo keluarin ponsel lo!” perintah Bintang. “Keluarin dan telepon Revro sekarang juga!”             Reinhard masih berdiam diri.             “Cepat! Gue nggak akan segan-segan ngeluarin darah segar dari leher lo ini!”             Beberapa detik terlewat. Reinhard merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Dia menatap Bintang yang fokusnya terpusat pada ponsel miliknya tersebut. Sambil menyeringai, Reinhard menampar Bintang dengan punggung tangannya, hingga cewek itu menjerit dan terjatuh.             Lalu, Reinhard bergegas ke luar ruangan.             “Kata siapa lo boleh pergi, b******k!”             Teriakan Bintang itu membuat Reinhard menoleh dan terbelalak. Detik berikutnya, cowok tersebut berteriak dan jatuh terduduk. Sambil meringis, Reinhard menatap Bintang yang telah lebih dulu membuka tali di kakinya dengan pisau lipat tersebut, sebelum melemparkannya ke arah kakinya.             “Cewek sialan!”             “Terima kasih atas pujiannya.” Bintang berjongkok kemudian mencabut pisau itu dari kaki Reinhard. Cowok itu kembali berteriak dan semakin keras, saat Bintang menancapkan pisau itu di kaki Reinhard yang satunya lagi. “Sekarang, telepon Revro dan sebutin alamat di sini, sebelum gue nusuk jantung lo pakai pisau ini!”             Di bawah tatapan dingin Bintang, Reinhard mengetikkan sms untuk Revro, alih-alih menelepon cowok tersebut seperti apa yang diperintahkan oleh Bintang. ### Satu sms masuk ke ponsel Revro, membuat cowok itu menegakkan punggung.             Ketiganya saat ini berada di mobil Reffal dan si empunya mobil tersebut lah yang kebagian tugas menyetir. Revro duduk di kursi penumpang, sementara Bravo duduk di kursi belakang.             “Reinhard sms dan kasih tau alamat tempat dia menyekap Bintang sama Hikari!”             Kening Reffal mengerut. “Kok bisa?”             “Gue nggak tau, tapi, kita harus ke sana! Putar balik, Ref! Alamatnya bukan ke sana.” Revro segera menyebutkan alamat yang dikirim oleh Reinhard dan Reffal memacu kecepatan mobilnya. Tak sampai setengah jam, ketiga cowok itu sudah sampai di depan sebuah rumah tua yang terlihat tak layak huni.             “b******k si Reinhard! Berani-beraninya dia bawa cewek dan sahabat gue ke tempat kayak gini!” seru Revro berapi-api. Dia berlari, masuk ke dalam rumah tersebut, diikuti oleh Bravo yang semakin cemas akan keadaan Hikari dan Bintang, juga dengan Reffal.             Setelah mencari ke seluruh ruangan dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Bintang dan Hikari, Revro mulai gusar. Dia menyangka Reinhard sengaja menipunya untuk melihat kejatuhan dan keterpurukannya saat ini.             Tapi, maaf-maaf saja. Dia, Revro Emerald Abimanyu Thampson, tidak akan sudi menyerah di hadapan Reinhard, si psikopat sinting!             “Tinggal gudang. Kita harus cari gudang.” Reffal mulai memimpin. Dia berlari, mencari keberadaan gudang dan menemukannya di dekat halaman belakang. Memasang sikap waspada, ketiga cowok itu berjalan hati-hati dan terperangah ketika melihat bagaimana Bintang mengarahkan sebuah pisau lipat ke arah leher Reinhard. Terlebih ketika dua kaki cowok itu berdarah.             “Bintang?” panggil Revro tidak percaya.             Bintang menoleh dan senyumannya terbit. Dia menjadi lengah, mencoba bangkit dan tidak menyangka jika Reinhard mengambil pisau itu dari tangannya dengan satu gerakan cepat.             “BINTAAAAANG!” teriak Revro kalap. Kedua matanya membulat maksimal dan dia bergegas menghampiri Bintang yang membeku di tempatnya.             Tapi, Revro berhenti berlari. Tubuhnya menegang, ketika menyadari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya dia perhitungkan. Sesuatu yang membuat Reffal dan Bravo membeku di tempatnya.             Sesuatu yang mungkin akan mengubah masa depan, atau akan tetap bertahan sebagaimana mestinya.             Cinta dan persahabatan. Di dalamnya, selalu akan ada pengorbanan. ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN