Chapter 14

1739 Kata
Bintang merasa diikuti.             Cewek itu sesekali menoleh ke belakang bahkan menghentikan langkah, tatkala merasakan seseorang sedang mengikutinya. Sekarang sudah jam delapan malam dan dia tidak bisa menghubungi Revro maupun Bravo untuk menjemputnya di kampus. Sementara itu, untuk mendapatkan kendaraan umum seperti taksi, Bintang harus berjalan kaki terlebih dahulu ke depan, ke jalan besar, sekitar lima ratus meter dari kampusnya.             Dan itulah yang dia lakukan saat ini.             “Ck! Harusnya tadi gue terima aja tawaran Beno untuk anterin gue pulang!” gerutu Bintang sambil menarik napas panjang. Ini sudah yang kelima kalinya, Bintang berhenti melangkah karena merasa seseorang sedang mengikutinya. Dia menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapa pun di sana. “Apa gue terlalu parno, ya?”             Memang, Bulan sudah ditahan oleh pihak yang berwajib. Karena kejahatannya, cewek itu terancam akan dipenjara. Meski begitu, baik Bintang, Revro dan juga yang lain menganggap bahwa Bulan bisa saja terbebas dari hukuman, mengingat nama Wijaya yang disandangnya itu. Tapi, Revro berjanji akan melakukan apa pun untuk menjebloskan cewek berbahaya itu ke dalam penjara.             Lantas, apa yang harus Bintang takuti sekarang? Semuanya pasti hanya keparnoannya saja, di mana dia sangat menyukai film-film thriller dan horor, sehingga timing seperti ini sangat pas jika ada seorang pembunuh berdarah dingin ke luar dari tempat persembunyiannya, kemudian membunuhnya.             Oke, stop! Bintang segera menggeleng dan mendengus.             Lo terlalu banyak nonton film, Bintang Maladewi Bagaskara, batin cewek itu sebal pada dirinya sendiri.             Bintang kembali melanjutkan langkah. Cewek itu bersenandung untuk mengurangi rasa takutnya yang mendadak hadir semenjak dia meninggalkan kampus tercinta. Revro tidak bisa menemaninya kerja kelompok, sementara kakak kembarnya harus pergi ke kantor ayah mereka guna membantu beliau menyelesaikan sesuatu. Hikari? Cewek itu bahkan tidak masuk kuliah hari ini.             “Gue paling malas kalau udah sendirian begini,” keluh Bintang. Cewek itu mengutuk semua orang di dalam hati, tapi lalu menyesalinya. Diangkatnya kepala dan ditatapnya taburan bintang di langit sana. “Cantik banget.”             Suara kendaraan-kendaraan mulai terdengar. Senyuman Bintang terbit, ketika dia menyadari kesendiriannya malam ini akan segera berakhir. Ketakutannya yang tidak beralasan itu pun lenyap, tergantikan dengan perasaan senang dan kelegaan yang tiada tara.             Sebuah taksi melintas tak jauh di depannya. Cewek itu mengangkat tangan kanan, sementara bibirnya mulai terbuka untuk berseru menghentikan taksi berwarna biru tersebut.             Namun, semua tidak sesuai rencana.             Adegan dari film thriller yang sering ditontonnya akhirnya terjadi. Seseorang membekap mulutnya dan menarik pinggangnya, kemudian menyeretnya entah ke mana. Dalam keadaan takut dan frustasi, pikiran yang terus mengarah pada kematian, wajah Hikari dan Bravo melintas, juga Oscar dan Violine, si kembar yang mengaku anaknya dari masa depan.             Dan yang terakhir, wajah orang yang sangat dicintainya.             Revro.             Revro, tolong aku! ### Revro tersentak dan terpaku di tempatnya.             Perasaannya mendadak tidak enak dan dia merasa seseorang memanggil namanya. Ditatapnya ponsel yang sengaja dia taruh di samping piring, di atas meja makan, supaya kalau Bintang menelepon, cowok itu bisa langsung menjawabnya. Nyatanya, sampai detik ini, Bintang tak juga menghubunginya. Dia jadi menyesal tidak menemani pacar tercintanya itu untuk kerja kelompok di kampus. Mau bagaimana lagi? Ada pertemuan penting antara ayahnya dan kolega kerjanya, dan dia dipaksa untuk ikut. Kata ayahnya, hitung-hitung belajar mengenai bisnis.             Membosankan.             “Kamu kenapa, Rev?” tanya Phoebe, bundanya yang cantik dan elegan, tapi juga berbahaya dalam waktu bersamaan. Semua orang pasti akan bertekuk lutut dengan pesona sang bunda, tapi, tidak ada yang bisa bertahan dengan sifat alami klan Abimanyu yang mengalir deras di dalam tubuh beliau, kecuali sang ayah. (baca: Abimanyu’s Series: My Precious Girl)             “Hmm?” gumam Revro tak jelas. Cowok itu benar-benar merasa cemas sekarang. Entahlah, jantungnya tidak mau berhenti meliar dan untuk bernapas pun rasanya agak sulit. Pikirannya mendadak blank dan Bintang lah satu-satunya orang yang terus dia pikirkan. “Aku cuma... khawatir.”             “Tentang?” kali ini, Jack Thampson, ayahnya Revro yang bertanya.             “Aku juga kurang paham. Cuma, perasaan aku benar-benar nggak enak dan kepikiran Bintang.” Revro mengambil ponselnya dan segera menekan angka satu untuk menghubungi Bintang. Didekatkannya ponsel ke telinga dan nyaris mengumpat dalam bahasa makian yang cukup kasar, hingga mungkin kedua orang tuanya nanti akan langsung mencambuknya kalau sampai dia kelepasan mengucapkan makian tersebut.             Ponsel Bintang tidak aktif.             Ponsel cewek itu mati.             Kali ini, Revro menghubungi Hikari guna menanyakan apakah Bintang menghubungi sahabatnya itu atau tidak. Tapi, sama seperti Bintang, ponsel Hikari juga tidak aktif. Kening Revro bahkan sampai mengerut dan kini, frekuensi kecemasannya semakin meningkat.             Kebetulan kah?             Tidak, tidak. Revro tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Menurutnya, semua hal yang terjadi sudah merupakan takdir dan skenario Tuhan. Tapi, apa arti dari semua ini?             “REVRO!”             Seruan itu membuat Revro dan kedua orang tuanya menoleh. Bravo, si oknum yang seenak dengkulnya itu masuk ke rumah orang lain bahkan sampai berteriak, langsung menghentikan langkahnya dan berdeham salah tingkah, ketika menatap kedua orang tua Revro. Cowok itu membungkuk sedikit untuk memberi salam dan tersenyum meminta maaf.             “Maaf Om, Tante... saya nggak sengaja. Lagi panik soalnya dan butuh Revro sekarang juga.”             “Oh, nggak apa-apa, Nak.” Jack tertawa. “Ayahmu juga sama kayak kamu kalau lagi panik.”             Bravo hanya meringis aneh dan menyuruh Revro untuk mendekat, dengan menggunakan bahasa isyaratnya. Revro pamit pada Phoebe dan Jack, lantas segera menyusul Bravo yang sudah lebih dulu pamit dan ke luar dari rumahnya.             “Kenapa?” tanya Revro langsung ke intinya.             “Bintang sama Hikari nggak bisa dihubungi!” Bravo menggeram. “Gue pikir, mungkin Bintang lagi sama lo. Ternyata, pas gue susul ke sini, kembaran gue nggak ada.”             Hati Revro semakin tidak enak.             “Kalau Hikari?”             “Orang tuanya bilang, Hikari belum pulang dari pagi. Dia pamitnya ke kampus, tapi tadi, sebelum gue lost contact sama Bintang, dia bilang Hikari nggak ke kampus.”             Keduanya diam. Sibuk memikirkan di mana dua cewek terpenting bagi mereka itu. Sedang seriusnya berpikir, ponsel Revro berbunyi. Cowok itu segera menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelepon, karena dia berpikir, Bintang lah yang meneleponnya.             “BINTANG?! KAMU DI MANA?!”             Tidak ada sahutan. Revro mengerutkan kening dan menjauhkan ponsel untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya itu. Sederet nomor tidak dikenal yang muncul di layarnya, membuat Revro mengangkat satu alis.             “Siapa ini?” tanya Revro lagi, dengan intonasi suara tegas dan terkesan dingin.             “Orang yang akan mencabut nyawa cewek mungil lo ini dan memisahkan kalian berdua untuk selamanya.”             DEG!             Revro merasa darahnya dipaksa ke luar dari tubuhnya. Tubuhnya menggigil dan tanpa sadar, dia sudah mengumpat kasar sambil mencengkram kuat ponselnya, hingga membuat Bravo terperangah.             “Rev? Lo kenapa? Siapa yang nelepon?” tanya Bravo dengan suara tegangnya.             “b******k! APA YANG LO LAKUIN KE BINTANG?!”             Mendengar nama kembarannya disebut, ditambah raut wajah emosi dan suara dingin Revro membuat Bravo khawatir bukan main. Dia hanya bisa menunggu Revro menjelaskan, sementara jantungnya sudah mencelos.             “Belum gue apa-apain, tapi pasti akan gue bunuh.” Si penelepon tertawa keras. “Gue berani bertaruh, lo kenal siapa gue.”             “Reinhard!” geram Revro. Bravo tersentak dan segera mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Reffal bahwa Bintang sudah diculik oleh Reinhard. Dia harus meminta back up dari Reffal, supaya kalau ada apa-apa dengan dirinya dan Revro, cowok itu bisa melindungi Bintang.             “Ah, senangnya bisa dikenal oleh seorang Revro. Seorang yang disegani dan ditakuti karena berasal dari klan Abimanyu.” Reinhard berhenti sejenak, menciptakan sensasi menegangkan bagi Revro, terlebih ketika sebuah jeritan lolos begitu saja.             Membuat Revro membeku.             “b******k! LO APAIN BINTANG?!” teriaknya kalap. Bravo bahkan sampai meremas kuat pundak Revro, meminta cowok itu untuk menjelaskan apa yang saat ini sedang terjadi. “GUE AKAN BUNUH LO, REINHARD!”             Di ujung sana, Reinhard tertawa mengejek. “Menarik sekali, Tuan Abimanyu.” Lagi, jeritan itu lolos. Jeritan yang membuat kening Revro mengerut karena suaranya berbeda dengan suara di awal tadi. “Lo diam, berarti lo bisa mengenali perbedaan kedua jeritan barusan, ya? Hebat sekali. Ya, lo benar! Yang barusan itu bukan jeritan Bintang. Tapi... jeritan Hikari!”             Ya Tuhan!             Revro menatap Bravo tepat di manik mata. Tatapan tegas dan takut itu bercampur, membuat Bravo mundur beberapa langkah dan tangannya terlepas dari pundak Revro. Dia paham maksud tatapan Revro untuknya.             Bukan hanya Bintang.             Hikari pun ada dalam genggaman Reinhard.             “Bilang sama saudara kembar Bintang, yang brengseknya adalah orang yang sangat dicintai Hikari, gue akan pergi ke neraka dan membawa serta Hikari. Kalau gue nggak bisa memiliki Hikari, nggak ada yang bisa memiliki dia! Pun dengan Bintang. Gue nggak sudi kalau Bintang dan lo bahagia bersama, Revro. Akan gue buat lo dan Bravo merasakan derita kehilangan orang-orang yang kalian cintai.” ### Bintang terengah.             Reinhard sudah pergi entah ke mana, meninggalkannya dan Hikari di ruangan kosong yang hanya diterangi oleh lampu berwarna kuning. Baru saja, cowok psikopat itu menelepon Revro dan menamparnya dengan keras, supaya dia bisa menjerit dan Revro menjadi khawatir. Sekilas, Bintang bisa mendengar suara keras Revro yang memaki Reinhard, dan suara itu membuat Bintang ingin menangis.             Dia rindu Revro.             Dia ingin bertemu dengan Revro-nya.             Saat diculik oleh Reinhard, Bintang tidak mengingat bagaimana dia bisa berakhir di tempat ini. Sepertinya, cowok b******k itu membiusnya dan ketika dia sadar, dia sudah duduk dengan kedua tangan dan kaki terikat kuat. Yang membuatnya kaget setengah mati adalah, ketika Hikari ada di sampingnya, tersenyum lelah, dengan wajah pucat dan ada bekas darah di sudut bibir juga pelipis.             “Hikari?! Lo kenapa? Lo diapain sama Reinhard?” tanya Bintang kala itu. Dia menatap Hikari dengan tatapan sedih dan tahu-tahu saja sudah menangis.             “Eh, Bintang kenapa nangis? Hikari nggak apa-apa, kok.” Hikari berusaha menenangkan Bintang, adik kembar dari orang yang dicintainya. “Hikari lengah, makanya bisa diculik sama Reinhard. Ini, tadi dia nggak sengaja ngedorong sampai bikin Hikari jatuh dan akhirnya berdarah.”             “BOHONG!” seru Bintang. “Reinhard pasti nyakitin lo, kan?”             Hikari diam dan keterdiaman itu membuat Bintang yakin akan asumsinya. Keduanya kemudian diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Reinhard datang kembali ke ruangan ini, menampar Bintang hingga cewek itu menjerit dan sudut bibirnya berdarah dan hal serupa juga terjadi pada Hikari. Rambut cewek itu bahkan dijambak kuat hingga kepala Hikari tertarik ke belakang.             “Sekarang gimana?” tanya Bintang pada Hikari. Dia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu. “Hikari?”             Karena tidak ada sahutan, Bintang menoleh. Seketika itu juga, Bintang terkejut. Hikari bersandar di dinding dengan kedua mata terpejam dan wajah yang semakin pucat. Cewek itu juga kelihatan susah bernapas, membuat Bintang takut setengah mati dan baru menyadari sebuah fakta mengenai Hikari yang sempat dia lupakan.             Cewek itu punya penyakit asma!             Dan ruangan ini sangat berdebu, di mana banyak sarang laba-laba di beberapa sudutnya!             “Hikari! Hikari!” teriak Bintang kalut. Cewek itu sudah menangis sekarang dan menunduk. Hatinya sakit, jantungnya meliar. Dia takut, takut kalau Hikari... kalau pacar kakak kembarnya itu... tidak bisa tertolong.             “Hikari, jangan mati...,” lirih Bintang. Cewek itu sesegukkan. Wajah Revro dan Bravo memenuhi benaknya, membuatnya berdoa dalam hati supaya Tuhan menyampaikan permintaan tolongnya pada kedua cowok itu.             Dia pun mengambil satu keputusan.             Dia akan melindungi Hikari dari jangkauan Reinhard! ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN