Suasana mendadak berubah tegang.
Hikari masih menyembunyikan diri di balik punggung Reffal, menatap ngeri ke arah Bintang, Revro dan Bravo. Terutama Bravo. Cewek itu benar-benar terlihat sangat ketakutan saat bertemu mata dengan Bravo, membuat perasaan asing masuk ke dalam hati Bravo. Perasaan asing yang terasa sangat menyakitkan dan sesak bukan main. Terlebih bagaimana Bravo melihat Reffal berusaha melindungi Hikari dan cewek itu sepenuhnya bergantung pada Reffal. Belum lagi kenyataan bahwa Hikari melupakan dirinya, saudara kembarnya dan Revro, tapi mengingat Reffal.
Sialan!
Mendadak, terdengar suara ponsel. Mereka semua langsung menoleh ke sumber suara dan menyadari kalau ponsel Hikari lah yang berbunyi. Sambil menenangkan Hikari yang tidak mau ditinggal oleh Reffal, cowok itu meraih ponsel Hikari dan mengangkat satu alis ketika sebuah nomor tersembunyi menelepon cewek tersebut.
“Halo, Hikari....”
“Hai,” sapa Reffal dengan suara tegasnya. Di sisi lain, Revro, Bintang dan Bravo memperhatikan Reffal yang tersenyum miring. Senyuman yang terkesan dingin. “Hipnotis lo berhasil, nih.”
Diam.
Seseorang yang sedang menelepon Hikari itu menggertakkan gigi dan mengepalkan sebelah tangan. Siapa pun yang sedang menjawab panggilan teleponnya untuk Hikari saat ini, bisa dipastikan orang tersebut tahu banyak soal hipnotis.
“Gue balikin Hikari jadi normal lagi, ya?” tanya Reffal dengan suara mengejek. “Ilmu hipnotis lo masih banyak kekurangannya, dude. Belajar yang giat lagi, oke?”
Lalu, Reffal memutus sambungan telepon begitu saja.
“Hikari, ayo ikut gue,” ajak Reffal kemudian. Cowok itu menggenggam tangan Hikari erat, membuat Bravo meliriknya tidak suka. Entahlah, dia sangat tidak senang apabila Hikari berdekatan dengan Reffal. Apa... apa mereka berpacaran?
Bloody hell! Terus kalau mereka pacaran, memangnya kenapa? Apa yang harus dia takutkan? Kenapa dia harus tidak senang? Demi Tuhan, Hikari bukan siapa-siapanya!
Reffal membantu Hikari untuk duduk, lalu memosisikan dirinya tepat di depan cewek itu. Sambil tersenyum, Reffal mendekatkan jari telunjuknya ke arah wajah Hikari, menyisakan jarak lima senti saja. “Hikari, liat jari gue, ya.”
Hikari mengangguk patuh dan mulai mengikuti instruksi Reffal. Setelah itu, Reffal menjauhkan jari telunjuknya dan menyuruh cewek itu untuk menatap langsung ke kedua manik matanya. Reffal mulai memasuki dunia Hikari, memasuki alam bawah sadar cewek tersebut.
“Hikari... setelah gue menghitung satu sampai tiga, lo akan tertidur. Begitu lo terbangun nanti saat mendengar suara tepukan tangan tiga kali dari gue, lo akan mengingat kembali siapa itu Bintang, Revro dan Bravo, dan lo akan melupakan kejadian sebelum ini.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Reffal menghitung satu sampai tiga, membuat Hikari tertidur dan Reffal segera menangkap tubuh yang limbung ke arahnya itu. Kemudian, dengan posisi Hikari yang berada dalam pelukannya, Reffal menepuk tangannya tiga kali dan cewek itu langsung mengerang pelan.
Kemudian membuka mata dan menjauhkan tubuhnya dari Reffal.
“Hikari?” panggil Revro khawatir. Ditatapnya sang sahabat yang juga balas menatapnya. “Lo nggak apa-apa, kan?”
“Vro? Bintang? Bravo? Reffal? Ini di mana? Kok gue ada di sini? Bukannya tadi gue lagi di kantin kampus, terus... mmm, terus....” Hikari mengerutkan kening dan memijat pelipisnya pelan. “Apa yang gue lupain, ya?”
Reffal tersenyum tipis dan mengusap rambut Hikari. Ketika tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Bravo yang terkesan datar, Reffal langsung berdeham dan bangkit. “Yang nggak bisa diingat, nggak perlu dipaksa untuk diingat, Hikari-chan.”
Sialan! Bravo menahan diri. Kenapa dia harus manggil Hikari dengan sapaan tadi?
“Hikari beneran udah nggak apa-apa, kan?” tanya Bintang cemas. Cewek itu maju ke arah Hikari dan langsung memeluk Hikari erat, membuat Hikari tersentak dan membeku. “Bintang khawatir banget sama Hikari, loh.”
“Maaf, Bintang,” kata Hikari seraya menjauhkan tubuh Bintang darinya. Diberinya Bintang seulas senyum lelah dan tipis. “Bintang nggak boleh dekat-dekat sama gue.”
“Maksud lo ap—“
“Lo juga, Vro,” potong Hikari seraya menatap Revro, kemudian beralih ke arah Bravo. “Termasuk lo, mister arogan.”
“Tapi, kenapa?!” seru Bintang tidak terima. Matanya mulai memanas. “Kenapa kita nggak boleh dekat sama lo, Hikari?” cewek itu mati-matian menahan tangis. “Bintang nggak mau jauh dari Hikari. Bintang sayang sama Hikari.”
“Ini demi lo juga, Ntang,” jelas Hikari dengan suara seraknya. Teringat lagi olehnya ancaman orang tersebut. “Gue cuma nggak mau lo, Revro dan Bravo jadi korban.”
“Terus gimana sama diri lo sendiri?” tanya Revro menantang. Kedua tangannya mengepal kuat. Dia tidak rela sahabatnya menanggung beban ini sendirian. “Apa lo pikir, lo bisa menyelesaikan masalah ini sendirian? Apa lo pikir, dengan menjauhnya lo dari kita bertiga, psycho k*****t itu akan berhenti berulah? Gitu maksud lo?”
Hikari diam. Speechless dengan kemarahan Revro padanya.
“Sadar diri, Hikari!” Revro benar-benar emosi dan kecewa pada sahabatnya itu. “Lo cewek, lo lemah! Lo nggak bisa apa-apa!”
“Hei!” Bravo segera menengahi sebelum Revro mengeluarkan semua kata-kata menyakitkan tersebut untuk sang sahabat yang Bravo tahu, selalu Revro jaga mati-matian selama ini, seperti cowok itu menjaga Bintang. “Lo udah kelewat batas.”
Hening mendominasi. Hikari menunduk, mengulang semua ucapan menyakitkan Revro barusan. Apa yang dikatakan oleh Revro memang benar. Tapi, dia melakukan ini untuk kebaikan mereka bersama. Kalau bukan karena di back-up oleh Reffal, Hikari juga tidak akan sanggup bertindak.
Tapi, ketiga orang di depannya itu, yang ingin dia lindungi, tidak pernah tahu kalau Reffal juga turut campur dalam masalah mengerikan ini. Bahwa Reffal yang selalu mengawasi keadaan sekitar mereka dan sedang berusaha mencari tahu identitas si peneror.
“Gue pamit.” Hikari mengangkat kepala dan tetap tersenyum.
Walau itu membunuhnya.
“Jaga diri kalian, ya....” Cewek itu menarik napas panjang dan menatap Bintang. “Bintang harus kuat, harus sabar! Semuanya pasti bakalan selesai dalam waktu dekat, oke? Sampai saat itu tiba, Bintang harus jauh-jauh dari Hikari. Karena, kalau Bintang ada di dekat Hikari, orang itu bakal mencelakai Bintang melalui Hikari.”
Karena jiwa gue lemah, jadi gue gampang dipengaruhi.
Bintang yang tadinya menahan tangis, kini tidak bisa menahannya lagi. Cewek itu menghambur ke pelukan Hikari, menyesali nasib sialnya. Bersedih karena harus menyeret Hikari ke dalam masalahnya sendiri. Karena orang itu adalah stalker nya, Bintang jadi membuat Hikari selalu menjadi korban.
Kasihan Hikari.
“Yuk, gue antar.” Reffal menggamit lengan Hikari lembut, membuat Bravo yang melihatnya langsung mengalihkan tatapan. Tapi, Reffal menangkap tindakan Bravo tersebut dan mendengus geli.
Gue bakal jadi korban kekerasan sebentar lagi.
###
Bulan sedang menatap malas jajaran counter makanan di kantin, ketika matanya menangkap sosok Revro memasuki ruangan yang sama dengannya itu. Seketika itu juga, Bulan tersenyum senang dan langsung meneriaki nama Revro, membuat cowok tersebut menoleh dan semua pengunjung kantin menatap Bulan dengan tatapan bete karena teriakan cewek itu.
“Elo, ya,” kata Revro ketika duduk di depan Bulan sambil tersenyum geli. “Umur lo berapa, sih? Lima tahun? Teriak-teriak nggak jelas.”
“Gue manggil elo, tau! Bukan teriak-teriak nggak jelas,” ucap Bulan seraya mencibir. Senyumannya kemudian terlihat lagi, kali ini semakin merekah. “Lo sendirian aja? Cewek itu?”
“Cewek itu?” Revro mengulang kalimat Bulan dan membulatkan mulut saat dia paham apa maksud Bulan. “Bintang? Masih ada kuliah kalau nggak salah.”
“Dia pacar lo, ya?” tanya Bulan ingin tahu, tapi nada suaranya juga terdengar malas. “Terus, cowok yang waktu itu bilang lo selingkuh, dia siapa? Mukanya rada mirip sama cewek itu.”
“Bukan, dia mantan gue.” Revro terkekeh. “Mantan yang lagi gue ajak rujuk. Kalau yang cowok, itu Bravo, kembaran Bintang.”
Mantan? Berarti, gue masih ada kesempatan, dong?
“Kalau dia mantan lo, gue masih bisa usaha, dong?”
Revro mengangkat satu alisnya dan menatap Bulan yang kini menopang dagu. Sikap Bulan saat ini berbeda dengan sikapnya waktu pertama kali Revro bertemu dengan cewek itu. Saat itu, Bulan terlihat polos dan lugu, sehingga diam saja saat ditabrak dan tidak marah-marah, padahal sudah jelas, dia yang jadi korban.
Tapi sekarang? Cewek itu berubah menjadi cewek pemberani yang sedang terang-terangan ingin mencari perhatiannya.
“Usaha apa? Buka counter makanan di kantin ini?” tanya Revro asal, berusaha mengalihkan topik, sambil tertawa renyah. Dia malas membahas masalah seperti ini. Hati dan cintanya hanya untuk Bintang, bukan untuk cewek lain. Revro juga malas kalau ada cewek lain yang menaruh harapan untuknya. Dia tidak mau menyakiti hati siapa pun.
“Lo tau bukan itu maksud gue, Revro.” Bulan memiringkan kepala dan tiba-tiba saja, cewek itu menyentuh pipi Revro.
Diperlakukan seperti itu membuat tawa Revro hilang dan gestur tubuhnya berubah kaku. Tangan mulus Bulan masih mendarat di sana, di pipinya. Mata cewek itu berusaha masuk ke dalam dunianya, tapi Revro tidak membiarkan. Cepat, cowok itu segera menangkap pergelangan tangan Bulan, untuk kemudian menjauhkan tangan cewek itu dari pipinya.
Di saat waktu tidak berpihak padanya.
Bintang muncul. Cewek itu menatap kejadian tersebut dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Ada rasa sesak dan sakit masuk di dalam hati saat melihat bagaimana Revro bermesraan dengan cewek lain. Memang, statusnya saat ini adalah mantan pacar Revro, dia juga yang memutuskan hubungan kasih di antara keduanya. Tapi, entah kenapa, Bintang tidak rela dan tidak sudi kalau Revro memiliki gebetan lain atau calon pacar baru.
Dia milik gue! Batin Bintang. Untuk pertama kalinya, cewek itu bersikap egois.
Sampai kemudian, Bintang mengerjap saat sesuatu melesat tepat di sampingnya, yang kemudian dia kenali sebagai sebuah buku, dan tepat mengenai sasaran.
Kepala Revro.
Cowok itu langsung mengaduh dan bangkit berdiri. Tangannya masih bertahan pada pergelangan tangan Bulan dan dia mencari oknum yang sudah seenak jidatnya melempar sebuah buku berukuran lumayan besar ke arah kepalanya. Ketika dia menoleh, dia terpaku.
Pun dengan Bintang yang menoleh ke samping.
Hikari. Di sana ada Hikari yang menatap bete Revro dan mendengus.
“Hikari?” panggil Revro dan Bintang bersamaan. Saat itu juga, Revro segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Bulan, membuat Bulan mendesis jengkel dan menatap Hikari dengan tatapan kesal.
Apa? Tantang Hikari secara tersirat ke arah Bulan.
“Playboy kurang ajar! Kalau semua masalah kita berempat udah beres, lo tunggu siksaan dari gue atas sakit hati yang Bintang rasain!”
Bulan menatap Hikari dengan tatapan tidak senang miliknya, tapi Hikari sama sekali tidak ambil pusing. Ditentangnya tatapan Bulan tersebut lantas mendengus dan balik badan. Meninggalkan kantin dan kehebohan yang baru saja dia ciptakan itu.
Bintang juga ikut memutar tubuh setelah sebelumnya dia menarik napas panjang. Cewek itu berjalan pergi, ketika lengannya ditahan dan saat menoleh, wajah tegas Revro menyambutnya.
Tapi tidak dengan senyuman tertahan yang sanggup membuat Bintang gugup dan kesal dalam waktu bersamaan.
“Jadi ceritanya, Yang Mulia Bintang Maladewi Bagaskara cemburu?”
“Biasa aja,” jawab Bintang sekenanya. Padahal di dalam hati, dia nyaris meledak. Diliriknya Bulan yang kini sedang bersiap-siap pergi. “Tuh, gebetannya nggak ditemani? Nanti dia sedih, loh.”
“Dengan resiko kepala gue bakalan bocor karena dilemparin pakai buku lagi?” tanya Revro seraya menggeleng. “No, thanks. Gue rasa, gue harus kasih saran ke Hikari untuk nggak baca-baca buku yang tebalnya ngalahin buku mantera the charmed ones.”
Mau tidak mau, Bintang tertawa juga mendengar lelucon jayus milik Revro itu. Cowok tersebut memang menyukai serial Charmed. Bahkan, nama mama Revro sama dengan nama salah satu karakter di serial itu.
“Nah, kalau ketawa kan jadi lebih cantik dan manis.” Revro menjawil hidung Bintang mesra, membuat Bintang berdeham dan langsung memukul d**a Revro dengan punggung tangannya. “Tenang aja, lagi. Gue cintanya sama lo doang. Setelah masalah ini beres, akan gue pastikan lo jadi milik gue selamanya.”
Bintang menunduk malu. Ucapan Revro tadi sanggup membuat hatinya menghangat. Dia membiarkan saja saat Revro mengusap rambutnya dan mencium kilat sebelah pipinya. Membuat Bulan yang masih ada di tempatnya semula menatap adegan itu dengan tatapan datar dan jijik yang terlihat jelas.
“Udah jadi mantan aja tapi sok kecentilan.” Bulan mendengus dan pergi. “Bitch.”
###
Bravo menghentikan motornya dan menaikkan kaca helm. Tatapannya kemudian menajam ke kejauhan, tepatnya ke arah kafe di seberangnya. Di sana, di dekat pintu masuk kafe, seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk sambil tertawa dan menggenggam erat tangan seorang cewek yang harus Bravo akui terlihat sangat manis dan imut. Tak lama, orang tersebut mengusap pipi cewek itu dan keduanya terlihat sangat mesra.
“b******k!” umpat Bravo. Cowok itu melepas helm nya dan mematikan mesin motor. Dia mencabut kunci, menyebrang jalan seenaknya saja, dan segera menghampiri sepasang sejoli yang sepertinya sedang dimabuk cinta itu.
“Kurang ajar!”
Dengan satu tarikan keras, Bravo membuat orang tersebut—Reffal, berdiri dari duduknya. Kemudian, tanpa basa-basi, Bravo segera menghadiahi Reffal sebuah tinjuan, hingga menyebabkan para pengunjung kafe lainnya, juga para pengendara dan pejalan kaki yang melintas, menatap ke arah keduanya. Tak terkecuali si cewek manis nan imut yang saat ini sedang bersama Reffal. Ketika Reffal jatuh tersungkur dan si cewek manis itu berjongkok untuk membantu Reffal, Bravo otomatis menghentikan laju tangannya.
“Lo benar-benar cowok b******k, Reffal!” teriak Bravo. Tatapannya benar-benar menakutkan. Dadanya naik-turun, tanda emosi yang tidak bisa dikontrol dengan baik. “Lo sadar apa yang lagi lo lakuin sekarang, hah?!”
“Apa yang lagi gue lakuin emang?” tanya Reffal kalem. Cowok itu bangkit dengan dibantu si cewek manis kemudian tersenyum tipis. Reffal mengerti kalau Bravo salah paham. Semua itu karena Bravo peduli pada... Hikari.
Hal yang belum disadari oleh Bravo sendiri.
“Lo masih berani nanya?!” seru Bravo tidak percaya. Cowok itu mendengus dan tertawa keras. Tawa yang dipaksakan. Terlintas di benaknya bayangan wajah sedih Hikari, jika cewek itu melihat adegan murahan Reffal dan selingkuhannya ini. Membuatnya ingin mematikan Reffal detik ini juga. “Lo udah pacaran sama Hikari, tapi masih berani dekatin cewek lain?! Lo berani selingkuhin Hikari?!”
Si cewek manis mengerutkan kening dan menatap Reffal, sementara Reffal mengulum senyum dan balas menatap cewek itu dengan tatapan menenangkan.
“Let me tell you this: Hikari bukan pacar gue.”
DEG!
Apa kata Reffal barusan?
“Hikari bukan pacar gue, Bravo.” Reffal merangkul cewek di sampingnya erat. “Dia cewek gue. Namanya Shareen. Kita bahkan mau tunangan dua bulan lagi.”
Bravo speechless. Tidak menyangka kalau selama ini... dia... dia...
“Lagian, kenapa lo harus pusing-pusing mikirin Hikari, kalau seandainya gue benar-benar selingkuhin dia? Hmm?”
Good question!
“Karena sebenarnya, lo peduli sama dia, kan? Karena sebenarnya, lo suka dan sayang sama Hikari, kan?”
Bravo tetap bungkam.
“Come on, bro... gue cowok dan gue paham semuanya. Arti tatapan lo untuk gue di saat gue sama Hikari lagi bersama, rasa sakit hati dan ketidakrelaan lo ketika Hikari terkena pengaruh hipnotis dan melupakan lo, juga kecemasan lo sama Hikari saat ini, karena cewek itu menyuruh kalian bertiga untuk menjauhinya.”
Kepala Bravo tertunduk. Bahkan di lantai yang kini dia tatap pun, dia bisa melihat wajah Hikari yang tersenyum. Sangat tulus dan manis. Lalu, bayangan itu berubah menjadi wajah Hikari yang terluka, ketika waktu itu dia tidak sengaja kelepasan menamparnya di koridor kampus.
Dan kini, jantungnya berpacu cepat, saat kalimat itu lolos dari mulut Reffal.
“Kalau gue bilang tujuan utama dari si psycho itu sekarang beralih dari Bintang menjadi Hikari, apa yang akan lo lakuin?”
###
Lagi-lagi, Bintang melihat Revro sedang berbicara dengan Bulan.
Rasanya benar-benar menyebalkan kala melihat cowok itu bisa tertawa lepas seperti saat ini bersama cewek lain. Lalu, Revro terlihat santai dan biasa saja, ketika Bulan menarik-narik lengan jaketnya dan mengacak rambutnya. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bahagia-bahagianya saat ini.
“Nyebelin banget, sih,” keluh Bintang. Cewek itu tidak jadi menghampiri Revro, dan akhirnya memutuskan untuk pergi saja, saat mendengar namanya dipanggil. Bintang menoleh dan mengerutkan kening ketika Bulan yang berjalan menghampirinya, bukan Revro. Cowok itu sendiri sudah menghilang entah ke mana.
“Bintang, right?” tanya Bulan memastikan. Senyuman cewek itu terlihat sangat dipaksakan dan tidak tulus di kedua mata Bintang. Bintang sendiri mengangguk, lantas membalas senyuman Bulan walau hanya terlihat samar.
“Kenapa?”
“Gue nggak mau basa-basi.” Bulan menatap Bintang tegas. “Revro bilang, lo mantan pacarnya, sewaktu gue tanya apa status lo ke dia. Meskipun begitu, dia bilang dia bakal minta lo balik ke dia dan gue nggak suka dengarnya!”
Loh? Kok jadi sewot?
“Gue suka sama Revro dan gue rasa, ini yang dibilang orang-orang tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi, lo tolong tau diri, oke? Status lo cuma mantan dan gue harap, lo nggak usah keganjenan ke Revro! Mantan ya mantan, harus dimusnahkan!” Bulan tersenyum mengejek. “Lagian, kalau dibandingin sama gue, lo itu jauh. So, jangan ganggu rencana gue untuk mendekati Revro dan jadiin dia milik gue seutuhnya, ngerti?”
Bintang diam saja. Mendengarkan semua ucapan Bulan untuknya. Merasa di atas angin, Bulan langsung tersenyum puas dan melangkah melewati Bintang. Dia bahkan sengaja menabrak pundaknya ke pundak Bintang. Kemudian, belum terlalu jauh Bulan melangkah, Bintang memanggilnya.
“Ada undang-undangnya, nggak, kalau mantan nggak boleh balikan?”
Bulan menoleh dan mengangkat satu alisnya. Dia menatap Bintang kesal karena cewek itu sepertinya tidak terintimidasi oleh kata-katanya barusan, melainkan tersenyum menantang.
Sialan!
“Nggak ada, kan?” tanya Bintang puas. “Dan lagi, lo sendiri yang bilang kalau Revro mau balikan sama gue. Itu artinya, cintanya dia ya hanya buat gue. Harusnya yang sadar diri di sini adalah elo, Bulan. Lo tetap dekatin cowok yang jelas-jelas nggak tertarik sama lo. Lo bukan istrinya, loh. Kalau lo istrinya, baru gue mundur.”
“Elo?!” geram Bulan tidak terima.
“Dan lagi, segalanya sah dalam perang dan cinta.” Bintang mengedipkan sebelah mata dan melenggang pergi. Sama sekali tidak sadar kalau sebenarnya, Revro menyadari kehadirannya tadi dan sekarang, cowok itu sedang mengintip Bintang dan Bulan juga mendengar percakapan mereka. Revro tertawa geli, menatap punggung Bintang yang mulai menjauh itu.
“Lo mendadak gila, ya?” tanya Elif yang baru saja muncul di dekatnya sambil mendekap erat diktat-diktat kuliah. Revro menoleh dan mengacak rambut Elif yang langsung melongo dan mendesis jengkel. Cewek itu tidak pernah suka rambutnya diacak seperti ini dan Revro justru semakin menyukai hal tersebut. Dia sangat suka membuat cewek-cewek penting di sekitarnya kesal karena ulahnya.
“Iya!” tandas Revro langsung. “Gila karena si Bintang!”
“Ih, malas gue dekat-dekat sama lo. Masalah gue sendiri udah bikin gue pusing, tolong jangan seret gue ke masalah lo lagi, ya!” ancam Elif langsung. (Baca: Abimanyu Junior’s Series-Friendzone)
Revro kembali tertawa, sementara Elif manyun.
###
Hikari berhenti melangkah dan mengutuk nasibnya yang selalu sial di mana pun dia berada. Tadinya, dia memilih rute jalan ini untuk pulang ke rumah supaya cepat sampai dan lekas tidur. Dia sedang malas memikirkan semua hal yang sedang terjadi. Dia ingin mengistirahatkan otak dan tubuhnya. Tapi, bukannya cepat sampai rumah, dia harus terjebak dalam aksi tawuran antar anak SMA entah dari sekolah mana.
“Mungkin gue kudu mandi kembang begitu sampai di rumah nanti, biar—“
Saat itulah, Hikari menyadari adanya batu terbang yang menuju ke arahnya. Bukannya menghindar, Hikari justru membatu dan menatap batu yang sebentar lagi akan mengenai kepalanya tersebut.
Sampai kemudian, sesuatu memeluk tubuhnya dan sesuatu itu mengerang pelan. Batu itu sukses mengenai punggung atasnya.
Hikari yang sadar langsung tersentak. Dia mendongak, bertemu mata dengan manik beda warna yang sangat memukaunya. Biru muda dan hijau muda itu begitu memesona dan menyihirnya, membuatnya terpana. Manik itu sangat pas dengan wajah tampan dan rambut panjang mencapai tengkuk milik orang yang saat ini sedang memeluknya dan baru saja menyelematkannya dari batu terbang itu.
Cowok itu menunduk untuk menatap Hikari dan sedikit terbuai kala mata Hikari menatapnya lekat. Dia tersenyum tipis.
“Elo... bukannya....” Hikari yakin dia pernah bertemu cowok ini sebelumnya. Tapi... di mana?
“Hai, Hikari....”
Tunggu dulu! Suara ini...
“Kenalin, gue Reinhard Marviano. Just call me Rein, kitten.” Reinhard mengusap rambut Hikari dan semakin tersenyum. Cowok itu menoleh, menatap keramaian akibat tawuran di kejauhan, lalu kembali menatap Hikari dengan tatapan... lembut? “Gimana kalau gue bawa lo pergi dari sini dan mencari tempat aman, kitten?”
Sialan! Ini nggak benar! Ini jauh dari rencana! Reinhard membatin. Tapi, harus dia akui, dia justru mulai tertarik dengan cewek yang sudah dua kali dia hipnotis untuk mencelakai Bintang, Revro dan Bravo. Dia menggunakan cewek ini untuk memisahkan Bintang dari Revro karena menurutnya, Bintang adalah miliknya.
Sejak dulu.
Lantas, kenapa sekarang dia justru mengkhawatirkan korban hipnotisnya dan orang yang bisa dia gunakan sebagai alat untuk membuat Bintang dan Revro tidak bersatu lagi, ketika Hikari tadi hampir saja terkena batu terbang salah sasaran itu? Kenapa dia justru ingin berbicara dengan Hikari, menghabiskan waktu bersama cewek itu?
Gue mulai nggak waras!
###