Chapter 8

2452 Kata
Bintang menghentikan taksi yang dia tumpangi dan menatap ke seberang jalan, tepatnya ke taman kota yang saat ini sepi dan hanya ada dua orang berlawanan jenis, yang sedang duduk sambil menikmati semilir angin juga daun yang berguguran. Cewek itu mengerutkan kening, lantas membayar ongkos taksi sesuai argo yang tertera, kemudian turun dan bersembunyi di balik ruko. Matanya menatap awas ke arah dua orang tersebut.             Hikari dan seorang cowok yang tidak dikenalnya.             Bintang berusaha mengingat-ingat, apakah dia mengenali sosok cowok tersebut atau tidak. Tapi, otaknya tidak bisa memberikan satu informasi apa pun mengenai sosok tersebut. Gemas, Bintang memutuskan untuk mendekat agar bisa mendengar percakapan keduanya. Tentu saja Bintang akan terus bersembunyi supaya tidak ketahuan.             Kalau orang tuanya tahu akan hal ini, mereka pasti akan langsung mengomeli Bintang karena menguping pembicaraan orang lain.             Setelah merasa cukup dekat, Bintang langsung menajamkan pendengarannya. Hikari nampak tidak nyaman berada di samping cowok itu, sementara si cowok sendiri terlihat santai dan tenang. Dia sangat menikmati semilir angin dan langit biru di atas sana.             “Siapa, ya?” gumam Bintang penasaran. Dia meraih ponsel, mengetik sesuatu di sana, kemudian menaruh lagi ponselnya tersebut ke saku celana. Cewek itu memberitahu Revro mengenai hal ini dan menyuruh cowok tersebut agar cepat datang.             Sementara itu, Hikari melirik sekilas. Dia sekarang yakin kalau cowok bermata hijau dan biru di sampingnya ini adalah orang yang menerornya, sekaligus orang yang menghipnotisnya. Suara cowok inilah yang membuat Hikari sadar.             “Mau nanya apa?” tanya cowok itu tiba-tiba, membuat Hikari tersentak dan buru-buru mengalihkan tatapannya.             Sialan! Gue kepergok!             Reinhard mengawasi Hikari dan mengulum senyum. Senang melihat bagaimana cewek di sampingnya ini merasa malu akan tindakannya barusan. Sambil menarik napas panjang, Reinhard menaruh tangannya di kepala Hikari, membuat Hikari lagi-lagi tersentak dan mendongak untuk menatap Reinhard.             “Lo pasti mau nanya banyak hal ke gue, kan?”             Hikari berdeham dan menurunkan tangan Reinhard dari kepalanya. Cewek itu menatap tegas dua manik beda warna yang sangat memukau tersebut, kemudian menarik napas panjang.             “Tadi lo bilang nama lo Reinhard?”             “Just call me, Rein,” jawab cowok itu sambil tersenyum.             “Oke, Rein.” Hikari mengangguk patuh. “Apa lo orang yang meneror gue dan Bintang? Orang yang hampir nyelakain gue dan Bintang, juga orang yang menghipnotis gue sampai dua kali?”             Reinhard diam. Cowok itu balas menatap manik Hikari yang terlihat tegas dan sama sekali tidak gentar. Di saat semua orang akan terintimidasi oleh tatapannya, Hikari justru terlihat biasa saja.             “Ya!” tandas Reinhard tegas. Dia bisa melihat sinar keterkejutan di mata Hikari, tapi cewek itu cepat-cepat menyembunyikannya. Di sisi lain, Bintang yang juga bisa mendengar hal tersebut langsung tersentak dan nyaris ke luar dari tempat persembunyiannya untuk menyuarakan protes, ketika sesuatu menyambar pinggangnya dengan cepat dan menariknya lagi untuk bersembunyi.             “Sst... diam di sini,” bisik suara itu tegas. Bintang menoleh dan menatap Revro yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Wajah dan tatapan mata cowok itu terlihat tidak ingin dibantah. Bintang hanya bisa mendengus dan cemberut. Bersedekap sambil melirik lagi ke arah Hikari untuk mengawasi. Begitu juga dengan Revro. Cowok itu sempat mendengar pertanyaan Hikari yang terakhir dan mendengar jawaban dari cowok di samping sahabatnya itu.             b******k!             Jadi dia, orang yang sudah meneror sahabat dan cewek yang dicintainya? Apa tujuannya?             “Apa tujuan lo ngelakuin hal itu?” seakan bisa melakukan telepati dadakan dengan Revro, Hikari menanyakan apa yang ada di dalam kepala sahabatnya tersebut.             Dengan satu gerakan tak terduga, Reinhard mengangkat dagu Hikari dan sebelah tangannya yang lain mengunci dua tangan Hikari ke belakang punggung cewek itu. Melihat hal itu, Revro nyaris melompat ke luar dari tempat persembunyiannya, kalau saja Bintang tidak segera menahan lengannya. Bintang yang gusar lantas melotot mengerikan, membuat Revro mendengus. Setengah kesal, setengah geli.             “Gue benci sama Revro, sahabat tercinta lo itu.” Reinhard mulai menjelaskan. Dia tersenyum, tapi Hikari merasa sangat takut dengan senyuman misterius itu. Senyuman yang lebih mirip dengan seringaian. Tubuhnya mulai gemetar karena takut, tapi Hikari sebisa mungkin menekan rasa takutnya dan menentang Reinhard.             Dalam situasi seperti ini, seseorang justru muncul di benak Hikari, membuatnya merasa sedikit tenang dan tubuhnya tidak lagi gemetar seperti tadi.             Bravo.             Cowok itu seakan memberinya kekuatan.             “Kenapa lo benci sama Revro?”             Reinhard tertawa dan melepaskan tubuh Hikari. Cowok itu bangkit, berjalan sebentar ke depan, kemudian kembali lagi ke hadapan Hikari. Sambil bersedekap, ditatapnya Hikari dengan sorot ketertarikan.             Cewek di depannya ini mulai mengambil alih sistem otaknya.             Cewek bernama Hikari ini benar-benar menantang! Dia harus mendapatkan Hikari, harus!             “Karena dia ngerebut Bintang.”             Bukan hanya Hikari, Bintang dan Revro pun terkejut. Keduanya saling tatap, dengan Bintang yang mengerahkan seluruh ingatannya untuk mengetahui siapa cowok bernama Reinhard itu.             “Lo pernah selingkuh waktu pacaran sama gue, ya?” tuduh Revro dengan matanya yang memicing. Ditanya dan ditatap seperti itu membuat Bintang mendesis jengkel dan langsung meninju perut Revro. Tidak peduli kalau saat ini, Revro membungkuk sambil terbatuk dan setengah terkekeh karena tindakan Bintang barusan.             “Kalau ngomong disaring dulu, Pak!” gerutu Bintang. “Siapa coba yang selingkuh? Orang gue—“             “Cuma cinta sama gue, kan?” potong Revro sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Bintang berdeham dan mengalihkan tatapannya untuk menyembunyikan rona merah yang mulai terlihat. Sambil memukul d**a bidang Revro dengan punggung tangannya, cewek itu kembali fokus pada Hikari dan cowok bernama Reinhard itu.             “Lo tau, Hikari? Gue itu teman kecilnya Bintang.” Reinhard menjelaskan dengan nada menerawang. Cowok itu menatap langit biru, seolah-olah, langit biru membawanya kembali ke masa lalu. Mengenang semua hal bersama Bintang dulu. “Gue dan Bintang sangat dekat. Sampai-sampai, Bravo, kakak kembarnya selalu kesal dan cemburu karena gue memonopoli Bintang. Gue suka dengan hal-hal berbau hipnotis juga sulap, karenanya, gue belajar dari kecil. Tapi, Bintang mendadak pindah bahkan tanpa pamit ke gue.”             Revro melirik Bintang dan menyadari cewek itu mulai mengingat semua hal yang berkaitan dengan ucapan Reinhard. Terlihat dari gestur tubuh Bintang yang berubah, juga wajahnya yang terlihat sedikit pucat dan kaku.             “Lo... beneran teman kecilnya cowok itu?” tanya Revro hati-hati. Ketika kepala Bintang berputar untuk menoleh ke arahnya, Revro tertegun. Mata Bintang berkaca, bahkan air mata itu langsung turun tanpa bisa dicegah.             “Gue... gue benar-benar jahat....” Suara Bintang bergetar. Cewek itu kemudian menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangan. Menyembunyikan tangisnya di sana. Membuat Revro nelangsa karena dia tidak pernah bisa melihat perempuan menangis, apalagi orang-orang terdekatnya. “Gue melupakan teman gue sendiri, Rev....”             “Sst....” Revro meraih Bintang ke dalam pelukannya dan mengusap punggung cewek itu. Dia mengeratkan pelukannya ketika merasa tubuh Bintang sangat gemetar dan tangisnya semakin menjadi. “Bukan salah lo.”             “Gue marah! Gue benci sama hal itu. Bintang pergi meninggalkan gue. Sampai akhirnya, gue berjanji sama diri gue sendiri dan bertekad untuk ketemu lagi sama Bintang. Tapi, setelah gue berhasil menemukan Bintang, dia malah pacaran sama sahabat lo itu!” Reinhard melirik Hikari yang nampak terkejut. “Makanya gue neror dia dan bilang akan membunuh Revro, kalau dia masih menjalin hubungan sama cowok sialan itu.”             Hikari menelan ludah dan tidak bisa mengalihkan tatapannya dari raut wajah tegas Reinhard. Kemudian, cewek itu tersentak dan menahan napas tatkala Reinhard membungkuk dan mendekatkan tubuhnya sambil menangkup wajah Hikari yang terasa dingin.             “Tapi, ketika gue menghipnotis lo sebanyak dua kali, gue jadi tertarik sama lo, Hikari. Lo cewek berani yang peduli sama teman-teman lo. Lo cewek cantik yang menarik. Gue suka sama lo dan gue mau lo tetap ada di sisi gue.”             Apa katanya tadi?             “Lo nggak boleh dekat-dekat sama cowok lain, selain gue. Lo hanya milik gue. Gue akan membunuh semua cowok yang mendekati lo.”             Dia... bercanda, kan?             “Kalau lo nggak mau orang lain celaka karena lo, lo harus terus di sisi gue. Selamanya. Atau, kalau gue nggak bisa memiliki lo, maka orang lain pun nggak ada yang bisa memiliki lo. Gue akan melenyapkan lo, membunuh lo, jadi, lo nggak akan bisa didekati dan dimiliki sama cowok-cowok lain di luar sana. Setelah itu, gue akan bunuh diri gue sendiri dan kita bisa bahagia di kehidupan baru nanti.”             Orang ini gila! Tuhan... tolong gue....             Setelah mengucapkan hal itu, Reinhard melepaskan wajah Hikari dan menjauh dari cewek itu. Reinhard tertawa dan mengusap lembut pipi Hikari yang semakin dingin kulitnya. Ditiupnya pelan wajah cewek itu, membuat Hikari terkejut dan refleks berdiri.             “Sepertinya kita harus berpisah, Hikari,” kata Reinhard seraya menatap arlojinya. “Gue ada urusan. Lo ingat baik-baik pesan gue tadi, ya. Sampai ketemu lagi, Sayang.”             Hikari hanya bisa diam dan terpaku. Menatap punggung Reinhard yang semakin lama semakin menjauh, kemudian menghilang dari pandangannya. Cewek itu berusaha mengontrol degup jantungnya, tapi gagal. Kemudian, kedua lututnya yang sudah terasa lemas, tidak bisa menahan beban tubuhnya lagi. Hikari jatuh berlutut dengan tubuh gemetar hebat.             Dan, dia menangis keras. Meluapkan ketakutannya. Memanggil nama Revro, Bintang, Reffal, juga... Bravo.             Ditatap dengan nanar dan kasihan oleh Bintang yang juga menangis dalam pelukan Revro. ### Bravo masuk ke dalam rumah Revro sambil mengerutkan kening, ketika dia melihat Bintang menangis dalam rangkulan erat Revro pada pundak cewek itu. Kakak kembar Bintang itu segera berlari menghampiri Bintang dan Revro dengan wajah tegang.             “Ada apa?” tanyanya nyaris berbisik. Cowok itu bergantian menatap Bintang dan Revro. “Rev, ada apa?!”             Revro menghela napas panjang dan menyuruh Bravo untuk duduk terlebih dahulu. Kemudian, setelah kakak kembar Bintang itu mulai duduk, Revro segera menjelaskan apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Hal itu membuat tubuh Bravo membeku dan teringat lagi ucapan Reffal padanya.             Kalau gue bilang tujuan psycho itu sekarang beralih dari Bintang menjadi Hikari, apa yang akan lo lakuin?             Kedua tangan Bravo terkepal kuat di sisi tubuhnya. Cowok itu menunduk, menatap lantai dengan berbagai macam emosi. Cemas, takut, amarah, semua berbaur menjadi satu. Keselamatan Hikari adalah yang paling dia utamakan, setelah keselamatan Bintang.             Tunggu dulu.             Keselamatan Hikari yang paling dia utamakan...?             Karena sebenarnya, lo mulai suka sama dia, kan? Lo peduli sama dia, lo sayang dia.”             Kedua mata Bravo terpejam. Jantungnya berdetak liar. Napasnya mulai tidak beraturan. Semua ucapan Reffal kembali terngiang, membuat Bravo membayangkan wajah Hikari. Hikari yang tersenyum, Hikari yang jutek, Hikari yang tertawa, serta... Hikari yang ketakutan dan menangis.             Ponsel Bravo berbunyi, membuat semua lamunannya buyar. Cowok itu membuka kedua mata dan mengambil ponsel tersebut dari saku celana jeans-nya. Ketika dia melihat nama Hikari muncul di layar, Bravo segera menggeser tombol hijau dan bangkit berdiri.             “Lo di mana?” tanya Bravo. Tangannya bahkan mencengkram erat ponselnya. “Lo di mana?!”             Di ujung sana, Hikari menghembuskan napas panjang. Dia tersenyum pahit, ketika kembali mengingat semua percakapannya dengan Reinhard di taman kota.             “Tidur, di kamar.” Hikari menjawab dengan nada yang dibuat sesantai mungkin. “Kenapa?”             “Gue mau ketemu sama lo!”             “Nggak bisa.”             “Jangan main-main sama gue, Hikari!” seru Bravo tiba-tiba, membuat Bintang dan Revro terlonjak. Keduanya saling tatap dan bisa melihat wajah tegang dan cemas milik Bravo. “Gue ke sana sekarang!”             “Jangan.” Cewek itu menolak dengan nada lelah. “Biar gue yang ke rumah Revro. Lo jangan ke sini.”             Belum sempat Bravo menyuarakan protes, sambungan telepon telah terputus. Bravo menggeram marah dan melempar ponselnya ke sofa. Napasnya terengah. Dia mencoba mati-matian menahan emosinya, tapi tidak bisa. Akhirnya, cowok itu melampiaskannya dengan cara meninju dinding yang berada di belakangnya.             “Kak,” panggil Bintang dengan suara seraknya. “Jangan kayak gini.”             “Akan gue bunuh cowok b******k itu! Akan gue bunuh!” geram Bravo. Dadanya masih naik-turun karena emosi yang menggelegak dalam dadanya. Memikirkan keselamatan Hikari, memikirkan cara untuk menolong cewek itu.             Mungkin pada awalnya, dia memang selalu bersikap menyebalkan dan dingin pada anak dari sahabat orang tuanya itu. Tapi, sekarang dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.             Dia sayang cewek itu. Dia suka pada Hikari Nevandra Putra.             “Gue mau cari udara segar!” seru Bravo. Diraihnya ponsel dan cowok itu segera pergi dari rumah Revro.             Sepeninggal Bravo, Bintang melepaskan diri dari pelukan Revro. Dihapusnya air mata dan cewek itu menatap lekat manik Revro.             “Apa kita nggak bisa melakukan sesuatu, Rev? Buat nyelamatin Hikari? Gue rasa, Kak Bravo juga menginginkan hal itu. Gue rasa... kakak gue suka sama Hikari, Rev.”             “I know,” balas Revro sambil menarik napas panjang. “Itu sebabnya kita minta bantuan Reffal tadi. Untuk sekarang, yang harus kita lakuin adalah mengawasi Hikari dan jauhin dia dari pengawasan si Reinhard k*****t itu.”             “Semua gara-gara gue,” ucap Bintang dengan nada sedih. “Semua karena gue, Rev... Hikari yang jadi korban di sini karena gue. Karena gue, dia harus—“             “Bukan... ini karena cowok sialan itu yang udah kehilangan akal sehatnya, Bintang,” potong Revro. Diusapnya rambut Bintang sambil tersenyum menenangkan. “Tenang, kalau gue bilang masalah akan segera selesai, maka, lo harus percaya kalau semuanya akan segera selesai. Gue janji sama lo, kita semua akan bahagia. Lo, gue, Hikari dan Bravo.”             Bintang menganggu dan tersenyum. Kemudian, usapan Revro pada rambut cewek itu berpindah ke pipi, membuat perasaan Bintang menghangat. Keduanya saling tatap. Sorot penuh cinta itu terpancar dari mata keduanya. Perlahan juga, Revro mendekatkan wajahnya ke wajah Bintang, menunggu kalau-kalau Bintang ingin menolak. Nyatanya, cewek itu hanya diam. Menatap manik Revro. Sampai akhirnya, bibir keduanya bertemu.             Bintang merasa terlindungi dengan ciuman lembut milik Revro. Tangannya digenggam erat oleh Revro. Kemudian, keduanya menjauhkan wajah masing-masing dengan senyum simpul dan tertawa pelan bersama.             “Gue cinta banget sama lo, sumpah!” seru Revro sambil menarik napas panjang. Dipeluknya Bintang dan diciumnya kening cewek itu. “Setelah semua masalah ini selesai, lo nggak akan pernah bisa lari lagi dari gue, Bintang! Nama belakang lo akan berganti jadi Thampson.”             Wajah Bintang memanas dan rona itu muncul di sana. Menahan malu, Bintang mendorong d**a Revro dan mendengus. Membuat Revro gemas dan mencubit pipi Bintang.             “Revro, Bintang....”             Suara lelah itu membuat keduanya menoleh. Di ambang pintu, sosok Hikari terlihat sambil tersenyum lelah. Melihat kedatangan Hikari, Revro dan Bintang otomatis bangkit dari sofa dan tersenyum lembut ke arah cewek tersebut.             “Hikari,” panggil Bintang. “Kak Bravo lagi—loh, itu Kak Bravo di belakang lo.”             Hikari mengerutkan kening dan menoleh. Lalu, semuanya terjadi dalam hitungan detik.             Bintang langsung menjerit, sementara Revro berlari seperti kesetanan ke arah Hikari yang kini terdorong ke dinding dan dicekik oleh Bravo. Sorot mata Bravo terlihat kosong, seperti tidak memiliki jiwa. Kedua tangannya mencekik leher Hikari dengan sangat kuat, hingga cewek itu merasa kehabisan napas dan perlahan kedua matanya mulai memejam. Tubuhnya mulai tidak bertenaga karena tindakan Bravo ini. Samar, dia bisa mendengar suara teriakan Revro dan melihat walau tidak fokus, bagaimana sahabatnya itu berusaha menjauhkan Bravo darinya.             Apa ini akhirnya? Apa Reinhard tau kalau gue mau ketemu sama Bravo? Apa... gue akan mati...? Di tangan... Bravo...?             “Bra... vo....” Hikari mencoba bersuara, memanggil Bravo. Mencoba meraih Bravo dengan suaranya itu. Suara Hikari terdengar semakin menjauh. Lalu, ketika tubuhnya mulai meluruh, ketika semua suara di sekitarnya mulai tidak terdengar, ketika tenaganya sudah habis terkuras, sesuatu langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Disusul dia mendengar suara teriakan yang memanggil namanya dengan sangat cemas.             “HIKARI!”             Hikari terbatuk-batuk dan berusaha menjaga kesadarannya. Dia bisa melihat bagaimana Revro dan Bintang berada di sisinya, sementara Bravo jatuh tak sadarkan diri di lantai. Di samping Bravo, Reffal menarik napas panjang dan tersenyum tipis ke arah Hikari.             “Yo, Hikari-chan! Lo jadi apa, sih, di kehidupan sebelumnya? Sampai-sampai lo jadi target kejahatan dan kematian terus.”             Hikari hanya tersenyum lelah dan mendadak jatuh tak sadarkan diri. ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN