Diego kembali ke arah ranjang, duduk pada sebuah kursi dan memperhatikan wajah istrinya. “Terima kasih, sudah memberikanku kebahagiaan seperti ini. Maaf, kalau aku belum bisa membuatmu bahagia.” Lelaki yang hampir tak pernah berucap maaf itu,, kini lebih sering mengatakan tentang maaf pada Clara walau tak secara langsung. Melihat perempuan itu mencintainya, dan mendengar pertanyaan apakah dia sudah jatuh cinta apa belum, membuatnya bingung sendiri. Haruskan ia mengatakan apda Clara kalimat tak pernah ingin diungkapkan selama ini? Haruskan ia mengatakan, bahkan hatinya saja belum jelas menyadari apa dirasakan? Ia tak ingin membalas perasaan itu dengan kepalsuan, dan ia juga tak ingin jika pada akhirnya tak ada perasaan sama ketika suatu hari nanti menyadari. Hanya bahagia untuk menjalani

