Sebuah Tawaran
Kaki lemah tak berdaya mengiringi langkah seorang perempuan berambut panjang warna coklat, menyusuri sebuah halaman rumah luas yang baru pertama kali ia datangi.
Masih menutupi tubuh dengan seragam berwarna oranye kombinasi biru tua, perempuan akrab disapa Clara itu memang baru saja kembali dari bekerja. Menjadi penjaga di sebuah kedai minuman, semua dijalani selama kurang dari tiga tahun ini demi membantu keuangan panti.
Namun, sebuah kabar mengejutkan menghampiri telinganya hari ini. Tangisan dari kepala panti asuhan pun, seolah menjadi cambuk tersendiri untuk seorang Clara. Bagaimana tidak, tempat dimana ia dibesarkan telah berpindah tangan dan akan segera dihancurkan.
Banyak kenangan disana, Clara tak rela untuk tempat yang baru diketahui jika berdiri di lahan pemberian itu, akan diratakan menjadi tanah. Ya, tempat dimana bangunan itu berdiri memanglah tanah yang diberikan oleh seorang dermawan. Tapi rupanya, keturunan dari seseorang yang telah tiada itu, menjual tanah tanpa sepengetahuan ibu panti.
Surat-surat tak pernah diterima oleh kepala panti, melemahkan bukti akan pemindahan hak milik sekitar dua puluh tahun lalu. Clara nekat untuk datang, memohon belas kasihan atas kehidupan ratusan anak panti yang tak lagi memiliki orang tua.
Wajah tampak lemah dengan rambut acak-acakan, berdiri di sebuah teras berhias dua pilar putih megah. Seorang wanita datang menghampiri, tampaknya itu adalah pelayan rumah mewah bak istana tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" santun pelayan berseragam hitam putih, membungkuk sedikit dengan kedua tangan menumpuk di depan perut.
"A—apakah Tuan Diego ada?" terbata Clara, napasnya tersengal karena rasa lelah.
"Maaf, Anda siapa? Apa sudah memiliki janji dengan dengan Tuan muda?" balas bertanya pelayan berikat rambut di tengkuk itu.
"Saya tidak memiliki janji, tapi saya ingin bertemu beliau. Tolong sampaikan padanya, saya adalah anak dari panti asuhan yang akan digusur hari ini. Saya mohon," pinta Clara menyatukan kedua tangan memohon.
"Maaf, Nona. Bukannya saya tidak ingin membantu, tapi …." Pelayan berusia sekitar empat puluhan itu menggantung perkataannya, tak bisa menyampaikan seberapa keras Tuan yang menjadi majikannya selama lima tahun ini.
"Saya mohon," pinta Clara lagi.
Matanya berkaca-kaca, wajahnya penuh harap dengan bibir gemetar ia terus memohon. Hanya ingin bertemu dengan seseorang yang mungkin bisa diajaknya bicara, tentang nasib dari anak-anak tak berdosa yang entah akan tinggal dimana.
Sebuah mobil berhenti di depan teras, Clara menoleh ke sumber suara. Turun seorang laki-laki bersetelan jas warna hitam, pelayan yang menemuinya segera menghampiri dan memberi hormat. "Selamat sore, Tuan. Tuan muda sudah menunggu Anda di dalam," kata pelayan dalam tubuh membungkuk.
"Siapa dia?" tanya lelaki tengah mengancingkan jas yang membalut tubuh kekarnya.
"Dia … dia adalah anak panti asuhan yang ingin bertemu Tuan muda," sahut pelayan menoleh ke arah Clara.
Lelaki bertubuh tinggi sekitar 185cm itu mendekat, ia memperhatikan dari atas hingga bawah seorang perempuan yang memainkan jari-jari tangan di depan tubuh. Itu adalah sikap yang kerap dilakukan oleh Clara, ketika ia sedang gugup atau ketakutan.
"Ikutlah denganku!" ucap Fabian—tangan kanan Diego.
"Ba—baik, Tuan." Clara mengangguk, kata-katanya masih terbata dalam bibir gemetar.
Fabian berjalan lebih dulu, diikuti oleh Clara di belakangnya. Melangkah lebar menuju sebuah ruangan di lantai dasar, Fabian mengetuk sebuah pintu hitam tinggi di depannya.
Tanpa menunggu lama, suara berat mempersilahkan dirinya masuk. Handle pintu ditekan olehnya, masuk ke dalam dan diikuti oleh perempuan terus menundukkan pandangan.
Memasuki ruangan kerja bernuansa serba hitam, terlihat seorang laki-laki tengah duduk nyaman menatap layar laptop. Fabian berdiri di depan meja kerja berukuran besar, membiarkan Clara berdiri di balik pintu seorang diri dengan rasa gugup semakin menjadi.
“Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Tuan.” Fabian membuka kata, terangkat pandangan bersorot dingin ke arahnya.
Mengalihkan tatapan pada seseorang tengah memainkan jari-jari tangan, wajah angkuh Diego terpasang dengan sempurna. “Sejak kapan, aku memiliki tamu gembel?” sinis Diego, melihat penampilan acak-acakan Clara.
“Dia adalah anak panti asuhan,” ucap Fabian.
“Kau pikir, aku peduli? Suruh dia pergi!” tegas Diego angkuh.
“Tapi, dia sudah lama menunggu Anda, Tuan. Apa tidak sebaiknya Anda bertanya tujuannya?” kata Fabian, tatapan tajam diberikan seketika.
“Kau tahu, berapa banyak orang yang sudah menunggu untuk bertemu denganku?!” tegas lelaki bersuara berat tersebut.
“Apa kau pikir, aku orang tidak punya pekerjaan dan harus mengurusi kerikil tidak berguna?!” timpalnya.
Fabian bergeming, kata-kata itu memang bukan kali pertama keluar. Setiap ucapan dari Diego, menyerupai pedang yang siap menghujam hati siapa pun yang mendengarnya, termasuk Clara saat ini.
“Maaf, kalau saya mengganggu waktu Anda, Tuan. Tapi, saya ingin berbicara sebentar saja. Tolong beri saya kesempatan,” ucap Clara memberanikan diri.
Diego menatap orang kepercayaannya, dia menarik dalam napas dan membuang kasar. “Lima menit!” tegasnya.
“Tuan, bisakah Anda membatalkan penggusuran panti? Kami tidak tahu harus tinggal dimana dalam waktu semalam. Anda pasti tahu, kalau disana banyak sekali anak dan juga bayi. Apa Anda tidak memiliki rasa kasihan terhadap mereka? Begitu banyak hal-hal yang telah kami lewati disana, saya mohon jangan hancurkan tempat itu. Saya berjanji, akan membayar tanah itu pada Anda, Tuan. Meskipun saya harus mencicilnya setiap hari,” ucap Clara.
“Saya mohon pada Anda, Tuan. Kasihanilah kami,” pinta kembali Clara, air mata menetes tanpa perintah dari kedua mata indahnya.
“Mencicil? Kau pikir, aku sedang bermain sekarang? Kau pikir, siapa diriku sampai harus menerima cicilan? Kalau kau mau, bayar semua lunas hari ini!” angkuh Diego.
“Ba—bagaimana bisa, saya membayarnya lunas hari ini?” pilu Clara.
Diego menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, menyandarkan punggung tanpa mengalihkan perhatian. “Tubuhmu! Bayar aku lunas dengan tubuhmu!” kata Diego tanpa berpikir lebih dari satu menit.
Clara terkejut, begitu juga Fabian yang berdiri dalam ruangan sama. “A—apa maksud, Anda?” tertatih Clara.
“Lahirkan anak untukku!” kata Diego meluruskan.
Clara terbelalak, dia tak mempercayai apa yang di dengar. Ingin bertanya sekali lagi, namun tak ada keberanian. Fabian menatap lekat pemimpin tengah duduk mengisi sela-sela jari dengan siku bersandar pada sandaran tangan kursi kebesaran, tatapan heran pun ditunjukkan olehnya.
“Kau mendapatkan panti, dan aku mendapatkan anak! Aku tidak akan bertransaksi tanpa keuntungan! Jika tidak setuju, maka keluarlah dan cari tempat untukmu dan anak panti!” tegas Diego bernada dingin juga angkuh.
Clara terdiam dalam pemikiran juga hati yang bertengkar, bagaimana bisa seorang anak dijadikan alat untuk bertransaksi. Namun, ketika ia menolak sekarang, kemana ia harus membawa anak-anak panti tinggal malam ini? Sementara di panti asuhan, sudah bersiap anak buah Diego dan tinggal menunggu perintah.
“Keluar!” tegas Diego, tak menyukai jika harus menunggu lebih lama untuk sebuah keputusan.
“Saya bersedia!” cepat Clara berucap, tersenyum sengit lelaki berwajah tampan masih menatapnya.
“Sa—saya bersedia,” timpal Clara.