“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu merindukan anak-anak panti?” tanya Fabian membuka suara. “Aku memang merindukan mereka, tapi bukan itu yang sedang aku pikirkan.” Clara masih menundukkan kepala. “Apa?” tanya kembali Fabian. “Bian, apakah dia akan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya? Lalu, saat dia menikah, apa dia akan menceraikan ku dan meninggalkanku untuk selamanya? Apa dia akan melupakan semuanya?” cecar Clara menaikkan kedua biji mata ke arah lelaki dapat menilai kecemasan dari raut wajah.. Lelaki itu tersenyum, merasa ada yang sama antara Clara dan Diego. Dua orang sama-sama mencemaskan, namun dengan tujuan berbeda. Alangkah baiknya, jika kecemasan itu adalah tentang perasaan, bukan atas dasar tujuan pribadi masing-masing. “Aku tidak tahu hal itu. Tanyakan saja pada Di

