Ancaman Daniel

2068 Kata
Pagi hari, Diego sudah rapi dengan setelan jas dan duduk di ruang makan. Ada Fabian yang memang selalu datang setiap harinya, turut bergabung di ruangan sama dengan pelayan sibuk menyuguhkan makanan, menyebutkan menu apa disajikan untuk pagi hari ini. "Kau tidak duduk dan makan?" tanya Fabian pada seorang perempuan turut berdiri di ruangan itu bersama pelayan lain. "Tidak ada izin untuk seorang anak panti duduk satu meja denganku!" sinis lelaki mulai menikmati sarapannya. Fabian menatap bos juga sahabatnya itu, menghela napas lalu berdiri menghampiri Clara. "Duduk dan makan lah, kau belum makan dari kemarin. Kalau seperti ini, kau akan sakit." Fabian berucap lembut, terdengar suara keras dari alat makan dibanting ke atas piring. "Kita berangkat sekarang!" tegas Diego melangkah pergi. Fabian dan Clara menatap ke arah sama, lelaki berparas tampan itu sekali lagi menghela napas. "Makanlah, jaga kesehatanmu. Aku pergi dulu," pamitnya pada Clara dan menyusul kepergian Diego. Tak sampai bibir itu menjawab, Fabian sudah pergi. Penilaian Clara terhadapnya jauh berbeda dari apa dinilai untuk Tuan muda angkuh, tak hentinya merendahkan setiap orang tanpa memandang perasaan. Dari kemarin dirinya datang, membawa masuk dan juga kabar untuk kepala panti hingga pagi ini, semua dinilai Clara jauh berbeda dari sosok Diego. Tatapan mata Fabian pun, dirasakan lain dari tatapan tajam juga sinis terus didapat sedari kemarin. Ada ketulusan dalam binar mata lelaki berlesung pipi itu, ada rasa iba dan entahlah, Clara sendiri menangkap banyak sekali ekspresi dari tatapan mata tertuju padanya. "Silakan makan, Nyonya. Saya akan menyiapkan untuk, Anda." Pelayan berucap santun. "Tidak. Saya akan makan dan mengambil sendiri nanti. Terima kasih banyak," sahut Clara. "Bisakah jangan memanggil saya seperti itu? Saya merasa aneh," timpalnya. "Itu sudah kewajiban kami untuk melayani atau memanggil Anda seperi itu, Nyonya." Pelayang mengukir senyum dengan kepala menunduk, lalu undur diri untuk menyingkirkan makanan tak disentuh oleh Tuannya. "Kalian akan membawa itu ke mana?" tanya Clara. "Kami akan membuangnya, Nyonya. Setiap kali Tuan muda tidak menyentuh makanan, kami diharuskan untuk membuangnya." Wanita berusia sekitar empat puluhan itu menjelaskan. "Apa?! Dibuang?!" tersentak Clara. "Saya akan memakan itu, jadi tolong jangan dibuang. Kita tidak seharusnya membuang makanan, masih banyak orang kurang beruntung di dunia ini. Biarkan saja di sana, dan kalian lakukan saja pekerjaan lain." "Tapi, Nyonya. kami tidak bisa mengizinkan Anda memakan ini," sahut pelayan setelah saling tatap bergantian. "Tidak apa-apa, saya juga seorang istri. Jadi tidak masalah kalau makan makanan sisa suami, lagi pula itu belum di sentuh. Pergilah lakukan yang lain," tutur Clara. Mengambil makanan di atas meja makan, memabwanya ke dapur untuk dinikmati karena tidak berani untuk makan di ruang makan. Banyak CCTV di rumah itu, ia tentunya tak ingin untuk terus mendapat amarah dari lelaki yang entah mengapa memberlakukan peraturan aneh baginya. Terlalu banyak orang di luar yang bahkan rela menahan perut kelaparan berhari-hari, namun justru di rumah mewah itu sering kali membuang makanan. Perempuan memang belum memasukkan apa-apa kecuali segelas air diminta dari pelayan itu, kini menikmati makanan baru ia rasakan betapa enaknya. Clara sampai terpejam merasakan kenikmatan masakan di atas piring putih bulat di depannya. Kala perempuan cantik itu makan, di jalan sudah ada Fabian dan Diego menempuh perjalanan ke kantor. Duduk berdampingan di barisan kedua, membuka beberapa dokumen pada pangkuan untuk langsung dipelajari oleh Diego sebelum ia menyetujui dengan tanda tangan. Fabia sesekali menatap ke arahnya, namun lelaki itu bertingkah biasa saja. “Tidakkah kau sudah sangat keterlaluan padanya?” tegur Fabian. “Dia juga manusia, dia membutuhkan makan dan dia juga memiliki perasaan. Perlakukanlah dia lebih baik, bagaimana pun juga dia adalah istrimu.” “Jangan mengatur kehidupanku!” tegas Diego tanpa mengalihkan mata dari dokumen tengah dipelajari. “Aku bukan mengatur, tapi menasihatimu. Kau tidak bisa memperlakukannya sangat buruk,” ucap Fabian, menoleh Diego ke arahnya. “Kenapa? Kau mencintainya? Kenapa kau sangat peduli dengannya? Atau jangan-jangan, perempuan yang kau maksud adalah dirinya, benar?” beruntun pertanyaan diajukan dalam nada tenang namun penuh kecurigaan. “Terserah apa yang ada di pikiranmu. Aku hanya tidak suka kalau ada orang lain bertingkah semena-mena di depanku, tanpa pernah orang itu melakukan kesalahan. Terutama perempuan!” sahut Fabian. “Sudah masuk jam kerja!” tunjuk Diego pada arloji di tangan kanan, tepat pada wajah Fabian. Sudah memasuki jam kerja, berarti tak ada pembahasan masalah pribadi layaknya sahabat atau saudara. Itu lah profesional yang harus dijaga, meski kali ini Fabian terlihat mendengus kesal. Ia memang tak suka akan sikap dari Diego yang dianggap semena-mena, padahal Clara tidak membuat kesalahan pada dirinya. Itu semua terlalu tidak adil, bagi seorang perempuan selembut Clara yang bahkan hanya bisa menerima tanpa protes. Dering ponsel menyadarkan Fabian, ia meraih dan melihat siap yang menghubungi. Itu adalah nomor panti asuhan, di mana ia menghubungi kemarin untuk mengatakan jika Clara tak akan kembali dalam kurun waktu tak bisa dipastikan olehnya. “Kepala panti,” ucapnya pada Diego, menunjukkan layar ponsel. Alis kiri terangkat bersama dagu, mengisyaratkan agar panggilan masuk itu dijawab oleh Fabian. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” jawab Fabian setelah terdengar sapaan lebih dulu dari ujung panggilan, ia menggunakan pengeras suara pada ponsel agar Diego juga turut mendengar seperti permintaan. “Maaf kalau saya mengganggu waktu Anda, Tuan. Tapi, saya ingin membayar tanah panti asuhan, dan saya berharap jika Clara akan pulang hari ini juga. Saya akan tiba beberapa waktu lagi ke kantor Tuan muda untuk melunasi tanah panti,” terang ibu kepala, saling tatap bos juga sekretaris pribadinya itu. “Saya sudah dalam perjalanan bersama Tuan Daniel ke kantor Tuan muda sekarang.” “Silakan saja, kami juga akan segera tiba di kantor.” Diego menjawab seperti isyarat anggukan kepala diberikan oleh lelaki di dekatnya. “Baiklah, Tuan. Terima kasih banyak,” punkas ibu kepala yang memang sudah berada dalam perjalanan. Fabian menurunkan ponsel tadi ia pegang di tengah, lalu menatap ke arah Diego. “Apa yang akan kau lakukan? Klaian sudah menikah,” tanya lelaki bersetelan jas hitam. “Kita lihat berapa uang yang mereka bawa. Cari tahu tentang Daniel, aku penasaran siapa yang berani melawanku sekarang!” sahut Diego menatap lurus ke depan. Tentu saja ia penasaran tentang siapa Daniel yang dimaksud oleh kepala panti, siapa yang akan sangat berani melawan dirinya. Tak pernah ada sampai detik ini, karena mereka masih memiliki akal sehat untuk tidak pernah berhubungan dengan lelaki terkenal tak memiliki perasaan layaknya Diego. Melawannya, tak berbeda dengan membuka jalur singkat menuju kehancuran, di mana apa telah dimiliki akan langsung hilang tanpa perlu untuk menunggu keeseokan hari. Memerintahkan pada sopir untuk menambah kecepatan, tak sabar baginya untuk segera berurusan dengan kedua orang teah berani menghubungi di pagi hari dan membuatnya kesal. Ibu kepala memang sudah berhasil menghubungi lebih dulu orang teah menawarkan bantuan, segera datang ke panti asuhan dan langsung mengajak ke kantor Diego untuk membiacarakan. Sepertinya, lelaki itu cukup mengenal siapa Diego, orang yang paling tidak suka ketika ada yang datang ke rumahnya dan membahas tentang bisnis. Diego memiliki aturan itu, aturan sama di mana rumah bak istana tak bisa dipergunakan untuk ke luar masuk sesuka hati, terlebih untuk orang-orang tak pernah ia kehendaki. Hanya ada beberapa orang tertentu yang bisa memasuki rumahnya, tentu saja Fabian salah satu di antara orang-orang yang bisa ke luar masuk dan bertemu dengan Diego meski di luar jam kerja. Segalanya diceritakan oleh kepala panti, tentang siapa yang telah berniat menggusur pati asuhan dan juga tentang Clara. Tak perlu untuk berpikir kedua kali dan segera mengiyakan, apa lagi itu berhubungan dengan Clara yang selalu ditemui olehnya di panti asuhan. Perempuan ramah yang tak seharusnya berkorban dan mengabaikan kehidupan sendiri. **** Tiba di kantor dan lansung masuk ke dalam, rentetan oorang membungkuk dan menyambut dirinya. Salah satu mengatakan jika ada yang menunggu, rupanya ibu kepala telah lebih dulu tiba dan kini menunggu di sebuah ruangan tanpa diperbolehkan masuk ke ruangan Diego. Lelaki itu memasuki elevator, menuju ruang kerjanya dan memerintahkan fabian untuk membawa dua orang sudah menantinya untuk bertemu. Elevator khusus yang memiliki kecepatan lebih baik dari milik karyawan, membawa lebih cepat Tuan muda angkuh itu tiba di lantai tujuan. Langhsung ke ruangan, berbeda arah dengan ruang tunggu yang kini dituju oleh Fabian. Lelaki itu duduk di kursi kebesaran, memasang keangkuhan seperti biasa dalam wajah dingin, bersiap menyambut seseorang telah dijelaskan oleh Fabian ketika dalam perjalanan. Sekretaris yang sekarang memasuki ruang tunggu dan berjabat tangan dengan dua orang langsung berdiri ketika melihat dirinya itu, memang sudah memberikan beberapa penjelasan tentang diri Daniel. Namun, sepertinya ia salah mengenali orang sehingga terkejut begitu melihatnya secara langsung. “Anda?!” terkejut Fabian. “Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tersenyum Daniel mengulurkan tangan. “Baik. Bagaimana bisa Anda ...,” menggantung pertanyaan dari seseorang menatap kepala panti, tersnyum memhami lelaki tinggi tengah mengenakan jas kaos santai warna biru tua. “Kebetulan, saya donatur di sana. Clara sudah saya anggap seperti anak sendiri, tentu saya tidak akan membiarkan kalau dia berada di tangan tidak tepat, bukan? Jika kamu berada dalam posisiku, apa kamu akan membiarkan gasi sebaik dia berada di tangan orang yang buruk?” santai Daniel menjelaskan. “Tentu. Anda memiliki hak untuk melakukan apa saja, tapi saya tidak bisa menjamin tentang keberhasilan Anda sekarang. Mari ikut dengan saya,” sahut Fabian, emngulurkan tangan kanan mengajak keduanya pergi bertemu Diego. Dalam perasaan tak percaya Fabian terus mengantarkan keduanya dan mengetuk pintu ruang kerja Diego. Dipersilakan masuk oelh Tuan muda di dalam, Fabian mempersilakan keduanya dan turut ikut untuk mendampingi lelaki langsung terperanjat dari kursi. Ya, Diego pun mengalami keterkejutan sama, dia menatap Fabian dan dijawab gelengan kepala lirih. “Selamat pagi,” sapa Daniel memasang senyum sumringah, menjabat tangan lelaki berjalan ke arahnya. “Sepertinya ... kalian sangat terkejut melihat saya di sini, bukan begitu?” santai pria masih dengan ukiran senyum sama. “Tentu.” Diego menjawab singkat, mengarahkan tangan ke sofa agar mereka duduk. Fabian mengambil posisi di samping sahabatnya, duduk saling berhadapan. Memperhatikan pria berusia empat puluhan yang terlihat santai dengan pakaian, namun mata jeli Diego sudah cukup mengetahui seberapa mahal pakaian yang dikenakan saat ini. Walau sekedar kaos dan juga celana panjang sampai atas mata kaki, tapi harganya sungguh fantastis jika dikenali melalui logo yang ada pada pakaiannya. “Saya tidak akan menjelaskan apa-apa, saya hanya ingin membeli panti asuhan itu dengar harga berapa pun. Tapi, saya ingin untuk Anda mengembalikan Clara. Dia sudah seperti putri kandung untuk saya, dan jelas tidak akan pernah saya biarkan untuk ada di tangan Anda, Tuan muda.” Daniel berucap langsung tanpa basa-basi. “Tidak. Maafkan saya sebelumnya, tapi saya tidak akan pernah menyerahkan Clara. Jika Anda mau, silakan mengambil panti asuhan itu, tapi tidak dengan istri saya. Kami sudah menikah,” tutur Diego, mengejutkan dua orang di depannya dan saling tatap. “A-apa maksdu Anda dengan istri? Menikah? Siapa yang Anda maksud?” tak jelas memahami ibu kepala panti. “Clara sudah resmi menjadi istri saya. Jika kalian tidak percaya, maka silakan cari tahu saja. Tidak ada satu pun orang yang bisa mengambilnya dengan begitu mudah,” ucap Diego. Pria di depannya menarik dalam napas lalu tersenyum. “Sepertinya, saya sudah memahami seperti apa permainan Anda sekarang. Jadi, silakan lanjutkan dan saya akan memulai permainan saya sendiri. Adil, bukan?” kata Daniel masih dengan nada santai sama. Terbelalak Diego, namun ia berusaha menyembunyikan itu semua. “Bisakah tinggalkan kami berdua saja?” timpal Daniel mengarah pada Fabian juga ibu kepala. Diego mengangguk ketika sahabat juga sekretarisnya itu menoleh, Fabian mengajak untuk ibu kepala ke luar dari ruangan dan memberikan waktu pada keduanya berbicara. Ada keanehan tak bisa dipahami oleh wanita bercelana panjang coklat tersebut, namun ia tetap ke luar bersama lelaki merangkul pundaknya. “Katakan saja!” tajam Diego berkata, tatapan pun ia berikan tak kalah tajam. “Anda tahu,kalau kita sama-sama tidak menyukai untuk saling berurusan. Tapi, jika Anda memaksa, maka saya bersedia untuk pertama kalinya. Ketika Anda berani menyakiti putri saya, maka Anda sudah tahu apa yang harus menjadi gantinya, bukan?” kata pria mulai menyandarkan punggung nyaman dan melipat kaki, tangan saling mengisi sela jari di atas pangkuan. “Saya yakin, kalau Anda bukan orang yang suka ikut campur terhadap urusan pribadi orang lain!” Diego menjawab dengan tegas, tersenyum pria di depannya. “Semua berbeda ketika itu berhubungan dengan Clara! Jadi berhati-hatilah mulai hari ini, jangan pernah menyentuh orang di panti asuhan , begitu juga putri saya! Ini adalah peringatan, yang bisa menjadi awal dari keributan besar. Jangan pernah sekali pun Anda coba mencari tahu tentang apa pun, atau saya akan bertindak di luar dugaan!” tegas Daniel, meski wajah terpasang tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN