“Kamu yang bernama Almira?” Almira mengangguk kaku pada seorang wanita paruh baya yang bertanya. Dia mengenal sosok itu sebagai butik langganan Ibu. “Suami Tante Hera itu teman dekat Bapak waktu SMP sampai kuliah,” jelas Ibu. Lagi-lagi, Almira mengangguk. “Sudah punya calon, Sayang?” Almira mendongak begitu mendapat pertanyaan sensitif itu. Dia menatap Ibu dan Tante Hera bergantian. Kedua wanita itu tidak sedang mencoba menjodohkannya, bukan? Terus terang, dia sudah sedikit bosan dengan cara ini. Mengenalkan dengan seorang pria dan memintanya menikah. Wanita berhijab tahu jika tujuan Ibu dan Bapak baik. Mereka hanya ingin melihat Almira segera bersanding di pelaminan. Padahal umurnya belum tua betul. Dia masih dua puluh lima tahun. Belum terlambat untuk ukuran seorang wanita, bukan? A
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


