“Mas,” panggil Almira untuk ke sekian kalinya. Dia menyentuh lengan Alfa pelan. Alfa menghembuskan napas dan bertahan memerhatikan jalanan Pekanbaru yang padat. Matanya melirik lampu lalu lintas yang masih merah. Mengapa lampu itu tidak berubah sejak tadi? Dia perlu segera turun dan meluapkan sesuatu yang mendesak di d**a. “Mas Alfa, jangan marah, dong. Aku cuma tidak mau Mama terus mengkhawatirkan kita,” bujuk Almira dengan suara manja. “Kita bisa kembali ke hotel begitu selesai menjelaskan semuanya.” Alfa menoleh pada Almira. “Kamu pikir Mama akan secepat itu melepaskan kita?” “Ya ... Mama pasti punya alasan memanggil kita,” ucap Almira. Sejujurnya, dia tidak yakin mengenai hal itu. Mama hanya tidak sabar mendengar cerita mereka. “Mas mengenal Mama dengan sangat baik, Al. Perca

