Nasha menatap kosong ruangannya yang terasa lebih lengang. Biasanya ada Almira dan Alfa yang menemani. Belum apa-apa dia sudah sangat merindukan kehadiran mereka. Dia merasa sangat sepi. Tangan Nasha terus-menerus memainkan gawai. Dia melihat kontak Alfa, tergoda untuk menghubungi pria itu. Namun, kepalanya menggeleng keras. Terlalu cepat untuk mengganggu Alfa lagi. Benda pipih itu kembali berakhir di saku baju. Taman rumah sakit yang luas terlihat jelas dari kamar Nasha. Pagi ini tempat itu tampak ramai. Banyak perawat yang mendorong kursi roda untuk mengajak pasien mereka berjalan-jalan. Beberapa keluarga pasien juga terlihat menemani. Nasha rindu diperhatikan seperti itu. Sangat berat saat ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat disayangi. Ibu pergi setelah mengetahui kebohongan

