Sepuluh

1339 Kata
"Kamu kenal cowok yang namanya Sora itu di mana, Nak?" tanya Yuki pada putri bungsunya. "Tesa udah bilang, 'kan, Ma. Tesa kenal dia karena dia udah nolongin Tesa waktu jatuh. Dia juga pernah lewat ke toko roti kita." Tesa kembali mengunyah camilannya setelah menjawab pertanyaan ibunya. "Mama ngerasa dia berbeda dari anak lain, kamu jangan deket-deket dia, ya. Mama takut dia ternyata anak yang gak baik." Tesa tersedak cemilannya. Matanya melotot mendengar penuturan ibunya. Ia menggeleng, menolak keras permintaan ibunya. "Engga bisa gitu, Ma. Sora itu baik, dia yang udah nolong Tesa saat Tesa terluka." "Pokoknya Mama gak mau tahu, kamu gak boleh dekat sama dia!" bentak Yuki. Tesa ternganga mendengar bentakan sang ibu. Baru kali ini ia dibentak oleh ibunya selama delapan belas tahun hidup bersama. "Sora itu baik, Ma. Lagipula Tesa tidak pernah memiliki teman selama ini. Lantas kenapa Mama melarang Tesa berteman dengan Sora? Bahkan Mama mengusir dia dari toko tadi, Mama sendiri yang mengajarkan Tesa untuk saling menghormati dan menghargai orang lain. Tapi apa yang Mama lakukan?" Tesa terengah ketika berhasil mengucapkan hal yang ingin ia lontarkan pada sang ibu sejak tadi. Sang ibu mencoba menjelaskan alasannya melarang Tesa dekat dengan lelaki itu. Namun, Tesa sama sekali tak ingin mengerti. Gadis itu tetap pada pendiriannya. Sora adalah sosok lelaki yang baik, ia adalah satu-satunya teman yang Tesa miliki di luar sekolah. Sora juga lelaki yang sangat sopan dan lembut. Namun, ia tak mengerti mengapa sang ibu sangat tidak menyukai kehadiran lelaki itu dan melarangnya berhubungan dengan Sora. Ia ingin penjelasan yang lebih logis. Tesa gadis yang cerdik. Pasti ada yang ibunya coba sembunyikan darinya. Sang ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan gadis itu tertantang ingin mengetahui apa yang dirahasiakan Yuki kepadanya. "Mama egois!" sungut Tesa. Gadis itu langsung berlari ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Yuki yang tersadar jika ia sudah membentak anaknya, langsung bergegas menyusul. Mengetuk pintu kamar Tesa berulang kali dan meminta maaf pada putrinya. Namun, tak mendapat balasan dari Tesa. Yuki hanya menghela napas pasrah. Mungkin putrinya memerlukan waktu untuk menyediri dan menenangkan hatinya. Setelah kejadian di toko roti tadi sore, Yuki selalu menyuruh Tesa agar menjauh dari Sora. Bahkan tanpa alasan yang jelas. Biasanya sang ibu tidak seperti ini, ia selalu menyukai teman yang diperkenalkan Tesa padanya. Meski gadis itu sangat jarang membawa temannya untuk dikenalkan pada sang ibu. Alasannya hanya satu. Tesa selalu dirundung oleh temannya sejak sekolah dasar. Jadi ia tak pernah benar-benar memiliki teman. Hal itu yang membuatnya memiliki sifat pendiam dan penutup. Yuki berjalan dengan gontai menuju ruang keluarga dan duduk di sofa yang tersedia di sana. Hana yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan antara adik dan ibunya itu langsung bertanya apa masalahnya pada Yuki. Yuki menjelaskan inti permasalahannya pada putri sulungnya itu. Namun ia menyembunyikan beberapa hal. Hana tersenyum tipis ketika mendengarkan keluhan sang ibu. Entah apa maksud senyuman dari gadis itu. Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Hana hanya mengangguk, menyimak penjelasan ibunya. "Udahlah, Ma, biarin aja Tesa deket sama teman barunya itu. Apa masalahnya emang?" Hana mencoba membujuk sang ibu. "Mama gak bisa ngebiarin hal itu, Hana," desah Yuki. "Kenapa, Ma?" tanya Hana. "Mama khawatir sama Tesa, lelaki itu tidak jelas asal dan usulnya!" Yuki menjawab dengan asal. "Kenapa Mama khawatir banget sama Tesa, sih? Padahal dia bukan anak kandung Mama. Sedangkan aku? Aku anak kandung Mama. Tapi Mama? Mama selalu lebih memikirkan Tesa dibanding aku," sembur Hana. d**a gadis itu naik turun karena emosinya. "Bahkan Mama gak pernah khawatir sama aku. Hana juga mau diperhatikan sama Mama. Hana juga mau ditelpon sama Mama, ditanya pulang jam berapa kalau lagi main? Atau hal lainnya, Ma. Tapi apa? Mama cuma peduli dengan Tesa. Ga pernah mikirin Hana yang adalah anak kandung Mama sendiri. Selalu Tesa, Tesa dan Tesa," imbuh Hana. Bahkan ia mengatakan hal itu pada ibunya dengan nada tinggi. Yuki hendak menampar anak gadisnya yang menurutnya sudah keterlaluan karena berani membentak dirinya. Namun, niat itu ia urungkan. Tangannya hanya terkepal di samping badan. Hana berlari menuju kamarnya. Air matanya menetes dari kelopak mata indahnya. "Hana, bukan gitu maksud, Mama. Dengarkan dulu!" teriak Yuki menyusul putrinya. Ia memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Perlahan liquid bening mulai meluncur ke pipi Yuki. Wanita itu menangis. Ia tak mengira jika Hana akan merasa iri terhadap sikapnya pada Tesa. Ia tak mengira jika selama ini ia bersikap tidak adil pada kedua putrinya. Tesa. Gadis itu yang membuatnya bisa jadi seperti ini sekarang. Berkat Tesa, ia bisa membangun toko roti untuk menghidupi dirinya juga Hana. Karena Tesa, ia bisa bebas dari kemiskinan dan lilitan hutang. Kilasan masa lalu mulai muncul dalam benaknya. Ketika pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. FLASHBACK ON Waktu itu Yuki sedang berjalan di pinggir hutan. Ia tengah mencari kayu bakar untuk memasak. Yuki saat itu hanya tinggal berdua bersama Hana, putrinya. Ia memang tinggal di pedesaan setelah bercerai dengan sang suami yang ternyata bermain belakang bersama wanita lain. Setelah pulang dari hutan, Yuki membereskan semua barangnya dan hendak memasak makan malam untuk dirinya dan sang putri. Namun, sebuah ketukan pintu membuatnya harus keluar dan membatalkan niatnya untuk memasak. Dirinya sangat terkejut ketika melihat seorang wanita yang berpakaian lusuh tengah membawa keranjang bayi. Peluh bercucuran di dahi wanita itu. Ia memohon pada Yuki agar diperbolehkan masuk karena sudah lelah berlari. Karena rasa iba, Yuki mempersilakan wanita itu masuk dan memberinya segelas air untuk meredam rasa haus. Wanita itu akhirnya meminta tolong pada Yuki agar mau merawat putrinya sementara, suatu saat ia akan kembali mengambil bayinya lagi. "Saya mohon, izinkan putri saya tinggal di sini untuk sementara. Saya akan mengambilnya suatu saat nanti." Wanita asing itu menggenggam tangan Yuki sambil berderai air mata. Yuki ingin merawat bayi itu, tapi kondisi ekonominya saja sangat tidak mumpuni untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, apalagi harus ditambah satu bayi lagi. "Jika Anda memikirkan masalah uang untuk keperluan anak saya. Saya akan memberikan berapa pun untuk Anda, asal putri saya bisa bersembunyi di sini." Setelah memikirkannya dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Yuki mengangguk. "Baiklah, saya akan merawat anak kamu asal bayarannya setimpal." Wanita tadi bersujud di kaki Yuki sambil terus menggumamkan kata terima kasih. Yuki yang merasa tidak enak hati menyuruh agar wanita asing itu kembali duduk di kursinya. "Nama saya adalah Seravina, dan putri saya bernama Zhefarah. Tolong rawat putri saya seperti Anda merawat putri kandung Anda. Saya harus segera pergi dari sini." Wanita yang bernama Seravina itu meninggalkan sepucuk surat dan juga kantung serut yang agak besar lalu pamit pergi dari sana. Setelah kepergian wanita tadi. Yuki masuk ke dalam kamar dan membuka kantung serut itu, lalu mengambil apa isinya. Terdapat beberapa batu kecil yang sangat berharga. "Berlian," takjub Yuki. Tangannya yang memegang beberapa berlian itu bergetar. Dengan cepat ia memasukkan kembali berlian-berlian itu ke dalam kantung serut dan berjalan menuju kamar. Mengambil tas miliknya, Yuki bersiap untuk menjual beberapa berlian itu untuk membayar hutang-hutangnya dan juga membeli perlengkapan bayi juga kebutuhan bulanan. FLASHBACK OFF Wanita itu menghempaskan dirinya ke ranjang kamarnya. Mengusap wajahnya kasar. Ia tak ingin kehilangan Tesa, gadis itu sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Yuki merasa Tesa akan pergi menjauh darinya. Tesa akan dibawa pergi oleh lelaki bernama Sora itu. Yuki bisa merasakannya. "Apa lelaki itu yang ditugaskan untuk menjemput Tesa kembali pada keluarga aslinya? Sama seperti isi surat yang ditinggalkan oleh ibunya Tesa waktu itu?" desah Yuki. "Tapi bagaimana dia tahu. Nama Asli Tesa adalah Zhefarah, dari mana dia bisa tahu kalau Tesa sebenarnya adalah Zhefarah? Bahkan ketika ibunya memberikan putrinya padaku, tak ada satu orang pun di sekitar rumah lamaku. Jadi bagaimana dia bisa menemukan alamat rumah baruku? Hati Yuki gelisah selama beberapa hari ini. Dan kini ia tahu apa penyebabnya. Satu-satunya jalan terbaik yang terpikirkan olehnya hanyalah menjauhkan Tesa dari Sora. Ya, hanya itu! Yuki akhirnya memutuskan untuk menjaga Tesa dengan ketat. Ia bukan hanya tak ingin kehilangan Tesa. Tapi ia juga takut semua hal yang ia dapat dari Tesa diambil kembali. Yuki tak siap hidup miskin lagi. Ia tak siap jika harus kehilangan segala harta miliknya, oleh karena itu Tesa tak boleh lepas dari genggamannya. to be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN