Tesa mengayuh sepedanya sambil berderai tangis. Ia tak menyangkan Abian dan Dinar sejahat itu padanya. Mereka benar-benar licik.
Ia menangis sesenggukan, mengabaikan tatapan orang-orang yang melihat dirinya aneh. Tentu saja. Ia bersepeda sambil menangis. Memancing keingintahuan orang lain akan apa yang menimpanya.
Dengan kasar, Tesa megusap air matanya. Ia mengutuk Abian dan Dinar dalam hatinya. Bahkan kata-kata ancaman Dinar padanya masih terbayang di pikirannya.
"Gue bakal simpen rahasia ini asal lo mau nurutin semua perintah gue!"
"Gue gak bakal berhenti mempermalukan lo di depan semua orang!"
"Tunggu kejutan yang bakal gue kasih ke lo setiap harinya, Tesa Amora!"
Semua ancaman itu memenuhi otak Tesa sekarang. Sebentar lagi gadis itu sampai di rumahnya. Ia memelankan laju sepedanya dan mengeremnya. Ia turun dari sepeda dan berjalan sambil menggiring sepeda miliknya. Membuka pagar rumahnya dan memasukkan sepeda ungu kesayangannya.
Namun, netranya menemukan lelaki baik yang telah menolongnya sedang tertidur di dekat rumahnya. Tesa berjalan menghampiri lelaki itu setelah memasukkan sepedanya.
"Itu, 'kan, Sora!" tunjuknya pada lelaki di hadapannya. Ia berjongkok dan menjulurkan tangannya. Menepuk-nepuk pelan wajah Sora, berniat membangunkan lelaki itu.
Sora yang merasa terusik akhirnya membuka matanya. Wajah cantik Tesa yang pertama kali ia temukan ketika membuka kelopak matanya.
"Di mimpi saja, bahkan wajahmu terbayang-bayang," pujinya tanpa sadar. Hal itu membuat Tesa memalingkan wajah karena malu.
Bisa dipastikan wajah gadis itu sekarang memerah seperti kepiting rebus. Sora yang tersadar akan perkataannya barusan hanya mengumpati kebodohannya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Tesa mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta dengan bertanya pada Sora. Untuk apa ia berada di sekitar rumahnya. Akhirnya mereka berdua duduk di pinggir jalan, dekat rumah Tesa.
Sora menceritakan kartu holo miliknya hilang, dan ia tengah mencarinya. Ia berpikir bahwa kartunya terjatuh ketika menolong Tesa. Jadi ia memutuskan untuk mencarinya di rumah gadis itu. Namun, ia tak menemukan kartunya, dan Sora memutuskan menunggu Tesa di rumahnya untuk bertanya apakah gadis itu menemukan kartu holo miliknya yang terjatuh.
Tesa berdecak, harusnya lelaki itu menghampiri dirinya di sekolah bukan malah membuang waktu menunggu di depan gerbang rumah yang jelas-jelas kosong.
Sora mengira decakan Tesa tadi adalah tanda bahwa gadis itu tak menemukan benda miliknya yang hilang.
Sora berdiri dengan malas. Harapan satu-satunya sudah musnah. Namun, jawaban Tesa membuat semangat dalam dirinya menguap. "Aku menemukannya, ada di kamarku," ungkap Tesa.
Sora menatap Tesa dengan binar terpancar di matanya. Tesa tersenyum lalu mengajak lelaki itu masuk ke rumahnya. "Duduk dulu, mau minum apa?" tawar Tesa.
"Terserah saja," jawab Sora. Lelaki itu menghempaskan pantatnya di sofa empuk milik Tesa. Ia bernapas lega, pantatnya sakit karena menunggu Tesa lebih dari tiga jam di jalanan yang kasar dan keras.
Tesa berlalu, menuju dapur untuk membuatkan tamunya minuman. Beberapa menit kemudian ia kembali bersama dua buah gelas yang berisi ice lemon tea.
Ia menyuguhkannya pada Sora. Setelah mengucap terima kasih, ia meneguk lemon tea miliknya hingga tersisa setengah.
Sementara Tesa tadi pamit untuk berganti pakaian dan mengambilkan barang Sora yang ia temukan.
Sora memandangi ruang tamu. Matanya menelisik satu per satu benda yang ada di sana. Rumah yang tampak nyaman dan asri, menurut Sora.
Lelaki itu melangkahkan kakinya menyusuri ruang tamu. Maniknya terhenti menatap sebuah lukisan yang terpajang di dinding, di atas meja.
Sebuah lukian abstrak yang entah mengapa menarik perhatiannya. Pandangannya teralihkan ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Tesa sudah keluar dari kamar dengan pakaian santainya. "Udah selesai?" tanya Sora. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
Ia menyodorkan kartu tipis berwarna silver itu pada Sora. Dengan senang hati, Sora mengambil kartu miliknya dari tangan Tesa. Senyum manis mengembang di wajah lelaki itu. Ia mengucapkan terima kasih dengan tulus pada Tesa.
"Ehm, aku harus pergi ke toko roti Mama .... " Belum selesai Tesa berbicara, Sora memotongnya.
"Ah, ya, boleh saya ikut?" tanya Sora.
"Mau ngapain?" Tesa memandang Sora dengan raut wajah bingung.
"Mau beli roti, dong!" Jawaban Sora membuat Tesa tersenyum kikuk.
Gadis itu tadinya sudah berpikir jauh ke mana-mana. Namun, pikirannya harus dihempas jauh oleh realita yang ada. Ia malu karena berpikiran jika Sora hendak menunggu dan membantunya selama di toko roti.
Tesa menghabiskan gelas minuman miliknya, Sora juga mengikuti. Lalu setelahnya ia pergi ke dapur untuk mencuci bekas kotorannya.
Sora menunggu di luar rumah. "Sudah?" Sora bertanya setelah melihat Tesa keluar dari rumah dan mengunci pintunya.
Mereka berdua pergi ke toko roti menggunakan sepeda milik Tesa. Gadis itu bingung, ia tak melihat Sora menggunakan alat transportasi pribadi. Lalu ia ke rumahnya menggunakan apa?
Diawali dengan rasa penasaran, akhirnya Tesa bertanya. Namun, jawaban yang disampaikan Sora membuatnya tercengang. Bola matanya membulat seolah siap meluncur bebas dari matanya.
Tentu saja gadis itu kaget, Sora bilang jika dirinya berjalan kaki dari rumahnya menuju rumah Tesa. Lelaki gila.
Tesa langsung memukul Sora hingga membuat sepeda yang dikayuh lelaki itu oleng. Sora menasehati Tesa jika hal yang dilakukan olehnya sangat membahayakan.
Alhasil Tesa meminta maaf atas tindakannya. Ia hanya kesal saja, di zaman modern seperti ini kenapa ia masih mau berjalan kaki? Padahal banyak mada transportasi umum seperti, busway atau angkot, atau ojol yang mudah diakses.
Setelah menempuh perjalanan yang agak melelahkan, akhirnya mereka sampai. Sora memarkirkan sepeda milik Tesa di parkiran.
Mereka berdua masuk ke toko, membuat lonceng di pintu berbunyi nyaring. Tesa menyapa karyawan ibunya seperti yang biasa ia lakukan. Sora hanya tersenyum, lelaki itu mengekori langkah Tesa.
Bahkan ketika Tesa hendak pergi ke ruangan ibunya. "Kamu mau ngapain? Katanya mau beli roti?" Tesa menaikkan alis kirinya.
Sora tersenyum kikuk. Lelaki itu pergi ke arah yang berlawanan dengan Tesa. Menuju etalase kaca dan memilih roti yang hendak dibelinya.
Lelaki itu memilih macaron dan membeli beberapa kotak. Membayar makanan yang dibelinya pada salah satu karyawan lalu duduk di kursi yang memang disediakan di toko itu. Memakan satu per satu macaronnya sambil menunggu Tesa.
Hampir lima belas menit lelaki itu menunggu Tesa, namun, gadis itu tak kunjung keluar dari ruangan sang ibunda. Bahkan ia sudah menghabiskan tiga kotak macaron miliknya.
Tak lama, Tesa keluar bersama wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Bahkan keriput tidak terlihat di wajahnya.
"Sora? Aku kira kamu udah pulang," lontar gadis itu.
"Dia siapa, Nak?" tanya wanita yang berada di samping Tesa.
"Ah, iya, Ma, perkenalkan ini Sora. Sora, ini Mama aku." Tesa memperkenalkan keduanya.
Tersenyum hangat, Sora menyalami tangan Yuki. Sang wanita balas menjabat tangan lelaki yang menurutnya seumuran dengan putri bungsunya.
"Kalian temen sekolah?" tanya Yuki.
Sora melirik ke arah Tesa, begitu pula gadis itu. Secara bersamaan mereka menggelengkan kepala. "Sora yang nolongin aku kemarin, Ma, waktu jatuh dari sepeda," celetuk Tesa.
Yuki mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Sora karena telah menolong putrinya.
"Kamu sekolah di mana, Sora?" Sora mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Yuki. Hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Apa itu sekolah?" Pertanyaan Sora mengundang gelak tawa dari Tesa. Namun, tawanya segera memudar ketika Yuki menatapnya tajam.
"Kamu gak sekolah, Nak?" Sora hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Yuki.
"Kamu tinggal sama siapa? Rumah kamu di mana?" Yuki memberondongi Sora dengan berbagai pertanyaan.
"Saya tinggal sendiri di sini. Rumah saya sangat jauh dari sini. Mungkin sekitar dua jam jalan kaki," jawab Sora tampak ragu.
"Terus kamu ngapain ke sini?" tanya Tesa asal. Hal itu membuatnya mendapatkan delikan dari sang ibu. Tesa hanya tersenyum melirik ibunya.
"Saya sedang mencari sesuatu yang hilang, dan paman saya bilang jika sesuatu itu ada di sekitar daerah sini," jawab Sora. Lelaki itu kembali memakan macaron miliknya.
Yuki dan Tesa saling bertukar pandang. Dahi mereka berdua berkerut. Sedangkan Sora hanya memandangi ibu dan anak itu dengan tatapan bingung.
to be continue