[3] Paris

1875 Kata
"Lagi dan lagi, aku terluka." —Paris, bersama sepupumu. NADINE'S POV "Nad, jelasin ke gue kenapa lo malah ambil jarak dan nganggep gue stranger? Gue salah apa sama lo sampai harus dijauhin gini? Juga lo ga bilang kalau ternyata lo nyambung disini. Kalau gue nggak dateng ke MCD Queen's Walk hari itu, mungkin ceritanya bakal beda. Bisa aja gue baru ketemu lo tahun depan, atau nggak sama sekali." "Lo nggak ngerti, Yo." "Makanya jelasin ke gue." "Gue ngindarin masalah. Puas?" "Lagi? Sama dia lagi?" Aku diam, tidak menjawab pertanyaan Mario. Memilih menatap rerumputan hijau halaman rumah. Haruskah aku bercerita pada lelaki ini? Tapi aku takut. Hubungan yang dia miliki bersama lelaki itu membuatku ragu pada Mario. "Nad, gue bakalan ngerti apapun alesan lo nanti. Asal cerita sama gue, Nad." "Kita pisah. Udah itu aja." "Nadine, gue serius." "Gue lebih serius, Mario." Aku mempertegas suaraku. "Kita pisah, alesan klisenya, gue kejar masa depan gue, dia juga. Alesan lainnya, dia hancurin gue, dan gue hancur. Gue lari dari masalah sialan ini. Gue tau gimana pengecutnya gue, dan gue sadar. Tapi kalau gue tetep di posisi itu, gue cari mati namanya, Yo. Papa bilang gue nggak boleh dendam, tapi tolong coba rasain posisi gue sekali aja. Lo bakalan tau gimana rasanya dan mustahil rasanya lo bisa maafin semuanya gitu aja." "Dia ngapain?" "Kan udah gue bilang, dia hancurin gue...," lirihku. "Hancurin lo dalam bentuk apa, Nad?" "Semuanya." "Mungkin dia punya alesan lain, atau---" "Lo nggak tau apa-apa, Mario! Lo nggak ada di sana. Lo nggak liat gimana dia noreh luka besar buat gue. Lo nggak tau gimana dia sama adik gue kerja sama bikin gue makin kedorong buat ketemu luka lama. Jangan sok tau, Mario!" "Nad...." "Gue benci dia. Gue cuma mau lupain dia." "Kalau itu emang kesalahan dia, jangan malah jauhin gue, Nad. Gue pengen kita tetep jadi temen nggak peduli gimana hubungan gue sama dia. Karena di sini gue bakalan dukung lo, Nad." Aku memilih diam, menatap wajah khawatir milik Mario dengan perasaan sangsi. Ya, semoga kami bisa menjadi teman. *** Aku melangkahkan kaki keluar dari hotel, menatap orang-orang lain yang sibuk dengan kegiatan mereka. Setelah dua hari sibuk dengan pekerjaan, akhirnya aku bisa bebas sebentar. Hari ini hari terakhirku dan rekan kerja lainnya di Paris. Berlibur sehari di sini mungkin tidak apa. Selagi diberi kesempatan, kenapa tidak diambil. Besok, pagi-pagi sekali kami harus segera kembali ke London. Setelah berjalan kurang lebih lima menit, aku melihat lelaki yang telah menungguku sedang berdiri dan sibuk dengan ponselnya. "Bonjour." Aku tersenyum menanggapi sapaannya. Kutatap lelaki itu penuh perhatian. Mario. Dia tampak lucu dalam balutan jaketnya. Selama ini, aku berusaha menjaga hubungan baik bersama Mario. Awalnya, aku juga membuat sebuah batasan pada Mario mengingat hubungan yang dimiliki Mario dengan pria itu. Beberapa kali dia mendatangiku di awal-awal ketinggalanku di sini. Mario meminta penjelasan, mengapa ia harus menerima risiko dijauhi olehku, padahal sepupunyalah yang membuat ulah. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi, tidak lama, Mario langsung mendapatkan tawaran bekerja pada salah satu perusahaan swasta yang merupakan induk dari beberapa anak perusahaan yang tersebar di beberapa tempat di Inggris. Tidak perlu terkejut seharusnya, karena Mario merupakan mahasiswa teladan yang tentu saja bisa mendapatkan tawaran bekerja di manapun. Juga, menjadi asisten dosen sudah dirasakan oleh pria ini. Sikapnya yang penuh kerja keras memang patut diacungkan jempol. Kabar lainnya, Mario juga akan segera pulang. Dan tawaran untuk memimpin sebuah anak perusahaan terpaksa ditolak olehnya. Dia membutuhkan rumah yang sebenarnya rumah sekarang. Mengingat bahwa ayah dan bundanya sudah kembali sejak setahun yang lalu. Dan sekarang, secara kebetulan, kami memiliki pekerjaan masing-masing di sini. Mario yang sudah disini selama seminggu penuh juga akan pulang esok hari. Itu kenapa aku dan Mario bersama-sama sekarang. "Bonjour." Aku membalas sapaannya. "Lucu banget, sih." "Nggak usah mancing ya, Yo." Dia terkekeh lalu merangkul bahuku. Tidak menolak dirangkul oleh Mario, kami kemudian berjalan bersamaan. "Breakfast dulu?" "Oui." Kuiyakan ajakan Mario, karena perutku menjadi lapar saat melihat sebuah café kecil yang terlihat lucu. "Perancis banget, Nad?" Aku tertawa ringan menanggapi kalimatnya. "Lagian pakai bahasa Inggris di sini juga nggak bisa, kan?" Itulah Perancis. Negara yang begitu menjunjung tinggi bahasanya. Beruntung aku mengikuti beberapa kursus bahasa asing. Pekerjaan yang berhubungan dengan orang-orang di belahan dunia berbeda membuatku harus mengetahui bahasa mereka. Paling tidak, aku mengetahui dasarnya. Memiliki teman-teman semasa kuliah yang berasal dari banyak negara juga membuatku mengetahui hal baru. Mendengar mereka menjelaskan bagaimana negara mereka membuatku ingin sekali berlibur kesana. Tidak lupa, aku juga mengenalkan mereka tentang Indonesia. Bagaimana kebiasaan penduduknya yang lebih suka memilih menggunakan tangan ketika makan. Bagaimana beragamnya suku bangsa dan budaya Indonesia. Serta negara yang kaya dengan gugusan pulaunya. Gurat tertarik sangat terlihat jelas di wajah mereka saat aku bercerita. "Sumpah ini dingin banget. Pake berapa lapis, Nad?" Aku tersadar ketika Mario kembali bersuara. "Ratusan." "Di-endorse tango lo?" Aku mencebik sebal ke arah Mario yang kini sibuk tertawa karena guyonannya. "Lucu banget, sih, pakai beanie, gue kayak lagi jalan sama dedek gemes." "Iya gue tau gue gemesin, sekarang diem." "Kalau dipuji, itu jawabnya makasih, Nad." "Ogah kalo ama lo." "Kejam." "Nggak peduli. "Kalau jahat masuk neraka, remembeh?" "Apaansih, Kodok." "Gue jarang tau muji orang, lo malah nggak mau dipuji. Rugi nolak gue, soalnya yang ngantri buat bisa dapetin pujian gue tu banyak, Nad. Sedangkan lo nyia-nyiain golden ticket yang gue kasih." Ucapan Mario tak pelak membuatku menatapnya ngeri. Pria ini memang sakit jiwa. "Lo urus Gigi sana. Nggak usah sok-sokan nawarin gue golden ticket ala-ala lo. Kasian karna Gigi bakal lo tinggal waktu lo pulang ke Indonesia." "Dia marah sama gue." "Nah. Karna lo mau balik?" "Hm." "Terus gimana? Lo keep stay or...?" "Baliklah. Gue nggak bisa di London terus-terusan sedangkan ayah sama bunda udah di Indonesia. Besides, gue juga kangen seseorang. Indonesia." "Perempuan?" Aku mengernyit bingung saat Mario tidak menjawab melainkan hanya diam menatap ke depan. "Terus Gigi?" "Kita cuman temen, Nad. Kelamaan deket bikin gue kebiasa sama dia. Dia marah karena gue kasih tau tentang kepulangan itu tiba-tiba." "Wajar, sih. Lagian elo juga tiba-tiba." *** Karena sekarang sedang musim dingin, jika disini disebut Hiver, aku dan Mario tetap berada di dalam café yang lebih terasa nyaman karena hangat seusai kami sarapan. Keadaan di sekeliling juga tampak ramai. Café ini ternyata memiliki ukuran luas ketika kita sudah masuk di dalamnya, dari luar memang terlihat kecil. Aku menolak tawaran Mario untuk berjalan menjejalah tempat-tempat di sini. Katanya, paling tidak kami berfoto bersama di bawah menara perkasa yang sudah menjadi icon kota ini. "Nad." Aku menatap Mario setelah sejak tadi sibuk menatap cairan panas di dalam cup kecil di tanganku. Kopi. "Hm?" "Gimana keadaan lo?" Gerakan jari-jariku terhenti. Kutatap Mario sedikit menyelidik, sungguh, aku tidak mau membahas hal itu sekarang. "I'm okay, Mr. Ardyta," tekanku sambil memperlihatkan senyum satu detik lalu kembali pada ekspresi semula. "Nad...." "Bisa gak jangan bahas ini?" kataku dengan napas tidak teratur. Tidak, jangan lagi. "It's been seven years." "So?" "Damai sama masa lalu, Nad. Just give him the chance." "The chance?!"  tanyaku berusaha menahan emosi. "You can't live your life like this all the time." "Who do you think you are? This is my fuckin' life and not your business at all." "I know. But---but I care." "Do you?" Kutatap lelaki di depanku dengan sejuta pikiran. Kuberi tawa sinis padanya. "So just go." "Nad...." "I'm going to hate you if you keep going this conversation." "Okay." "Good." Kutarik napas panjang sambil mengusap wajah, kutenangkan pikiran sambil menarik batang hidung. Semuanya melelahkan. "Nad, maafin gue. Gue bener-bener peduli, Nad, sama lo. Gue peduli sama kalian." "Lo taukan alesan gue milih cerita masalah gue ke elo? Itu karna gue percaya sama lo. Jangan bikin gue ragu." "Dia juga ngerasain luka itu, Nad." Aku diam, memilih mendengarkan pria ini melanjutkan kalimatnya. "Sama kayak lo. Kalian berdua terlalu bertahan sama ego masing-masing, nyalahin apapun yang bisa disalahin. Kalian bisa bahagia, tapi diri kalian seolah jual mahal. Yang satu nggak mau ngasih kesempatan, yang satu nggak mau usaha buat dapetin kesempatan. Berhentilah jadi bodoh. Umur segini bukan lagi buat cinta monyet atau apapun sebutannya. Gue yakin, keadaan lo bakalan lebih baik kalau bisa dapetin sesuatu yang sebenernya lo cari selama ini." Aku membuang muka, memilih menatap ke arah lain dengan indra pendengaran tetap tajam mendengar kalimat demi kalimat yang Mario tuturkan. "Papa lo bener, Nad. Jangan dendam." Dan air mataku akhirnya jatuh. Aku menggelengkan kepala ke arah Mario, memintanya berhenti bersuara. "Stop, Yo. Just stop." "Gue cuma takut lo kaget, Nad." "Maksud lo?" "Azka---" "Don't say his name, please." "Dia, dia bukan lagi orang yang dulu." "Pertama, gue nggak suka waktu lo mulai bahas kondisi gue. Kedua, gue benci sama nasehat lo kali ini. Ketiga, gue nggak mau bahas dia. Ngerti?" "Ayolah, Nad." "Lo ngerti gue apa enggak, Mario?" Tanyaku dengan suara lebih keras. Tidak peduli jika ada yang mendengar, toh mereka tidak akan paham. "Gue ngerti elo, Nad. Kelewat ngerti, makanya gue bilang tentang ini. Elo itu masih perempuan tujuh tahun lalu yang ngarepin sahabatnya bisa jadi lebih dari itu. Lo masih nungguin dia, Nad. Sekeras apapun lo ngelak, buktinya emang kayak gitu." Napasku menderu. Sialan. Jangan sekarang. Aku dengan cepat membuka tas, mencari botol kecil yang terpaksa aku bawa karena Sean memaksa. Kukeluarkan satu butir pil dan dengan cepat kutelan. Kututup mata yang sudah berair dengan kedua telapak tanganku. Baiklah, aku benar-benar muak. "Lo, lo gatau apa-apa," tekanku pada Mario. "Berhenti kasih gue nasehat karena gue nggak bakal ngindahin nasehat lo. Cukup jadi temen gue, Yo. Kalau lo nggak bisa dukung gue, lo cuma tinggal diem. Gue nggak pernah butuh advice lo." Aku kemudian tertawa hambar. "Kita urus urusan kita masing-masing." Mario tampak mengusap wajah, menatapku dengan pandangan menyesal. Ditatapnya botol kecil yang terletak di samping cup kopiku, dia lagi-lagi mengusap wajah. "Gue minta maaf." "Entah kenapa gue benci kata itu." "Gue bener-bener nggak maksud buat---" "See? Itu kondisi gue sekarang," ujarku lemah sambil tersenyum terpaksa. Aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Kutatap Mario beberapa saat sebelum akhirnya memilih berdiri. Senyum tipis kuberi padanya, sebelum akhirnya berjalan menjauh. Teriakan Mario yang memintaku berhenti terdengar di belakang, sedangkan aku tetap berjalan. "Mau kemana?" "Lo nggak maukan hari ini kebuang sia-sia gitu aja?" tanyaku sambil menyalakan ponsel, chat Sean terlihat di layar, dan segera saja aku balas. "Bener juga." Aku diam setelah mendengar jawaban Mario. Suasana di antara kami jarang seperti ini. Terakhir kali Mario menyinggung hal seperti itu sekitar satu tahun yang lalu, ketika kami sedang duduk santai di bawah sinar matahari musim panas. Kebiasaanku setiap musim panas masuk adalah picnic. Begitu menyenangkan karena Sean akan menawarkan diri untuk mempersiapkan segala makanan yang diciptakan oleh tangannya. Getaran pada ponsel membuatku tersentak. Nama Sean tertera disana. Aku hanya dapat menggeleng setelah itu memilih menjawab panggilan. "Ya?—Baik kok, nggak usah khawatir.—Mesti banget gue bales bilang gitu?—Males banget.—Gamau!—Iya yaudah, gue juga sayang lo Sean, puas?—Bye!" Aku menatap Mario yang kini tengah menatapku. Aku benci situasi yang bisa dibilang awkward ini. Disamping itu, aku terlalu malas untuk memulai topik. Biarlah seperti ini. "Nad." "Kenapa?" "Lo siapkan buat pulang?" "Lo orang ke lima ratus tujuh puluh delapan yang nanya kayak gitu. Kuping gue sampe enek." "Dia disana, Nad." "Stop, ok?" "Dia—" "Lo ngeselin, Mario." "—berubah." "Lo mau tau sesuatu? Gue nggak peduli. Dan abis ini gue bakalan bener-bener benci sama lo." ...tbc...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN