[4] Akhirnya Kembali

1882 Kata
"Hi, Indonesia. Apa kabar? Saya rindu udaramu." —Bali, Indonesia. NADINE'S POV Aku terbangun, merenggangkan tubuh sambil sesekali menutup mulut karena menguap. Selimut tebal yang menggulung tubuhku membuatku enggan beranjak meninggalkan tempat tidur. Dinginnya diluar sana membuat tubuhku seperti dipenuhi lem yang membuatku tak bisa bangkit. Aku baru saja tiba semalam, dijemput oleh Sean. Lelah selama perjalanan masih saja terasa. Tapi bagaimanapun, aku harus tetap bekerja karena hari ini adalah hari terakhirku. Getaran ponsel membuatku menoleh pada nakas. Kuulurkan tangan untuk mengambilnya. Deretan angka yang tertera pada layar membuatku mengernyit. Siapa ini? Kujawab panggilan itu dan suara yang terdengar membuatku memejamkan mata. Benar-benar mengganggu. Batinku kesal. "New number?—Ya, I'll get ready. You just shut up.—Hate you too." Banci sialan! Bisa-bisanya dia mengganggu pagi damaiku dengan suara cetarnya. Aku akhirnya menggerakkan tubuh, berjalan turun dari tempat tidur dan setelah itu masuk kamar mandi. Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Setelah bersiap-siap, aku memilih turun ke bawah. Terlihat Reva yang tengah sibuk membuat sarapan dan Sean yang tengah duduk santai di meja bar. Mereka sepertinya terlibat sebuah obrolan. Tanpa pikir panjang, aku berjalan mendekat. "Pagi," sapaku dan seketika mereka menoleh. "Pagi, Mbak." "Kerja?" Aku tersenyum ke arah Reva dan setelah itu mengangguk pada Sean. Kuletakkan tas di atas meja makan sebelum akhirnya mendekat berniat membantu Reva. "Eh nggak usah, Mbak. Hari ini biar aku yang masak, Mbak duduk aja." Aku mengernyit, tidak terima. Aku juga ingin membantu Reva. "Udah mbak duduk aja. Nggak apa-apa." Aku mengalah, dan setelah itu mengambil tempat di sebelah Sean. Menuangkan air putih ke dalam gelas dan memilih untuk minum. Aku menatap jam, setidaknya masih ada dua puluh menit lagi sebelum akhirnya aku berperang dengan dinginnya cuaca di luar. "Nad." "Hm?" "Kiya sekarang kerja apaan?" Gerakan jariku di ponsel terhenti. Kutatap Sean bingung penuh selidik. Demi semua perempuan yang pernah mendekati Sean—walaupun akhirnya ditolak—ini kali pertama Sean bertanya seperti ini. Seharusnya aku merekamnya. "Ehem, kenapa?" "Lo—lo kok tiba-tiba nanyain Kiya?" "Kepikiran aja." "HAH?! Lo mikirin Kiya?!" "Gue kirain lo nggak pernah kontakan lagi sama dia. Taunya masih?" "Sampai sekarang. Kalau apa-apa gue hubungin dia, tapi gue usahain nggak sering, sih, takutnya malah ganggu dia, soalnyakan sibuk. Udah beda banget dia sekarang. Makin cantik, tinggi juga kayaknya, ya samaan sama guelah tingginya. Jugakan dia dokter, banyak banget yang ngejar dia pasti." Kumainkan nada di kalimat terakhir, dan raut wajah Sean seketika menjadi aneh. Oh Tuhan, apa yang salah pada sepupuku ini? "Dokter?" "Hm." "Gue minta kontaknya dong." Baiklah, napasku hilang seketika. *** "Nah jadi gitu, aku bingungnya di sana loh, Rev. Kamukan tau gimana aku sama si banci, deket banget udah kayak sodara. Aku takut dia marah banget karna aku ngasih tau mendadak gini." "Ya kan Mbak pulangnya juga mendadak. Kalau Mbak rencanain pulangnya dari setahun yang lalu, wajar dia marah karna Mbak ngasih taunya baru sekarang." "Iya, sih. Nanti aku kasih tau dia pelan-pelan." Aku menarik napas perlahan, menatap gedung tempatku bekerja. "Kamu mau kemana dari sini?" "Mau berburu ketek bule yang anget-anget." "Bloody hell! Ketek bule?" "Ya enggak, Mbak. Ini ada janji ketemu sama Ms. Rose buat ngasihin design dress dia. Kan Mbak yang nyuruh aku minggu kemarin." "Oh, iya. Tapi Ms. Rose yang terakhir, kan?" "Iya. Padahal banyak banget yang hubungin aku, Mbak, tapi ya terpaksa aku jawab nggak bisa." Aku tersenyum sambil menggigit bibir, kuhela napas setelah itu tersenyum. "Yaudah, aku masuk ya." Aku pamit pada Reva, masuk ke dalam gedung tempatku bekerja. Suasana terlihat lebih ramai dan santai, pohon natal terlihat di beberapa sudut ruangan. "Sweetheart!" Aku menoleh saat sebuah suara berat yang dilembutkan terdengar. "What?" "I miss you so much." "Unfortunately, I don't." "Hate you." "Hate you, too." Stephen. Tetapi lebih bahagia jika dipanggil Stefanie. Salah satu seniorku merangkap teman dekat. Awalnya aku begitu takut dengannya, merasa tidak terbiasa dengan segala bentuk perhatian kecilnya padaku. Dia teman pertamaku disini, karena meja kami memang bersebelahan. Aku memilih berjalan lebih dulu menuju lift, meninggalkan si banci yang kini sibuk menggerutu sebal di belakangku. Kepalaku sibuk merangkai kalimat untuk berpamitan. Jika untuk resign secara resmi, itu sudah kulakukan sebelum berangkat ke Paris. Awalnya keputusanku tersebut ditolak, namun saat aku menjelaskan niat dan maksudku sebenarnya, akhirnya aku dilepas. "Sweetheart! Listen to me—" "Step?" "Hm?" "I wanna talk seriously with you." "What is that? Don't make me curious, Sweetheart!" "I—I'm not going to live in here anymore." "What? What do you mean? You moved? House?" "Yah...." "Where?" "Indonesia." "WHAT? YOU'VE GOTTA BE KIDDING ME, RIGHT?" "No, Step. Seriously, listen to me, I'm goin' to move next month." "I'm dying! Just leave me alone. You b—bi, akh I hate you so much." "I know." "Bring me! I'm going to live with you." "No, you can't, Step." "Why?" "You must stay in here, work in here. This is your fuckin' dream. Your life is in here, Step." "Just go...." "Step...." "Right now, Bitch." "Step...." "I love you." Step memelukku erat kali ini, ah, dia menangis. Semua kebaikan pria ini berkeliaran di pikiranku. Bagaimana dia pernah menemaniku dari pagi hingga tengah malam dengan berjalan kaki hanya untuk memperbaiki moodku yang naik turun. Menjadi dokterku saat aku terserang demam mendadak. Menjadi guru yang memberi tahuku banyak hal tentang pengalaman hidupnya. Dia segalanya. Inilah bagian sulitnya, berpisah dengan Step adalah hal yang tidak pernah melintas di pikiranku sebelumnya. Lelaki ini begitu baik, begitu sulit untuk mengambil langkah darinya. Namun sebagaimana keputusanku di awal, aku tetap akan pulang. Aku harus memilih, serumit apapun pilihannya. Menetap disini selamanya, jauh dari orang tua, dan terus-terusan memikirkan sakitnya masa lalu tanpa berniat untuk berdamai. Atau, pulang, kembali pada dekapan orang tua, dan memilih berhadapan dengan masa lalu itu sendiri. Aku mendapatkan dua pilihan itu, tugasku sekarang hanya memilih dan melakukan. Indonesia. Ah, aku rindu negara itu. Baiklah, aku lebih yakin sekarang. Aku akan pulang. Selamat tinggal, London. Terima kasih untuk tujuh tahun mengesankannya. *** "Nad?" Aku tersadar dari lamunanku, kutatap lagi berbagai kenangan yang kini melekat di dinding dalam balutan frame persegi panjang. "Udah?" "Gue nggak akan pernah puas mandangin foto-foto ini, Yan. Gue kangen banget sama Mrs. Anna." "Kitakan udah ngunjungin makamnya." "Gue pengen meluk dia, bilang sayang sama dia. Kalau aja hari itu gue nggak telat—" "Nad!" Aku tersentak saat suara tegas Sean menyebut namaku, membuat ucapanku terpotong karenanya. "Udah berapa kali gue bilang sama lo? Itu takdir, Nad. Lo harus belajar nerima takdir itu. Kalaupun lo bisa bawa Mrs. Anna ke rumah sakit, dia juga bakalan pergi kalau emang itu udah waktunya. Lo nggak bisa terus-terusan nyalahin diri lo sendiri karena perginya Mrs. Anna." Waktu itu, aku tengah berbelanja bersama Reva. Berniat mencari bahan makanan untuk makan malam. Reva yang saat itu sudah memaksaku pulang karena dia harus mengecek sesuatu, tapi aku terus saja mengulur waktu. Aku sibuk melihat gerombolan manusia yang tengah tampil di jalanan kala itu, merayakan festival. Perasaanku memang tidak enak, tapi sebisa mungkin aku tidak memikirkannya. Tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir bersama Mrs. Anna. Karena saat kami -aku dan Reva- meninggalkan rumah, Mrs. Anna tengah bersemangat menyiram tanaman. Saat kami tiba di rumah, Mrs. Anna tidak terlihat di manapun. Ketika aku membuka pintu kamar mandinya, ternyata Mrs. Anna disana. Terduduk dalam keadaan basah kuyup. Aku dengan cepat memanggil segala bantuan agar Mrs. Anna dapat segera dibawa ke rumah sakit. Namun takdir lagi-lagi menampakkan kuasanya, Mrs. Anna tidak dapat diselamatkan. Aku terlambat. Jika aku memilih pulang, semuanya tidak akan terjadi. Mrs. Anna akan lebih cepat kutemukan. Oh Tuhan. "Gue inget, Mrs. Anna pernah bilang, kalau suatu saat nanti, gue harus berani pulang. Siap nggak siap, gue harus pulang. Karena takdir nggak pernah nunggu kapan gue bakalan siap. Hidup itu nggak pernah berhenti, bahkan untuk orang paling baik sekalipun. Gimanapun beratnya hidup gue, takdir nggak akan pernah peduli, tapi seenggaknya takdir bakalan peduli kalau gue mau usaha buat lewatin beban itu." Aku menatap Sean menampakkan senyum tipis. Lalu berjalan mendekat ke dinding, dan mengambil satu kenangan dari sana. Mrs. Anna terlihat tertawa lepas bersama aku juga Reva, kami sibuk menceritakan sesuatu dalam balutan celemek merah muda. "I love you, Mrs. Anna. Seperti yang Anda bilang, Nadine milih buat pulang." Aku dan Sean keluar dari rumah Mrs. Anna. Berjalan menuju mobil yang sedari tadi sudah menungguku dan bersiap membawaku menuju bandara. Satria akan berangkat esok hari, menyusulku. Reva sudah lebih dulu menuju kesana karena dia harus menemukan sesuatu. Mungkin akan menjadi oleh-oleh, entahlah. "Hati-hati! Kalau udah transit kabarin gue, kalian jangan misah. Rev, ajak dia ngobrol terus ya." Nasehat Sean saat kami tiba di bandara membuatku kesal. Namun pria itu tampak tidak peduli dan tetap mengeluarkan kalimat demi kalimat. "Nad, hati-hati." Kalimat terakhir Sean membuatku memilih memeluknya erat. "Cepetan nyusul, Yan. Gue nggak tau bakal gimana nanti tanpa lo." "Secepetnya gue janji." "Gue benci denger janji kalau nanti akhirnya malah lo ingkarin." "Nad, gue usahain, ok?" Usapan Sean pada lenganku membuatku sedikit lebih percaya. Aku diam, memikirkan sesuatu yang selama ini masih terselip di sudut hatiku. Yang sering kututup rapat dengan banyak kebohongan. Yang selalu kubalut dengan senyuman hambar tanpa rasa. Yang akhirnya selalu berhasil membohongi semua orang, kecuali Mario. Pria sialan itu ternyata mengerti dan paham, dia lebih dari sekedar tahu. Keinginan yang selama ini kukubur, sepertinya akan kembali mencuat, meminta dilepaskan dari penjara luka itu. Menggapai bintang. Tujuh tahun lalu aku gagal, dan sekarang aku tidak ingin gagal lagi. Tuhan, bantu aku. "Yan." "Hm?" "Lo ingetkan pernah bilang kalau gue nggak bakal pernah gapai bintang?" "Kenapa?" "Menurut lo, apa gue masih bisa gapai bintang itu walaupun dia udah berubah?" "Nad?" "Tolong gue, Yan." Sean tampak menghela napas, membuatku menatapnya takut. "Lo taukan, krayon yang hancur tetep punya warna yang sama, Nad. Dia berubah, gue tau. Tapi di dalem, dia tetep dia." "Maksud lo?" "Gue masih kontakan sama dia. Gue nggak tau ini kabar baik atau buruk buat lo, tapi selama ini, dia nggak pernah nanya apa-apa tentang lo. Gue juga nggak mau kasih tau tentang lo ke dia." Jantungku kembali, maksudku, kembali berdetak seperti saat-saat itu. Seperti apakah dia sekarang? "Lo tetep sama kayak dulu," ujar Sean sambil mengacak rambutku. Membuatku mencekal tangannya agar tidak bergerak lagi. "Lo udah bawa obat?" Gerakanku terhenti. Kutelan saliva susah payah. "Udah." Pria di depanku tersenyum. "Bukannya kemarin lo buang semua isinya ke sungai Thames?" s**t!  Aku gelagapan seketika, sial, bagaimana ini? "Lo masih butuh itu, Nadine." "Udah enggak, Sean. Lo yang terlalu lebay." "Lebay demi kebaikan lo." "Cukup ngertiin gue. Ok?" "Satria bakal bawa besok." Aku hanya dapat menghela napas, tidak peduli dengan apa yang akan Sean lakukan. "Ok, hati-hati, Nad, Rev. Saling jaga, ya!" *** "Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Bali, kita telah mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai—" Aku tidak lagi mendengarkan lanjutan kalimat itu. Oh Tuhan, aku disini sekarang. Jarakku cukup dekat dengan keluarga. Ya, aku pasti bisa. Mantraku pada diri sendiri. Pandanganku tetap jatuh pada pemandangan di luar saat Reva mengguncang tanganku. Dia hanya menatapku tanpa suara. Aku mengerti maksudnya. "Aku disini, Rev." Ujarku berbisik. Reva tersenyum, digenggamnya tanganku sebentar sebelum akhirnya kami berdiri. Kupegang ponselku yang sedari tadi mati sambil membuka kabin berniat mengambil tas. Ah, aku butuh tidur panjang sebelum esok hari harus bekerja sebentar. "Nadine?" Aku menoleh cepat saat suara berat menyebut namaku. Dan ya, setelah melihat wajah di depanku, ponsel adalah benda pertama yang jatuh. Pria ini..   ...tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN