"Jika saja saya boleh memilih, hati saya dengan cepat akan berteriak, kamu. Jika saya dilarang, akan saya lakukan banyak cara, agar pilihan akhir saya, tetap kamu." —Tepat di seberangmu.
NADINE'S POV
Kekagetanku ternyata tidak bisa disembunyikan saat melihat pria ini. Seorang yang dulunya pecicilan ternyata tumbuh menjadi pria dewasa. Dan takdir memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya disini. Tingginya sama denganku -sepengamatanku- dan tidak akan ada yang tau bahwa pria di depanku adalah sosok menyebalkan yang dulunya sering membuatku naik darah. Tidak akan ada yang curiga bahwa pria ini dulunya adalah seorang bocah gila dengan segala cara-cara ajaibnya untuk membuatku luluh. Karena sekarang, dia terlampau mengagumkan. Dalam balutan jas hitam dan kemeja putih yang tampak pas di badannya.
"Bener gue nggak salah orang." Pria di depanku kembali bersuara. Kutatap ia yang kini berjongkok dan kembali berdiri dengan ponselku di tangannya.
Kugenggam erat tanganku sambil menatapnya ragu. Kugigit bibir karena perasaan takut yang dari awal menyerang. Aku membuang pandangan pada Reva yang kini meminta penjelasan. Aku berdehem, berusaha menghilangkan kegugupan.
"Apa kabar, Nad?" Aku kembali menatapnya, lalu menunduk. Aku benar-benar hanya ingin keluar dari sini dan segera berpisah dengan pria di depanku. "Udah lama banget, Nad. Gue sama sekali nggak tau lo pergi kemana. Lo tinggal di Singapore tujuh tahun ini?"
Untuk kesekian kalinya aku membuang muka, menatap Reva meminta pertolongan.
"Maaf sebelumnya, tapi perkenalkan nama saya Reva. Saya asisten pribadinya Mbak Nadine."
Pria di depanku tampak bingung, tapi sepertinya dia tetap berusaha agar terlihat biasa. Dibalasnya uluran tangan Reva dan tampak tersenyum. "Saya Leo, temennya Nadine."
"Sorry." Aku—dengan tangan bergetar—kembali merebut ponselku. "Ayo, Rev." Aku memilih untuk segera keluar, meninggalkan Reva dan pria itu di belakangku.
Tidak. Aku belum siap. Kuhela napas kasar. Ayolah, Nad. Itu resikonya. Hadepin, Nad. Otakku berkali-kali menekankan kalimat tersebut.
***
"Gila panas banget. Angin, sih, tapi tetep aja." Aku terus saja menggerutu. Setelah dari hotel, kami memilih untuk makan di luar karena Reva berulang kali memaksaku. Dan inilah yang di dapat, panas berangin.
"Kangen nggak sih, Mbak?" Aku langsung saja berhenti mengibaskan tangan di sekitar leher ketika Reva bertanya. "Orang-orangnya, udaranya, budayanya, makanannya, semuanya."
Aku mengerjapkan mata, kutatap sekeliling. "Hm." Aku benar-benar merindukan segalanya. Makan di tepi pantai sambil menatap ramainya orang berlalu lalang. Aku menyukainya. Terlebih apabila sunset turut menemani. Aku memejamkan mata beberapa saat, menghirup udara disini sebanyak mungkin.
Aku menatap berbagai macam makanan di depanku, sambal yang sering membuatku berkeringat ketika memakannya tertata rapih di samping es teh manis pesanan kami.
"Aku pikir ni kaus tipis nggak bakalan pernah kepake, eh taunya." Aku terkekeh menatap Reva yang sudah mulai makan.
"Sama. Di rumah nanti kayaknya semua mantel, beanie, sarung tangan, mesti disimpen. Nggak bakalan kepake juga di sini." Aku membuka ponsel sebentar berniat mengecek sesuatu. "Rev, besok abis meeting kita langsung tancap ke Ubud ya."
"Siap, Mbak. Eh tapi, Mbak."
"Kenapa?"
"Yang tadi itu—"
"Oh. Dia adik kelas aku waktu SMA." Aku diam sebentar, memikirkan bagaimana caranya memberi tahu tentang Leo pada Reva. "Kita sempet temenan, lumayan deket, sih. Tapi liat dia sekarang malah kayak, gataulah, aku nggak berani."
"Pantesan dia ngeliat ke Mbak terus."
"Kok kamu tau?"
"Kan aku sempet ke toilet Mbak. Malah awalnya aku kira dia orang jahat. Aku udah was-was aja, niatnya pengen cepetan kasih tau Mas Sean kalau udah di bandara tadi."
"Menurut kamu aku berlebihan apa nggak?"
"Maksudnya?"
"Iya, dengan sikap aku yang kayak gini. Takut sama orang-orang yang dulunya deket sama aku, bikin batesan ke mereka. Aku berlebihan, Rev?" Aku membuang pandangan, menyisir pada indahnya garis horizon, tempat dimana matahari bersembunyi. "Aku cuma nggak mau dapetin luka lagi. Ngerasain masalah yang kayaknya nggak bisa aku tanggung sendiri. Orang-orang di luar sana nggak bakalan mampu buat sebentar aja jadi aku."
"Mbak, Mbak itu orang kuat yang pernah aku kenal, setelah umi dan ayah aku, Mbak. Ayah terus bilang ke aku, Tuhan nggak bakal pernah kasih ujian diluar kemampuan makhluknya. Aku bakal terus temenin Mbak buat usaha damai sama masa lalu. Kuncinya cuma satu, Mbak harus berani. Langkah kecilnya ya, coba terbuka sama pria tadi."
"Menurut kamu aku bisa?"
"Jangan tanya ke aku, Mbak. Tanya sama diri Mbak sendiri."
"Mungkin...." Reva tampak tersenyum, lalu mengambil udang dan setelah itu mengarahkannya pada mulutku. Aku menerima udang tersebut dengan senang hati. "Thanks ya, Rev. Karena udah sering sabar sama aku."
Entah sudah berapa lama aku dan Reva duduk disini sambil bertukar cerita. Meja-meja juga sudah terisi penuh oleh tamu-tamu lainnya yang akan berniat makan malam disini. Aku suka detik-detik ini. Melihat matahari pulang ke peraduan, membiarkan langit melukiskan keindahannya dengan warna-warna yang akhirnya membuat tiap pasang mata yang melihat selalu mengucap kata luar biasa. Semuanya terasa damai. Sunset, tawa, obrolan ringan, musik lembut, semuanya membuatku hidup.
"Permisi Tante." Aku tersentak saat sebuah suara muncul dari bawah. Aku menunduk, menatap seorang anak laki-laki yang kini tengah berusaha mengambil bola di bawah meja. Aku berniat menolongnya, namun ternyata dia sudah mendapatkan bola itu lebih dulu. "Maaf ya, Tante, kalau aku ganggu." Jidatku mengernyit. Tentu saja aku tidak terganggu.
"Namanya siapa?" Aku ikut tersenyum saat dia juga tersenyum.
Senyum itu..
"Dimitri, Tante, tapi panggil Dimi aja."
"Dimi kesini sama siapa?"
"Sama Oomnya Dimi. Ayah sama bunda soalnya nggak mau ikutan, jadinya Om Dimi ajakin kesini buat makan."
"Sekarang Omnya Dimi dimana?"
"Gatau."
"Kok nggak tau?"
"Emang gatau."
"Biar aku yang anterin aja, Mbak. Mbak disini aja."
"Dimi dianter sama Tante Reva ya ke tempat omnya. Besok-besok kalau sendiri jangan jauh-jauh dari Omnya Dimi, nanti ilang loh. Mau?"
"Gamau."
"Bagus. Bye, Dimi."
"Dadah, Tante baik."
Aku masih tersenyum selepas Dimi pergi diantar Reva. Entah hanya khayalan murahanku atau memang Dimi mirip dengan pria itu. Raut wajah mereka tampak sama ketika tersenyum. Pikiran negatif tiba-tiba saja menyapa kepalaku. Dia sudah menikah? Tidak mungkinkan?! Lagipula, bisa saja ini hanya sebuah kebetulan. Baiklah, tarik napas dan buang perlahan.
***
Sehabis mempoles wajah, aku langsung mengambil pakaian yang telah aku siapkan semalam. Pria bernama Adam, yang mengurus meeting hari ini memberi tahu bahwa tidak usah berpakaian terlalu formal, cukup santai. Dan aku memilih sabrina cape top berwarna navi dipadu dengan celana kulot berwarna putih tulang. Setelah itu, kuambil higheels berwarna nude.
Sembari membereskan perlengkapan lain, aku mulai mengabarkan pada pak Adam bahwa aku akan segera menuju tempat meeting. Kuambil tas dan setelah itu mendekati Reva yang masih bergulung dalam selimut. Setelah berpamitan, aku keluar dari kamar hotel. Saat keluar hotel, kulihat taksi yang telah kupesan sebelumnya sudah siap. Dengan segera, aku memasuki taksi tersebut.
Kuperhatikan jalanan dengan pikiran yang beterbangan. Perasaanku entah kenapa tiba-tiba tidak enak. Kuenyahkan rasa cemasku, memilih untuk tenang. Mungkin ini efek karena terlalu lama dan tidak pernah pulang, keadaan negara sendiri membuatku kikuk, cemas, dan perasaan lainnya yang sulit digambarkan. Dalam hati, aku bangga pada diriku karena aku mau mencoba pulang.
Saat taksi berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah merah, aku melihat keluarga kecil di atas motor. Sang ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki. Mereka tertawa sesekali, dan hal itu menjentikku hebat. Hal sederhana ternyata mampu membuat mereka bahagia, merasa lengkap satu sama lain. Anaknya terlihat merengek, dan sang ayah dengan sigap melontarkan sesuatu yang membuat anak itu terdiam.
Lampu berubah hijau dan keluarga kecil itu bergegas lebih dulu. Aku sebisa mungkin menahan perasaan haru. Aku sadar, untuk kesekian kalinya aku nyaman dengan kesendirian yang aku ciptakan. Dulu setelah berbaikan dengan papa dan mama, aku berjanji untuk tidak menjadi makhluk egois. Namun sekarang, keadaan memaksaku untuk egois. Sekali saja, aku juga ingin diperjuangkan.
Tujuh tahun sungguh bukan waktu yang sebentar untukku. Bertemu kembali dengan mama dan papa membuat perasaanku campur aduk. Sanggupkah aku? Karena bagaimanapun, pada akhirnya aku akan harus pulang. Membantu keluargaku disini adalah tugas wajib yang harus aku lakukan. Sepertinya pengalaman dan ilmu dari negara orang cukup untuk aku terapkan di negara sendiri. Tidak hanya London, beberapa negara Europe sudah aku kunjungi untuk urusan pekerjaan.
Beberapa saat kemudian taksi berhenti di depan sebuah restaurant. Pak Adam sengaja mengajak meeting disini agar suasananya lebih santai. Dan ini juga masih pagi, dimana otak masih fresh untuk berpikir. Aku tidak masalah saat pak Adam meminta pertemuan sepagi ini, toh aku tidak punya urusan apa-apa lagi selain meeting ini. Setelah selesai nanti, aku akan puas menikmati keindahan Bali.
Aku keluar dari taksi bersamaan dengan ponselku yang bergetar. Nama Satria tertera di layar.
"Dimana? Oh gitu. Aku meeting nggak jauh dari hotel. Nanti aku send locationnya."
Aku memang pergi lebih dulu daripada Satria. Seharusnya pria itu sudah menuju Jakarta sekarang, namun karena Sean bersikeras bahwa Satria harus menemaniku, maka jadilah. Sean ingin Satria tetap mengawasiku. Hey, aku baik-baik saja.
Sean terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jika dia memiliki waktu luang, pasti dengan senang hati Sean akan menemaniku. Tidak berbeda jauh dengan mama, om Rega juga berkali-kali meminta Sean pulang, tapi pria tersebut selalu mengelak. Bahkan opa sendiri sudah membujuk Sean, namun dengan rangkaian kalimat bujukan sialannya, opa membiarkan Sean tetap disana.
Dari yang kudengar secara tidak sengaja saat Sean memilih curhat kepada Satria, bukan masalah pekerjaan yang membuat Sean enggan kembali pulang. Tapi karena Sean diminta untuk mengenalkan seorang perempuan di hadapan keluarga besar. Selama di London, tidak heran apabila banyak wanita yang mendekat padanya. Terkadang, aku dijadikan perisai agar wanita-wanita itu menjauh. Sebenarnya Sean tidak menolak didekati, tapi juga tidak menerima. Itu membuatku khawatir jika Sean sedikit berbelok. Itu kenapa aku begitu terkejut saat Sean menanyakan tentang Kiya.
"Nadine?" Aku tersentak saat terdengar panggilan Satria. "Kamu nggak papa?" Aku menghela napas merasa bersalah.
"Sorry, Sat. Kamu langsung kesini, kan?" tanyaku sambil berjalan masuk restaurant. Hanya terlihat beberapa orang.
"Okey, I'll send my location, wait." Aku langsung memutuskan sambungan, dan hendak membuka aplikasi chat.
Tapi kedatangan seorang pria berperawakan tinggi datang mendekat. Apa mungkin pak Adam? Aku memperhatikannya, kaus polo berwarna hitam melekat di tubuhnya. Sebuah senyum langsung saja menyapa saat ia sudah berdiri tepat di depanku.
"Miss Fredella?" Aku terdiam sebelum akhirnya tersenyum seadanya dan mengangguk. "I'm Adam." Dia mengulurkan tangan dan dengan segera kusambut.
"Call me Nadine. Senang bertemu dengan anda, Pak Adam." Aku tersenyum dan dia mengangguk.
"Oh ya, maaf saya lupa memberi tau sebelumnya. Meeting hari ini bertambah satu orang, dan saya harap Anda tidak terganggu."
"No, it's okay."
"Good, okey follow me." Aku mengangguk lalu mengikuti Pak Adam yang berjalan lebih dulu.
Aku kembali menyalakan ponsel berniat langsung mengirimkan location pada Satria. Setelah selesai, aku kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas dan kembali melihat ke depan.
Namun langkahku terhenti. Badanku seketika kaku seperti es. Mataku terkunci oleh sepasang hitam tajam di sebrangku. Jantungku seakan direnggut paksa dari tempatnya. Bagaikan sebuah godam besar yang menghantam badanku begitu keras, aku sungguh tidak berdaya. Semua luka yang belum mengering dalam hatiku sangat terasa menyakitkan, seperti disiram oleh perasan jeruk nipis.
Tujuh tahun lalu, tepat di bandara, aku meninggalkan pria ini. Aku menolak segala permintaannya untuk memintaku tinggal. Aku memilih untuk tidak pernah mengenalnya lagi. Kutinggalkan sebuah novel lusuh padanya, agar dia mengerti apa yang kurasakan selama ini. Kubawa semua luka itu, ingin kusembuhkan, yang sialnya tidak pernah membaik bahkan hingga detik ini.
Ekspresi dan tatapan itu, berubah.
Pria yang selama ini bersemayam dalam sudut hatiku, dia tidak lagi tampak seperti dulu.
Tampak dingin, begitu jauh.
Kenapa dia begini?
Tanganku bergetar hebat dan sebisa mungkin aku sembunyikan. Jantungku benar-benar berdegub kencang. Ketakutan yang selama ini selalu terbang di pikiranku, tiba-tiba saja muncul di hadapanku tanpa adanya aba-aba terlebih dahulu.
"Anda baik-baik saja?" Aku tersentak, napasku menderu. Aku mengangguk terpaksa, sebisa mungkin mengendalikan keadaanku. "Oh ya, perkenalkan, Nadine Sava, ini Azka Aldric. Azka, ini Nadine." Kutatap lagi mata itu, dan tidak kutemukan apapun, seperti kosong, hampa, tanpa nyawa. Kemana tatapan lembutnya?
"Azka Aldric." Jantungku mencelos ketika akhirnya mendengar suara itu. Suara yang begitu kurindukan selama tujuh tahun ini. Terdengar lebih dewasa dan terkontrol. Oh Tuhan, ini benar-benar seperti lelucon. Melihatnya mengulurkan tangan padaku dengan wajah tanpa ekspresi. Mataku memanas, aku benar-benar ingin menghilang.
Ingatkah dia padaku?
"Na—Nadine Sava," balasku bergetar.
Baiklah, aku rasa takdir kembali ingin bermain bersamaku.
...tbc...