Ketika pujian itu keluar dari mulutmu, bagaikan kandang kupu-kupu, perutku penuh. Sudahlah, jangan menggoda. Pipiku rasanya lelah karena panas. kupu, perutku penuh. Sudahlah, jangan menggoda, pipiku rasanya lelah karena panas. —Tertanda, aku yang sedang bahagia. NADINE'S POV "Nad! Al!" Aku menatap Satria juga Razza dengan saliva yang sulit ditelan. Seharusnya aku lebih memaksa Aldric untuk makan di rumah jika situasi yang dihadapi malah seperti ini. Genggaman Aldric kulepas, berganti dengan kupeluk lengannya. Mengikuti langkah Aldric menuju meja kedua pria tersebut. Aku tersenyum tipis pada Satria juga Razza sambil duduk. Jujur saja, aku sudah jarang bertemu mereka. Aku juga tidak bertanya apapun pada Kiya mengenai mereka, karena memang bukan urusanku. Walaupun Satria sesekali mengirim

