[25] Dukungan

2320 Kata
Pada akhirnya, ketika aku mulai merasa lelah, memang hanya kau yang pantas kujadikan rumah. —Tertanda, aku. NADINE'S POV "Lo benerankan makan siang nanti ke rumah sakit?" Aku mengangguk pelan menanggapi ucapan Kiya yang sedang duduk di belakang kemudi. "Minta anterin Reva, jangan sendiri." Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Malam ketika aku kembali ke rumah, tidak ada hal lain yang aku lakukan kecuali berada di dalam selimut ditemani air mata yang sulit berhenti. Keesokan harinya, Kiya yang terlihat nekat untuk libur kupaksa bekerja. Dan perempuan itu akan segera masuk mobil apabila aku dapat menghabiskan sarapanku dengan cepat. Tidak ada hal lain yang aku lakukan seharian kecuali menghabiskan hari dengan berada di tempat tidur. Dan ketika sore tiba, Sean datang dan menatapku dengan pandangan yang sulit dibaca. Membuatku takut menatapnya. Ketika pria itu duduk di tepi ranjang dan mencari tanganku lalu mengelusnya pelan. Aku tau bahwa Sean ingin marah padaku, aku tau dia tengah meredam emosinya. "Lo tau kenapa gue milih Kiya, Nad?" tanyanya saat itu. Aku diam, tidak memberikan reaksi apapun. "Karna yang gue tau dia selalu ada buat lo. Gue nggak bakal mau milih perempuan buat dijadiin pacar apalagi istri kalau dia nggak bisa ada buat lo juga, Nad. Karna nanti, gue tetep mau istri gue ngerti kenapa gue segini sayangnya ke elo. Dan menurut gue Kiya yang cocok buat ini." Aku kini menatap Sean lebih fokus. Jadi karena alasan tersebut dia memilih Kiya? Karena aku? Oh Tuhan. "Lo b******k, Arjuna Sean." Ujarku datar sehingga pria di depanku tampak tidak mengerti. Kutarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. "Lo b******k karna punya niat itu ke perempuan sebaik Kiya. Lo juga bego karna nggak mikirin kebahagiaan lo. Nggak bakalan ada perempuan yang terima dirinya dijadiin nomor dua padahal dia istrinya. Nggak salah kalau Kiya nolak lo. Karna niat lo masih nggak baik. Makasih karna udah repot mikirin gue, tapi buat hal kayak gini letakin gue di bagian bawah, Yan. Gue nggak mau Kiya ngerasain sakit yang sekarang gue rasain. Dikasih status jelas, tapi kepercayaan sama sayang lo ternyata lebih wah ke perempuan lain. Walaupun disini posisi gue sepupu lo, tapi itu tetep nggak bener." "Nad—" "Jadi, kalau nanti lo nemuin perempuan dan lo yakin sama dia, kasih rasa sayang sama kepercayaan lo sepenuhnya ke dia. Gue dukung lo sama siapapun, Yan. Mau dia ada atau enggak buat gue, itu nggak masalah. Asal dia selalu ada waktu lo lagi up or down." Aku tersenyum tipis setelah itu, menjulurkan tangan untuk mengajaknya berpelukan. Dan setelah itu, banyak hal yang kami bicarakan. Sean menemaniku hingga aku tertidur. Ketika pagi, kudapati Kiya yang tertidur di sebelahku. Dan sekarang disinilah aku, bersama Kiya di dalam mobil miliknya tengah menuju butik. Kiya melarangku pada awalnya untuk berkegiatan karena keadaanku sedang tidak sehat. Pagi ini saja aku kembali memuntahkan sarapanku. Tapi setelah membujuk Kiya sekuat tenaga, akhirnya ia luluh. Sungguh, aku butuh kesibukan untuk mengusir rasa sesak ini. "Gue takut dia dateng, Ki." Ujarku tiba-tiba dan sukses membuat Kiya menoleh. "Lo langsung bilang sama gue." "Mau lo apain?" "Gue kasih ke piranha peliharaan gue." "Emang punya?" "Ntar gue beli lima." "Apa impian lo, Ki?" "Nad?" "Jawab doang." Kiya tampak menghela napas ketika mobilnya berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah. "Lo tau, jaga semua mimpi-mimpi pasien buat tetep bertahan. Jaga semua keinginan keluarga pasien dan buat mereka percaya kalau si pasien bakalan sembuh dan bisa ngumpul sama mereka lagi." "Gue pengen punya anak." Ujarku bergetar. Kutatap Kiya sambil tersenyum samar. "Itu impian gue. Gue pengen ngerasain perut gue ditendang waktu dia mulai gede di rahim gue. Gue pengen capek waktu dia rewel karna ngompol tengah malem. Terus jadi guru buat semua hal baru yang dia lakuin. Jadi temennya yang paling cerewet waktu dia males bersihin kamar. Jadi sahabat tempat dia curhat waktu resah karna cowok yang sering ganggu dia di sekolah." "Nad—" "Dan gue cuma mau anak gue. Gue nggak lagi peduli siapa ayahnya, Ki. Gue capek berurusan sama laki-laki, Ki. Kalau ujungnya selalu kayak gini." "Nad lo dengerin gue! Lo sayang Azka, dan Azka juga kayak gitu. Gue bisa tau itu bukan dari kemarin sore, gue tau itu dari dulu, Nad. Gue paham gimana pengecutnya kalian berdua. Gue misahin Azka dari lo bukan karna gue nggak pengen kalian sama-sama, tapi lebih dari itu, gue mau Azka yang dipanggil papa sama anak-anak lo nanti. Gue pengen kalian sadar kalau kalian saling butuh. Gue mau kalian berdua perjuangin ini semua! Lo emang nggak bisa bikin orang mati hidup lagi, tapi lo masih bisa perjuangin seseorang yang lo mau buat jadi temen hidup. Kalau ujungnya kalian emang nggak sama-sama, berarti emang itu jalannya. Tapi kita nggak pernah tau apapun yang bakal kejadian di waktu setelah ini, kan? Itu rahasia Tuhan, Nad." "TAPI ALDRIC LEBIH MILIH BUAT PERCAYA SAMA AMIRA DARIPADA GUE, KIYA." "Tuhan itu nggak pernah bareng sama orang jahat, Nadine. Sepandai apapun tupai lompat, dia pasti bakalan jatuh jugakan? Sedalam apapun bangkai dikubur, baunya bakal kecium jugakan? Dan lo tau apa yang seharusnya kita lakuin? Kita harus kerja keras buat cari bukti itu. Gue berharap banget nenek lampir itu neror lo lagi. Dan menurut lo, darah apa yang bakalan dia gunain selanjutnya?" Aku berpikir sebentar, lalu dengan datar kujawab, "Darah menstruasi dia kali." Kudapati wajah horror Kiya dan jari tengah yang ia berikan padaku sontak membuatku tertawa. "Btw, ketawa lo itu indah, Nad." "Iya, makan siang ini gue yang traktir, Ki, iya." "Peka ternyata." "Sialan." "Kita dapetin bukti itu sama-sama, ok?" "Ok." Tuhan, terima kasih karena mengirimkan perempuan ini untuk selalu ada di sampingku. *** Tepat ketika makan siang, aku sudah tiba di rumah sakit tempat Kiya bekerja. Niatku selain makan bersama Kiya yaitu menemui Satria. Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mengunjungi rumah Satria atau memintanya datang ke rumahku. Aku butuh tempat lain, dan mungkin rumah sakit adalah satu-satunya tempat yang cocok sekarang. "Mbak aku temenin sampai dalem ya?" Aku menatap Reva sebentar lalu menggeleng. Tanpa suara, aku memilih keluar dari mobil dan berjalan masuk. Bersyukur sekali, bahwa kondisi sekarang sedang mendung. Sepertinya akan turun hujan. Di dalam gedung rumah sakit, makin banyak kutemui orang-orang. Aku memutuskan untuk menghubungi Kiya, ingin bertanya dimana dia sekarang berada. Namun baru saja akan mengeluarkan ponsel dari dalam tas, retinaku menangkap seorang yang tidak asing. Amira. Aku berpikir sesaat mengapa perempuan itu bisa ada disini. Bukankah keadaan tante Jingga baik-baik saja? Baiklah, tidak seharusnya aku tau. Kata-kata Kiya tiba-tiba saja kembali berputar dalam kepalaku. Aku tersenyum samar setelah itu. Kutarik napas sebelum menghembuskannya perlahan. Dan dengan langkah percaya diri, aku berjalan mendekati perempuan tersebut. "Eh, elo." Ujarnya seketika kala melihatku. "Hi." Ujarku sembari memberikan sekilas senyum padanya. "Gimana sekarang?" Aku menatap Amira penasaran, menanti kelanjutan kalimatnya. "Gue benerkan? Dia bakalan milih gue." Ucapan perempuan ini tentu saja membuatku harus dapat menahan kekesalan. Kuberikan senyum terbaikku padanya sebagai respon. "Waktu lo milih pulang, gue kecewa sih, kenapa lo nggak masuk. Tapi kayaknya malem itu lo lagi buru-buru ya? Azka juga untung banget ngerti dan nggak pake cara buat ngecegah lo segala, karna gue tau pasti lo lagi ada urusan mendadak makanya pergi." "Lo tau, Ra?" Tuturku pelan dengan tetap mempertahankan ketenanganku untuk menghadapi perempuan ini. "Kalau suatu saat nanti lo nyesel sama semua perbuatan lo sekarang, gue berdoa supaya Tuhan tetep ngasih gue kebaikan hati buat maafin lo. Lo bukan yang pertama, Ra. Lo itu orang kesekian yang cita-citanya pengen orang lain jatoh." "Udahlah, Nad. Gue juga nggak bakalan pernah nyeselin hal ini. Karna yang gue lakuin sekarang udah bener, gue berjuang buat laki-laki yang gue sayang." Aku tertawa pelan, lalu melipat tangan di depan d**a. "Ya, silahkan lanjutin permainan lo pake cara ini. Ya seenggaknya orang-orang bisa nilai gimana lo sebenernya. Karna asal lo tau, perempuan berkelas penuh etika nggak pernah gunain cara sampah. Good luck, Amira." Baru saja ingin berbalik, Amira kembali bersuara. "Kalian juga udah selesaikan? Dan lo nggak berhak ngecap gue nggak bener cuma karna cara yang gue pake buat dapetin Azka. Gue pengen punya laki-laki yang bakalan jadi temen gue sampe tua, dan gue pilih Azka. Lo tau, gue nggak pernah mau punya nasib kayak mama. Nyesel dan harus hidup sendirian karna nggak pernah perjuangin papa gue." Aku terdiam, kepalaku dengan cepat memproses kalimat-kalimat yang Amira sampaikan. Dan seketika aku paham mengapa Amira bertingkah seperti ini. "Dan sekarang gue pengen tau dua hal. Pertama, pernah lo tanya ke Aldric siapa orang yang dia sayang? Yang kedua, pernah nggak lo tanya ke Aldric, apa alesan kenapa dia mau ada di samping lo beberapa tahun terakhir ini? Dan gue harap, lo nggak kecewa sama jawaban yang Aldric kasih, Amira." Aku tersenyum, lalu benar-benar memilih membalikkan badan dan berjalan menjauh. Tanpa memberi tau Kiya terlebih dahulu, aku langsung saja berjalan cepat menuju ruangan Satria. Aku benar-benar membutuhkan pria itu. Tuhan, hatiku seperti ingin meledak karena ucapan Amira. Sesampainya disana, kulihat Satria yang tengah memejamkan matanya sambil bersandar pada punggung kursi seketika tersentak. Dia menghampiriku dengan tatapan panik dan mengitu langkahku menuju sofa. "Nad? Kamu kenapa?" tanyanya panik. "Aku haus, Sat." Balasku pelan. Tanpa suara, Satria dengan cepat mengambilkan segelas air untukku. Dan terburu-buru, aku meneguk habis air putih ini. "Jadi?" "Kamu pernah bilangkan, kalau aku lemah buat jaga sesuatu yang aku punya, dia bisa aja diambil orang lain. Terus gimana kalau aku udah jaga itu baik-baik, tapi akhirnya dia juga diambil orang lain?" Satria tersenyum lembut, lalu ikut duduk di sampingku. "Waktu sd, papa pernah kasih robot ke aku. Aku sayang sama robot ini, Nad. Aku jaga baik-baik. Tapi waktu aku mutusin buat bawa robot itu ke sekolah, temen aku yang jailnya minta ampun tiba-tiba ambil robot itu. Awalnya aku pengen biarin, terus minta ke papa robot baru. Tapi lama-lama aku mikir, aku nggak mau lagi ngalah waktu temen-temen aku ambil apa yang aku punya. Dan aku mutusin buat rebut lagi robot itu. Aku berantem sama dia, sampai papa harus dipanggil ke sekolah. Tapi kamu tau? Aku puas ngelakuin itu, Nad. Karna aku dapetin lagi robot itu." "Jadi maksud kamu, aku punya dua pilihan?" "Ya. Kamu ngalah, atau rebut balik." "Dan, Sat—" "Hm?" "Aku kepikiran buat punya anak." "Nad?" "Siapapun ayahnya, aku cuma mau anak itu." "Nadine kamu jangan gegabah." "Inseminasi, menurut kamu gimana?" "Kamu mikirin apasih, Nad?" "Cuma tiba-tiba kepikiran itu." "Nad, kamu dengerin ini baik-baik. Rebut balik Azka, ya, aku tau kalau sesuatu yang selama ini kamu jaga baik-baik itu Azka. Perjuangin dia, dan kalian bisa hidup bahagia setelah itu. Punya anak sesuai keinginan kamu. Aku disini, Nad. Ada buat selalu dukung kamu." *** Aku duduk pada salah satu bangku basah di halaman rumah sakit ketika menjelang petang. Siang tadi hujan deras turun, membuatku enggan untuk pulang. Sedangkan Kiya sendiri juga terlihat begitu sibuk sehingga dia hanya bisa menemaniku sebentar. Langit masih tetap mendung, rintik hujan masih setia turun satu-satu. Udara yang lebih terasa dingin benar-benar menusuk karena aku hanya mengenakan kaus oblong serta jeans juga wakai shoes menutupi kaki. Satu-satu orang kulihat keluar masuk rumah sakit ditemani payung. Aku menghela napas, menatap ke depan lebih jauh. Dengan tiba-tiba, aku kembali memikirkan seorang malaikat kecil lucu yang nantinya akan memanggilku mama. Aku tidak bercanda saat mengatakan bahwa impianku adalah memiliki anak. Karena menurutku, jika kelak aku memiliki anak, sampai kapanpun dia akan tetap anakku. Dia akan tetap menjadi bagian dari diriku. Tidak akan pernah ada sebutan mantan anak, bukan? Lalu aku akan menyusun kisah demi kisah berdua dengan anakku. Tanpa gangguan dari siapapun. Karena nanti, aku memilih untuk pergi. Menyendiri memang pilihan terbaik yang bisa aku ambil. Ya, kembali ke London. Kembali menjalani hari-hari penuh siksaan yang mungkin saja akan terasa lebih ringan karena aku memiliki anakku. Hujan deras turun tiba-tiba, membuatku seketika basah karena tidak sempat berlindung. Ketika ingin berdiri, "Nad." Aku tersentak saat seseorang memanggil namaku. Aku mendongak, melihat payung transparan yang kini melindungiku. "Butuh temen?" Aku memejamkan mata, merasa begitu bodoh untuk kesekian kalinya. Tuhan, kenapa kembali Engkau hadirkan pria ini kala pria lain terus saja membuatku terluka? "Ya, tapi bukan buat cerita." "Apapun, Nad. Yang bisa buat kamu lebih baik." "Temenin aku main hujan?" Sepasang mata di depanku seketika memancarkan sinar kaget, walaupun setelah itu dia tersenyum lalu mengangguk. Air mataku lantas mengalir kala pria itu melepaskan payung dari tangannya. Tuhan, hujan benar-benar tidak lagi mempengaruhinya. "Aku disini, Nadine. Ada buat kamu. Kalau kamu capek, berhenti sebentar, sampai aku bisa nyusul langkah kamu. Karna aku selalu jalan nggak jauh di belakang kamu, Nad. Terus biarin aku genggam tangan kamu." *** "Jangan lupa bersih-bersih terus istirahat, Nad." Aku tersenyum tipis kepada Razza. Setelah itu tanpa suara keluar dari mobilnya. Kulangkahkan kaki menuju pintu rumah. Dan sukses mengernyit bingung mendapati pintu sama sekali tidak terkunci. Keadaan gelap menyapaku ketika masuk. Dan mataku sukses membesar ketika melihat papa berdiri di depanku sambil mengulurkan tangannya. Tangisku meledak seketika, kubawa diri dan segera kutenggelamkan dalam dekapan hangat papa. "Papa." Ujarku sambil terisak. "Papa disini." "Pa, Nadine capek." "Papa tau." "Nadine capek disini, pa." "Jangan sendirian lagi, Nad. Papa nggak mau kamu kalah sebelum ngelakuin apa-apa." "Pa, Nadine capek." "Kali ini papa minta maaf, karna papa nggak bakal kasih kamu izin pergi." "Pa, Nadine mohon." "Nggak ada orang tua yang rela anaknya sedih sendirian, Nad. Yang papa mau kamu perjuangin kebahagiaan kamu. Papa tau ada banyak laki-laki di bumi, tapi kalau cuma Azka yang yang bisa bikin kamu nyaman, papa nggak bisa maksain apa-apa selain minta kamu perjuangin dia. Anak papa berhak bahagia." "Terus Nadine harus apa, pa?" "Papa mau tanya, kamu tau Azka dimana?" Aku menggeleng, benar-benar tidak tau karena sejak malam itu, dia tidak mengabariku apa-apa. "Nggak tau." "Kamu seharian ini dimana?" "Rumah sakit, bareng Kiya." "Terus kamu nggak tau kalau Azka juga disana?" Jantungku seketika berdegub kencang karena takut. "Maksud papa?" "Azka masuk rumah sakit. Kamu nggak tau?" Ya Tuhan, apalagi ini? Dan, kenapa tidak ada yang memberi tahuku tentang ini? Maksudku, kenapa baru sekarang? Dan tidak dapat kupingkiri, bahwa aku khawatir dan peduli. Kemudian, aku membersihkan diri secepat yang aku bisa, lalu ditemani papa, kembali menuju rumah sakit. ...tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN