Bukan tanpa alasan aku membenci seseorang.
Ketika dia dengan seenaknya membuat hidupku
hancur dan melewati batas yang aku buat.
Maka liatlah, aku tidak akan diam saja.
-pukul 19.45, saat aku mengira itu kau.
Nadine's POV
Aku memasuki butik dengan langkah ringan. Disambut oleh para karyawan dan juga Reva membuat senyumku kian merekah. Tidak langsung menuju ruangan, aku memilih berbelok untuk mengecek kebersihan dan kerapian butik. Kepalaku menoleh ketika salah satu karyawati mengucapkan selamat datang dengan ramah pada sepasang tamu yang datang.
Aku berjalan mendekati tamu tersebut sambil tersenyum. "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"
"Nadine, kan?" Wanita dengan rambut sepundak dan perut yang cukup besar tersebut bersuara lembut. Aku mengangguk. "Saya Cindy, temennya Azka, kita satu kantor. Dan dia yang ngerekomin kalau saya harus dateng ke kamu buat design baju saya." Sambungnya lagi dan aku mengangguk mengerti.
"Kalau gitu kita ke ruangan saya aja." Aku kemudian berjalan lebih dulu menuju ruanganku. Kupersilahkan Cindy dan suaminya untuk duduk di kursi seberangku. "Jadi?" tanyaku dengan tangan yang sudah siap dengan pena.
"Dua minggu lagi kantor bakal ngerayain hari jadi. Dan bakal ada pesta besar yang dibuat. Kamu liatkan? Perut saya udah gede, jadi saya mau design dressnya dicocokin sama keadaan saya sekarang. Terus juga—" Aku mencatat semua keinginan wanita di depanku. Banyak sekali hal yang dia hindari ternyata, terlebih dia tetap ingin terlihat langsing walaupun sebenarnya badannya begitu berisi. Tidak masalah, aku bisa mengatasinya.
Tidak bisa kuhindari juga, bahwa terdapat rasa iri yang amat sangat ketika jemari putih wanita itu mengelus lembut perutnya. Jika kemarin aku membayangkan akan mempunyai anak dan membesarkannya seorang diri, berbeda dengan sekarang. Entah kenapa, perasaan hangat tiba-tiba saja terasa kala aku membayangkan bahwa memang Aldric lah yang akan menjadi ayah dari anak-anakku nanti. Tuhan, apa yang sedang kupikirkan?
Aku membuang pikiran itu sejauh mungkin dan sebisa mungkin fokus pada perkataan ibu hamil di depanku. "Maaf, bisa anda ulangi?" Pintaku merasa bersalah. Wanita itu tampak saling melirik bersama suaminya lalu tertawa pelan. Apa tadi begitu kentara bahwa aku tengah melamun? Ah, memang bodoh.
Kurang dari satu jam, akhirnya perbincangan tentang model dress selesai. Ketika sepasang insan itu hendak pamit, aku lagi-lagi meminta maaf karena merasa bersalah. Dan ketika mereka benar-benar meninggalkan ruanganku, aku dengan cepat mendudukan diri di sofa. Kenapa bisa-bisanya aku memikirkan bayi disaat seperti itu? Konyol.
Tiba-tiba saja, percakapan bersama tante Sela kala itu kembali melintas dalam kepalaku.
"Mama mau kalian nggak berurusan lagi sama perempuan itu." Suara tante Sela terdengar tegas. "Ka, kamu udah dewasa. Nggak seharusnya punya tingkah labil kayak abg. Amira kayak gitu juga karna kamu yang sukarela buat ada di samping dia. Mama nggak pernah ajarin buat mainin hati perempuan sama kamu. Kamu taukan, Ka? Kamu nyakitin perempuan, tandanya kamu nyakitin mama. Dari kamu kecil, ingetkan apa yang dibilang sama papa tiap hari sebelum kamu turun dari mobil waktu sd?"
"Iya, ma."
"Jangan iya-iya doang. Coba kamu ulangin lagi apa yang sering papa kamu bilang?"
"Hormat ke mama, mama, mama, baru papa." Dan tidak bisa kusembunyikan senyum karena ternyata jawaban seperti itu yang terdengar.
"Hormat ke mama berapa persen?" Lagi-lagi tante Sela bertanya dengan nada tidak bersahabat. Membuatku harus menahan tawa melihat Aldric dimarahi seperti ini.
"Tujuh puluh lima."
"Papa?"
"Dua lima."
"Itu masih inget. Terus masih berani nyakitin perempuan?"
"Enggak, ma. Lagian Azka nggak punya hubungan apa-apa sama Amira, ma."
"Mama nggak nanya hubungan apa yang kamu punya sama Amira, Azka." Kini suara tante Sela terdengar geram. "Orang yang nggak punya hubungan juga bisakan saling sayang? Gitu juga sama Amira. Kalau kamu kelewatan perhatian sama dia, dia bakalan mikir kalau kamu punya perasaan lebih ke dia. Padahal apa? Kamu masih nggak bisakan ditinggalin Nadine? Inget dulu kamu jadi anak malem waktu Nadine pergi? Inget nggak dulu kamu nangis terus jatuh sakit waktu Nadine pergi lagi? Terus kemarin, sampe kecelakaan, kan? Mama nggak suka kalau kamu kayak gitu."
"Ma—"
"Mama nggak mau ikut campur sama masalah kalian. Tapi waktu dapet kabar kamu lagi renggang nyawa, kamu tau nggak gimana paniknya mama?" Aku kini menggigit bibir, ikut merasa bersalah. Suara tante Sela berubah bergetar, dan jemarinya dengan lihai mulai mengusap mata yang jelas-jelas terlihat merah. "Cukup dulu mama kehilangan Diana, Azka—"
"Ma." Aldric kini berpindah ke sebelah tante Sela dan mulai memeluk tubuh wanita berumur tersebut. "Iya Azka salah, ma. Azka nggak bakalan gini lagi. Azka janji sama mama."
"Yang butuh janji kamu itu bukan mama, tapi Nadine. Nggak malu sama Nadine? Kayaknya dia terus yang usaha. Terus waktu dianya milih pergi baru kamunya nyesel. Kamu cowok bukansih? Itu burungnya masih ada, kan? Jangan-jangan kamu operasi ya? Soalnya mama terakhir ngecekkan waktu kamu sd."
Aku sontak meringis, sedangkan Aldric tampak mengusap wajahnya. "Ma!"
"Masih adakan, nak?"
"Masih, ma." Jawab Aldric akhirnya walau dengan suara berbisik.
"Bagus. Makanya jangan pernah nyakitin perempuan lagi. Kalau sempet keulang, biar mama yang sunat kamu." Aku tersentak saat tante Sela mengedipkan sebelah matanya padaku, membuatku reflek tertawa. "Yaudah sana, istirahat. Selama libur kamu di rumah aja ya. Mama nggak ngasih izin pergi."
"Hm." Respon Aldric sambil berjalan ke arahku dan mengulurkan tangan. Aku tersenyum lalu menyambut tangan Aldric. Ketika hendak meninggalkan kamar kerja milik om Rano—papa Aldric—, aku melihat tante Sela tersenyum lembut padaku.
Aku tersentak ketika ponselku bergetar. Ah, lagi-lagi aku melamun. Kulihat nama penelepon dan dengan cepat menerima panggilannya.
"Lagi dimana?" Tanyanya di seberang sana.
"Butik."
"Pengan makan bareng kamu. Caranya gimana?"
"Masih nggak dibolehin mama kamu ya?"
"Hm."
"Yaudah ntar kalau aku ke kantor kamu gimana? Smsin aja alamatnya. Kamu mau aku bawain makanan apa?"
"Kamu masak?"
"Eh? Enggak sih. Rencananya nanti pengen beli."
"Nggak usah beli kalau gitu. Di kantor ada kantin, makan disana aja."
"Oh, ok."
"Oh iya, Nad—"
"Hm?"
"Waktu itu ada temen aku, namanya Cindy, nanyain dimana tempat pas buat bikin dressnya. Aku suruh dateng ke butik kamu."
"Iya, baru aja selesai diskusi sama dia. Udah pulang jugasih." Aku diam setelah itu, sibuk berpikir. "Nggak tau kenapa masa aku gemes liatnya. Soalnya kan badannya berisi tuh karna hamil, terus kepengen tetep keliatan langsing. Mukanya juga babyface parah."
"Emang. Waktu itu ada yang teriak gendut ke dia, langsung disemprot."
"Sebelum hamil gimana badannya?"
"Nggak tau."
"Kok nggak tau?"
"Masa aku harus liatin bodynya segitu detailnya."
"Ya kan—" Aku sepertinya salah bicara. Kuhela napas dan memperbaiki duduk untuk membuat posisi senyaman mungkin. "Maksud aku, nanti kalau aku hamil juga kayak gitu nggak ya?"
"Kalau kamu kenapa, Nad?"
Aku terdiam, kenapa aku bisa bicara seperti itu pada Aldric? Oh Tuhan. Sepertinya aku butuh alat untuk mengingatkan mulutku agar tidak seenaknya mengeluarkan kalimat.
"Al, aku matiin dulu ya ada pelanggan soalnya." Kuputuskan sambungan lalu memindahkan tangan ke d**a, merasakan detak jatungku yang menggila daripada sebelumnya. Tuhan, aku malu. Benar-benar malu.
Kuhela napas panjang sambil melempar ponsel asal ke sofa. Lalu memilih masuk ke kamar mandi.
***
Tepat ketika aku sedang memarkirkan mobil, Aldric keluar dari gedung kantornya. Sejak pagi aku belum melihat lelaki ini karena memang aku sendiri tidak ingin Aldric menjemputku. Aku menurunkan kaca mobil agar dapat melihat Aldric lebih jelas. Dia terlihat tampan, tentu saja. Dengan kemeja hitam yang lengannya tidak pernah absen digulung.
"Macet ya?" Tanya Aldric setelah aku keluar dari mobil.
"Hm. Kamu gimana? Kakinya nggak apa-apa, kan?"
"Nggak pernah sakit lagi kok. Yaudah yuk makan, aku laper." Aku tidak menolak ketika Aldric menggenggam jemariku. Dan perasaan takut sedikit kurasakan saat memasuki kantor Aldric.
"Azka!"
"Woi, Azka!"
"Udah gandeng cewek cantik aja lu, Ka."
Aku menatap satu persatu orang yang bersuara dan hanya meringis. Sedangkan Aldric hanya merespon dengan tertawa pelan.
"Nadine?!" Aku menoleh, menemukan, sebentar, siapa nama perempuan ini? Ah ya, Saskia. Perempuan yang tau segalanya. Aku tersenyum sopan padanya, kupikir Saskia akan berjalan menjauh setelah itu, ternyata tidak, dia mendekat padaku. "Tuhkan feeling gue bener."
"Nggak usah ganggu, Sas." Aldric bersuara tanpa melirik Saskia.
"Feeling gimana?" Tanyaku bingung.
"Kalau Amira udah ngejauh dari Azka, pasti ada apa-apanya dong? Ternyata lo berdua jadian. Pantesan ya tu nenek-nenek mukanya kelabu mulu dari kemarin-kemarin."
"Sas, udah."
"Sensi amat sih. Yaudah deh, laki gue juga udah nungguin. Dah, Nad. Seneng ketemu sama lo lagi. Langgeng ya." Aku tersenyum sopan pada Saskia.
Setelah yakin bahwa perempuan itu cukup jauh, aku langsung saja bertanya pada Aldric. "Saskia udah nikah?"
"Ha?"
"Itu tadi—"
"Kamu kayak nggak tau aja Saskia gimana. Waktu itu ketemukan? Di acara reuni akbar waktu itu."
"Ketemu. Dia ngomong banyak juga."
"Orangnya emang gitu. Dia ngomongin apa aja?" Banyak, Al.
"Oh, itu, dia bilang kalian pernah kerja sama bareng ya?"
"Hm, sekali. Kalau udah kerja cara ngomongnya bagus. Orang-orang enjoy dengerin dia."
Aku hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Aldric memasuki lift dan menuju lantai lima.
Ting!
Pintu lift terbuka, Aldric kembali menarikku untuk mengikuti langkahnya. Jantungku tiba-tiba saja berdegub kencang karena takut Aldric akan membahas percakapan terakhir kami di telepon tadi. Kami memasuki kantin dimana cukup banyak karyawan dan karyawati yang sedang membuat kelompok masing-masing dan saling bercengkrama.
Aldric mengantarkanku untuk duduk pada salah satu bangku panjang. Lalu pria itu permisi untuk pergi mengambil makan siang. Ponselku bergetar, notification chat dari Kiya masuk. Sepertinya perempuan itu juga sedang makan siang.
Aku tenggelam bersama Kiya, membahas hal yang tidak penting bahkan hingga paling penting. Dan sekarang, perempuan ini sibuk mengajakku melakukan tanya jawab seputar Biologi. Beruntung, ingatanku masih tajam dan dapat menjawab pertanyaannya.
Kiya bego: patologi?
Nadine Sava: ilmu tentang berbagai jenis penyakitkan?
Kiya bego: 100
Kiya bego: asam nukleat virus?
Nadine Sava: RNA atau DNA
Kiya bego: Rhinovirus menyebabkan penyakit apa?
Nadine Sava: apaan?
Kiya bego: lupakan lo?!
Nadine Sava: gasih.
Kiya bego: halah.
Kiya bego: pilek, inget tuh.
Nadine Sava: lo sebenernya kenapasih, Kiyara?!
Kiya bego: tar malem deh gue cerita.
Nadine Sava: ok.
Tidak ada tanda read setelah itu, sepertinya perempuan itu sedang fokus makan. Maka setelahnya aku memutuskan untuk menyimpan kembali ponsel dan menoleh berniat melihat Aldric.
Mataku sedikit terbebelalak. Ketika Amira berjalan begitu saja melewatiku. Duduk pada salah satu tempat kosong dan fokus makan. Beruntung perempuan itu tidak melihatku. Dan setelah itu, aku memilih menoleh ke arah lain.
"Lama?" Aldric datang dengan nampan dan memindahkan satu persatu makanan dari sana ke meja.
"Enggak kok." Aku kemudian mengalihkan tatapan pada makanan hangat di depanku. Baru saja ingin menyuapkan makanan, suara tanya Aldric menghentikan gerakanku.
"Kamu tadi di telfon bilang apa, Nad? Suaranya rada nggak jelas." Sial. Kenapa pria ini membahas hal semacam ini disini?
"Bukan apa-apa. Oh iya, dua minggu lagi kantor kamu adain acarakan?"
"Hm. Mau nemenin aku?"
"Of course!"
Aku tersentak kala jari Aldric mendekat dan menyeka sudut bibirku. Dia menunjukkan cengirannya saat kuberi tatapan bingung. "Ada nasinya, Nad." Dan ya, aku makin dibuat bingung.
"Aku belum makan nasinya lho, Al. Aku baru mulai sama sopnya." Dan wajah Aldric sukses membuatku tertawa.
"Ya, maksud aku ada sopnya." Wajah pria ini benar-benar terlihat lucu. Seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mengambil perhiasan. "Yang penting kamu ketawa."
"Apaansih." Balasku padanya.
***
Tok, tok, tok.
Aku menuruni anak tangga bersamaan dengan pintu yang diketuk pelan. Sepertinya Aldric sudah datang. Pria itu begitu bahagia ketika tante Sela memberikan izin untuknya mendatangiku. Dan rencananya, kami akan pergi untuk dinner malam ini. Aku menahan senyum memikirkan hal ini.
Sedikit bingung, kenapa pria itu tidak memberi tau bahwa dia sudah berada didepan?
"Sebentar, Al." Teriakku.
Aku mempercepat langkah menuju pintu. Sebelum membuka pintu, aku menyempatkan diri untuk mengintip Aldric melalui jendela. Aku sukses mengernyit bingung. Kenapa pria itu tidak ada? Jantungku seketika berdegub lebih cepat karena rasa takut. Jadi, siapa yang mengetuk pintu?
Kuambil ponsel sambil berjalan kembali ke dapur. Kubuka lemari kecil tempat menyimpan barang-barang berat. Tongkat baseball yang pernah papa berikan menjadi peganganku.
Kulepaskan higheelsku dan berjalan pelan menuju anak tangga untuk naik ke lantai dua. Panggilanku masih belum dijawab oleh Aldric. Tunggu, apa mungkin memang pria itu yang mengetuk pintu? Apa Aldric tengah mengajakku bercanda sekarang?
"Halo, Nad?" Sialan. Aku seketika kaget ketika Aldric bersuara. "Tunggu sebentar ya, ini udah deket rumah kamu kok."
Apa katanya?
"Nad?"
"Al." Panggilku berbisik.
"Nad kamu kenapa?"
"Ada yang ngetuk pintu rumah aku, Al. Aku kirain itu kamu."
"s**t!" Umpatan Aldric terdengar. "Nad, demi Tuhan itu bukan aku. Aku mohon kamu jangan kemana-mana dulu."
Tok, tok, tok.
Aku sedikit terlonjak dengan napas menderu hebat. Suara ketukan itu kembali terdengar.
"Al, dia ngetok lagi."
"Nad, aku nyampe sebentar lagi. Kamu jangan kemana-mana, tungguin aku. Kamu dimana sekarang?"
"Lantai dua."
"Tetep disana."
"Al, jangan matiin telfonnya."
"Kamu coba dulu telfon Satria buat liat siapa yang ada di depan."
"Al, aku takut." Panggilan terputus begitu saja. Dan suara pintu yang di dobrak benar-benar sukses membuatku menangis.
Tuhan, jangan katakan bahwa orang itu tengah masuk ke rumahku. Aku dengan cepat berlari ke kamar, lalu mengunci pintu dan menuju kamar mandi, mengunci lagi pintunya.
Kucoba menghubungi Aldric, namun nomor pria itu sibuk. Kepanikan seperti membakarku. Napasku menderu, diikuti tangan yang bergetar hebat. Kupukul dadaku berniat memperbaiki pernapasan. Tapi tidak ada perkembangan.
Suara gedoran kembali terdengar, sepertinya dia menemukan kamarku. Kubongkar tas dan tidak menemukan botol kecil tempat kusimpan obat itu. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi?
Air mataku mengalir hebat, aku takut, sungguh. Yang harus kulakukan sekarang adalah berusaha bernapas sebaik mungkin. Namun rasa panik dan takut seperti menghalang kegiatanku.
Aku kembali tersentak hebat, pintu kamarku tentu rusak sekarang. Tuhan, apakah tidak ada tetangga yang melihat? Aku kembali mencari ponsel, menghubungi nomor Aldric dan bernapas lega ketika panggilanku diangkat.
Baru saja ingin bersuara, ketukan lembut pada pintu kamar mandi terdengar.
"Hallo, sayang. Kangen sama gue?"
Sialan, suara itu.
"Lo mau keluar, atau pintunya di dobrak?"
Aku kembali memukul d**a, mencoba bernapas dengan baik.
"Ok, lo minta di dobrak."
Dan jantungku seperti dirampas kasar dari tempatnya ketika melihat pintu kamar mandiku rusak. Seorang pria dengan pakaian serba hitam menatapku sambil tersenyum sinis. Sedangkan Amira, tengah tersenyum mengejek dengan pisau di tangannya.
"Lo yang jalan ke gue, atau gue suruh ini orang narik lo paksa?" Aku seketika berdiri, berjalan takut ke arah Amira. Dia benar-benar wanita gila. Seratus persen gila. "Bagus. Anak anjing emang selalu nurut. Ayo sini dateng ke gue."
Amira mencengkram lenganku kuat sambil menunjukkan pisaunya. "Lo nggak matuhin gue sedikit aja, muka lo yang mulus ini bakal gue buat luka."
"Bawa dia ke mobil." Amira mengoperku pada pria berbadan besar tersebut. Membuatku seketika berontak karena tidak ingin disentuh barang sedikitpun.
"Jangan ngelawan!" Teriak Amira tiba-tiba. "Gue nggak suka main kasar, tapi lo kayaknya gak bisa dilembutin."
Dengan tertatih, aku dipaksa berjalan. Amira sibuk tertawa di sebelahku.
"Nggak dateng ya pacarnya? Kasian. Udah dibilangin kalau Azka itu nggak sayang sama, lo." Aku membuang muka, enggan melihat wajah Amira. "Yang sabar ya."
Al, kamu dimana? Batinku teriak.
Tbc...