[28] Akhir dan Gula

3325 Kata
Bolehkah kini kusebut diri sebagai wanitamu? -Pukul 22.00, ketika kau rengkuh tubuhku. Nadine's POV Napasku tersengal akibat rasa takut dan panik yang sejak tadi mengukung. Tawa perempuan di sampingku terdengar kian menang. Hal yang benar-benar tidak kuinginkan adalah saat Amira berhasil membawaku ke mobilnya lalu menuju ke tempat yang tidak aku ketahui. Dalam hati aku berdoa agar pertolongan segera datang. Entahlah, aku hanya berharap agar ada seseorang yang melihat hal janggal dari rumahku dan akan segera memanggil bantuan. Aroma menyengat dari tubuh pria yang memaksaku berjalan membuat kepalaku kian pusing. Sialan, parfum apa yang sebenarnya dipakai oleh pria berbadan besar ini? Tolakan keras kurasakan pada punggung, membuatku hampir saja terjatuh. Ketika aku dibawa untuk menuruni tangga, Amira berjalan lebih dulu. "JANGAN BERGERAK DAN ANGKAT TANGAN!" Suara berat seketika terdengar dari gelapnya keadaan lantai bawah. Membuatku reflek menghembuskan napas lega walaupun putus-putus. Lampu yang menyala diikuti dua orang polisi keluar dari bawah tangga dengan pistol yang dipegang oleh masing-masingnya. Amira yang berjalan di depanku pun sepertinya terkejut, membuat pisau yang sedari tadi ia pegang terlepas begitu saja. Tidak terkecuali dengan pria berbadan besar dengan bau menyengat yang kini sudah berhenti menolakku kasar. Dan ketika Aldric juga Satria, dan yang tidak kuduga sebelumnya, Razza pun ikut menyusul muncul. Demi Tuhan, perasaanku benar-benar terasa lebih baik. Kedua polisi dibantu Satria berjalan mendekat untuk membawa Amira dan pria suruhannya. Sedangkan Aldric berlari cepat menyusulku yang masih berdiri bergetar. Tangisku pecah begitu saja ketika Aldric membawaku dalam pelukannya. Aku takut. Takut pria ini meninggalkanku dan lupa untuk datang. Atau ternyata kejadian yang tidak diinginkan kembali terulang ketika Aldric menambah kecepatan kendaraannya. "Sht, aku disini." Ujar Aldric lembut di telingaku. "Al, kamu kemana?" Tanyaku terisak. "Aku disini, sayang." Belaian lembut kurasakan di sekitar punggung. Dan kembali seperti sihir, aroma tubuh Aldric berhasil membuatku nyaman. Tubuh pria ini seperti memiliki ramuan yang dapat membuatku bernapas lebih baik. "Nad!" Aku menoleh kaget saat mendengar suara Kiya. Perempuan itu datang dengan segelas air putih. Masih dalam dekapan Aldric, aku menerima gelas dari Kiya dan meneguknya perlahan. "Kiya!" Teriakku memanggil namanya lalu membenamkan diri dalam pelukan perempuan ini. Lagi-lagi menangis. "Sht, lo aman. Lo udah aman. Gue sama yang lainnya disini. Nyokap bokap lo, terus Aqila, Reva, lagi jalan kesini. Tenang ya. Lo mau kemana? Kamar?" Aku menggeleng. Kembali ke tempat yang kini sudah berantakan karena ulah Amira tentu bukan ide yang bagus. Kulepaskan pelukan Kiya dan menatap banyaknya orang di bawah. Aku dan Kiya masih berdiri di tangga sedangkan Aldric ternyata sudah berpindah lebih dulu menuju Amira yang sekarang sedang dibawa keluar. "Duduk ya, Nad?" Aku mengangguk perlahan. Lalu membiarkan Kiya membawaku menuju bed sofa di depan televisi. Kupegangi kepala yang terasa berat sembari mendudukkan diri. Kuterima sebuah selimut yang dibawakan Kiya dari kamar bawah. Kejadian tadi benar-benar membuatku mengira bahwa umurku akan selesai hari ini. Aku marah pada Amira, tentu saja. Lagipula, siapa yang akan tahan diperlakukan seperti tadi? Tapi setidaknya aku lega mengetahui fakta bahwa Amira sudah ditangani oleh pihak berwajib. Aku yang sejak tadi sibuk memikirkan Amira seketika kembali sadar saat seorang wanita berumur datang mendekat. Kalian ingat? Tetangga di depan rumahku. Kiya yang baru kembali dari dapur langsung mengajak ibuk tersebut berkenalan dan mempersilahkannya duduk di sampingku. "Kiya." "Nama ibuk, ibuk Nina." "Gimana keadaannya, nak?" Aku hanya tersenyum samar memberikan respon. "Ibuk tadi mau keluar, baru mau buka pagar, liat ada mobil berhenti gak jauh dari rumah kamu. Awalnya nggak curiga, tapi waktu liat tampilan mereka, ibuk langsung sembunyi di balik pohon. Kirain mau kemana, eh ternyata jalannya ke samping rumah kamu. Ibuk buru-buru nelfon bantuan, soalnya juga saudara ibuk polisi yang kantornya nggak jauh dari sini." Napasku tertahan, aku tidak tau akan seperti apa nasibku jika saja ibuk Nina tidak melihat Amira dan pria itu. "Ibuk tungguin. Tapi kok mereka nggak ngapa-ngapain. Sibuk ngintipin dalem rumah kamu lewat jendela. Itu sekitaran sepuluh menitan mungkin ada." Aku menggigit bibir bagian dalam. Seketika merinding membayangkan bahwa sejak aku bersiap-siap, ternyata sudah ada yang menantiku di bawah. Ya Tuhan.... "Eh ternyata yang pria gede ngetuk pintu, abis itu buru-buru sembunyi. Yang buat ibuk takut, gimana nanti kalau kamu buka pintunya. Tapi ternyata nggak. Ibuk liatin terus, mereka ngetuk lagi. Yang perempuan keliatan marah-marah gitu, sampai waktu si pria nendang pintu kamu. Ibuk langsung ngucap, jantung ibuk beneran kayak lepas karna liat pintu rumah kamu berhasil kebuka. Pertama kali liat kayak gitu. Terus ibuk beraniin keluar pagar buat nungguin polisi di tengah jalan. Nggak lama, anaknya pak Abram si Satria, keluar sambil lari-lari bareng temennya yang lain." Ya, tentu saja teman Satria yang dimaksud oleh ibuk Nina adalah Razza. Sepertinya mereka tengah berdiskusi tentang pasien. "Nah terus juga, ibuk liat yang pakai jaket putih itu lari-lari." Itu Aldric. "Dia markirin mobil lumayan jauh juga. Baru polisi nyusul dateng. Karna nggak bisa lewat pagar yang depan, ibuk langsung kasih tau kalau ada pagar kebuka di samping. Baru itu polisi sama tiga laki-lakinya masuk. Ibuk nggak berani, padahal penasaran." "Makasih banyak ya, buk." Kiya bersuara, dan aku ikut mengangguk. "Udah kewajiban tetangga kayak gitu, nak. Yang pentingkan kamu nggak apa-apa." Dan tuturan ibuk Nina menjadi suara terakhir yang kudengar sebelum akhirnya aku tertarik dalam gelap. *** "Lulu jangan ribut dong cantik." Suara tersebut kudengar samar-samar. Perlahan kubuka mata dan langit ruang keluarga menjadi hal pertama yang kulihat. "Oma Ka, tante Nadinenya udah bangun." Aku mengernyit saat Lulu berteriak. "Nad?" Aku menatap Sean sambil mengusap dahi. Wajah pria itu begitu kentara tengah menyimpan kekhawatiran. Aku memilih duduk dibantu Sean, dan melihat kehadiran banyak orang disini. "Nadine, ya ampun, nak." Kupasrahkan diri ketika mama memelukku dan melihat papa yang berjalan mendekat. "Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang perempuan itu, Nad? Waktu jalan kesini mama telfonan sama tante Sela. Terus tante Sela cerita semuanya, juga nitip salam ke kamu. Tante Sela mungkin besok kesini, eh maksudnya ke rumah kita." "Ma—"Keluhku keluar begitu saja. "Nadine! Kamu nggak liat itu pintunya ambruk? Masih mau tinggal? Udah ya, mama nggak bisa tinggalin kamu sendirian gini. Enggak pokoknya. Mulai besok barang-barang kamu dipindahin ke rumah. Rumah yang ini terserah mau dijual lagi atau kamu sewain mama terima." "Ma—" "Mama kamu bener, Nad. Papa juga nggak tenang kamu dapet kejadian kayak gini. Apalagi kamu diem nggak pernah cerita. Sebelum ini sempet di teror aneh-aneh juga. Kamu nggak bisa tinggal sendiri lagi." "Pa, tapikan—" "Udahlah, Nad. Demi keamanan lo juga." Sambung Sean. Apa-apaan pria ini? Bukankah dia yang mengusulkan hal ini? "Gue juga minta maaf karna ngajak lo buat beli rumah terus tinggal disini." Aku menghela napas kasar, kutatap Aldric sekilas lalu mengusap wajah. Razza dan Satria pun masih berada disini. Aku pelan berdiri, memberi kode pada Satria agar mengikutiku. Setelah itu berjalan ke dapur sambil memperhatikan jam pada dinding. Pukul 20.50. Aku duduk pada salah satu kursi makan dan helaan napas kasar keluar begitu saja. Kutumpukan kepala pada lipatan tangan di meja setelahnya. "Aneh gak sih?" Ujarku ketika sudah mengangkat kepala. "Karena keobsesian satu orang bisa buat orang lain dapetin luka." "Karna sesuatu yang berlebihan itu nggak pernah baik, Nad. Keobsesian terhadap sesuatu pasti bakal hasilin dampak nggak baik. Kalau akibatnya gak kena ke dia, ya berarti orang lain yang bakal kena. Semuanya muncul secara alami tergantung perbuatan apa yang kita buat." Aku mengangguk perlahan tanda mengerti. "Kamu dapet kebahagiaan, belum tentu semua orang seneng. Kamu susah, belum tentu semua orang ikut sedih. Dan ternyata bahagianya kamu munculin kesedihan di kehidupan orang lain, contohnya Amira. No, aku ngomong kayak gini bukan berarti aku ngebela dia. Tapi karna ini udah jadi hukum alam yang gabisa kita tolak." "Aku bingung kenapa orang-orang di luar sana mudah ngelabelin hidup aku." "Karna mereka nggak tau kamu, Nad." "Nah itu dia. Kenapa harus teriak-teriak kayak tau segalanya? Padahal dia cuma tau nama panjangku. Ok, nggak nama panjang juga. Dia cuma tau nama panggilan aku." "Dia punya hak buat ngomong kayak gitu, Nad. Sama kayak kamu, kamu punya hak buat nanggepin, atau lupain." Aku mengghela napas kasar. Satria benar. "Kita cuma manusia, Nad. Nggak semuanya bisa jalan kayak apa yang kita mau. Tapi seenggaknya, kita dapet pengalaman yang bisa dijadiin pelajaran dan kita sendiri juga bakal tumbuh lebih kuat. Masalah tentang orang di luar sana yang suka nilai orang lain seenaknya, suatu saat bakal ada kejadian yang bisa ubah perspektif mereka. Ini yang namanya kehidupan, Nad. Kalau kita nggak bakal selamanya ada di atas, nggak juga terus ada di bawah. Tapi itu semua nggak akan jadi masalah besar kalau kita tau cara bersyukur." Aku terdiam cukup lama setelah itu. Walaupun rasa amarah terhadap Amira belum padam, setidaknya aku menemukan satu titik terang mengenai hubunganku dan Aldric. Aku berhasil menemukan cara lebih ampuh untuk dapat bertahan dari guncangan angin kencang. Dan Satria memang benar, bahwa sebuah pengalaman yang terjadi langsung pada kita, atau pada orang lain sekalipun, dapat kita jadikan cara untuk tumbuh lebih kuat. Mungkin, ketika saatnya tiba, aku akan berterima kasih pada perempuan penuh obsesi tersebut. *** "Nadine, ini udah ada yang nungguin." Teriakan mama terdengar. Aku segera meninggalkan kamar setelah mengambil clutch bag. Berjalan menuju tangga dan melihat Aldric yang sedang berbicara bersama papa sedangkan mama tampak fokus menatap layar televisi. "Anak papa udah gede ya." Aku tiba-tiba mengernyit mendengar ucapan papa. Mama tampak menoleh dan tersenyum padaku. Aldric sudah berdiri dan berjalan mendekat. "Padahal dulu masih ompong ya, mas." "Ma...." Panggilku tidak terima dan mama sukses tertawa. Namun aku sontak terdiam ketika mama memelukku perlahan. "Mama kenapasih?" Akhirnya kuutarakan rasa bingungku. "Enggak. Cuma nggak nyangka kalau kamu udah dewasa. Terus bakal jalan di jalur pilihan kamu karna tanggung jawab mama sama papa resmi selesai buat jaga kamu." "Ma? Mama ngomong apasih? Nadine nggak ngerti...." Mama melepaskan pelukan dengan mata memerah. Membuatku mengernyit bingung. Tuhan, ada apa dengan mama? "Nad, minggu depan liburan berdua bareng mama mau? Cuma kita berdua. Nggak perlu jauh-jauh, pulang ke rumah oma yang di Bandung juga nggak apa-apa. Asal cuman berdua." "Ma?" Aku menatap papa mencoba mencari jawaban atas tingkah aneh milik mama. Namun bukannya suara, kudapati papa hanya mengangguk pelan. "Iya, ok, kita liburan." Jawabku akhirnya. Senyum di wajah mama terbit, membuatku mau tak mau juga ikut tersenyum. "Udah sana pergi, jangan sampai telat." Ucap papa dan kurespon cepat dengan anggukan. Aku menatap Aldric yang sedari tadi diam akhirnya berpamitan pada papa dan mama sebelum menggenggam tanganku dan berjalan ke luar rumah. "Kok diem ajasih?" Tanyaku bingung bahkan ketika kami sudah memasuki mobil. Seminggu sudah berlalunya kejadian mengerikan tersebut. Dan ya, hidupku damai sampai sekarang. Karena Amira dan pria tersebut sukses di tahan oleh pihak berwajib. Ketika hari pertama aku kembali ke rumah, menjelang sore, tante Jingga datang ke rumahku. Masih dengan baik hati, kupersilahkan wanita itu masuk. Mama yang awalnya tidak mengetahui siapa tante Jingga, memilih diam. Dan ketika mama tau, tidak ada hal dapat kulakukan selain membiarkan mama bersuara panjang kepada tante Jingga. Membuatku pada akhirnya meminta mama masuk dan mencoba berbicara seorang diri dengan tante Jingga. "Apa salah Amira sama kamu?" Teriaknya kala itu. "Nggak seharusnya tante nanya hal itu. Dan juga, aku udah nggak mau punya urusan apa-apa sama tante ataupun anak tante. Drama yang kalian ciptain di hidup aku bener-bener luar biasa. Sampai aku gatau gimana caranya bilang terima kasih." Ujarku tenang. Walaupun sejak tadi hatiku begitu meledak-ledak. Setelah menghembuskan napas panjang, aku kembali bersuara. "Aku nerima kedatengan tante cuma karna mau hormatin tante sebagai orang yang lebih tua. Besar harepan aku kalau tante bakal bersikap lebih bijak dari anak tante. Tapi kalimat buah jatuh gak jauh dari pohonnya, itu emang bener. Aku nggak harepin tante bakal wakilin Amira buat ngomong maaf. Yang dari tadi aku pikirin, apa emang sulit buat tante bersikap sopan? "Kalau tante nyalahin aku buat anak tante yang sekarang tinggal di sel, terpaksa aku bilang kalau tante itu orang tua yang buruk. Karna kenyataannya, anak tante sendiri yang pengen ada disana dengan beberapa kali ganggu ketenangan hidup aku. Jadi sekarang, tante mau keluar sendiri, atau harus aku panggil penjaga rumah buat ngelakuin hal ini?" Jika kalimatku dibilang sudah melampaui batas, silahkan. Karena hatiku tetap saja panas mengingat kejadian semalam, terlebih ketika perempuan itu dengan senyum lebar menunjukkan pisaunya padaku. Sial, aku benar-benar akan gila karena menahan emosi seperti ini. "Tante, aku minta tante keluar sekarang!" Ujarku sedikit lebih keras. Tante Jingga dengan raut wajah yang tidak terbaca memilih berdiri, lalu keluar dari rumahku. Dan malam ini, tepat acara yang dibuat oleh kantor Aldric diadakan. Setelah berpikir beberapa kali, aku ingin sekali membatalkan keikutsertaanku untuk menemani Aldric. Aku begitu takut jika orang-orang disana nanti mengetahui bahwa tertangkapnya Amira ada kaitannya denganku dan Aldric. Ingin bertanya pada Aldric, rasa malas itu selalu timbul. Disamping itu, Aldric juga tidak pernah menyinggung tentang Amira lagi. "Nad?" Aku tersentak ketika Aldric memanggilku —entah untuk yang ke berapa kalinya—. Kutatap pria itu penasaran, namun Aldric hanya menggeleng. Demi Tuhan, kenapa sekarang orang-orang bersikap sangat aneh? Tidak lama, kami tiba di salah satu hotel berbintang. Dalam balutan dress dengan model halter berwarna hitam jatuh sempurna hingga lutut, aku berjalan sambil memeluk erat lengan Aldric karena perasaanku yang campur aduk sejak tadi. "Al—" Aldric menoleh melihatku. "Disini jangan lama-lama ya." Dan sialnya, tidak kudapati respon apapun dari Aldric. Kami memasuki ballroom yang sudah dipenuhi banyak orang. Tanganku kini tidak lagi memeluk lengan Aldric melainkan sudah berpindah dalam genggamannya. Aldric mengajakku bertemu dengan teman-temannya yang kuakui sangat banyak lalu membiarkan aku berkenalan dengan mereka. Dan aku harus dapat menahan kekesalan ketika Aldric bersuara banyak dengan teman-temannya. Baiklah, beritahu aku apa yang diinginkan pria ini sebenarnya. Aku memilih membuang muka, menatap pria paruh baya yang tengah bercakap di pentas. Kuakui bahwa atmosfer kekeluargaan begitu terasa antara atasan dan bawahan disini. Suara tawa pecah sejak tadi. Acara dilanjutkan oleh naiknya seorang perempuan yang sepertinya akan bernyanyi. Ternyata benar, dia bernyanyi. Saat di pertengahan lagu, aku menatap ke sebelah kanan, dimana Aldric tadinya berdiri. Ya, tadinya. Karena sekarang pria itu menghilang entah kemana. Aku menggigit bibir, menatap orang-orang yang kini tengah menikmati suara perempuan di pentas. Lalu kuberanikan diri untuk bertanya pada salah satu di antara mereka. "Maaf, tau nggak Aldric, eh maksudnya Azka, tau nggak dia kemana?" "Tadi bukannya disini?" Aku berusaha untuk tidak mengernyit saat perempuan itu malah balik bertanya. Kulontarkan senyum tipis padanya lalu berlalu, mencoba untuk mencari ke tempat lain. "Saskia!" Panggilku lumayan kuat ketika melihat Saskia sedang berjalan bergandegan bersama seorang pria. "Lah, Nad?" "Liat Aldric nggak?" "He?" "Liat nggak? Dianya tiba-tiba ngilang." "Nggak liat. Toilet kali?" "Iya kali ya. Yaudah, thanks ya." Baru saja ingin melangkah, panggilan Saskia membuatku berhenti. "Kenapa, Sas?" "Beneran Amira di tahan?" Napasku tercekat. Kuberikan senyum sambil menggeleng pada Amira. "Sorry, gue nggak mau bahas dia." Kemudian aku berjalan cepat, meninggalkan perempuan itu. Kukeluarkan ponsel dan menghubungi Aldric, namun tidak ada jawaban darinya. Kembali kuhubungi nomor Aldric sambil sesekali menoleh ke pentas. Lagunya sudah selesai dibawakan. Aku mendesah kesal, kutatap ponsel dan langsung mengetikkan pesan pada Aldric. "Test." Suara itu.... Aku seketika mendongak, dan menemukan Aldric sedang duduk di kursi di atas pentas dengan gitar di pangkuannya. Jantungku berdetak lebih cepat ketika Aldric menatapku sambil tersenyum. Ch, akhirnya dia menunjukkan senyuman setelah sejak tadi terus saja diam padaku. "Hi, kamu yang pakai dress hitam—" "Gue, Ka?" Teriak seorang perempuan. Aldric menggeleng dan terus saja menatapku. Membuat banyak pasang mata jadi mengikuti arah pandang Aldric. Kucoba untuk tidak peduli pada sekitar dan terus menatap Aldric penasaran. "Lagu ini buat kamu, sayang." Dan seketika, ruangan besar ini dipenuhi banyak teriakan dan tepuk tangan meriah. Apa ada seseorang yang dapat menjelaskan apa yang sedang Aldric lakukan? Karena aku benar-benar kehilangan akal untuk berpikir. Petikan gitar terdengar diikuti ruangan yang berubah gelap. Namun tidak di bagianku dan Aldric. Suasana pun berubah hening. Dan hal ini membuatku seperti ditarik begitu saja ke masa dimana aku dan Aldric masih mengenakan seragam putih abu-abu. I met you in the dark You lit me up You made me feel as though I was enough We danced the night away We drank too much I held your hair back when You were throwing up Mataku tiba-tiba saja terasa panas. Dan tanpa diminta, air bening itu meluncur di pipi. Tuhan, pria ini selalu tau bagaimana cara membuatku menangis. Then you smiled over your shoulder For a minute, I'm stone cold sober I pulled you closer to my chest And you asked me, to stay over I said, I already told ya I think that you should get some rest I knew I loved you then But you'd never know Cause I played it cool when  I was scared of letting go I knew I needed you But I never showed But I wanna stay with you Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go Tangisanku kian hebat. Demi Tuhan, tidak bisakah pria ini turun dari sana dan memelukku di sini? Namun itu tidak terjadi. Aldric tetap bernyanyi. I'll wake you up with some breakfast in bed I'll bring you coffee With a kiss on your head And I'll take the kids to school Wave them goodbye And I'll thank my lucky stars for that night When you looked over your shoulder For a minute, I forget that I'm older I wanna dance with you right now, oh And you look as beautiful as ever And I swear that everyday you'll get better You make me feel this way somehow I'm so in love with you And I hope you know Darling your love is more than worth its weight in gold We've come so far my dear Look how we've grown And I wanna stay with you Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go I wanna live with you Even when we're ghosts Cause you were always there for me When I needed you most I'm gonna love you till My lungs give out I promise till death we part Like in our vows So I wrote this song for you Now everybody knows That it's just you and me Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go Just say you won't let go Oh, just say you won't let go Tepukan tangan meriah dan teriakan seketika memenuhi ruangan. Masih dalam keadaan gelap dan lampu sorot yang tetap mengarah pada kami berdua, Aldric beranjak. Menuruni pentas dan berjalan lurus menuju tempat dimana aku berdiri. Napasku tertahan ketika Aldric tersenyum dan menjulurkan tangan, dengan ibu jarinya, ia usap pipiku yang basah. "Aku denger, Nad. Aku denger apa yang kamu bilang di telfon waktu itu. Gimana kalau nanti kamu yang hamil? Kamu bakalan tetep sama, Nad. Nggak akan ada yang berubah dari wajah cantik kamu. Nggak akan ada yang berubah dari senyum manis kamu. Kamu tetep Nadine aku." Pria itu tampak menghela napas. "Jangan nangis, Nad. Aku nggak suka liat kamu nangis." Tawa kecilku terdengar setelahnya. Dan lagi-lagi Aldric sukses membuatku kaget. Pria ini berlutut di depanku, dan dengan senyum andalan miliknya, dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah maroon dan kembali bersuara. "Kamu mau jadi ibu dari anak-anak aku nanti? Terus izinin aku jadi ayah dari anak-anak kita. Kamu mau habisin umur bareng aku? Karna aku jamin, nggak akan ada orang lain di bumi yang bisa buat kamu nyaman selain aku." "Al...." Isakku terus. "Aku butuh jawaban kamu, sayang." Dan apalagi? Tentu saja aku mengangguk. Seluruh pasang mata yang melihat langsung bertepuk tangan diiringi teriakan dan siulan. Aldric berdiri, perlahan memasangkan cincin tersebut di jariku. Setelah itu mencium lembut keningku. "Aku sayang kamu, Nad." Ucapnya sambil membawa tubuhku dalam pelukannya. "Aku enggak." Balasku sambil tertawa kecil dan Aldric pun ikut tertawa. Aldric melepaskan pelukan, lalu entah apa yang dia katakan, lampu ruangan kembali menyala terang. Aldric menoleh, menatap pria berbadan besar yang tengah tersenyum pada kami. Sial, aku malu. "Saya jangan dipecat ya, pak." Teriak Aldric dan tawa seisi ruangan pun pecah. "Asik Azka nikah!" "Jangan langkahin gue, Ka. Dosa." "Selamet woi!" Teriak-teriakan itu muncul satu persatu. Membuatku tersenyum. Dan tiba-tiba aku mengerti apa ucapan mama dan papa sebelum aku pergi. Tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN