Kau ingat? Ketika dulu kau selalu menawarkan diri untuk membuatku tersenyum.
Ketika mataku mulai merah, kau bak superhero datang.
Kau tau semua lukaku, dan bak penyembuh, kau hilangkan perihnya.
Kau jual kebahagiaanmu agar aku bahagia.
Jangan sampai aku terluka, jangan sampai aku menangis.
Karna tujuanmu hanya satu, inginku tertawa.
-pukul 23.07, bersama kenangan kita.
Nadine's POV
"Jadi mama papa udah tau duluan, kan?"
"Gak mungkin mereka gak taukan, Nad? Aku mau anaknya, ya emang harusnya minta izin ke orang tuanya dulu," jawab pria yang kini tengah duduk di sebelahku. Jasnya sudah terlepas dan ia berikan padaku untuk membungkus tubuh dari dinginnya angin malam. Kami memilih duduk di atas kap mobil yang berada di lapangan luas dimana dulunya banyak hal yang kami habiskan disini. Aldric benar, lapangan ini lebih ramai, tidak seperti dulu.
"Inget nggak sih dulu kamu sering latihan basket disini?" tanyaku tersenyum.
"Hm, ditemenin kamu."
"Nggaksih. Aku nggak liatin kamu main basket juga—"
"Iya, tapi tiduran sambil dengerin musik." Aku tertawa ketika Aldric memotong kalimatku dengan tepat.
"Terus juga kamu suka lari-lari kelilingin lapangan sambil nyanyi. Aku yang nungguin jadi bosen. Pengen ninggalin tapi inget kalau nggak bawa uang, nggak bisa naik bis."
"Terus waktu kamu nangis—"
"Hm-hm."
"Keluarga kamu udah sempurna sekarang." Aku hanya tersenyum. Ya, semuanya memang sudah menjadi baik sekarang. Memang tidak ada lagi yang harus aku khawatirkan tentang kedua orang tuaku. Disamping itu, Aqila sendiri juga jelas bersama Leo.
"Terus juga ada kamu," tuturku tenang.
"Jadi, mau liburan kemana sama mama kamu?"
"Nggak tau. Tadi mama bilang Bandung, kan? Pengennya bawa mama ke luar negri sih. Nggak mama doang. Papa, Aqila, biar lengkap."
"Mau kemana?"
"Tergantung mama."
"Abis itu kamu harus siap nemenin aku liburan." Aku langsung saja menoleh pada Aldric sembari mengernyit. Pria ini terus saja mengingat perihal liburan.
"Iya, nanti aku temenin kamu liburan ke PIM," balasku asal.
"Nad!" Aku hanya tertawa setelahnya. Membenamkan tubuh dalam hangat tubuh Aldric. "Kiya cerita sama aku tentang—"
"Tentang apa?" Aku menegakkan punggung dan menatap Aldric menuntut. Astaga, apa yang telah Kiya katakan pada Aldric?
"Impian kamu. Gak peduli siapa ayahnya, kamu mau anak." Aldric menjawabnya perlahan, sedangkan aku sukses tercekik hebat karenanya. Ingatkan aku untuk memberikan ramuan pengubah bentuk manusia menjadi tikus kepada Kiya nanti.
Kuhela napas panjang, lalu menatap Aldric sambil memaksakan senyuman. "Kamu tau film Love, Rosie, Al?" Aldric tampak berpikir, dan aku memutuskan untuk kembali bersuara. "Malem waktu aku minta dianterin nasi padang sama kamu, aku duduk di samping mama sambil nonton film itu. Aku nggak liat dari awal memang, makanya waktu selesai habisin nasi yang kamu bawain, aku nonton ulang film itu di kamar dari awal.
"Rosie sama Alex temenan. Mereka punya mimpi beda, Alex yang mau jadi dokter dan Rosie yang mau punya hotel sendiri suatu hari nanti. Tapi tujuan mereka sama. Boston. Awalnya ibu Rosie nggak ngasih izin buat Rosie pergi sejauh itu dengan ninggalin London. Tapi ayah Rosie lebih nggak mau kalau Rosie nggak ngejar cita-citanya. Sampai akhirnya kabar baik dateng ke Rosie. Boston University nawarin tempat buat dia. Tapi ternyata ada hal yang buat Rosie nggak bisa pergi dan terpaksa bohong ke Alex dengan bilang kalau dia bakalan nyusul."
Aku tersenyum kecil pada Aldric, pria itu tampak begitu serius memperhatikanku. "Rosie hamil. Kalau kamu nanya itu anak siapa, itu bukan anak Alex. Lagian juga mereka udah terlalu nyaman sama hubungan sahabat. Dan ya, Rosie nggak pernah nyusul Alex. Sampai Rosie ngelahirin babynya, Alex nggak pernah tau. Anaknya cantik, namanya Katie. Kurang lebih setahun umur Katie, tiba-tiba Alex dateng karna dia tau Rosie punya anak. Kamu tau nggak? Alex nggak marah sama Rosie. Malah dia ngajuin diri buat jadi walinya Katie.
"Aku pikir Rosie sama Alex mutusin buat nikah. Tapi enggak. Kisah mereka banyak batunya. Alex yang punya pacar, ayah biologis Katie yang tiba-tiba dateng, pacar Alex hamil, Rosie nikah, Alex yang putus sama pacarnya karna ternyata itu bukan anak Alex, suami Rosie yang selingkuh, dan Alex pacaran lagi sama temen satu sekolahnya dulu bahkan mereka nikah. Rosie sadar kalau dia cinta Alex. Alex juga gitu. Makanya Alex pacaran dengan maksud supaya dia bisa lupain Rosie. Sayangnya dia nggak pernah berhasil." Aku berhenti sesaat untuk menarik napas.
"Tapi kamu tau nggak? Rosie bisa lewatin itu semua karna dia punya orang tua, sahabat, bahkan anak yang selalu ada buat dia. Dia bisa bahagia karna anaknya. Dan dia nggak pernah nyesel karna Katie hadir. Makanya aku jadi mikir kalau, kalau aku punya anak, aku mungkin nggak butuh apa-apa lagi. Dengan mulai hidup baru sama anakku di London nanti, aku yakin kalau aku bakalan bahagia."
"Nad—"
"Cerita aku kepanjangan ya?"
"Aku nggak akan biarin kamu sendirian lagi."
***
"KAK, YA AMPUN!" Aku menoleh ke belakang dan seketika meringis menatap Aqila yang sedang kesusahan dengan kopernya. "BANTUIN DONG!"
Dengan sedikit terpaksa, aku berjalan mendekati Aqila. Bukan, bukan tidak ingin menolong, hanya saja perutku sangat-sangat membutuhkan makanan sekarang. Mama dan papa masih tampak sibuk. Membuatku langsung mengajak Aqila untuk mencari makan. Tapi ternyata perempuan itu langsung bersuara panjang lebar padaku karena ia butuh ke toilet secepatnya. Oh ayolah, aku belum ingin mati sekarang.
Akhirnya aku mengalah lalu ikut menemani Aqila ke toilet. Bersamaan dengan kami yang kembali, papa dan mama sudah tampak siap dan sedang berdiri bersama seorang bapak berumur yang menurut dugaanku, adalah seorang yang akan membawa kami kemanapun sesuai keinginan mama.
"Ma, Nadine laper."
"Tuhkan. Mama juga udah nebak bakal makan dulu." Aku beralih ke papa dan membujuk papa agar kami segera makan. Ya Tuhan, perutku seperti akan keriput jika tidak segera diisi makanan.
Papa tertawa, tapi akhirnya merangkul bahuku lalu mengajakku berjalan. Kuhembuskan napas lega ketika melihat kemana papa membawa kami. Cepat kuambil tempat duduk lalu memanggil pelayan.
"Kalau dianya nggak dikasih makan dulu bisa makan orang, pak," ujar mama kepada bapak—entahlah, aku juga tidak tau namanya—sambil tertawa. Aku hanya diam tidak peduli. Lalu dengan segera melihat menu dan segera memesan makanan.
***
"Mau ke tempat lain dulu nggak?" tanya mama ketika usai makan. Dan menurutku, mama salah menanyakan hal seperti itu. Karena saat perut kita sudah terisi oleh makanan, hal terbaik yang dilakukan selanjutnya adalah, tidur.
"Kemana, ma?" balas Aqila juga bertanya.
Aku memilih tidak ikut obrolan untuk sesaat karena panggilan Aldric yang masuk. Aku baru ingat bahwa aku belum memberikan kabar pada Aldric.
"Hai," sapaku ringan.
"Udah sampe?"
"Udah. Juga baru selesai makan. Kamu udah makan?"
"Juga baru selesai. Terus, abis ini langsung ke hotel?"
"Nggak tau. Ikutin maunya mama soalnya."
"Yaudah hafe fun ya. Titip salam buat mama papa kamu terus Aqila."
"Iya. Bye, Al." Aku memutuskan sambungan dan menatap mama juga Aqila yang masih sibuk berdebat satu sama lain.
"Mama nggak capek apa, ma?" tanya Aqila setelah meneguk air mineralnya.
"Kok kamu tumbenan kayak kakak kamu? Biasanya semangat diajakin jalan."
"Ngantuk, ma." Ya, tentu saja. Karena kami naik penerbangan malam. Mengingat papa yang harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.
"Yaudah kan masih bisa besok," ujar papa menengahi. Setelah itu papa memanggil pelayan dan membayar makanan kami.
Sedangkan aku memilih berdiri dan memasangkan tali ransel di pundak. Aku tidak membawa banyak baju. Maksudku, yang kubawa hanyalah kaus oblong dan sedikit celana longgar panjang. Untuk alas kakipun, hanya wakai shoes yang sekarang aku gunakan. Setelah itu beberapa kabel berguna yang sudah kumasukkan ke satu tempat. Juga make-up yang tidak terlalu banyak dalam satu tempat. Benar-benar tidak membutuhkan banyak ruang. Tidak seperti Aqila, sepertinya dia akan pindah kesini.
***
Keesokan harinya, mama begitu semangat membawa kami keliling kota Surabaya. Tante Sela yang menghubungi mama pun meminta kami untuk datang ke rumahnya yang berada disini. Mama meminta pendapatku dan dengan sangat menyesal aku harus meminta maaf pada tante Sela. Mungkin aku akan datang, tapi tidak sekarang. Karena sedikit tidak enak jika aku datang kesana bersama keluargaku dan tante Sela tidak ada. Jika saja ada Aldric, mungkin akan sedikit lebih baik. Walaupun aku pernah kesana sekali ketika berlibur bersama Aldric, tapi tetap saja.
Kami memilih makan di restaurant hotel untuk menutup hari ini. Aku yang tengah sibuk menyuapkan makanan ke mulut seketika terhenti ketika mama memanggilku lembut.
"Kenapa, ma?"
Aku menatap mama sedikit bingung, mama belum mengeluarkan suara lagi, namun matanya sudah berubah merah. Kulihat mama menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Abis ini kamu bukan cuma jadi anak mama papa lagi." Tutur mama pelan. Ya, sepertinya aku paham arah pembicaraan ini. "Tapi juga anaknya tante Sela sama om Rano. Juga udah jadi istri, insha Allah jadi ibu. Kamu udah nggak bisa egois mikirin diri sendiri. Ada hal yang harus kamu bagi rata. Ego kamu juga harus diturunin, jangan nanti apa-apa selalu Azka yang ngalah demi kamu. Harus imbang, nak. Berat banget mama ngelepas kamu, Nad. Tapi kalau anak mama udah ketemu jodohnya, ya harus gimana lagi? Yang mama papa bisa lakuin cuma berdoa yang terbaik buat kamu." Aku langsung saja mengusap pipi karena air mata mengalir tanpa permisi.
"Pernikahan itu bukan akhir, Nak." Kini suara papa yang terdengar. "Pernikahan itu awal semuanya. Proses ujian, berhasil atau enggak sepasang makhluk buat jalanin kewajiban dari Tuhannya. Kalau ada masalah, selesein berdua pake kepala dingin. Jangan apa-apa langsung teriak. Tanya dulu baik-baik. Papa percaya anak papa bisa jalanin ini. Karna papa percaya sama Azka." Air mataku datang lebih banyak. Keberuntungan seperti datang beruntun untuk terus menampilkan lengkungan di wajahku. Perasaanku benar-benar campur aduk.
"Eh tapi kak Azka keren ya ngelamarnya." Aku menoleh pada Aqila.
"Kok bisa tau?"
"Ya direkamlah kak sama kak Azka, gimanasih!" Aqila kini membuka ponselnya. Ternyata perempuan ini menyimpan video tersebut. "Leo nggak pernah nih begini. Main langsung ajak aja kayak kambing. Aqila, nikah yuk." Aku sukses tertawa ketika Aqila menirukan gaya bicara Leo ketika melamarnya. "Tapi nggak apa-apa deh, aku juga suka." Aqila menunjukkan cengirannya lalu kembali menatap ponsel.
Dan sisa malam ini, aku dan yang lain habiskan untuk terus bercerita hingga kantuk menyerang.
***
Hari ke empat liburan, dan sekarang mobil tengah membelah jalanan dari Malang menuju tempat di kota Batu. Tepatnya, Jawa Timur Park 2. Aqila yang ribut agar kami kemari, dan mama bersama papa tentu menyetujuinya walaupun aku tidak. Aku benar-benar butuh tidur.
"Masa ya, ma, semalem yang kita pulang dari Alun-alun, Aqila masuk kamarkan langsung tidur, kak Nadine mandi. Yaudah Aqila nggak tau apa-apa lagikan. Tapi waktu jam dua gitu, Aqila kebangun, terus tau nggak, ma?" Aku langsung saja menatap ngeri ke arah Aqila. Jangan katakan bahwa dia mendengar—
"Apa? Jangan bikin mama takut dong kamu."
"Bukan, ma. Masa ya, waktu Aqila bangun, Aqila denger dari sebelah tempat tidur masih ada yang ngobrol," ujar Aqila lebih kuat sambil menatapku. Benar saja, dia sedang mengadukan kegiatanku semalam pada mama.
"Di samping kamu? Ngobrol gimana?"
"Ya ngobrol, ma. Bicara sama orang lewat telfon." Aku hanya membuang muka pada kaca dan berusaha menutup mata. Mama belum mengeluarkan suara, mungkin masih berpikir maksud dari perkataan Aqila.
"Nadine jadi kamu nggak tidur semalem?" Tawa Aqila langsung saja meledak dan juga diikuti tawa rendah papa. "Ngapain sih telfonan sampe jam segitu? Kitanya juga bakalan pulang, mama juga nggak bakal nyulik kamu."
"Gini lho,ma." Akhirnya aku bersuara dan mencoba menjelaskan dengan baik pada mama.
"Nggak, ma, jangan, jangan percaya."
"Aldric itu lagi—ah tau deh." Baiklah, aku kalah.
"Tuhkan, ma." Aku menatap Aqila sambil menahan geram. Sedangkan dia masih sibuk tertawa. Baru ingin bersuara lagi, pekikan girang Aqila kembali terdengar karena kami telah sampai.
Aku turun dengan memperbaiki sedikit kausku dan membiarkan papa serta Aqila berjalan lebih dulu. Sedangkan mama berjalan di sampingku.
"Sekangen itu ya kamu sama Azka?" Aku menatap mama sambil meringis. Memilih menatap ponsel dan sibuk chatting bersama Kiya. Perempuan ini begitu histeris ketika mengetahui bahwa aku di lamar oleh Aldric. Bukan hanya itu, namun bagaimana cara Aldric melakukannya, Kiya memujinya. Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja, Kiya dan Reva datang bersamaan dan menyerangku yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sialan, lo bentar lagi kawin!"
"Nikah, bego," ralatku. Dan hanya dibalas Kiya dengan tawa khasnya.
"Mbak, aku masih nggak percaya mbak dilamar. Bayangin ya, di depan banyak orang gitu."
"Biasa aja." Dan detik berikutnya aku merasakan benda mengenai bahu kiriku. Aku menoleh cepat, dan mendapati wajah kesal Kiya juga wajah tak percaya milik Reva.
"Biasa aja tapi sampe nangis lebay gitu. Gila," hardik Kiya berikutnya.
Aku tersadar ketika Aqila menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Dan setelah itu kami sibuk menghabiskan memory pada camera yang sejak tadi Aqila kalungkan di lehernya. Ketika Aqila mengatakan hendak memasukkan sebuah foto ke social media, aku dengan cepat merampas ponselnya.
"Kenapasih?" tanya Aqila tampak bingung.
"Nggak usah di share deh."
"Emangnya kenapa? Kan bagus, kak."
"Yang muka gue ketutupan aja yang di share," pintaku padanya.
"Nggak mau." Dan Aqila kembali mengambil ponselnya. Ketika aku ingin merebut lagi, dia bergerak cepat untuk sekedar menjauh agar aku tidak mengganggu kegiatannya. Aku memilih untuk tidak peduli dan sibuk menatap binatang di depanku.
Disini begitu banyak hal yang bisa ditemukan. Kantukku hilang seiring banyak binatang yang kulihat. Sesekali, aku mengajak mereka berbicara. Mungkin saja akan seperti Harry Potter, perbedaannya, tidak seperti Harry yang bisa berbahasa ular, aku bisa berbahasa harimau.
Baiklah, lupakan.
Tiba-tiba, hasrat untuk mencoba wahana disini timbul begitu saja. Aqila yang lebih suka melihat binatang begitu susah untuk kuajak. Namun akhirnya perempuan itu bersedia setelah mengajukan beberapa syarat padaku.
"Eh, kak," panggil Aqila. "Ini kak Azka komen postannya." Aku menoleh, lalu kenapa? "Dia nanyain ponsel kakak kemana."
"Bilangin aja mati. Lowbat soalnya." Aku sibuk menatap ke samping untuk melihat wahana yang bergerak sambil terus setia mengantri.
"Kak!" Aku menoleh sedikit kesal pada Aqila. Dan di detik berikutnya aku sadar apa yang baru saja dilakukan oleh Aqila. "Kak Azka katanya suruh foto."
Kuhela napas dan hanya menggeleng perlahan setelahnya. Tidak bisakah antrian ini selesai? Karena kantuk kembali menyerangku.
***
Menghabiskan waktu seharian di Kota Batu benar-benar melelahkan. Dan ketika aku terbangun di kamar hotel, aku tidak menemukan Aqila di sebelahku. Aku memutuskan untuk bangun dan bergerak turun dari tempat tidur. Kuambil ponsel dan menyalakannya sambil berjalan menuju balkon.
Banyak notification yang masuk. Kuabaikan semuanya dan segera mencari kontak Aldric lalu menghubungi pria itu. Di nada dering ketiga, panggilanku diterima.
"Baru bangun, ya?" Aku mengucek mata ketika suara tanya Aldric terdengar. Dalam hening, aku mengangguk entah untuk siapa. Bodoh.
"Iya. Dari semalem batrenya abis."
"Hari ini mau kemana?"
"Nggak tau," jawabku sambil menghirup udara segar lalu menghembuskannya perlahan. "Tapi kayaknya bakal ke Bromo deh."
"Hafe fun kalau gitu."
"Aku kangen kamu," ujarku pasrah. Mungkin saja kami akan pulang di hari minggu malam mengingat sekarang hari sabtu. Tapi itu masih kemungkinan. Siapa yang akan tau bahwa mama akan mengajak kami ke tempat-tempat lain.
"Kamu nggak sering liburan kayak gini, Nad. Abis ini matiin hp terus fokus ke liburannya."
"Yaudah, bye," ucapku begitu saja lalu memutuskan sambungan. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mematikan ponsel. Seketika aku sadar, kenapa aku begitu sensitif pagi ini?
"Kak!" Aku menoleh kaget pada Aqila yang baru masuk ke kamar. "Buruan udah pada nungguin."
Aku masuk kamar mandi dan segera bersih-bersih. Lima belas menit kemudian aku selesai. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk bersiap-siap. Setelah itu kurapikan barang-barang ke dalam ransel dan segera keluar kamar menuju lift untuk turun.
Kulihat papa yang sedang mengurus sesuatu dan mama serta Aqila yang sedang duduk di sofa. Aku menyusul mereka dan ikut duduk.
"Udah tau kapan mau pulang, ma?" tanyaku menatap mama yang sibuk dengan majalah di pangkuannya.
"Minggu malem." Syukurlah....
"Udah semuakan?" Suara papa terdengar, membuatku seketika berdiri dan mengangguk cepat. Mama dan Aqila berjalan menuju mobil lebih dulu. Sedangkan aku memilih berjalan bersama papa.
"Sebentar lagi pulang kok, Nad," ujar papa sambil tersenyum. Lagi-lagi aku meringis.
Dan perjalanan menuju Bromo pun dimulai. Dan ya, seperti yang aku duga, aku menghabiskan waktu dengan tidur dan hanya bangun ketika mobil berhenti pada salah satu rumah makan yang menyediakan nasi rawon. Kembali di perjalanan, aku lagi-lagi tertidur. Mungkin karena faktor kepalaku yang juga sedang pusing. Sehingga membuat mama tidak lagi berhenti di tempat lain dan mobil jalan terus menuju penginapan.
Siang kami tiba di penginapan, Aqila menemaniku menuju kamar. "Kalau ada apa-apa langsung panggil, ok?"
"Hm," gumamku malas lalu membiarkan gelap membawaku kian dalam.
***
Guncangan kencang pada tubuh sukses membuatku terbangun. Aku menatap Aqila samar karena mata yang belum terbuka sempurna. Aku mengerang tidak terima karena masih ingin tidur.
"Kak buruan bangun."
"Jam berapa?"
"Udah jam 3." Ya Tuhan....
Kemarin siang, ketika aku tertidur, aku baru terbangun sebelum makan malam. Ternyata faktor penyebab badanku tidak enak sejak semalam karena tamu itu datang. Setelah makan malam, aku dan yang lainnya kembali berbincang ringan. Mungkin sekitar pukul sebelas, kami memilih tidur.
Aku akhirnya duduk, mengusap wajah lalu memperhatikan Aqila yang terlihat rapi di depan cermin. Kutinggalkan perempuan itu dan memilih masuk menuju kamar mandi.
Tak bisa aku sangkal, bahwa sejak semalam aku sibuk memikirkan Aldric. Sedikit perasaan kesal masih bersarang karena pria itu malah memintaku untuk mematikan ponsel padahal aku masih ingin mendengar suaranya. Dan sampai sekarang, aku belum memberikan kabar apa-apa padanya. Ponsel yang kumatikan kemarin pagi belum kunyalakan hingga sekarang.
Tapi mungkin memang aku yang terlalu sensitif untuk hal seperti ini. Maksudku, ini mungkin akan menjadi hal terakhir aku berlibur dengan status seperti ini. Lagipula kami sekeluarga memang jarang berlibur bersama.
Perasaan menyesal tiba-tiba saja merayap masuk lewat jalan tikus menuju hati. Mendorong keluar semua rasa kesal terhadap Aldric. Seharusnya aku menikmati hari-hari seperti ini. Bukannya malah sibuk sendiri dan menyalahkan keadaan.
Masih beruntung karena mama menolak ajakanku menuju Jepang. Jika saja mama mengiyakan, mungkin perasaan rindu pada Aldric akan tumbuh lebih gila. Pun mama sendiri tidak menyita ponselku dan tidak pernah mengatakan "Ini waktunya keluarga." Mama dengan baik hatinya membiarkan aku berhubungan dengan siapapun selama masih dalam batasan. Ya, bercakap hingga pukul 2 pagi menurut mama sudah melewati batas, karena saat seperti itu tubuh membutuhkan istirahat.
Alasan mama menolak tawaranku karena tidak tega jika nanti akan lelah sepulang dari sana. Karena banyak hal yang harus dilakukan setelah liburan ini selesai. Alhasil, mama hanya menyebutkan Surabaya karena hanya sesekali pergi kemari. Mungkin ini merupakan pertama kalinya mama akan melihat sunrise di Bromo.
Tidak berapa lama, mandiku selesai. Dan hal yang aku lupakan, bahwa aku tidak membawa jaket dan kawan-kawannya. Bisa-bisa aku mati karena dinginnya udara di luar. Buru-buru kusuruh Aqila untuk menghubungi mama dan meminta agar mama segera menuju kamarku.
Sesaat kemudian mama datang dengan satu jaket di tangannya. Kulapis dua kausku lalu menerima jaket dari mama.
"Kok bisa ada, ma?" tanyaku sambil merapikan rambut.
"Yang kemarin di Surabaya kan belanja dulu. Jaketnya papa sih, mama juga nggak sadar kemarin papa kamu ambil jaket." Aku mendengarkan penjelasan mama dalam diam. Dan langsung mengenakan alas kaki setelah semuanya selesai.
Saat kami sudah berjalan keluar, keadaan benar-benar melebihi dugaanku. Dingin yang kurasakan benar-benar menusuk. Beruntung sekali, karena terdapat pedagang yang menjual berbagai macam benda untuk melindungi diri dari dingin. Mama memilihkan sarung tangan dan beanie untukku juga Aqila. Setelah merasa lebih baik daripada sebelumnya, kami segera menuju mobil.
Perjalanan dengan jeep lebih banyak kuhabiskan dengan memeluk tubuh papa. Membiarkan mama, papa, dan Aqila sibuk bercerita dengan topik ringan. Aku harap keadaanku akan lebih baik setelah ini. Entah berapa menit yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi tempat kami menyaksikan sunrise, aku tidak tau. Namun pernyataan bapak pemandu bahwa kami belum mencapai gunung Bromo membuatku sedikit mengernyit bingung.
"Kalau di Penanjakan 1 itu ramai, Nad. Ini jadi kayak tempat alternatif buat liat sunrise juga. Nggak kalah cantik." Suara papa menjawab segala bingung di kepalaku. "Ini namanya Bukit Kingkong."
Aku hanya mengangguk mengerti sambil menatap sekitar, masih sangat gelap. Ketika yang lainnya menjalankan ibadah salat, aku memilih menunggu dengan melihat isi camera. Ingatanku seperti terbang pada saat-saat dulu. Membayangkan aku yang masih menggunakan seragam putih abu-abu tengah berpose bersama Aqila. Ketika kami masih menjadi kakak adik sempurna sebelum akhirnya Aqila mengambil jarak padaku.
Jika saja saat itu aku tau bahwa Razza adalah orang yang Aqila maksud, jika saja aku mengetahui perasaan Aldric sejak awal, mungkin cerita yang terjadi sekarang akan berbeda. Aku menggeleng pelan, berusaha sadar dari lamunanku. Bagaimanapun, aku patut bersyukur dengan keadaan sekarang. Keadaan yang jelas-jelas lebih baik dan bahkan tidak pernah sekalipun tergambar dalam kepalaku akan mengalami hal seperti ini. Ini, sempurna. Sangat sempurna.
"Kak, yuk." Aku tersadar ketika Aqila melambaikan tangannya padaku, membuatku berjalan mendekat ke arahnya. Dan seketika kaget ketika ia dengan cengiran lucunya langsung memeluk lenganku.
"Leo pernah ajakin kesini, tapi aku nolak," ujar Aqila.
"Kenapa?"
"Males aja."
"Leo baik?" tanyaku, bukan ingin mengetahui kabarnya. Tapi lebih ke bagaimana sikapnya pada Aqila.
"Nggak ada yang sebaik dan setulus dia," sahut Aqila dengan suara lembut.
"Yaudah terima ajasih lamarannya."
"Iya nanti, kalau udah siap."
"Kalau nunggu siap ya nggak bakalan siap."
"Aku masih mau nerusin sekolah, kak."
"Ha?"
"Iya. Leo ngedukung apapun yang mau aku lakuin. Termasuk lanjutin S2."
"Mau ambil apa?"
"Masih mikir," jawabnya tertawa.
Kami sibuk bertukar kalimat hingga detik-detik yang dinantikan datang. Induk dari segala tata surya itu muncul malu-malu namun tetap terlihat perkasa. Ufuk timur benar-benar terlihat luar biasa dengan permainan gradasi warnanya. Seperti kanvas putih tanpa noda yang ditumpahi cat secara asal namun terlihat indah dan memukau indra penglihatan.
Makin tinggi matahari, keadaan di sekitar juga pelan-pelan menjadi terang. Gunung Bromo, Gunung Batok, juga Gunung Semeru tampak terlihat jelas dengan hiasan awan putih. Aku menarik napas, tersenyum puas. Aqila yang sejak tadi sibuk memotret tampak histeris.
"Parah, Leo pasti ngiri."
"Serah lo deh," balasku pasrah.
"Aku masukin foto sekeluarga. Kakak beneran nggak mau masukin apa-apa?"
"Ada. Matahari yang setengah tadi."
"Mukanya?"
"Nggak," jawabku sambil menggeleng cepat dan Aqila sukses mencebik sebal.
Dengan semangat yang masih tersisa banyak—bagi Aqila tentunya—kami meninggalkan Bukit Kingkong dan segera menuju Gunung Bromo. Mama di sampingku tengah sibuk berbicara dengan orang di seberang telepon.
Pura yang kulihat menjadi tanda bahwa kami telah tiba. Aku turun dengan cepat lalu segera menuju tempat pedagang kecil dan memesan minuman hangat. Aqila menyusul datang di sampingku.
"Nad." Aku menoleh ketika mama memanggilku lembut.
"Kenapa, ma?"
"Mama sayang kamu." Aku sontak kaget ketika mama memeluk tubuhku. Dan dengan helaan napas, aku membalas pelukan mama. "Abis ini kita pulang kok. Capek ya LDR?" Apa tadi mama bilang?
"Kok mama tau bahasa-bahasa kayak gitu?" tanyaku penasaran.
"Aqila yang kasih tau." Baiklah, Aqila selalu menang dalam liburan ini.
Tbc...