[30]

2297 Kata
Aku duduk menatap senja, dan kemudian senja berbisik lembut di telingaku, katanya, kamu cuma mampir. Tapi aku tau kalau senja bohong, karna kamu nggak cuma berniat mampir, kan? -berdua, ditemani senja. Nadine's POV Aku berlari semangat layaknya anak-anak ke arah Sean yang sedang berdiri tidak tau malu sambil memegang kertas berisikan namaku. Aku menubruk tubuhnya, memeluk pria itu erat. "Hai, yang sebentar lagi mau nikah." sapa Sean sambil mengelus punggungku. "Hai, yang cintanya ditolak." balasku sambil tertawa. "Enak aja." sahut Sean cepat. Ketika aku melepaskan pelukan, Sean lagi-lagi menarikku. Mendekapku erat sehingga aku kesulitan untuk bernapas. Aku memohon agar Sean melepaskanku, namun sepertinya pria itu sedang tuli sekarang. "Yan, lepasing dong! Engap ini." ujarku susah payah. Aku sontak kaget ketika Sean mengangkat tubuhku hingga kurasakan badanku melayang. Dan setelahnya, pria itu melepaskanku sambil tersenyum. "Gue nggak yakin nanti bisa meluk lo leluasa kayak tadi." "Apaansih lebay." ucapku sambil menatap sekitar. Senyumku tiba-tiba merekah ketika melihat Aldric dengan Kiya di sebelahnya. Kulangkahkan kaki dengan cepat mendekat pada Aldric. Dan dalam sekali sentakan, tubuhku sudah berada dalam hangat dekapannya. "Ewh!" Aku mengernyit ketika Kiya mengeluarkan suara. "Kenapasih?" tanyaku tidak terima pada Kiya. Sedangkan perempuan itu sibuk memutar bola mata. "Bener, kan?" tutur Aldric dan aku kembali menatapnya. "Kamu lucu kalau pake beanie. Kayak anak-anak." Aldric tertawa, sedangkan aku hanya dapat menahan reaksi panas di wajah. Aku memang tidak melepaskan beanie sedari tadi, karena lebih nyaman saat memakainya. Juga, aku baru mengingat bahwa Aldric begitu ingin melihatku memakai beanie. "Aku udah bilang ke Aqila buat kirimin semua foto kamu yang di kameranya dia." "Ewh!" Lagi-lagi aku menatap Kiya dan mendelik sebal padanya. "Apaansih, makanya pacaran." ucapku kesal dan raut wajah Kiya terlihat makin keruh. "Sorry ya, kan gue udah bilang nikahnya umur tiga puluhan atau lebih, atau juga nggak sama sekali." Aku seketika berdiri lebih tegak, melepaskan diri dari pelukan Aldric dan dengan cepat berdiri di sebelah Kiya. Kubawa perempuan ini menjauh dari sana. "Kenapasih?" Berontaknya tidak terima. "Kasian sepupu gue, Ki. Makin mati yang ada dianya kalau denger kata-kata lo barusan." "Lah?" "Jangan kejam-kejam banget dong sama Sean." "Kejam dimananya sih gue emangnya? Yang pertama, gue kontakan sama Sean itu nggak sering. Ya, imbang sih, kalau nggak gue yang lama bales, ya pasti dia. Gitu-gitu doang. Terus juga, gue nggak pernah nunjukin sikap yang, gimanaya ya jelasinnya, yang kayak ngarep gitu lho. Gue nggak pernah kayak gitu ke dia." "Iya, Ki, gue tau. Tapikan, emangnya lo nggak mau coba dulu?" Aku menatap Kiya memohon. Sean memang pernah mengatakan padaku tentang alasannya memilih Kiya karena kedekatan Kiya denganku. Tapi seminggu yang lalu, sebelum mengantarkan kami sekeluarga, Sean memberi tahu padaku bahwa ia benar-benar ingin mencoba suatu hubungan yang lebih serius bersama Kiya. Tidak akan ada embel-embel mendekati Kiya karena aku, melainkan karena keinginan hatinya. "Nad—" "Dia nggak pernah bikin lo risihkan? Maksud gue, lo nyamankan sama dia?" "Yeah, he's a good guy, but—" "NAH!" "Nad, nggak semudah yang lo kira." "Kan ada gue. Gue bisa bantuin lo, Kiya." "Kita sambung kapan-kapan aja ya bahasan yang ini?" "Lo mah gitu!" "Emangnya lo nggak kangen Azka?" tanya Kiya sambil menoleh padaku karena ia sudah berjalan lebih dulu. "Tuh orangnya bingung liatin lo bawa gue jauh-jauh kesini." "Diem lo!" semprotku kesal lalu memacu langkah Kiya. Aku berjalan kembali ke tempat semula, dimana Aldric kini ditemani Sean sedang berbincang santai. Mama, papa, juga Aqila sepertinya baru selesai mengurus sesuatu, dan sekarang sedang berjalan menuju kami. "Udah lengket aja si?" Aqila yang menatapku mengejek kubiarkan, terlalu lelah berurusan dengan orang-orang yang tidak mengerti pada perasaan rindu tertahan. "Hati-hati woi, lu ngomong gitu lagi siap-siap dimakan ama dia. Ginjal gue aja udah ilang satu." Kiya yang berbicara tampak tertawa lepas bersama Aqila. Sialan. "Dia takut tante culik, Ka." ucap mama tiba-tiba. "Apaansih, mama." sahutku cepat tidak terima sambil membuang wajah malu karena takut apabila Aldric melihatnya. "Apa? Yang mama bilangkan emang bener." "Mam—" "Udah ah yuk pulang. Kamu mau bareng apa enggak?" "Bareng gimana, ma? Itu prince berkudanya udah jemput." Ingatkan aku untuk menghabiskan seluruh ginjal Aqila nanti. "Kakak kamu kan nggak bisa digodain gitu. Apa-apa langsung ngamuk." "Ih enggak." ucapku tidak terima. "Udah ah mama capek sama kamu. Inget lho, jangan kemana-mana, langsung pulang arahnya." "Ya emangnya mau kemana?!" tanyaku menahan geram. Jika digambarkan, mungkin sekarang telingaku sedang mengeluarkan asap. "Ya mana mama tau. Mama kurang hapal kebiasaan anak muda sekarang." "Ya mamakan mudanya main surat-suratan, masukin amplop, terus kirim pake pos. Syukur-syukur kalo suratnya dibales." "Mama muda nggak kalah ya, Nad, sama kamu. Fans mama dimana-mana." "Pa, ingetin istrinya tuh. Bilangin, nggak cocok bahas-bahas fans. Inget umur. Udah ah kita duluan." Aku menarik Aldric cepat sebelum kembali mendengar ucapan berbahaya dari mama. Bisa-bisa mama menceritakan semua sikapku selama berlibur pada Aldric. "Kenapa?" tanya Aldric pelan. "Apanya?" "Kamu." "Aku?" "Iya. Kamu kenapa?" "Aku kenapa?" "Kangen aku?" "Nggaksih. Biasa aja." "Yaudah." "Yaudah apa?" "Yaudah kalau nggak kangen." "Terus?" "Yaudah aja." "Ngomong apaansih dari tadi aku nggak nangkep." "Nggak. Cuma pengen denger suara kamu, kangen soalnya." Ya Tuhan. Langsung saja kutinggalkan Aldric yang sedang tertawa dengan berjalan lebih dulu. Membuka pintu mobilnya dan duduk sambil berusaha tenang. Pria itu gila. Sepertinya seminggu berpisah denganku membuat kerja otak Aldric melemah. Memang, pengaruhku memang besar. Baiklah. Aku yang sangat merindukan pria ini. Aku yang sedikit gila karena berpisah dengannya seminggu ini. "Langsung pulang?" Aldric bertanya sambil tersenyum, membuatku langsung melemparnya dengan kotak tisu. "You're funny." ujarku datar. "I'm not funny, I'm Azka." Dan Aldric tertawa. Baiklah, beritahu aku dimana letak kelucuan kalimatnya sehingga pria ini bisa tertawa sesemangat ini? "Oh? Hi, Azka! Would you be a good driver and take me home right now?" tanyaku sambil tersenyum manis sekarang. "For you? Sure." Pria itu tersenyum, dan bodohnya, aku juga ikut tersenyum. *** "Bukan itu, Rick." "Yang ini, Nad." "Bukan." "Gila nggak percaya." Aku menatap Erick malas karena sepertinya memang sedikit sulit berdebat dengan pria ini. Sejak satu jam yang lalu, sesudah makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga rumah opa. Terdapat tante Sela dan om Rano yang duduk di dekat mama juga papa, jauh dari keberadaanku. Sedangkan Sean, Erick, aku, dan disusul oleh Aqila lalu Zifana duduk satu deretan. Aqila dan Zifana yang sibuk melihat design baju keluarga untuk acara ini. Sean yang tengah menjaga Lala di pangkuannya, sedangkan aku yang bingung harus apa memilih meletakkan kepala pada bahu Erick dan melihatnya bermain dengan benda elektronik tipis di tangannya. "Manasih, Nad, calon lo?" "Nggak tau. Ditelfonin nggak dijawab." Aldric memang belum datang sejak tadi. Janji bahwa ia akan datang sore hari dibatalkannya begitu saja. Tidak mengatakan alasan apapun padaku dan tiba-tiba memutuskan panggilan. Padahal, ini hari sabtu, dimana hari libur bagi pria itu. Tante Sela dan om Rano pun tidak mendapatkan kabar lebih selain Aldric yang berkata akan menyusul segera. Kuhela napas sambil menggerakkan jari untuk mengganggu permainan Erick. Tidak berminat sama sekali ikut serta untuk memberi pendapat tentang apa yang sedang dibahas. Hanya jika ditanya maka aku akan bersuara. Selain itu, keberadaan kami disini selain karena makan malam keluarga rutin, juga aku dan Aldric yang hendak berbicara dengan opa untuk meminta restunya. Walaupun opa tidak sadar, tapi setidaknya kami melakukan. "Maaf saya terlambat." Suara itu akhirnya terdengar. Membuatku melirik orangnya sekilas lalu kembali menatap permainan yang ternyata di pause oleh Erick. "Gila, kok lo pinter cari calon suami?" "Iyalah, gue!" balasku datar. "Akhirnya ya gue bisa liat calon lo langsung." "Waktu itukan sempet ikut makan malem bareng. Tapi lo lagi sok sibukkan makanya gabisa dateng. Lagian, waktu itu ditawarin fotonya sama Sean, lah elo nolak." "Ya biar makin penasaran aja." "Gajelas." "Kak Azka nih duduk disini aja, biar aku sama Zifa kesana. Daritadi liatin kak Nadine sama kak Erick mulu." Aku mengernyit bingung ketika Aqila bersuara. Sedangkan yang lainnya sibuk tertawa, termasuk si i***t Erick. Kulihat Aldric yang akhirnya berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelahku. Detik kemudian, uluran tangan Erick pada Aldric membuatku sedikit memundurkan badan. "Erick, sepupunya Nadine, anaknya bapak Arya sama ibuk Mei, kakaknya Zifana." ujarnya lengkap. "Azka." balas Aldric singkat sambil bersalaman sesaat. "Erick sama Azka belum kenal emangnya?" "Kan Erick sok sibuk, ma. Makan malem bulan pertama yang Aldric ikutan kan Erick nggak dateng karna kerjaan." Berikutnya kurasakan jentikan halus Erick di telapak tanganku. "Jadi ini pastinya WO yang pernah dipakai Fiko ya?" "Iya, yang kak Fiko aja." "Pakaiannya kamu design sendiri, Nad?" Aku menatap tante Mei sambil tersenyum lalu menggeleng. Aku memang ingin mendesign sendiri bajuku, terlebih karena ini pernikahanku. Tapi terdapat beberapa alasan yang membuatku tidak bisa melakukannya. "Terus gaun pre wedding formalnya?" "Belum, tante. Soalnya itu bagian temen Nadine yang di London. Dia yang semangat mau design sama realisasiin. Terus nanti dikirim kesini." "Siapa?" Aku menoleh pada Sean yang kini menatapku. "Apa?" "Temennya siapa? Si banci?" "HAH BANCI?" Kutatap Erick penuh kebencian setelah itu. "Tu mulut ya, enak aja main keluar." ujarku kesal. "Si Stephen, kan?" "Iya." "Beneran banci?" Baru ingin kembali membalas Erick, tante Mei lagi-lagi bersuara. "Jadi buat formal, selain gaun apalagi, Nad?" "Kebaya, kemeja resmi kombinasi rok span gitukan, sama batik, tante." "Informal?" "Macem-macem sih. Malah temen aku ngusulin buat takenya di Cakrawala pakai baju SMA." "Ini harus bener-bener dibuat dari sekarang bajunya. Baju yang kamu pake juga nggak sedikit, banyak acaranya. Terus juga baju seragamnya, emang harus bagi-bagi tugas biar cepet selesai terus maksimal." Aku mengangguk samar tanda setuju dengan ucapan tante Mei. Bersyukur karena saudara-saudaraku begitu semangat untuk membantu. "Iya, kemarin kita keluarga besar juga udah bahas pakaian." ucap tante Sela. "Terus tempat gimana? Azka kamu mama bilangin gedungnya buruan dicari, tadi pagi malah pergi nggak tau kemana terus baru muncul sekarang. Yaudah besokkan minggu, fokus kesini dulu." sambung tante Sela sambil menatap Aldric. "Iya." "Kalau lokasi pre wed gimana?" tanya tante Mei lagi. "Aku udah dapet, kalau formal kayaknya di studio aja, tapi kalau informal ya di luar kota." jawabku tenang. "Kapannya udah tau?" Kini tante Ine—mama Sean—yang bertanya. "Belom. Aldric sibuk. Ntar mau didiskusiin lagi sama fotografernya." "Yaudah, kamu sama Azka ke opa dulu sana." ucap mama memandangku. Kubalas dengan anggukan sembari berdiri lalu merapikan pakaianku, kemeja chiffon berwarna hitam dan bawahan rok selutut dengan warna senada menjadi pilihan mama untuk kukenakan malam ini. Kutinggalkan Aldric beberapa langkah di belakangku. Ketika sampai di depan kamar opa, perlahan aku membuka pintunya. Jantungku sontak seperti diremas kala melihat tubuh opa terbaring lemah tak berdaya ditemani banyak alat yang melekat. Hanya suara dari monitor detak jantung yang menandakan bahwa opa hingga kini tetap disini. Pelan aku berjalan mendekat ke arah opa dengan air mata yang sejak tadi ingin mendobrak keluar. Kutatap tangan tua milik opa sebelum akhirnya kugenggam. "Opa...." panggilku bergetar. "Opa nggak mau bangun? Banyak yang kangen sama opa, apalagi Nadine, opa. Dari Nadine pulang kesini, opa belum liat Nadine, kan? Nadine udah dewasa, opa. Opa harusnya liat Nadine. Liat Nadine yang sekarang, opa." Aku sukses menangis, tapi opa tetap bergeming. Usapan pelan dibahu kurasakan, membuatku ingat bahwa Aldric tentu berdiri di belakangku. "Nadine udah dewasa, opa. Nadine pikir udah waktunya buat hidup lebih serius sama orang pilihan Nadine. Opa nggak perlu khawatir, Nadine bakal hidup bahagia, opa, tanpa paksaan dari mama. Walaupun orang yang Nadine pilih suka batalin janji tiba-tiba, tapi Nadine tetep yakin sama dia, opa. Izinin Nadine buat jalanin kehidupan baru. Juga maaf kalau Nadine punya banyak salah sama opa. Maaf karna belum bisa jadi cucu yang baik buat opa dan selalu ngehindar tujuh tahun ini. Nadine minta maaf, opa." "Nad—" Aku berbalik cepat dan langsung memeluk Aldric dengan mengalungkan tangan di lehernya. Juga kusurukkan kepala ke lehernya dan menangis. Karena keingingan memeluk opa tidak dapat tersalurkan, membuatku harus mencari alternatif lain, yaitu Aldric. "Aku kangen suara opa, Al." ucapku terisak. Aldric diam, tidak lagi memanggil namaku dan sibuk mengelus punggungku untuk menenangkan. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan opa. Sosok tegas kepada anak cucunya, lembut ketika berinteraksi pada Lulu, aku merindukan itu semua. Terlebih kala wajah opa tersenyum pada oma. Aku melepaskan pelukan, membiarkan Aldric mengambil tempat di dekat opa. "Izinin saya buat jadi suaminya Nadine, opa. Saya nggak akan pernah ngecewain Nadine. Walaupun yang kayak Nadine bilang, saya suka batalin janji. Hari ini saya telat datang kesini. Karna saya harus ketemuan dulu sama orang yang buat cincin dan diskusi sama dia, biar nanti jari cucu opa makin keliatan cantik. Biar orang-orang juga tau, kalau cucu opa udah ada yang punya." Kugigit bibir karena merasa bodoh sudah berprasangka tidak baik pada Aldric, disaat seperti ini, pria ini tetap berhasil membuatku menahan senyum. "Saya cinta sama cucu, opa. Dan saya harap, opa mau kasih restu buat kita berdua." Air mataku lagi-lagi mengalir. Aldric berdiri dan menatapku sambil tersenyum tipis. "Seharusnya aku nggak bilang kalau aku abis ketemuan dan diskusi sama yang buat cincin kita. Tapi kayaknya kamu malah mikir yang enggak-enggak karna aku telat." "Al, maaf." "Nggak ada yang salah, kenapa minta maaf?" "Cuma—" Dan suara yang paling kuhindari selama ini terdengar, memotong ucapanku pada Aldric. Aldric yang menghadap padaku seketika menoleh, juga kaget dengan apa yang terjadi. Detik kemudian pria itu berlari menuju pintu. Sedangkan aku menatap nanar garis lurus di monitor. Kupandangi wajah opa dan duduk di tepi tempat tidur. Menangis di atas d**a opa yang diam. Tidak ada lagi detakan disana. Pikiranku kalut tiba-tiba, membayangkan jika aku terlambat sedikit saja untuk meminta restu pada opa. "Papa!" "Opa!" "Eyang uyut kenapa, bunda?!" Aku berdiri, membiarkan anak-anak opa mengambil tempat di sebelah opa. Aku mundur beberapa langkah dan berhenti karena menabrak seseorang. Erick. Pria itu membawaku dalam pelukannya. Sebentar berpelukan bersama Erick, kini berganti bersama Sean. Pikiranku berkecamuk karena fakta yang baru kusadari. Bahwa selama ini, kami semua sebagai cucu-cucu opa, tidak pernah benar-benar berada di sekeliling opa. Kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa bahwa opa membutuhkan kami. Dan malam ini, Tuhan mengambil opa disaat kami semua benar-benar terkumpul lengkap. Bahkan terdapat tambahan keluarga baru. Lagi, malam ini kuhabiskan waktu dengan menangis. Tbc...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN