[31]

2607 Kata
Jangan pernah mengambil keputusan disaat pikiranmu sedang keruh. Karna percayalah, kau akan menyesalinya. -tertanda, aku yang pernah melakukannya.- Nadine's POV "Gimana kepalanya?" Aldric bertanya ketika aku baru saja keluar dari pintu utama rumah opa. Tamu-tamu yang sejak tadi berada disini akhirnya satu persatu memilih pulang karena kegiatan telah usai. Aku berjalan mendekat pada Aldric dan berdiri tepat di sebelahnya. Mencoba tersenyum pada tamu yang menyapaku. Mataku menyisir sekitar dan menemukan Kiya sedang mengobrol santai bersama Sean. Senyum tipisku terbit begitu saja. Apapun yang mereka obrolkan, asal itu membuat mereka kian dekat. "Kamu laper?" tanya Aldric dan hanya kubalas dengan gelengan. Sejak sore, aku memilih menghabiskan waktu di kamar karena kepala yang tiba-tiba pusing. Mama marah padaku karena aku sibuk duduk di kursi taman bersama foto opa. Apalagi, aku sampai melupakan makan dan segala hal penting lainnya. Aku tau mama juga sedih, tapi tidak dapat melakukan hal lain selain berusaha tegar di depanku. Karena kepergian opa memang menamparku keras. Membuat ketakutanku terhadap satu hal kian membesar. Bagaimana keadaan keluarga besarku setelah ini? Apakah kegiatan rutin yang selama ini opa pertahankan akan tetap terlaksana dengan baik? "Kamu nggak boleh ninggalin makan. Nad, semuanya bakal baik-baik aja." Aku mengernyit menatap Aldric. Darimana dia tau bahwa keadaan akan tetap baik? "Tau darimana?" tanyaku sambil tertawa sinis. "Nad, keluarga besar kamu itu unik. Gak ada yang harus kamu takutin walaupun opa kamu udah pergi. Gak akan ada yang berubah." Air mataku lagi-lagi jatuh. Aku rindu opa. Jika saja diberi kesempatan, aku ingin untuk terakhir kalinya opa memanggil namaku. Yang selama ini selalu terputar dalam kepalaku, bahwa ketika aku menikah nanti, akan ada keajaiban yang membuat opa bangun. Walaupun hanya untuk satu menit, opa tetap akan melihat pernikahan itu terlaksana. Namun sepertinya takdir tidak ingin aku merasakan kebahagiaan yang terlalu sempurna. "Nad, besok mau liat gedungnya?" Jika sejak tadi aku begitu malas menjawab pertanyaan Aldric, berbeda dengan sekarang. Karena aku memang tidak tau harus menanggapi ajakan Aldric dengan kalimat seperti apa. "Besok aku sibuk. Banyak janji sama klien." dustaku. "Bukannya Reva bilang kalau buat sekarang jadwal kamu dikosongin dulu?" Aku memejamkan mata. Merasa bodoh karena kegiatan berbohongku gagal. Jika pria ini ingin tau, bahwa aku berniat untuk memundurkan semuanya. Mungkin memang terlihat berlebihan, namun kepergian opa benar-benar mempengaruhiku. "Nad, kamu nggak lagi punya niat lainkan?" Aku menggigit bibir, membuang muka agar Aldric tidak melihat ekspresiku. "Sayangnya, iya." jawabku pelan. "Nad, kamu-" "Maafin aku, Al." ucapku benar-benar merasa bersalah. "Tapi aku bener-bener butuh waktu." "Nadine, semuanya bakal baik-baik aja." "Mungkin iya bakalan baik-baik aja. Tapi aku tetep butuh waktu." "Sampai kapan?" "Kalau kamu nggak bisa nunggu, yaudah." "Yaudah apa? Kita selesai? Itu maksud kamu? Astaga, Nadine. Sampai pikiran kamu jernih, aku baru mau denger kamu ngomong lagi. Jangan ngomongin hal ini waktu pikiran kamu lagi kalut. Aku ambilin makanan dulu buat kamu." Pria itu berlalu, meninggalkanku yang sedang sibuk mengusap wajah. Kulangkahkan kaki masuk rumah, mengabaikan panggilan mama dan naik ke lantai dua. Masuk kembali ke kamar dan menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Kuambil foto opa, tanpa malu bersuara. "Wajarkan opa kalau Nadine bilang Nadine butuh waktu? Kenapa Aldric harus semarah itu?" Aku terus bercakap pada opa. Dan entah sudah berapa lama. Bahkan kepergian eyang, aku tidak merasa seterpukul ini. Kehilangan opa mengingatkanku pada saat Mrs. Anna juga pergi. Terasa berkali-kali lipat menyesakkan dan ada rasa tidak rela. Pintu kamar terbuka, kulihat Kiya masuk dengan ekspresi tak terbaca. "Bisa nggaksih Nad, buat sekali aja, lo nggak egois?" "Aldric cerita sama lo?" tanyaku tidak suka. "Gue yang maksa, mau apa lo?" bentak Kiya dan sukses membuatku mengalihkan pandangan karena takut menatap wajah Kiya. "Gue benci waktu lo harus acting sok kuat sendirian, Nadine! Lo selalu pengen pergi waktu ada masalah yang nggak bisa lo pikul sendiri. Terus abis itu, lo ngerasa jadi korban yang banyak dapetin luka. Lo nggak sendirian, Nad. Bukan cuma lo sebagai cucu yang ngerasa kehilangan. Ada Sean, Erick, Aqila, Zifana, kak Fiko. Kalau lo ngerasa bebannya seberat ini, apa kabar sama orang tua lo yang statusnya sebagai anak? Apa kabar sama om tante lo, hah?" "Ki, lo bisa keluar nggak sih?" "Gue nggak akan keluar dari sini sebelum gue bisa nyadarin lo dari pikiran konyol lo, Nad. Terus apa? Kalau Azka nggak mau nunggu, lo mau udahan gitu aja? Anak-anak banget dong lo! Kapan dewasanya, hah? Lo pikir opa lo seneng liat lo kayak gini? Lo liat nggaksih gimana keluarga kalian berdua semangat banget buat acara ini?" teriak Kiya benar-benar emosi. "Lo itu nggak sendirian, Nad. Apa susahnya sih nerima uluran tangan orang-orang?" tambahnya dengan suara lirih. "Lo itu cuma manusia, Nad. Lo, gue, siapapun. Kita butuh orang lain. Mau sampai kapansih lo acting sok kuat? Di depan orang lain, mungkin mereka bakalan ketipu. Tapi enggak di depan gue, Nadine." Aku menangis hebat. Dan ketika Kiya memelukku erat, perasaan aman itu benar-benar kurasakan. "Butuh waktu buat kalian bisa sampai disini, Nad. Jangan siksa diri lagi." ucap Kiya lembut. "Gue cuma takut, Ki. Gue takut keluarga besar gue nggak bakalan sama lagi." "Nad, dengan opa lo yang udah pergi, keluarga lo bakalan lebih kuat. Semuanya bakalan sadar kalau apa yang udah opa lo terapin selama ini, itu emang banyak banget maknanya. Opa lo punya peran besar dibalik semua karakter anak cucunya. Nggak ada yang pantes lo takutin, Nad." Kiya berhenti, melepaskan pelukan kami. "Besok, waktu lo bangun dari tidur lo, gue yakin, lo bakalan tetep ngerasain hal yang sama dari keluarga besar lo. Mereka bakalan semangat lagi buat ngurusin persiapan pernikahan lo sama Azka. Lupain apapun niat buruk lo tadi." Kudengar helaan napas panjang dari Kiya sebelum dia kembali bersuara. "Mau gue panggilin Satria? Dia di depan kok." "Gue udah selesai jadi pasiennya Satria, Ki." jawabku pelan dan kudapati Kiya tersenyum lalu tertawa. "Yaiyalah, orang udah bahagia. Ya, kan?" Aku menghela napas, semua perkataan Kiya seperti jaring yang menangkap segala sesak di dadaku. Perempuan itu tersenyum lembut. Setelah mengusirku untuk mencuci muka, Kiya memilih keluar. Kuikat rambut membuat cepolan tinggi di pertengahan kepala. Kubasuh wajah dan membiarkan dinginnya air meresapi kulitku. Sepertinya lupa mandi beberapa hari membuat pikiranku tertutup. Ya Tuhan, bagaimana jika tadi Aldric mengiyakan ucapanku? Kuputuskan untuk mandi dan menyegarkan kembali badan. Tenagaku seperti kembali ketika air menyentuh tiap titik badanku tanpa terkecuali. Wangi aroma sabun membantuku relaks. Setelah memikirkan kata-kata untuk meminta maaf pada Aldric, aku memutuskan untuk menyudahi kegiatanku. Kuambil handuk dan segera menutup tubuh. Baru saja melangkahkan satu kaki untuk masuk kembali ke kamar, seseorang yang tengah duduk di kursi dorong membuat napasku tertahan. Terlebih ketika ia-Aldric-mendongak dari ponselnya dan menatapku. Ini tidak baik. Baru ingin bersuara, Aldric sudah mendahuluiku. "Aku keluar dulu." Menghilangnya Aldric di balik pintu dan juga tanda bahwa pintu sudah tertutup rapat membuatku menghembuskan napas lega. Sialan, jantungku menggila. Aku bergerak cepat menuju pintu dan segera menguncinya. Cepat kuambil asal pakaian dari lemari, piyama daster bergambar minion yang pasti milik Aqila. Piyama lama miliknya yang sudah tidak terpakai, tapi setidaknya masih terlihat lebih besar. Karena pakaian lama milikku yang kebanyakan kaus oblong tentu saja sudah tidak pas bila dikenakan. Seharusnya aku tidak tidur di kamar ini. Karena di kamar utama lantai dua-dimana bajuku yang sebenarnya berada-pasti ramai penghuninya. Lagi-lagi kurasakan panas di pipi. Kutepuk pipiku berulang kali dan berusaha melepaskan kejadian tadi dari kepalaku. Bayangan wajah Aldric yang juga tampak kaget membuatku malu sendiri. Pasti Kiya yang meminta pria itu masuk karena menurutnya aku hanya akan cuci muka, bukan mandi. Setelah merasa lebih baik, aku berjalan menuju pintu, hendak keluar. Tapi ketika mataku menangkap sepiring makanan dan segelas air putih di atas nakas, langkahku serta arahnya berubah. Pria ini benar-benar sabar terhadapku. Kupegang nampan kayu tersebut, memutuskan untuk makan di luar. Perlahan, kuputar anak kunci dan kemudian berjalan meninggalkan kamar. Menuruni anak tangga dengan hati-hati. Dari sini, dapat kulihat Aldric yang sedang duduk di sofa berkumpul bersama yang lainnya tengah fokus menatap televisi. "Rick, minggir dong!" ucapku berdiri tepat di depan mereka. Membuat pandangan mereka pada televisi terganggu. Erick yang memang duduk di samping Aldric akhirnya mengalah tanpa suara. Aku dengan cepat mendaratkan tubuh di sebelah Aldric, juga Zifana. "Kamu udah makan?" tanyaku pelan dan berusaha untuk tidak mengacuhkan deguban jantungku yang menggila. "Udah. Yaudah kamu makan aja dulu." "Emang abis makan mau ngapain?" "Kamu nggak lupakan? Ada yang harus kita omongin, Nad." Dan dalam diam, sambil memperhatikan layar televisi, aku makan dengan tenang. Tiap suapan yang berhasil kutelan membuatku kian takut terhadap Aldric. Kuakui kebodohan dan sikapku yang berlebihan tadi. Sungguh, aku menyesal. Sepuluh menit, makanku selesai. Aku berjalan menuju dapur dan meletakkan piring serta gelas kotor. Aku kembali ke ruang keluarga dan mendapati Aldric juga berdiri. "Lo berdua mau keluar? Martabak dong." ucap Sean dengan hanya menoleh sekilas. Aldric mengangguk, sedangkan aku mengernyit."Yaudah mau berapa?" tawar Aldric. "Wih beneran?" Erick yang awalnya hanya tertawa kini bersuara. Lalu mereka semua, menyebutkan bermacam-macam rasa yang mereka inginkan. Demi Tuhan, aku hanya akan menyuruh Aldric membeli satu rasa. Mereka semua gila, sakit jiwa. "Udah minta, banyak maunya pula." gerutuku pada mereka. "Nggak apa-apa. Kan lu berdua jadi lama ngobrolnya. Damai ya, nggak baik berantem." "Apaansih, Yan." Yang kubentak hanya tertawa tidak peduli diikuti Kiya. Aldric meraih jemariku, menarikku perlahan untuk mengikuti langkahnya. *** Aku duduk diam di dalam mobil dan membiarkan Aldric pergi memesan martabak. Tidak lama, Aldric kembali masuk. Aku pikir pria ini akan langsung mengatakan maksudnya, tapi tidak, dia tidak melakukannya melainkan diam. "Al, ngomong dong." "Ngomong apa?" Kugigit bibir karena cara bicara Aldric tidak seperti biasanya. Kalian pernah mencari masalah dengan orang sabar? Pernah merasakan amarah orang sabar? Itulah yang sekarang terjadi padaku. Tapi Aldric tidak meledakkan emosinya. Entah karena posisiku sebagai wanita yang mungkin membuatnya harus menahan emosinya mati-matian. Jika aku pria, mungkin aku sudah mati sekarang. "Aku minta maaf." Pikiranku seketika kacau. Semua kalimat yang sudah kususun baik selama di kamar mandi seperti hilang tak berbekas. "aku minta maaf, Al. Aku egois, aku cuma mikirin diri aku sendiri. Aku nyesel ngomong kayak tadi." "Nad," Jantungku berdetak cepat kala Aldric bersuara. "kalau tadi aku ngeiyain kata-kata kamu, gimana?" Ya Tuhan, pria ini benar-benar marah. "Nggak mau." jawabku pelan sambil menunduk karena malu. "Kalau kita emang mundurin pernikahan ini, gimana?" "Al...." "Kalau misalnya aku ngeiyain mau kamu buat mundurin acara ini, terus ternyata kamu belum puas-" "Maksud kamu?" "Siapa yang bakalan tau kalau misalnya kamu malah mau batalin semuanya?" "Enggak. Nggak mau." "Aku nggak pernah anggep ini mainan, Nad. Aku serius sama kamu. Aku siapin diri aku sendiri buat nerima semua hal di depan nanti. Aku yakin aku bisa lewatin semuanya, karna ada kamu. Karna aku tau kamu bakalan terus pegang tangan aku. Tapi waktu tau kalau kamu mau lepasin semuanya gitu aja, aku gak tau harus apa." Tangisku sudah pecah sejak tadi. Dengan cepat aku mengalungkan tangan di lehernya dan memeluk erat tubuh Aldric. Belum kurasakan apapun, Aldric tidak membalas pelukanku. Ya Tuhan. "Al, iya aku anak-anak. Maafin aku. Aku bodoh karna ngomong kayak gitu. Aku cuma takut sama keadaan keluarga besarku ke depannya. Aku takut ganggu mereka sama urusan pribadi aku padahal opa baru aja pergi. Aku takut nyusahin mereka. Makanya aku mikir bakalan baik kalau semuanya dimundurin dulu. Al, aku mau kamu. Maafin aku. Jangan marah lagi. Aku sayang kamu, Aldric." Dan ketika Aldric membelai lembut rambutku, lalu mencium bahuku, aku tau bahwa aku tidak perlu lagi jawaban pria ini. Tangisku perlahan reda, namun rasanya masih enggan jika harus menjauhkan diri dari Aldric. Aku hanya ingin tidur disini. "Kamu nggak capek kayak gini? Nanti badan kamu sakit semua." "Enggak. Maunya kayak gini." "Mama sama tante kamu bilang kalau besok jadwal ketemu sama WOnya. Mau ketemu dimana?" "Nggak tau. Kamu maunya dimana?" "Butik kamu?" "Boleh. Yaudah di butik aja." "Lepas dulu ya? Aku ambil martabak dulu." "Ikut." ucapku ketika aku melepaskan diri dari pelukan Aldric. Baru ingin keluar, aku kembali menutup pintu mobil. Membuat Aldric yang sudah keluar lebih dulu kembali membuka pintu mobil dan menatapku bingung. "Kenapa?" "Nggak jadi deh. Malu sama Minionnya." jawabku pasrah sambil menatap apa yang aku kenakan. Kudengar tawa Aldric sebelum pria itu menutup lagi pintu mobil. Lalu tanganku beralih pada radio, sibuk mencari siaran bagus. Sesekali kuhela napas lega, dan berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi bertindak bodoh. *** "Itu tangannya coba dipindahin dulu ke pinggang. Nah! Nah gitu!" Aku memegang pinggang Aldric sambil mencoba tersenyum. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, dan itu sedikit membuatku malu. Setelah tiga bulan terlewati, akhirnya kami dapat melaksanakan foto pre wedding pertama. Stephen disana, tengah tersenyum bangga melihatku mengenakan gaun terbaik rancangannya. Kabar yang aku terima bahwa ada seseorang yang menawari Stephen harga mahal untuk gaun ini. Tapi pria tanpa rambut tersebut menolaknya, dan mengatakan bahwa ini special untukku. Romantis, bukan? Hal pertama yang terjadi ketika Stephen tiba di Indonesia benar-benar diluar dugaanku. Dia banyak memuji orang-orang yang dia lihat. Meneriakkan 'hi' atau 'hallo' pada siapapun yang melihatnya. Terlebih, dia menyukai cuaca panas disini. Membuatnya mempunyai niat untuk naked kemanapun ia pergi. Untuk hal ini tentu saja aku langsung memberi ceramah panjang lebar pada Stephen. Tidak hanya itu, Aldric yang sepertinya menaruh rasa cemburu pada Stephen membuatku harus kuat menahan tawa. "He's a gay." ujarku tenang pada Aldric. "Yeah, she's right. Don't worry 'bout that. Cuz, I hate Nedin Seva." sahut Step juga enteng dengan aksennya, dan aku harus sabar ketika Step sering kali seenaknya memanggil namaku. Padahal, pria ini dapat menyebutkannya dengan sempurna. Setelah dilatih lama olehku tentu saja. "See?" aku tersenyum lembut pada Aldric yang memilih membuang muka. "Nah, bagus!" teriakan itu membuatku langsung tersadar dari lamunan singkatku. "Yang selanjutnya, Nadine ketawa, terus Azka senyum liatin. Kalian ngobrol aja nggak apa-apa. Anggep disini cuma kalian berdua." Arahan-arahan tersebut terus saja bermunculan. Ketika aku dengan gaun, ada beberapa ekspresi bahagia luar biasa yang harus diperlihatkan. Sisi frontal bagaimana aku menanggapi keadaan sekarang.  Tapi berbeda dengan kebaya juga batik, aku diminta bersikap lemah lembut. Seperti wanita kalem pada umumnya, mempunyai sifat tertutup terhadap dunia. Aku bahagia, tapi kebahagiaan tersebut cukup ditunjukkan dengan senyuman. Dan menurutku, hal ini tidak terlalu sulit untukku. Sudah sangat lama sepertinya. Bahkan aku sendiri sudah sangat lelah. Dan besok, kami harus segera pergi ke luar kota untuk sesi pre wedding informal. Awalnya kupikir persiapan seperti ini tidak akan membuatku kelelahan karena banyaknya orang yang membantu. Tapi tidak, aku salah. Rasa-rasanya aku ingin tidur sepanjang hari dan ketika terbangun, persiapan tersebut selesai. "Capek ya?" Aku menatap Aldric yang sudah berganti pakaian dengan celana santai dan kaus hitam. Sedangkan aku masih sibuk membersihkan wajah dari sisa make up. "Ada minum nggak?" tanyaku padanya. Membuat Aldric dengan cepat menatap sekeliling dan menemukan sebotol air mineral yang masih disegel. Aku menerima botol tersebut dan dengan segera meneguk isinya. "Abis ini makan dulu mau?" "Ngantuk. Di rumah aja makannya." "Kalau di rumah kamu nggak bakalan makan. Pasti langsung tidur. Kita makan dulu." Aku tidak melawan lagi, karena tenagaku sudah habis. Selang lima belas menit, semuanya selesai. Dengan kaus oblong hitam dan jeans putih, aku berjalan cepat menuju mobil Aldric. Hanya kami berdua. Karena Stephen sudah menghilang entah kemana. Katanya, dia ingin mengenal Jakarta lebih dalam. Tidak ingin mendengarkan kalimat panjangnya, aku langsung meminta pria itu pergi. "Mau makan dimana?" "Di rumah." jawabku tenang dan ternyata sukses membuat Aldric menghela napas. Keadaan hening, dan tentu saja sangat mudah bagiku untuk tertidur. *** "Nad, bangun." Aku mengerang ketika ada yang memanggil. Kubuka mata dan melihat samar tempat makan yang dulu juga pernah aku datangi. Setelah dipaksa beberapa kali oleh Aldric, akhirnya aku keluar dari mobil. Dalam genggamannya, Aldric membawaku. Kutunggu Aldric yang menyebutkan pesanan, hingga akhirnya kami mencari tempat untuk duduk. "Nad! Al!" Kesadaranku seperti dikembalikan paksa. Membuatku menoleh cepat pada suara yang amat kukenali. Dan untuk kedua kalinya, aku harus makan dengan tambahan dua pria ini. Razza dan Satria, kenapa kami selalu bertemu di tempat ini? Tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN