[32]

2316 Kata
Ketika pujian itu keluar dari mulutmu, bagaikan kandang kupu-kupu, perutku penuh. Sudahlah, jangan menggoda, pipiku rasanya lelah karena panas. -tertanda, aku yang sedang bahagia.- Nadine's POV "Nad! Al!" Aku menatap Satria juga Razza dengan saliva yang sulit ditelan. Seharusnya aku lebih memaksa Aldric untuk makan di rumah jika situasi yang dihadapi malah seperti ini. Genggaman Aldric kulepas, berganti dengan kupeluk lengannya. Mengikuti langkah Aldric menuju meja kedua pria tersebut. Aku tersenyum tipis pada Satria juga Razza sambil duduk. Jujur saja, aku sudah jarang bertemu mereka. Aku juga tidak bertanya apapun pada Kiya mengenai mereka, karena memang bukan urusanku. Walaupun Satria sesekali mengirim pesan dan bertanya bagaimana keadaanku. Aku memilih menyelesaikan semua urusanku bersama Satria tepat di hari Aldric melamarku. Siang itu, aku memilih menceritakan segalanya sebagai kali terakhir agar Satria dapat menilai keadaanku. Pria itu takut bahwa aku akan mengalami trauma akibat kejadian terakhir yang menimpaku. Sedikit rasa takut tentu ada, tapi menurutku, aku tidak trauma. Mungkin itul makna dari semua yang Satria katakan, bahwa segala yang terjadi padaku, akan membuatku lebih kuat. Amira berhasil membuatku kuat. Dan aku berniat membesuk perempuan itu untuk mengucapkan terima kasih. Setelah itu, akan kututup rapat-rapat segala yang berhubungan dengan Amira. Razza sendiripun tidak jauh berbeda. Tidak lama aku pulang berlibur, aku pergi ke rumah sakit untuk menemui Kiya. Namun ternyata pria itu datang tanpa peringatan. Menjulurkan tangannya dan mengatakan selamat untukku. Pria-pria ini tetap malaikat. Dan aku iblis jahat yang memiliki keberuntungan karena ditawari cinta segitu banyak oleh mereka. Namun kembali ke awal, segalanya tidak bisa kupaksa. Karena memang begitu bukan segala aturannya? Akan ada yang bahagia, dan ada yang tersakiti. Penghancur dan dihancur, ungkapan kasarnya menurutku. "Abis darimana?" Razza bersuara, sambil asik dengan makanannya. "Jalan," balas Aldric santai. Kuhela napas sembari berpikir tentang Aldric. Mungkin aku harus bertanya padanya nanti. "Persiapan nikah kalian berdua gimana?" Kini aku menatap pada Satria. "Sekitar 40 persen." "Oh iya—" ucapan Satria terputus karena nasi goreng pesananku dan Aldric tiba, "—aku lupa bilang ke kamu, Nad. Papa minta aku nyampein ucapan selametnya. Terus, kamu mau hadiah apa? Papa mau jadiin hadiah nikahan." Aku tersenyum. "Bilangin papa kamu, makasih ya. Hadiahnya kapan-kapan aja." "Terus anak-anak pada gimana, Ka, kabarnya? Gue udah lama banget gak ketemu. Akhir bulan ada bola, bukan?" "Baik. Iya ada, soalnya Aksa udah ngebahas gituan." Akhirnya aku memilih diam, membiarkan ketiga pria ini sibuk membahas bola. Maksudku, kenapa mereka bisa berbicara begitu semangat hanya karena bola yang ditendang kesana kemari? Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, dimana bagian menarik dari bola? * * * "Al." Aku yang sejak tadi sibuk berkutat dengan pikiranku akhirnya bersuara. Aldric yang tengah serius menatap jalanan di depan menoleh padaku. "Kenapa?" "Gini lho.... Kok kamu bisa se'hangat' itu sama Razza terus Satria? Maksud aku, kamu jelas-jelas tau sama mereka berduakan? Gimana mereka ke aku, ya, intinya, kamu nggak cemburu?" Kugigit bibir karena malu dengan pertanyaanku, dan kulihat Aldric tersenyum. "Kalau sama mereka kamu bisa kayak gitu, kenapa kalau sama Erick atau Stephen kamu nggak bisa? Aneh aja menurut aku...." "Siapa bilang aku nggak cemburu, Nad?" Aku terdiam, berharap agar Aldric melanjutkan kalimatnya. "Tapi seenggaknya mereka nggak bakal berani deketin kamu, Nad. Dan aku bener-bener ngehargain itu. Beda kalau Stephen atau Erick, mereka punya kesempatan buat meluk kamu tanpa harus ngerasa canggung." Jadi itu? "Aku nggak rela. Dan kalau kamu mau tau, aku juga cemburu sama Sean kalau kalian sengaja atau enggak buat kontak fisik." Astaga.... "Al, tapikan—" "Nggak perlu dibahas. Kamu tidur aja." "Sean tau?" tanyaku pelan. "He does." balas Aldric tenang dengan tetap menatap jalanan. Ya Tuhan, aku benar-benar baru mengetahui satu fakta ini. Selain mudah membuatku tersenyum, pria ini juga mampu membuatku terkejut. Aku memilih membuang pandangan pada kaca samping. Tidak ingin lagi membahas hal seperti ini. Aldric sendiri juga diam, efek kelelahan mungkin saja. Lima belas menit yang terasa sangat lama untukku. Akhirnya mobil Aldric berhenti di depan pagar rumah. Ketika hendak keluar, pria itu menatapku, membuatku balas menatapnya penuh tanya. Dan tanpa peringatan, Aldric mengecup singkat sudut bibirku. Membuatku harus dapat menerima debaran jantung yang menggila. Pria ini memang penuh kejutan. "Good night, sayang," ucap Aldric pelan dan aku sukses tersenyum. "Langsung istirahat buat besok." "Iya. Night, Al." Balasku lalu keluar dari mobil. * * * "Nadine!" suara Kiya membuatku tersentak dari lamunan. Wajah perempuan itu persis harimau sekarang. "Ayo dong! Gue udah luangin waktu nih masa lo malah ogah-ogahan gitu sih." "Capek banget badan gue, Ki. Ini aja tidurnya kalau sempet. Besok aja ya?" "Heh gila enak aja ubah-ubah jadwal. Gabisa. Buruan, Nad. Lo kalau gini gue kasih tau Azka ya kerjaan lo seminggu terakhir. Nggak ada tau pengantin badannya lemes, mata panda, kayak dipaksa nikah lo." "Heh enak aja!" sewotku langsung. Dua minggu sejak kepulanganku dari luar kota bersama Aldric, serta Aqila yang ikut menemani. Tapi fokusku malah terpecah karena urusan butik yang tidak bisa aku diamkan begitu saja. Sedikit ada kendala, membuatku harus rela bergadang dan berkutat dengan layar semalaman dalam seminggu terakhir ini. Aldric sendiri tidak tau apa yang tengah aku lewati. Selagi pria itu juga sibuk, maka aku akan punya banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Setiap pria itu menghubungi, dengan sangat terpaksa aku harus berbohong. Karena Aldric pasti akan marah mengetahui kehidupanku yang berubah tidak teratur beberapa hari terakhir. "Nad gue nggak mau tau kita harus ke salon sekarang! Liat tu kulit lo keluar cacingnya ewh! Liat deh, ih, apaantu yang gerak-gerak di mulut lo?" "Heh gila, lo kata muka gue tanah. Lagian juga yang di mulut gue itu lidah, bego. Makanya bisa gerak-gerak." "Yaudah sih, pokoknya kita ke salon sekarang! Lo butuh rambut baru, Nad." Aku mendelik ketika Kiya dengan sesuka hatinya mengambil tasku. Lalu dengan sisi samson miliknya, Kiya mulai menarikku keluar ruangan. "Lo itu besok lanjut pre-wed, kan? Dan gue bener-bener ogah liat muka lo difoto kalo bentukannya begini." "Gue cantik, woi!" "Kuda laut! Cantikan guelah kemana-mana." "Nggak ya, enak aja." "Fans gue dimana-mana," balas Kiya lagi. "Lo nggak tau aja sebanyak apa manusia yang kepengen foto bareng gue. Rela bayar mahal-mahal pula." "Asal lo tau ya, semua dokter ganteng di rumah sakit, itu pada ngejar-ngejar gue." "Ya gila. Rabun kali tu dokter-dokter." "Enggak, ya Nabi." "Kiya, mau gue di salon apa enggak, bentukan gue emang gini, selalu cantik. Ok?" "Dan begonya lo nggak sadar kalau udah ada di dalem mobil. t***l banget, sih?!" Kepalaku reflek melihat sekitar. Sialan. Kenapa aku tidak sadar bahwa siluman ini telah berhasil memasukkanku ke mobilnya. "Ah, gue nggak sabar liat lo rambut baru." "ENGGAK!" teriakku membalas. Selama perjalanan menuju MAL, aku dan Kiya sibuk berdebat. Setelah memarkirkan mobil, kami keluar dan berjalan masuk MAL. Perdebatan kami tetap berlanjut, membuat beberapa orang menatap bingung. "Udah ah malu diliatin orang-orang." "Nggak ada jiwa-jiwa artistnya lo," hardiknya padaku. "Heh, kalau diliatin orang-orang karna gue buat yang bener, nggak apa-apa. Lah ini diliatin cuma karna debat sama lo. Nggak penting bangetkan?" "Diem!" Aku mengernyit ketika Kiya meletakkan telunjuk di bibirnya. Lalu tersentak saat tanganku ditarik paksa untuk ikut masuk ke dalam toko pakaian. Kiya siluman! Entah sudah berapa lama, dan juga berapa kali Kiya mengajakku keluar masuk toko. Membeli pakaian, sepatu dan sandal, dalaman, bahkan tas, perempuan itu memaksaku membelinya. Bukan maksudku bersikap berbeda dari wanita lainnya, hanya saja, aku lebih suka berbelanja dengan tenang dan dalam keadaan damai. Membuatku bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan kemana benda tersebut akan kugunakan. "Yang harus lo tau, lo itu harus beli semua barang yang buat lo jatuh hati. Fungsinya belakangan, Nad. Daripada ntar lo nyesel?" "Nggak," balasku datar. "Susah banget sih dibilangin." Terakhir, kami memilih masuk salon. Kiya memaksaku untuk mengubah bentuk rambut belah tengahku menjadi berponi. Katanya, karena nanti aku akan berfoto ala anak SMA. "Lo lucu tau ponian." "Nggak ih." "Coba dulu." "Ntar panjangnya lama." "Enggak kok. Lagian sampe hari-hari penting nanti, pasti udah panjang." "Nggak ah, nggak mau. Gue dulu udah pernah ponian waktu di London, nggak betah." "Udah ih ikutin aja," paksa Kiya. "Mbak, dibantu ya dianya. Masih awal soalnya, dia nggak pernah mijak salon." "Gila! Bulan ini udah tiga kali masuk ini gue ke salon." "Nemenin Aqila, kan?" "Enggak. Sendirian gue." "Kasian. Udah mau nikah tapi sendirian." "Orang Aldric mau nemenin gue tolak. Ngapain amat gue ajakin calon gue kesini? Gue enak-enakan dipijet dia diem doang." "Ringan bener tu mulut nyebut calon." "Iya dong!" "Bodo deh. Mbak, dibuat ponian ya." Aku hanya dapat menghela napas. Mungkin benar, menjelang hari-hari penting, poniku pasti akan kembali. Tanpa mempedulikan pekerja yang mengurus rambut kami, Kiya terus saja memancingku. Kadang kutanggapi dengan diam, lalu dibalas Kiya dengan melempar sisir padaku. Tapi dibalik semua rasa kesalku ketika menanggapi ucapan perempuan ini, aku selalu bersyukur. Bersyukur karena setidaknya aku dapat berbicara banyak, lepas, tanpa harus mengenakan topeng. Ya, hanya pada perempuan ini. Yang tidak hanya kuanggap sahabat, tapi sudah sebagai saudara. Tidak tau berapa lama kami menghabiskan waktu, hingga semuanya selesai. Poni panjangku sudah berubah. Rambutku yang panjang menyentuh punggung juga ikut dipotong sedikit melebihi bahu. Sayang memang. Tapi kata Kiya, foto kali ini hanya dilakukan sekali. "Lucu ih, kayak anak-anak," teriak Kiya terdengar gemas. "Ntar Aldric kaget nggak ya?" "Kalau kata gue sih iya." "Tuhkan! Ih gila, gue malu ketemu dia," ucapku histeris. "Kayak punya malu aja," ujar Kiya datar tak peduli dan kuhadiahkan pukulan di lengannya. Kemudian sama-sama meninggalkan salon. "Eh, Nad, gue mesti balik ke RS nih." "Yah gue balik sendirian dong?" "Nggak. Itu udah ada yang jemput lo." Aku mengikuti arah pandang Kiya dan seketika membuang muka. Merengek pada Kiya yang kini sibuk tertawa. "Apaansih jijik pake malu-malu calon lo, Ka." Kudengar Aldric ikut tertawa. Dan aku sontak kaget ketika sesuatu meraih tanganku. Aku menoleh sambil mencebik, malu. "Udah selesaikan?" Aldric bertanya lembut. "Udah kok. Tu lo liat aja ngeborong sebanyak itu. Yaudah deh, gue duluan ya. Biasalah, sibuk." Kiya mengacak poniku sebelum akhirnya dia berjalan menjauh. "Enyah lo!" teriakku geram pada Kiya, tidak mengacuhkan orang-orang yang menatapku penasaran. "Kenapa? Kamu lucu kok. Aku gemes." "Apaansih? Nggak ih." Aku membalas dongkol, lalu berjalan lebih dulu. "Beneran." "Udah ah mau pulang. Capek." "Besok jadi anak SMA ya?" Aku hanya dapat memberikan wajah lelah pada Aldric. Walau di samping itu, aku bahagia karena pujiannya terhadap rambutku. Jangan meniru sifatku, munafik itu tidak baik. * * * Aku menerima tisu yang disodorkan oleh Gendis, perempuan yang merias penampilanku, terlebih rambut. Entah sudah berapa kali gambar diambil dan akhirnya aku dapat beristirahat sejenak. Sedikit canggung rasanya memakai kembali seragam SMA. Tidak hanya seragam putih abu-abu. Seragam yang lainnya juga harus dikenakan. Membuatku merasa bahwa ini bukan lagi pre wedding, tapi seperti berfoto untuk album angkatan. Kuhela napas sambil berjalan mendekati Fandra, sang fotografer. Ingin melihat kembali hasilnya. Dan fokusku seperti tertarik pada satu foto yang menurutku luar biasa. Ini akan menjadi foto favoritku. "Ih lucu," teriakan Kiya membuatku tersentak. Ya, memang foto ini terlihat lucu. Dalam pakaian olahraga Cakrawala, ditengah lapangan basket, ketika aku berhasil merebut bola dari tangan Aldric. Tawaku benar-benar alami disana. "Post bisa kali?" "Post gimana?" tanyaku menoleh. "Iya, dimasukin ke i********: paling enggak. Sayang ih lucu. Gue aja gemes parah liat muka bahagia lo berdua." "Gue post deh." "Gitu dong!" "Ndra," panggilku pada Fandra yang tengah berbicara bersama Aldric. "Foto yang ini dikirimin ke gue dulu dong." "Mau diapain, Nad?" tanya Aldric tampak penasaran. "Mau aku post." Aldric seketika tersenyum. "Kamu udah minum?" Aku mengangguk cepat. "Udah." Saat sedang menunggu foto dikirim, aku memilih melihat foto-foto lain. Terdapat foto dimana kami meniru kejadian sepuluh tahun lalu. Ketika Aldric merampas ponselku dan setelah itu menjulurkan tangan untuk mengajakku kenalan. Ya Tuhan, kenapa aku gemas sendiri? "Selesai, Nad," ucap Fandra setelah itu kuucapkan terima kasih. Tanganku bergerak cepat pada layar ponsel. Dan setelah cukup yakin, kutekan bagian share pada pojok atas. Hingga, selesai. Couldn't help the happy face. Not only to the basketball, but also to the guy in it Aku membaca ulang caption pada foto, dan senyumku muncul begitu saja. "Ya Allah, mau muntah," teriak Kiya dan sukses kuhadiahi delikan sebal. "Gue kapan ya begini?" "Kapan-kapan," jawabku datar. "Ka," panggil Kiya pada Aldric. "Nadine gue bunuh boleh ya?" "Enak aja calon bini gue mau lu bunuh." "Kadal air lu berdua," desis Kiya makin sebal. Aku lagi-lagi tertawa. Kuabaikan Kiya sembari melihat banyaknya likes dan komentar yang masuk. Memilih untuk mendiami semua komentar tersebut, kumatikan ponsel. Melanjutkan kegiatan karena sepertinya istirahat telah selesai. * * * Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Hingga hari yang selama ini membuatku panas dingin datang juga. Dan aku tidak bisa mengontrol degub jantung yang menggila. Keadaan rumahku juga sudah berubah. Sanak saudara papa yang berada di Yogyakarta, saudara lainnya yang menetap di Bandung, dan entah dari mana lagi, sudah tiba di Jakarta jauh hari. Aku duduk di dalam kamar sambil memperhatikan layar televisi yang menampilkan suasana sakral di luar kamar. Aldric benar-benar terlihat sempurna dalam balutan pakaian adat berwarna putih. Terlebih karena pria itu memakai belangkon. Pernah kukatakan bahwa aku menyukai Aldric dengan belangkon? Aku tentu saja tidak dapat menebak apa isi kepala Aldric sekarang. Disaat seperti ini, sepertinya sangat sulit untuk hanya sekedar menebak ekspresi seseorang. Aku kembali mengingat rangkaian acara yang sejak beberapa hari lalu terus diadakan. Dan detik-detik ini membuatku sadar, bahwa semuanya sebentar lagi akan berubah. Benar-benar berubah karena aku bukan lagi perempuan bebas yang bisa bepergian kemanapun aku ingin. Ada tanggung jawab besar yang harus aku terima setelah kata 'sah' diucapkan. Deg! Deg! Deg! Papa yang duduk di depan Aldric mulai bersalaman. Kurapalkan doa dalam diam. Kuperhatikan wajah pria itu. Pria yang sebentar lagi resmi menjadi suamiku. Ya, suamiku. "Ananda Azka Aldric bin Teuku Rano, saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda dengan anak kandung saya yang bernama, Nadine Sava Fredella binti Pratyo, dengan mahar berupa seperangkat alat salat dan uang tunai tujuh juta, sepuluh ribu, dua puluh lima rupiah, yang dibayar tunai." Napasku seketika tertahan. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadine Sava Fredella binti Pratyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dan ketika kata 'sah' menggema masuk ke dalam telingaku, satu pikiran tiba-tiba menancap dalam kepalaku. Bahwa aku kini, adalah seorang istri. Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN