Untuk: opa, oma, dan kedua eyang.
Terima kasih, untuk segala nasihat yang kalian beri.
Terima kasih, untuk semangat agar aku tidak mudah menyerah pada keadaan.
Terima kasih, untuk mengajarkan aku bahwa memberi dan meminta maaf adalah hal yang mulia.
Restui aku dan pria di sampingku, izinkan kami menjalani bagian rumah tangga kami.
-tertanda, cucu kalian.
Nadine's POV
Aku berjalan didampingi dua wanita—yang merupakan bagian dari keluarga—di kiri dan kananku. Menuruni anak tangga pelan-pelan. Dalam balutan kebaya putih yang benar-benar terlihat elegan, rok batik sebagai bawahan yang menjadi pelengkap busana akad nikahku hari ini.
Semburat senyum muncul di wajahku karena terdapat perasaan malu. Flash kamera terus saja kurasakan saat langkah demi langkah kuambil. Dan ketika memijak anak tangga terakhir, jantungku kian gila, aku diiring untuk duduk di kursi sebelah Aldric.
Perlahan, akhirnya aku memberanikan diri menatap Aldric yang sedang tersenyum menatapku. Rasa takut awalnya memenuhi kepalaku, takut dengan penilaian orang-orang. Walaupun tidak dapat kusangkal pula, bahwa riasan Paes Ageng benar-benar luar biasa. Perias tersebut berhasil membuatku indah. Jika saja eyang versi muda berada disini, aku yakin eyang akan meloncat bahagia karena melihat tampilanku sekarang.
Saat aku kian dekat, Aldric ikut berdiri. Dan musik khas serta suara lembut keibuan milik MC yang memintaku mencium tangan Aldric menambah kesakralan suasana. Setelah itu, aku dibantu duduk pelan di kursi sebelah Aldric. Mataku tak lupa menyisir pandangan ke sekeliling. Menatap para tamu yang kebanyakan tengah mengarahkan ponsel mereka pada kami.
Setelah Aldric membacakan sesuatu perihal perjanjian dan aturan, serta penandatanganan surat-surat resmi, kami akhirnya berdiri untuk pemasangan cincin. Jari manis di tangan kananku seperti siap menerima cincin yang dipasangkan perlahan oleh Aldric, dan begitupun sebaliknya.
"Tangan kamu dingin," ucapku pelan. Yakin bahwa hanya Aldric yang mendengar.
"Karna kamu," balasnya tersenyum.
Prosesi terus berlanjut. Sedikit banyak teman-teman SMA-ku hadir, ikut menyumbangkan doa mereka. Kiya sendiri juga tampak sibuk tertawa bersama teman-teman yang lain. Lalu Reva yang sepertinya tampak mudah berbaur dengan orang-orang.
"Itu liat deh si Stephen," bisikku pada Aldric. Membuatnya mengikuti arah pandangku pada pria bule yang tampak begitu menggemaskan dengan batik pilihan mama. Dia sedang sibuk entahlah, mungkin melakukan pendekatan karena terlihat semangat mengajak seorang pria bertukar omongan. Tawaku benar-benar hampir lepas jika tidak kutahan.
"Sebelum sama yang ini aku liat dia deketin Fandra," ucap Aldric. Astaga. Priaku yang satu itu benar-benar nekat.
Razza bersama Satria juga tampak. Tapi yang menarik perhatianku adalah; perempuan di sebelah Razza. Sepertinya aku tau siapa perempuan itu.
Mereka pun berjalan mendekat. Menyapa dan memberi ucapan selamat. "Kak Nadine selamet ya," ujar perempuan itu tersenyum lebar, membuat otakku juga ikut bekerja cepat. Ya, sekarang aku ingat. Dia Nara, adik Razza.
Razza yang memberi ucapan singkat tersenyum menatapku. "Besok malem jangan lupa, Za," timpalku padanya.
"Nggak akan," balasnya pelan.
"Selamet ya." Aku tersenyum pada Satria.
"Makasih, kak Satria."
"Nad...." Aku tertawa kecil mendengar suara protesan tersebut. Lalu dengan Nara diikuti Razza di sebelahku, dan Satria di sebelah Aldric, kami tersenyum bersama menatap kamera. Dalam diam aku berdoa, semoga suatu saat, dua pria ini akan menemukan seseorang yang bisa menghargai mereka.
Setelah itu mereka menjauh, fokusku juga sudah teralih pada tamu-tamu lain. Dan sepanjang hari, dengan senyuman, aku juga Aldric menerima banyak doa dari para tamu.
* * *
Perlahan kubuka mata, dan pemandangan di depanku sukses membuatku terpaku sesaat. Ini pertama kalinya untukku, maksudku, menatap Aldric dengan mata terpejam seperti ini, nyenyak dengan tidurnya. Masih dengan baju kaus putih dan lilitan kain batik di pinggangnya.
Aldric memang masuk ke kamarku lebih awal, sedangkan aku menuju kamar mama untuk membersihkan riasan, terlebih rambut. Lalu memilih langsung mandi disana untuk menyegarkan badan.
Ketika aku masuk ke kamarku, pemandangan Aldric tertidur dengan memeluk guling yang aku lihat. Dia tentu saja belum membersihkan badan. Ingin membangunkannya, namun rasanya kasihan.
Akhirnya, dengan jantung tidak karuan, aku berusaha bersikap sesantai mungkin. Lalu mengambil tempat di sebelah Aldric, sedikit lebih jauh. Aldric yang tidur menghadapku, sedangkan aku setia menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya memejamkan mata.
Dan entah bagaimana caranya, aku sendiri juga tidak paham, kudapati posisi tanpa jarak dengan Aldric. Dengan lengan pria itu memeluk pinggangku. Ya Tuhan, ini benar-benar pertama kalinya untukku.
"Al," panggilku pelan.
"Al," panggilku lagi, sambil memainkan telinganya.
"Aldric." Dan sepertinya berhasil, karena kulihat matanya terbuka. Pria itu sepertinya juga kaget saat melihatku, lalu tanpa perlu permisi, dikecupnya dahiku cukup lama. "Mandi dulu sana," ucapku dengan nada memerintah. "Abis itu aku, terus subuhan bareng."
Aldric duduk, lalu bergerak ke tepi ranjang. Sedangkan aku juga ikut berdiri untuk berjalan ke lemari pakaian dan mengambilkan handuk baru untuknya. Setelah Aldric masuk ke kamar mandi, aku langsung membereskan tempat tidur.
Aku membuka pintu, dan menemukan banyak yang telah bangun. Salah satu saudaraku dari pihak papa sedang mendiamkan anaknya yang kutebak belum berumur satu tahun. Aku mendekat, lalu menjawil pipi gembilnya.
"Sama tante Nadine mau?" tanyaku sambil menjulurkan kedua tangan. Matanya seperti berbinar, dan aku begitu takjub ketika dia menyambut uluran tanganku.
"Rangga tau aja tantenya cantik." Aku ikut tertawa mendengar celetukan ibu Rangga yang tidak kuketahui namanya. Sedangkan nama Rangga saja aku baru mengetahuinya beberapa detik lalu.
"Kalau kakak salat dulu nggak apa-apa ya, Nad?"
"Oh nggak apa-apa, kak," balasku cepat. "Rangganya biar sama aku dulu."
"Rangga bunda jangan bandel ya sama tantenya," celetuk bunda Rangga lagi, sebelum akhirnya menjauh.
Aku memilih ke ruang tamu, yang ternyata ada papa dan beberapa saudara lainnya. Rumahku memang penuh semalam. Efek terlalu lelah untuk kembali ke hotel juga sepertinya. Alhasil, menginap adalah pilihan.
"Lah, Nad, udah gendong anak aja?" ujar papa semangat ketika aku mengambil tempat di sebelahnya. Papa tergelak, diikuti yang lain. Sedangkan aku sukses meringis dan mencebik pada papa.
"Nggak lucu ah, pa."
"Azka mana?"
"Mandi."
"Terus berangkat jam berapa ke gedungnya?"
"Pagi ini. Tapi nggak sarapan deh kayaknya, sarapan langsung disana aja."
Aku memilih bermain bersama Rangga, menciumnya terus-terusan. Mungkin jika dia sudah bisa berbicara lancar, aku pasti akan di semprot olehnya. Lagipula, kenapa dia harus selucu ini? Badannya gempal, bibir pink dan belum memiliki gigi, ditambah pipinya yang akan tumpah.
Mungkin sekitar lebih lima menit, bunda Rangga datang. Membuat Rangga langsung terlonjak gembira di atas pahaku. Lalu dengan tawa ia menerima uluran tangan bundanya.
"Makasih lho, Nad," ucap bunda Rangga lembut.
"Apaansih kak pake makasih segala, lagian juga aku seneng jagain Rangga," tuturku jujur. "Kalau gitu aku ke atas dulu deh, misi semua."
Dengan sedikit berlari aku kembali ke kamar. Membuat Aqila yang juga baru keluar dari kamarnya mengernyit bingung.
"Kenapasih lari-larian? Jatuh tau rasa." teriaknya yang tidak kutanggapi sama sekali.
Aku segera membuka pintu kamar, dan menemukan Aldric yang ternyata sudah selesai dan tampak sibuk dengan ponsel mendongak menatapku. "Dari tadi ya?" tanyaku tidak enak sambil mengambil handuk.
"Enggak," jawabnya cepat. "Kamu abis darimana?"
"Main sama Rangga."
"Rangga?"
"Umurnya belum setahun kok, Al." Aku tertawa menatap ekspresi wajah Aldric yang tampak lucu, lalu memilih masuk ke kamar mandi dan bersih-bersih dengan cepat. Takut waktu subuh habis hanya karena kegiatanku yang bisa memakan waktu satu jam di kamar mandi. Tapi untuk sekarang, mungkin hanya lima belas menit.
* * *
"Ih apaansih ganggu. Sana deh ke tempatnya buruan. Liatin orang-orang ngedekor," ujar Aqila sewot karena aku ingin mengambil Rangga dari gendongannya.
"Ih bentar doang," ucapku masih memaksa.
"Nggak mau ih sana. Ayo Ngga, tante Nadinenya di bye-in aja."
"Rangga cium dong sini." Akhirnya ketika berhasil mendapatkan satu ciuman, aku memilih menjauhi Rangga dan berjalan keluar rumah, dimana Aldric yang sudah siap di depan dan sedang bercengkerama bersama papa juga mama.
"Udah sama Rangganya?" tanya Aldric tampak tersenyum geli.
"Belom! Si Aqila pelit banget orang mau gendong Rangga sebentar doang."
"Yaudahkan nanti juga punya sendiri," ujar papa kembali menggodaku.
"Papa ih daritadi," balasku menahan kesal.
"Mas, jangan digodain terus, kasian," bela mama dan aku mengangguk semangat.
"Iya enggak lagi. Yaudah sana, jangan lupa sarapan."
"Iya, dah, pa, ma."
"Kita pergi dulu, ma, pa," pamit Aldric, dan aku reflek tertawa.
"Itu papa mama aku tau."
"Papa mama aku juga sejak kemarin."
"Oh gitu," ujarku sedikit panjang sambil membuka pintu mobil.
"Udah buruan. Hati-hati," teriak mama ketika Aldric juga sudah duduk di belakang kemudi. Aldric membunyikan klackson ketika mobil mulai berjalan. Tanganku sibuk dengan saluran radio.
"Kamu pake sabun aku ya?" tanyaku penasaran. Sebab, tidak ada sabun lain di kamar mandi selain sabun milikku. Jika untuk hal seperti sikat dan pasta gigi, atau benda-benda lain yang juga menjadi kebutuhanku, memang terdapat beberapa cadangan berbeda di lemari kecil yang berada disana. Tapi jika sabun dan shampo, aku termasuk tipe setia.
"Kecium ya?" ucapnya balik bertanya.
"Yaudah, jugakan kamu nggak berubah jadi perempuan cuma karna pake sabunnya."
"Abis resepsi aku nagih janji kamu ya, Nad."
Aku mengernyit bingung, "Janji apa?"
"Liburan bareng." Aku hanya dapat menggeleng pelan, heran kenapa Aldric masih mengingatnya. Lagipula, tanpa pria itu katakan, kami pasti akan pergi. Ya, maksudku, honeymoon.
"Eh tapi," ucapku tiba-tiba ketika mengingat sesuatu. "Aku lupa bilang sama kamu kalau Stephen minta ditemenin ke Bali."
"Ngapain?"
"Ya, liburan."
"Bali?"
"Hm-hm," Aku mengangguk. "Soalnya dia kepengen banget kesana."
"Berapa hari?"
"Nggak tau, mungkin 3 sampai 4."
”Yaudah, lagipula masih ada sisa hari sebelum kita liburan berdua." Aku tersenyum senang, syukurlah Aldric setuju.
"Emangnya mau kemana?"
"Kamu maunya kemana?" tanya Aldric balik, sedangkan aku hanya mengangkat bahu.
"Tapi tau nggak, waktu masih di London, kan itu aku bisa sampai ke tempat lain juga karna kerjaan aku. Nah jadi beberapa kali sempet ke Paris. Jadi, di Pont des Arts. Waktu pagi aku lagi duduk disana sambil ngeliatin orang-orang bikin dan ngunciin harapan mereka di jembatan, terus kuncinya dilempar ke Sungai Seine. Aku yang awalnya nggak minat jadi pengen coba. Terus aku bilang, aku mau kita kayak dulu lagi, walaupun perasaan kamu nanti berubah, aku tetep mau kamu jadi sahabat aku. Terus yaudah, aku lemparin kuncinya, dan kayaknya rahasia itu masih ada disana. Dan aku pikir bakal selamanya disana."
"Aku tetep sahabat kamu," tanggap pria itu langsung. Membuatku tersenyum padanya.
"Kenapa ya aku bisa temenan sama kamu?"
"Ingetkan kita dulu pernah di hukum sama senior?"
"Ingetlah! Yang itu paling inget," sahutku semangat.
"Terus kamu nggak tau nama depan aku."
"Aku lupa waktu itu, jadi kepanggil Aldric."
"Tapi kalau disuruh balikin waktu, aku pengennya kamu tetep lupa sama nama depan aku."
"Apaansih, Azka," semprotku karena jantung berdebar.
"Aneh denger kamu manggil Azka ke aku."
"Sama...."
Sesampainya aku dan Aldric, kami bertemu dengan beberapa teman yang ikut membantu acara ini, termasuk Fandra si fotografer. Kami memilih sarapan sebentar sebelum nanti kembali sibuk.
Aldric dan Fandra tampak asik bertukar cerita. Pria ini curhat bagaimana perasaannya kemarin.
"Kalau nggak inget itu nikahan, gue gatau nasib gue," ujar Aldric setelah meneguk minumnya. "Soalnya emang gemeteran."
"Temen gue malah ada yang sampe pingsan gitu," celetuk Fandra.
"Seriusan?" tanyaku sedikit kaget. Fandra mengangguk, lalu aku menoleh menatap Aldric. "Kalau kamu juga pingsan gimanaya?"
"Buktinya enggak."
"Iyakan misalnya."
"Ya berarti kamu bakalan histeris."
"Masasih? Kok kayaknya aku bakalan biasa aja?" Aku tertawa bersama Fandra, sedangkan Aldric tampak menggelengkan kepala.
"Iyain aja kalau buat istri," sahutnya tenang, membuat perutku melilit.
* * *
Pelan tapi pasti, aku dan Aldric berjalan memasuki ruangan yang bisa terbilang besar. Karena memang banyak tamu yang diundang. Terlebih papa dan mama, lalu papa mertuaku. Mereka tentu saja mengirim undangan untuk rekan-rekan yang tentu sudah berkeluarga. Aldric yang memang banyak memiliki teman tentu juga mengirimkan undangan. Sedangkan aku, ya, dapat kalian tebak, teman SMA, klien karena usul Reva, teman semasa SMP karena usul Aqila, bahkan beberapa teman SD yang tidak begitu kuhapal nama mereka.
Aqila sendiri juga mengundang teman-temannya. Intinya, siapa saja bebas mengundang siapa dan membawa siapa. Karena kata mama, "Makin banyak tamukan doanya makin banyak. Ya nggak apa-apa." Dan seperti biasa, aku hanya mengiyakan.
Dengan keluargaku yang berjalan di belakangku dan Aldric, dan seorang pemandu di depan kami. Tangan Aldric terasa seperti biasa, berbeda dengan tanganku yang dingin. Aku terus tersenyum pada tamu-tamu yang memanggilku. Lalu kulihat Kiya melambaikan tangan dengan kamera di tangannya.
Hingga akhirnya kami berada di tempat yang seharusnya. Dari sini, dapat kulihat banyak tamu. Tidak hanya itu, hasil dekor yang benar-benar luar biasa tertangkap oleh mataku. Semua dekorasinya dicampur sesuai adatku juga Aldric. Tetapi sebenarnya hal ini lebih dikentalkan pada adat Yogyakarta. Karena permintaan eyang yang ingin cucu-cucunya menikah dengan adat Yogyakarta. Alhasil, untuk saling menghargai, lebih baik digabungkan.
Sebelum bersalaman dengan tamu, dilakukan terlebih dahulu sesi foto. Awalnya aku dan Aldric, disambung dengan orang tua, lalu keluarga dan seterusnya. Yang aku lakukan hanya tersenyum dalam balutan kebaya panjang yang aku akui sangat indah dengan warna gold yang mendominasi.
Barulah, perlahan, dilatari dengan musik modern, deretan tamu mulai datang. Ucapan terima kasih terus saja kusebutkan.
"Selamet ya kalian berdua. Gue Ora nih, temen SD lo," ujar perempuan di depan kami dengan nada semangat.
"Oh, iya. Makasih ya."
Setelah perempuan bernama Ora tadi, cukup banyak yang mengatakan bahwa mereka adalah temanku ketika sekolah dasar. Lucu memang, padahal aku lebih sering menyendiri ketika SD. Dan seingatku, tidak ada di antara mereka yang peduli.
Para tetangga yang menyapaku semangat, rekan kerja Aldric yang memuji kecantikanku, bahkan beberapa teman SMP-ku dengan frontal memuji Aldric. Membuatku gemas sendiri.
"Selamet, kak, Nad." Aku memberi cengiran pada Leo, calon adik iparku.
"Buru-buru nyusul ya," celetukku padanya.
"Tenang aja, besok malem gue sama Aqila resepsi, jangan lupa dateng."
"i***t," hardikku dengan suara pelan, lalu kembali tersenyum pada tamu berikutnya karena Leo juga sudah menjauh.
Aku sejenak terpaku pada Stephen, dia mengenakan pakaian seragam pria, tidak jauh berbeda dengan sepupuku yang lain. Belangkon yang ia gunakan sukses menutupi kepala botaknya.
"Oh, darling. I'm happy for you, Nad," ujarnya semangat. "And remember, always give your smile to everyone, but give your love just for your husband. Ah, I love you, my Fredella!" Aku tersenyum pada Stephen, sisi bijaknya kembali keluar.
"And you, handsome, take care of her."
Aldric mengangguk, setelah menepuk pundak Aldric, bule berbelangkon tersebut menjauh. Mataku sedikit membesar ketika Mario datang dengan wanita cantik di sebelahnya.
"Eit, congratulation, Ka. Lo juga, Nadine. Baik-baik, jangan kabur-kaburan. Boleh kabur, asal berdua." Aku yang awalnya sebal, terganti dengan senyuman ketika seorang perempuan mengucapkan selamat.
"Udah sana," usir Aldric pada Mario.
"Makasih banyak ya," ujarku. Mungkin nanti aku bisa bertanya pada Mario siapa perempuan itu. Karena sekarang, antrian benar-benar panjang.
Rasa letihku seakan terangkat, ketika kulihat Kiya, Aqila, Dirma, Aksa, Cio, ingin bernyanyi.
"Eh kemarin Say You Won't Let Go, ya?" Aku dapat melihat Kiya yang tergelak karena ucapan Aqila.
"Mbak!" Aku tersentak ketika Reva muncul dengan senyum lebarnya. "Selamet ya keduanya, aku doain cepet dikasih momongan. Nggak sabar punya ponakan."
"Makasih banyak lho, Rev," balasku.
"Honeymoon lama-lama ya. Masalah butik tenang aja." Astaga....
"Hei, happy wedding buat kalian berdua. Semoga keluarga kalian dilimpahin banyak kebahagiaan." Aku yang awalnya terdiam, kemudian tersenyum. Sofi menatapku dengan senyum tulusnya. "Sorry buat yang dulu," tambahnya.
"Makasih banyak ya," balasku langsung. Ayolah, dia tidak perlu mengatakan maaf, lagipula aku juga sudah lupa.
Giliran guru-guru dari Cakrawala yang tiba dan aku digoda habis-habisan oleh pak Jamil. Sedangkan Aldric menanggapinya dengan tertawa.
"Emang nggak bisa dipisah ya, semoga sampai nanti. Biar ajal yang misahin."
"Makasih, pak," balasku terharu.
Sesekali aku menyisir pandangan, dan melihat orang-orang yang kukenal sailing bercengkerama. Razza dan Satria, Aqila bersama Leo, Reva dan Stephen, teman-teman SMAku, Erick dan Zifana, Sean yang sedang direcoki oleh Lala dan Lulu.
Walaupun hanya sebagian orang yang kukenali dari sebagian banyak tamu disini, tapi kuyakin doa mereka untukku dan Aldric tentu tulus. Untuk kesekian kalinya, aku bersyukur. Dan kuakui, ini hari terbaik yang pernah kulalui.
Ketika acara dimana aku dan Aldric tengah bersiap-siap melempar bunga, para tamu mulai mempadati bagian tengah ruangan.
"Satu..., dua..., tiga!" Bunga itu kami lambungkan bersamaan. Lalu kami menoleh, melihat Kiya dengan tampang bodohnya memandang ke arah bunga yang ia pegang.
Sepertinya sahabatku yang satu itu tidak jadi menikah di umur tiga puluh tahun.
* * *
"Aku sayang kamu," aku tersenyum ketika Aldric berbisik di telingaku. Resepsi telah selesai, dan disambung dengan after party yang diikuti oleh teman-teman dekat kami. Pakaianku dan Aldric juga sudah berganti. Dan untuk kali ini aku sedikit bangga, karena aku menggunakan dress yang aku design sendiri.
"Kamu tau pasti gimana perasaan aku ke kamu, Al." Aldric tersenyum.
Dan dengan tangan Aldric di pinggangku, serta kedua lenganku yang melingkar di lehernya, kami bergerak pelan. Berdansa di bawah kerlap-kerlip lampu. Menggerakkan kaki seirama dan membiarkan mata yang saling mengirim pesan dari hati.
Sebagaimana opa, oma, dan kedua eyangku. Aku harap, kehidupan rumah tanggaku akan seabadi mereka. Batinku bersuara
Tbc....