Aku suka bagaimana kamu dengan caramu yang dewasa, menghadapi kelakuan manjaku.
Hi kamu, I love you.
-tertanda, istrimu yang cantik.-
Nadine's POV
Dalam balutan crop jeans dan atasan kaus oversize, serta sandal teplek yang menemani tiap langkah ringan yang kuambil. Aku, Aldric, juga Stephen baru saja tiba di Bandara Ngurah Rai. Sambil bermain ponsel untuk mengabari mama bahwa aku telah sampai, juga membalas personal chat Kiya dan Reva yang masuk. Group SMA-ku juga ribut membahas keberangkatanku dan Aldric.
Dimar Akbar: kasih abang ponakan yang lucu ya dek Nadine.
Aksa Farizhi: Azka bahagia banget anjir di poto, lebar bener senyumnya.
Dimar Akbar: yaiyalah setan, orang kawin.
Kiya bego: nikah bego woi, otak lu berdua isinya kawin doang, makanya nggak ada yang mau.
Derby Pratama: nancep woi.
Dimar Akbar: ih kasar banget sama aku, gasuka deh sama Kiyara.
Aksa Farizhi: lu juga sama aja, Ki.
Kiya bego: oh enggak, lu berdua pada galiat kalau bunga kemarin yang dilempar gue yang dapetin?
Aksa Farizhi: bunga doang, calonnya gaada.
Nadine Sava: ada kok, sepupu gue calonnya, benerkan, Kiyara?
Derby Pratama: HA? SEAN?
Mere Adinda: HA? SEAN? (2)
Alicio Kenang: HA? SEAN? (3)
Aksa Farizhi: HA? SETAN? (4)
Dirma Akbar: KOK SEAN MAU?
Kiya bego: ih kasar banget Aksa Dirma. Sumpahin gaada yang mau. Eh tapi ga disumpahin juga tetep bakalan gaada yang mau, ya?
Adelia Lolita: seriusan, Ki?
Kiya bego: enggak, Del. Jangan percaya Nadine.
Dirma Akbar: tapi, Nad, kok lo megang hp sih? Fokus dong sama ponakan buat kita-kita.
Nadine Sava: galucu, Dir.
Aksa Farizhi: jangan langkahin gue ama Dirma gitu dong, Ki. Kita bertigakan kembar, nikahnya harus barengan
Kiya bego: kobam lu?
Dirma Akbar: iya, karna kamu Kiyara
Aku memilih mematikan ponsel karena tidak sanggup menahan gelak tawa. Lalu menoleh ke belakang dan melihat Aldric juga Stephen yang tampak bercakap. Walaupun Aldric sepertinya sedang sibuk dengan ponsel, pria itu tetap berusaha mendengarkan Stephen.
Aku mendekat, memeluk lengan Aldric yang bebas. Membuat pria itu menoleh dan tersenyum padaku. Tangannya yang lain meletakkan ponsel di telinga, entah menelepon siapa.
"Di bagian? Oh, ok, gue kesana," Aldric memutuskan panggilan, lalu membawa kami berjalan. Ah, sepertinya aku tau siapa yang Aldric hubungi, melihat bahwa sekarang sebuah mobil tengah menunggu kami.
Seorang pria mendekat, melempar kunci yang ditangkap sigap oleh Aldric. "Apa kabar, lo? Maaf banget gue nggak bisa dateng kemarin, soalnya ibuk nggak ada yang jaga," jelasnya lengkap. Lalu menatapku sambil tersenyum, "Piu," kenalnya, sambil menjulurkan tangan.
"Nadine," balasku juga tersenyum.
"Padahal gue nungguin lo," balas Aldric.
"Tapi selamet buat lo berdua ya. Moga cepet dikasih momongannya."
"Amiin," sahutku dan Aldric bersamaan.
Aku memilih mendekati Stephen yang sibuk memasukkan koper ke dalam mobil. Mulai bercakap. Lagi-lagi dia memuji para pria lucu yang ditemuinya. Sampai-sampai mengatakan bahwa ia ingin tinggal disini dan meninggalkan London. Hidup bahagia bersama pasangannya dengan bekerja sebagai nelayan, berharap kulitnya akan coklat seperti impiannya. Tapi sayang, tiap kali Stephen terkena panas, kulitnya akan berubah merah.
Aldric beralih masuk ke mobil, disusul aku juga Stephen.
"Laper?" Aku menatap Aldric, lalu menoleh pada Stephen yang—demi Percy Jackson yang tampan—sedang sibuk menyapa orang-orang lewat kaca mobil yang dibuka. Aku kembali melihat Aldric sambil tertawa.
"No," jawabku yakin. Aku sendiri memang belum lapar, sedangkan Stephen, dilihat dari sikapnya, tentu saja dia masih memiliki banyak cadangan makanan. "Kamu laper, ya?"
"Masih kenyang juga," jawabnya.
Aku hanya mengangguk, tidak lagi bersuara. Kubuka jendela mobil dan langsung kecewa dengan langit yang tiba-tiba berubah gelap. Padahal tadi keadaan masih tampak cerah. Walaupun begitu aku cukup bersyukur karena penerbangan kami tadi tidak ada kendala.
"OH MY GOD! HE'S SO HOT! I CAN NOT!" Aku seketika menoleh sambil mengernyit, melihat Stephen dengan tangan di dadanya dan wajah berbinar menatap ke satu arah.
"Please, Stephen."
"Shut up, Fredella." Sialan.
Kami akhirnya segera menuju hotel karena cuaca yang tidak memungkinkan. Stephen menatapku sewot karena tidak terima jika hanya menghabiskan waktu seharian di kamar hotel. Tapi setelah kubujuk bahwa besok kami akan mengunjungi banyak tempat sesuai keinginannya, Stephen tersenyum.
Ponselku tiba-tiba berbunyi.
Mama Sela is calling....
Kugeser layar lalu segera meletakkan ponsel di telinga.
"Halo, ma," sapaku semangat.
"Udah sampai ya?"
"Udah, lagi mau ke hotel."
"Azka tadi mama telfonin nomornya sibuk."
"Emang tadi dianya sok sibuk, ma," jawabku tertawa. Membuat Aldric menoleh padaku dengan raut bertanya.
"Yaudah titip salam aja, sama temen kamu itu juga ya. Baik-baik disana."
"Iya, ma."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mama aku?" tanya Aldric yang langsung kuhadiahi delikan sebal.
"Mama aku juga tau," semprotku tidak terima.
"Iya mama kamu juga," suaranya pasrah. "Terus mama bilang apa aja?"
"Titip salam ke kamu sama Step, terus katanya baik-baik disini."
Setelah itu, aku kembali sibuk dengan pemandangan di luar. Anginnya membuat pikiranku lebih tenang. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai hotel. Kaca mobil juga sudah kututup karena gerimis mulai turun.
Aldric memintaku masuk duluan, dan kubiarkan dua pria itu mengurus segalanya. Aku duduk di sofa dengan ransel kecil yang sejak tadi memang kusandang. Kembali kuhidupkan ponsel, bergerak cepat menekan aplikasi lalu membuka roomchat Kiya.
Kiya bego: lo gak lupa bawa barang yang kemarin lo titip ke guekan?
Nadine Sava: ada kok, di tas.
Kiya bego: uno emangnya muat?
Nadine Sava: uno sama samyang di koper, bean boozled doang di tas.
Kiya bego: buat apaansih, Nad?
Nadine Sava: gatau, kepengen aja main itu.
Kiya bego: serah deh serah.
Nadine Sava: lo kepengen apaan?
Kiya bego: bule dong satu.
Nadine Sava: kan udah ada Sean.
Kiya bego: apaansih mabok.
Nadine Sava: eh udah dulu, gue dipanggil ama suami.
Kiya bego: setan banget!
Aku tertawa membaca balasan Kiya, kemudian dengan cepat menyusul Aldric dan juga Stephen lalu berjalan menuju lift. Kami sibuk membahas rencana besok hingga pintu lift terbuka. Stephen melambaikan tangan lalu mengedipkan matanya padaku sebelum masuk ke kamarnya. Kami tentu saja beda kamar.
Aku dan Aldric masuk ke kamar kami. Dan aku dengan semangat melemparkan diri ke tempat tidur. Berniat untuk tidur sebenarnya. Tapi mengingat bahwa sekarang sudah berbeda, aku cepat-cepat kembali duduk. Menatap Aldric yang masih sibuk dengan koper.
"Kamu capek?" tanyaku memastikan.
"Kenapa?" tanyanya balik.
"Ya, aku nanya," ujarku gemas. "Aku pengen ajak kamu main soalnya."
"Main?" Aku mengangguk semangat lalu berjalan menuju koperku, menidurkannya lalu dengan cepat kubuka. Kukeluarkan uno stacko juga beberapa bungkus samyang. "Oh, main ini." Aldric ikut berjongkok di sebelahku, meraih kotak uno.
"Ayo main sampai sore. Terus kalau hujannya berenti kita bisa ke pantai."
"Aku pikir kamu nggak tau uno." Aku hanya tertawa lalu menggiring Aldric ke meja untuk mulai bermain. Aku kembali ke tempat tidur untuk mengambil ransel.
"Itu apalagi?" tanyanya tampak penasaran.
"Ini!" Kutunjukkan dua kotak bean boozled, sukses membuat Aldric merebutnya semangat.
"Yaudah main unonya sekalian sama bean boozled challenge aja." Aku mengangguk semangat. Setelah menyiapkan beberapa keperluan seperti air putih, coklat, dan kantung untuk membuang bean apabila tidak tertelan. "Hukumannya apa?" tanya Aldric.
"Kalau kamu kalah, kamu harus gendong aku di punggung waktu kita di pantai nanti."
"Terus kalau kamu kalah? Kamu gendong aku?"
Aku menggeleng cepat menanggapinya, "Nggak mau."
"Terus apa?"
"Kalau aku kalah ya kamu juga harus gendong aku." Aku tersenyum manis setelah itu. Lalu menyisir rambut dengan jemari sebelum akhirnya mengikat rambut dengan membuat cepolan tinggi di tengah kepala.
"Yaudah kita mulai ya," ujar Aldric dan aku mengangguk semangat.
* * *
"HUWEK!" Aku lagi-lagi memuntahkan bean yang aku kunyah, sedangkan Aldric tertawa di seberangku. Sejak tadi, aku hanya mendapatkan satu bean dengan rasa enak, yaitu caramel corn. Sedangkan Aldric, tidak pernah mendapatkan bean jelek.
"Nggak enak ya?"
"Coba aja kamu rasain makanan anjing," ujarku kesal lalu meneguk air putih, dan memakan sedikit coklat. Aldric lagi-lagi tertawa.
"Lucu banget, sih. Mau lanjut lagi apa gimana?"
"Lanjut," jawabku cepat.
Dua jari Aldric kembali mengambil balok uno dengan hati-hati. Kali ini Aldric mengambil warna biru nomor 4. Ya Tuhan, aku benar-benar takut jika uno ini terjatuh. Setelah Aldric meletakkan balok tersebut di bagian atas, aku mulai berpikir balok mana yang akan aku ambil. Sialan, balok warna biru terletak di tengah lalu di pinggir, yang jika aku ambil, akan menyebabkan balok di bagian atas terjatuh karena miring. Sedangkan balok nomor 4 terdapat di bawah. Sepertinya aku akan mati sekarang.
"Ambil aja."
"Nggak mau tar jatoh."
"Kan nggak sakit."
"Apaansih kok ngelawak," semprotku dan Aldric kembali tertawa. Sepertinya pria ini bahagia karena aku akan kalah. Tapi hei, aku akan tetap di gendongkan?!
Akhirnya aku mengambil balok berwarna biru, sudah dengan cara yang paling lembut, tapi sepertinya tidak mempan. Karena semua balok uno hancur lebur ke bawah. Membuatku mengerang frutrasi karena kalah.
"Gak usah ngambek gitu," ucap Aldric menatapku. "Kan cuma game."
"Yah, tapikan, ih nggak mau lagi main uno."
"Yaudah sama bean boozled aja."
Aku mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada bean dan mengambil dua warna yang sama. "Yang ini stinky socks sama tutti fruitti. Ya Allah semoga aku dapet tutti fruitti."
"1..., 2..., 3...," hitung Aldric, lalu bersamaan kami memasukkan bean ajaib tersebut ke dalam mulut. Senyumku merekah sempurna, sedangkan wajah Aldric berubah dan dengan cepat dibuangnya bean tersebut.
"IHHH! NGGAK ENAK YA?" tanyaku semangat sambil tertawa keras.
"Aku nggak paham sama yang buat."
"Yaudahkan kamu yang rasain bukan aku. Ok, next!" Lagi-lagi aku mengambil dua buah bean sewarna dan melihat rasanya pada kotak. "Ini booger, ewh, sama juicy pear."
"Booger upil bukan?"
"Iya makanya itu...."
"Astaga, gimanasih cara mereka ngebuat ini?"
"Dirasain kali." Aldric tampak memijit pelipis seperti menyerah, tapi ternyata telapak tangannya tetap menerima bean yang aku beri.
"FUDGE! FUDGE! FUDGE!" Ujarku keras! Ya Tuhan, apa-apaan tadi rasanya? Sedangkan Aldric kembali tertawa sambil menyodorkan minuman padaku. Setelah itu kugigit banyak bagian coklat. Rasanya seperti..., entahlah, sulit untuk dijelaskan. Jika kalian ingin tau, kalian dapat merasakan upil sendiri....
"Udahan ya mainnya. Kasian kamu sial mulu."
"Nggak enak banget, Al," lirihku kembali meneguk minuman.
"Iya, makanya udahan aja."
"Tapi mau samyang."
"Beneran?"
"Iya."
"Satu aja dibagi dua ya tapi?"
"Iya nggak apa-apa."
Sembari menunggu Aldric yang memasak samyang, aku memilih membereskan semua kekacauan disini. Memasukkan uno ke kotaknya dan membuang bean yang kami muntahkan. Aku memilih ke balkon setelah itu, hujan masih turun rintik-rintik. Ini sudah jam 5, dan kuharap sebentar lagi hujan akan berhenti.
Tidak lama Aldric kembali dengan sepiring samyang. Aku meneguk saliva susah payah ketika melihat mie tersebut menyala merah. Kugerakkan garpu begitupun Aldric.
"Nggak pedes," ujarku santai, Aldric mengangguk. "Biasa aja ah."
Aku memang terlalu sombong, karena pada suapan ketiga, aku sibuk mengipas wajah. Rasanya panas. Keringatku mulai muncul.
"Pedes?" Aku mengangguk cepat ketika Aldric bertanya.
"Banget. Nggak, udah ah, nyerah."
"Kamu nggak mau?"
"Pedes." Rengekku, tapi bodohnya, tanganku tetap menyuapkan mie tersebut ke mulut.
Aldric menyeka keringat di dahiku, lalu membawa piring yang masih berisi sedikit samyang ke dalam. Aku sendiri segera menyusul Aldric dan dengan cepat meminum air putih. Ya Tuhan, lidahku seperti terbakar.
"Apes mulu ih daritadi," ucapku masih dengan mengipaskan telapak tangan ke wajah.
"Jadi skornya berapa?"
"Gatau. Nggak ngitungin."
"Ke pantai aja yuk, hujannya juga udah berenti." Mataku berbinar. Aldric tertawa, lalu berjalan untuk mengambil dan mengenakan topi hitam miliknya. Aku sedikit terpaku karena melihat Aldric menggunakannya terbalik, dengan bagian depan diputar ke belakang. Dia, tampan.
Aku hanya membawa ponsel dan dompet, sedangkan Aldric sudah mengalungkan kamera di lehernya. Setelah memberi kabar pada Stephen, kami pun segera keluar kamar.
* * *
Aku memeluk leher Aldric erat ketika pria ini dengan tulusnya mau menggendongku di punggungnya. Stephen sendiri juga sudah sibuk dengan kegiatannya. Ya, setidaknya pria itu akan mengabari jika sudah selesai, membuat kekhawatiranku berkurang.
"Aku berat ya?" tanyaku dengan jari jemari memainkan kamera yang terkalung di leher Aldric. Memidik objek di depanku dengan serius.
"Gak mau jawab, nanti aku salah jawab."
"Beratkan pasti?"
"Gak juga," jawabnya tenang. Membawaku menyusuri tepian pantai. Udara benar-benar terasa lebih baik.
"Jujur aja."
"Enggak, sayang."
"Yaudah kalau gitu aku nggak bakalan turun."
"Nggak apa-apa. Aku suka kalau kamu manja."
Deg, deg, deg!
Jantungku.
Pria ini benar-benar mampu membuat jantungku gila.
"Kita pertama kali ketemuan disini ya, Nad?"
"Hm-hm. Nadine penakut ketemu Aldric cuek."
"Bukan cuek."
"Terus apa? Orang aku inget banget mata kamu nggak ada ekspresi sama sekali waktu natap aku."
"Yang pentingkan udah lewat."
"Ih kamu yang ngungkit juga, aku cuma nyambungin." Kudengar tawa ringan Aldric, lalu tanpa permisi, pria ini mengecup pelan pipiku. "IH ITU BAGUS PARAH," teriakku tiba-tiba. Lalu cepat-cepat mengarahkan kamera pada sang surya jingga yang sekarang perlahan pulang ke peraduan.
"Kamu makin cantik waktu kepantul cahaya jingganya."
"Aldric, jangan ngegodain terus," ujarku pada Aldric yang terkekeh.
"Yang aku godainkan istri sendiri," sahutnya sambil tersenyum.
Tbc...