Sempurna itu, ketika aku dan kau saling melindungi.
-Bandara, pukul 11.00 WITA.
Nadine's POV
"Kamu nggak berenang?" Aldric bertanya ketika aku tengah sibuk merapikan rambut. Aku menoleh menatap Aldric yang hanya mengenakan celana santai longgar selutut berwarna hitam dan kaus putih, kuberikan gelengan padanya.
"Kamu aja, aku nemenin," ujarku. Aku kembali menatap cermin, mengecek lagi penampilan, atasan halter warna putih dan rok hitam selutut. Seketika aku menyadari bahwa aku dan Aldric matching pagi ini.
Setelah yakin selesai, aku mendekati Aldric yang tengah duduk menatap televisi, kuambil handuknya, dan kameranya kukalungkan di leher. Ponsel dan dompet kami juga sudah aman di dalam tas selempang milikku.
Aldric tersenyum, lalu berdiri. "Beneran gak berenang?" tanyanya lagi.
"Hm. Udah cantik gini, males basah-basahan." Aku tertawa, begitupun Aldric yang langsung mengalungkan tangannya di leherku dan mencium kepalaku.
Kami keluar kamar menuju lift, langsung menuju lantai dimana kolam renang berada.
"Semalem aku lanjut nonton sendiri," ujar Aldric. Seketika aku meringis, lalu memeluk lengan Aldric dan menatapnya penuh sesal.
"Aku ngantuk," ucapku, "takut juga sebenernya sama filmnya."
Bagaimana tidak, semalam saat sibuk mencari siaran bagus, ternyata terdapat film horror yang sedang tayang. Aldric langsung semangat melihatnya, lalu dengan cepat ia mematikan lampu, dan hanya menyisakan cahaya televisi. Aku bukan penakut. Aku juga beberapa kali menghabiskan waktu untuk menonton film seperti itu. Hanya saja, film horror semalam memang sedikit membuatku tidak tenang. Maka tanpa mengatakan apapun, aku meninggalkan Aldric dengan memejamkan mata lebih dulu.
"Pantesan waktu aku ajakin ngomong gak ditanggepin, taunya udah merem."
"Ya abisan kamu, aku suruh ganti channel nggak mau," balasku tidak mau kalah, "aku udah merinding gitu kamunya tetep sibuk sendiri. Waktu aku minta temenin pipis juga kamu malah jawab 'tunggu iklan dulu ya', ya keburu ngompol akunya."
"Kan nggak enak, nonton kalau kepotong-potong," ujar Aldric pelan. "Yaudah nanti kalau kamu minta temenin pipis lagi, aku langsung temenin." Aku hanya mencebik, sedangkan Aldric terkekeh.
Masih tetap mengobrol, kami keluar lift dan lanjut menuju kolam renang outdoor yang berlatar belakang Pantai Kuta. Ini masih pagi, dan kulihat beberapa turis asing yang sedang melakukan aktivitas; berenang dan bersantai. Aku berjalan cepat dan menjatuhkan diri pada kursi santai.
Aldric melepaskan kausnya yang dengan cepat kuambil, kulipat rapih lalu meletaknya di meja sebelahku. Menyusul handuk, tas, serta kamera yang sudah kuletakkan lebih dulu.
"Gak pesen air mineral?" tanya Aldric.
"Nanti aku pesen, kamu mau apa?"
"Air mineral juga."
"Ok."
Kubiarkan Aldric yang mulai melangkah mendekati tepi kolam. Aku beralih pada ponsel, mengabari Stephen yang pasti masih tidur hingga sekarang. Kemungkinan kami hanya akan bertemu ketika makan siang nanti karena Stephen tentu masih tidur. Semalam, bule botak itu pergi menjelajah tidak mengenal waktu seorang diri dan lupa memberi kabar. Baru ketika kuhubungi, Stephen sadar dan langsung menyebutkan lokasinya.
Selesai dengan Stephen, kemudian juga sudah memesan air mineral, aku memilih sibuk dengan kamera. Melihat hasil gambar kemarin. Tidak jelek, menurutku. Banyak candidku yang ditangkap oleh Aldric.
Aku membidikkan kamera pada Aldric yang sedang sibuk menggerakkan badan dalam air. Melihatnya seperti ini benar-benar membuatku panas dingin. Dengan jantung berdegub kencang tidak karuan.
Tapi suara dari dalam tas membuat kegiatanku memperhatikan Aldric terhenti, lalu buru-buru kulihat. Ponselku ternyata tenang, berbeda dengan ponsel lain berwarna hitam. Aku dengan cepat menggapai ponsel milik Aldric dan membaca nama penelepon.
Tante Jingga is calling....
Ini bercanda? Kenapa ia masih menghubungi Aldric? Kulirik Aldric sebentar, tau bahwa pria itu masih sibuk berenang, aku langsung menggeser layar. Menerima panggilan.
"Azka? Ya ampun, nak! Tante kangen banget sama kamu. Gimana kabarnya sekarang? Tante beberapa bulan ini ngabisin waktu di Bandung. Bener-bener nggak tau sama apa yang udah kejadian di Jakarta."
Kutahan kekesalan agar tidak menjawab kalimatnya. Tetap membiarkannya bercakap sepuas hati sampai dia sadar bahwa akulah yang menerima panggilannya.
"Kok Azka diem? Tante tau kamu masih marah sama Amira. Tapi kamu taukan, kalau dia ngelakuin itu semua karna cinta sama kamu? Balik ya, Azka, sama Amira. Walaupun dia masih ditahan, tapi tante tau kamu bakal sanggup nunggu dia. Tante juga tau, kamu pasti kecewa bangetkan sama Nadine, karna dia Amira dapetin ini semua. Perempuan kayak dia, ya kamu taulah, mana mau buat ngalah."
Cukup. Aku panas sekarang.
"Sayangnya perempuan yang nggak mau ngalah itu udah resmi jadi nyonya Azka, tante Jingga," balasku kemudian.
"Kamu?"
"Hm, kenapa, tante?"
"Kamu ngapain angkat panggilan ini? Jadi orang yang sopanan sedikit emangnya nggak bisa?"
"Kenapa tante harus marah? Toh suami saya lagi nggak bisa nerima panggilannya."
"Azka dimana?"
"Kenapa saya harus kasih tau ke tante?"
"Bukan urusan kamu!"
"Jelas urusan saya dong, tante. Karna dia suami saya."
"Dasar perempuan nggak tau malu. Harusnya anak saya yang dapetin posisi itu."
"Tante yakin? Saya sendiri kok nggak yakin," balasku kembali melirik Aldric. Jujur saja, sifat seperti tante Jingga tidak bisa didiamkan. Harus ada suatu hal yang membuat mereka sadar bahwa sikap mereka salah.
"Kasihin hapenya ke Azka." Aku mengernyit, memangnya kenapa jika aku tidak mau?
"Suami saya lagi sibuk," balasku terus berusaha tenang.
"Kasian ya kamu, baru nikah udah ditinggal sibuk sama suami." Ya Tuhan, aku benar-benar harus sabar.
"Tante Jingga, kalau niat tante cuma mau gangguin saya sama suami saya yang lagi honeymoon, saya tutup dulu telfonnya, dan jangan pernah ganggu suami saya lagi." Tanpa menunggu balasan, aku memutuskan panggilan dan kembali memasukkan ponsel Aldric ke dalam tas. Jika begini aku jadi curiga, bahwa tidak hanya Amira yang menyukai Aldric, tapi juga tante Jingga. Gila, bukan?
Kulihat Aldric yang mulai naik dan meninggalkan kolam, berjalan mendekat. Tangannya mengambil handuk dan dengan terampil mengeringkan badan. Aku berpikir bahwa Aldric akan mengambil tempat di kursi santai sebelahku. Nyatanya dia duduk di sampingku dengan keadaan masih setengah basah.
"Kamu basah, Al," protesku padanya, tapi Aldric tampak tidak peduli dan terus meneguk air mineralnya.
"Aku mau duduk disini," ucapnya ringan selepas minum.
"Nggak suka ih kamu basah, keringin dulu." Aku merebut handuk di tangan Aldric, lalu memutar badan menghadapnya. Kuulurkan tangan untuk mengeringkan rambutnya, membiarkan pria itu terkekeh geli.
Tanpa peringatan, Aldric menarik pinggangku kemudian memelukku erat. Aku kembali protes, namun Aldric memilih mengabaikan protesanku dan menyurukkan kepalanya di leherku. Membuatku kegelian efek rambutnya yang basah.
Lelah karena protesanku tidak didengar, aku memilih diam. Dan sontak kaget ketika Aldric melepaskan pelukan lalu menarikku. Kepalaku dengan cepat berpikir ketika tau kemana Aldric membawaku.
"Al, nggak mau," pintaku pada Aldric. "Al, janga—" Terlambat. Aldric sukses membuatku masuk ke dalam kolam renang. Dia tertawa, sedangkan aku, rasanya sulit menahan kesal karena tante Jingga sudah memancingku sejak tadi. "Sana deh," semprotku ketika Aldric hendak kembali memelukku.
"Jangan ngambek gitu," bujuknya. Tapi aku lebih dulu menepis tangan Aldric yang bergerak menuju pipiku. Ya Tuhan, aku tidak bermaksud melakukan itu. Kekesalan terhadap tante Jingga malah kusalurkan pada Aldric.
Aku berenang mendekati tepi kolam. Lalu naik dan mengabaikan panggilan Aldric yang memintaku menunggunya. Aku mengambil handuk dan dengan cepat menutupnya bagian atas tubuh. Merasa tidak nyaman karena atasanku pasti memperlihatkan dalamanku.
Aku berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut lalu memasuki lift. Ketika lift akan tertutup, Aldric yang sudah mengenakan kembali kausnya muncul dengan napas terengah dan membawa barang yang aku tinggalkan.
"Kamu kenapa?" tanya Aldric ketika napasnya sudah normal. Aku diam, mengabaikan tanya Aldric. "Gak baik kalau diemin suami gitu," lanjutnya lagi.
"Aku nggak apa-apa."
"Kamu marah karna aku nyeburin kamu?" Aku menggeleng. "Terus kamu kenapa?"
"Pengen mandi."
"Abis ini mau kemana?"
"Nggak kemana-mana."
"Nad—"
Ting!
Aku melangkahkan kaki keluar lift, Aldric tidak lagi bertanya dan langsung membukakan pintu untuk kami.
"Yaudah kamu mandi duluan." Aku berjalan masuk kamar mandi dan mulai membersihkan badan.
* * *
Hubby: dimana, Nad?
Chat tersebut masuk ketika aku tengah menunggu sarapanku dan Aldric. Setelah mandi, aku memilih untuk keluar lebih dulu karena mengingat bahwa kami belum sarapan. Bagaimanapun, aku tetap harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri, kan? Salah satunya, memastikan makanan untuk Aldric.
Nadine Sava: aku udah di resto.
Kukirim chat tersebut pada Aldric. Lalu kembali melanjutkan permainanku, berharap suara tante Jingga hilang dari kepala. Sampai sekarang, aku memang tidak mengetahui kabar apapun dari dua perempuan beda usia tersebut. Amira yang kuketahui hidup di balik sel, lalu tante Jingga yang ternyata hidup di Bandung. Hanya sebatas itu. Rencana untuk menemui Amira juga belum terlaksana hingga sekarang.
"Yah!" celetukku tidak terima ketika aku lagi-lagi gagal.
Aku tersentak, menatap ke depan dan menemukan Aldric yang sedang menarik kursi. Pria itu duduk, meletakkan ponsel dan kamera di meja. Aku hanya diam menatapnya, namun ponselku sudah kumatikan.
"Kamu udah pesen sarapannya?" Aku mengangguk. Kulihat Aldric menyalakan ponsel, lalu tanpa kuduga, Aldric menyodorkan ponsel tersebut padaku. Memperlihatkan nama tante Jingga juga waktu lama kami berbicara. "Kenapa nggak bilang aku?" tanyanya pelan.
"Kamu masih ada hubungan sama mereka?" tanyaku balik, takut.
"Nggak," jawabnya. "Udah nggak pernah. Terakhir aku liat Amira cuma waktu kejadian malem itu. Besoknya waktu tante Jingga pergi ke kantor aku, aku sama sekali nggak nemuin tante Jingga. Dia ngehubungin aku beberapa kali, aku milih gak jawab. Dua mingguan tante Jingga terus ngelakuin itu, terus dia ngirim pesan kalau dia mau pergi, mungkin pengen aku nyariin, aku gak gitu ngerti. Tapi aku beneran gak pernah punya hubungan apa-apa lagi sama mereka."
"Tante Jingga nggak tau kalau kita udah nikah?"
"Aku nggak tertarik buat kasih tau," sahut Aldric. "Kenapa kamu jawab panggilannya? Terus tante Jingga ngomong apa aja ke kamu?"
"Lumayan banyak. Awalnya dia pikir itu kamu yang nerima telfonnya. Dia di Bandung selama ini. Kaget banget kayaknya waktu tau aku sah jadi istri kamu. Terus aku dibilang gak pantes, yang pantes cuma Amira katanya." Semuanya keluar begitu saja. Niatku untuk bungkam seolah hancur ketika Aldric mengunci tatapanku.
Kulihat Aldric memijit pertengahan alis. Lalu kembali meraih ponselnya. Karena penasaran, aku memilih bertanya.
"Ngapain?"
"Kirim SMS buat tante Jingga, dia harus minta maaf sama kamu."
"Nggak usah. Cukup minta buat nggak ganggu kita lagi," jawabku sambil menegakkan punggung ketika melihat sarapan kami datang.
"Kamu, yakin?"
"Hm-hm." Kuperhatikan jemari Aldric yang bergerak di atas layar ponselnya. Kualihkan pandangan pada sarapan di depanku. Memilih mulai makan.
"Aku milih buat block nomor mereka."
"Pilihan kamu. Mungkin emang kayak gitu lebih baik."
"Stephen belum bangun?"
"Palingan dia bangun siang atau sore."
"Nanti mau kemana?"
"Kemana gitu yuk, bosen. Terus ntar malem abis dinner kita ke Krisna ya," pintaku menatap Aldric, kulihat Aldric tersenyum dan mengangguk.
"Oleh-oleh?"
"Iya," jawabku, kini mulai tersenyum.
* * *
"Stop it, Stephen!" semprotku kesal dengan ulah jahil Stephen terhadap rambutku. Aku dan Stephen memang berjalan lebih dulu menuju Krisna karena bule ini memaksa. Sedangkan Aldric, setelah memarkirkan mobil, ponselnya berbunyi, entah panggilan dari siapa.
"No, I like your hair, Nad."
"Step, stop it." Tepisku pada tangannya. Stephen lalu tertawa keras. "Not funny, you i***t!" Dan tawanya makin kencang diikuti rasa sakit pada rambutku. "Step, I swear, you better stop it. It hurts, Step."
"Okey-okey. I'm done with your hair."
"Good."
Aku memperbaiki rambut dengan jemari, sedangkan Stephen berjalan menjauhiku. Sialan, aku ditinggal. Baru ingin menyusulnya, aku sontak kaget ketika sesuatu memeluk pinggangku.
"Kenapa sama Stephen?" tanya Aldric.
"Rambut aku ditarik-tarik sama dia. Monster botak ih."
"Sakit, ya?"
"Iya," jawabku meringis. Kemudian kurasakan sentuhan tangan Aldric di rambutku. Membelai lembut sambil mengaturnya.
"Masih sakit?"
"Masih. Perih tau, Step otaknya ketinggalan di kamar hotel kali. Enak banget narikin rambut aku."
"Terus dia kemana?"
"Udah masuk duluan," rengekku. "Aku ditinggal. Jahat banget emang." Kudengar tawa ringan Aldric di telinga, membuatku menatapnya tidak terima. "Jangan ketawa, aku nggak lagi ngelawak."
"Aku gak ketawa, Nad," ucap Aldric ketika kami mendekati patung Krisna yang memang berada di depan pintu masuk Krisna.
"Itu apa kalo nggak ketawa? Nangis?" Ucapan dan aksi Aldric memang berbeda. Karena dia tidak sedetikpun menghentikan tawanya. Membuatku ikut kesal lalu melepaskan diri dari Aldric, mulai memasuki Krisna.
Rasa kesalku perlahan menghilang ketika menatap benda-benda yang berada disini. Dengan Aldric yang berjalan di belakangku, kami mulai berkeliling. Sedangkan Stephen yang sibuk sendiri sudah mendapatkan beberapa benda yang ia mau.
Aku juga mulai mengecek ponsel, membaca titipan keluarga termasuk Kiya dan Reva. Aldric bertugas mencari barang untuk kami, dan aku yang menyelesaikan titipan ini. Mataku seakan tergelitik ketika melihat Aldric juga Stephen tengah berdiri di depan produk kecantikan dan membahas mana yang paling bagus. Ya Tuhan, mereka berdua menggemaskan.
Stephen juga mengambil cukup banyak baju khas Bali. Katanya, selain untuk dipakai, dia juga akan menempelkannya di dinding. Biar orang-orang yang berkunjung ke rumahnya tau, bahwa dia pernah ke Bali. Ya apapun yang dia lakukan, asal dia bahagia.
Ketika jam di pergelangan tangan menunjuk angka sembilan, aku kembali mendekati dua pria tersebut. "Udahkan?"
"Titipannya udah semua?" tanya Aldric dan aku mengangguk. Akhirnya kami memilih untuk segera membayar. "Kamu laper?"
"Enggak. Makan udang yang tadi udah kenyang banget. Langsung balik hotel aja, ya? Aku udah ngantuk soalnya."
"Yaudah, abis ini langsung balik."
* * *
Besok aku dan Aldric akan kembali ke Jakarta, Stephen juga mulai terbang ke London. Ya Tuhan, kenapa kami berpisah cepat sekali? Kami memilih menghabiskan waktu sore di bar and resto hotel sambil menatap langit sore Bali, setelah sejak tadi terus saja bepergian. Jadi, agar tidak terlalu lelah esok hari, lebih baik kami disini.
Stephen menawarkan lawakan sejak tadi. Membuatku yang sedang minum harus rela berakhir tersedak. Bule botak ini memang kejam.
"Oh, I will miss you both," ujar Stephen bergantian menatap kami. "Promise me, you guys will visit London soon. And don't forget about your children. Always happy cuz I know you guys deserve it."
"Thankyou, Step. You too, I wish you will find someone that understand your ups and downs. I love you, Step."
"Love you too, darl."
"Thankyou, Stephen," ujar Aldric sembari tersenyum.
"Promise me, no matter what happens you have to take care of her."
Ya Tuhan, aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan bule ini.
* * *
Aku melambaikan tangan pada Stephen yang menjauh dengan kaus khas Bali berwarna biru. Kuusap air mata di pipi, masih tidak rela karena Stephen kembali ke London. Sebelum melangkah tadi, Stephen lagi-lagi mengingatkan bahwa kami harus mengunjunginya nanti, tidak hanya aku dan Aldric, tapi juga dengan anak-anak.
Membayangkan hal tersebut sukses membuat hatiku melambung tinggi.
Aku menoleh, menatap Aldric sembari mengangguk. "Ayok," ajakku, lalu menarik Aldric.
Sepertinya baru kemarin kami tiba, dan sekarang waktunya pulang.
* * *
Aku mengernyit bingung ketika Sean datang menjemput. Seingatku, aku tidak meminta Sean menjemput kami. Tapi bisa saja Aldric yang memintanya.
"Kita ke rumah temen gue dulu, ya?" Aku yang duduk sendirian di belakang langsung saja mengernyit.
"Tau gitu bagusan gue sama Aldric naik taksi ke rumah mama."
Ya, sementara waktu aku dan Aldric memilih tinggal di rumah mama. Aku mengusulkan pada Aldric untuk tinggal di apartemen sampai nanti kami mempunyai rumah tetap. Namun pria itu bergeming, dengan tenang dia menjawab, "Iya nanti aku yang urus."
Tapi hingga sekarang, Aldric tidak pernah membahas perihal tersebut. Membuatku harus turun tangan karena tidak mungkin kami terus menumpang di tempat mama dan papa. Besok, aku ingin ke rumah sakit menemui Kiya, meminta saran mengenai apartemen.
"Diem dulu kenapasih? Orang sebentar doang," balas Sean sewot.
"Kok nyolot? Benci banget sama orang nyolot."
"Siapa yang nyolot? Lo yang mulai duluan."
"Ditolak lagi ya, lo, sama Kiya?"
"Dilarang ngomong!"
"Tuhkan bener! Ntar deh gue bujukin Kiya nerima ajakan lo nonton bioskop."
"Nad, gak lucu."
"Orang gue nggak lagi ngelucu," celetukku sebal. "Gue bantuin, Yan. Tapi anterin kita ke rumah mama dulu, gue capek banget."
"Sebentar doang, Nad."
"Dimanasih? Jauh ya?"
"Enggak, searah rumah tante juga."
"Ntar kalau lama mobil lo gue bawa pulang."
"Lo jual juga gak apa-apa. Abis itu mobil cakep lo yang gue pake."
"Sean, lo nyebelin."
Kudengar Sean dan Aldric yang tertawa. Membuatku harus tahan banting disaat seperti ini. Harus banyak-banyak sabar. Harusnya aku membawa Kiya agar dapat menggoda Sean sepuas hati.
Aku menghabiskan waktu menonton video di YouTube. Benar-benar tidak tau harus apa, karena Aldric dan Sean sibuk membahas sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Hingga akhirnya mobil Sean berbelok, dan mulai kutemui rumah-rumah disini. Ini bukan perumahan dimana semua rumah memiliki bentuk sama sesuai tipenya. Seperti pada umumnya, membuatku ingat suasana ketika aku tinggal sendirian.
Mobil Sean berhenti di salah satu rumah dengan arsitektur unik. Tapi, fokusku terhadap rumah terganti tatkala mataku menangkap hal lain. Bukankah ini mobil milik saudara dan sepupuku? Kebingungan kian menyapaku saat Sean mengajakku keluar mobil. Maksudku, kenapa aku harus ikut dengannya? Tapi saat Aldric juga keluar, mau tak mau aku mengikutinya.
Halamannya cukup luas, tampak rimbun. Dan terdapat kolam di bagian sudutnya.
"Yan----"
"Diem dulu, Nad," potong Sean. Sedangkan Aldric sejak tadi tidak bersuara.
Kupeluk lengan Aldric, ketika kami memijak teras rumah dan Sean dengan gampangnya membuka pintu rumah.
"SURPRISE!" Teriakan serempak itu terdengar. Aku kaget. Benar-benar tidak bisa kusembunyikan perasaan haru campur bingung yang melanda. Mataku membaca satu persatu tulisan yang dibuat oleh sepupuku.
Cie rumah baru, selamat ya kak!
Kertas dari Zifana dan Aqila.
Rumahnya bagus parah, Nad. Ada untungnya ya punya laki arsitek.
Kiya yang tengah memegang kertas tersebut tertawa. Aku terus membaca, hingga tersadar dengan pria yang lengannya sejak tadi aku peluk.
"Ini serius?" tanyaku bergetar. Aldric tersenyum lalu mengangguk.
"Hal yang aku rencanain dari lama, dan baru selesai dua bulan lalu," ujar Aldric, lalu mendekapku. "Buat kamu, sayang."
Aku menangis karena perasaan bahagia. Satu lagi, pria ini membuatku merasa sempurna.
Kurasakan ciuman lama di kepalaku, sebelum akhirnya aku menyudahi pelukan kami. Beralih pada keluargaku. Hal lain yang aku tidak percaya, Razza serta Satria turut hadir disini. Menyumbangkan tawa mereka untukku. Kupeluk mereka satu persatu, mengucapkan banyak terima kasih.
Mama menangis memelukku bersamaan dengan papa. Kiya yang tertawa pun sama.
"Selamet ya, Nad. Jangan lupa isi rumahnya sama anak-anak lucu kalian. Gue gak sabar pengen cepet-cepet punya ponakan," ujarnya histeris. "Gimana Bali? Lancar?"
"Seru, walaupun kurang soalnya cuma tiga harian. Stephen juga udah balik ke London.".
"Maksud gue bukan jalan-jalannya,"
"Terus?"
"Misi ngasih ponakan buat kita lancarkan?" bisik Kiya pelan di telingaku. Wajahku seketika memanas karena kalimat tersebut.
"Nggak baik bahas gituan."
"Ih, jahat banget."
"Yuk, makan aja." Kiya mendelik sebal padaku. Sedangkan aku beralih pada Aldric yang masih berbincang bersama Sean. Kupeluk lagi tubuhnya, dan tak lupa berbisik, "Aku sayang kamu."
"Cari kamar sana!" teriak Sean, yang dibalas usiran oleh Aldric.
"Kamu seneng?" Tanya Aldric.
"Lebih dari seneng."
"Aku juga sayang kamu," ucap Aldric.
Tbc...