Bab Sepuluh

5237 Kata
Sabtu malam. Seperti janjinya, Nagara mengajakku pergi ke lapangan menonton pertunjukan wayang. Kami berjalan beriringan, saling berdiaman, sebab tak tahu harus membincangkan apa. Kuamati wajahnya dari sebelah; tatapannya lurus ke depan, monoton, tidak memiliki kombinasi emosi apa pun. Detik selanjutnya baru ia menoleh ke arahku, lantas dipalingkan lagi dengan ekspresi sambil lalu. Menghela napas, aku tak mengamatinya lagi. Kami sampai di lapangan yang telah dipadati oleh masyarakat desa. Entah dari desa mana saja, kemungkinan desa lain pun ada. Aku diajak duduk paling depan agar dapat menyimak jalan ceritanya dengan saksama. Panggung berukuran sedang dengan kain putih berdiri di depanku. Ada tempat khusus untuk gamelan dengan sindennya. Tokoh-tokoh wayang kulit ditancapkan pada batang pisang di depan tempat dalang. Lapangan sudah dipadati masyarakat desa saat aku memutar kepala ke belakang, mengamati keadaan. Bahkan ada yang rela berdiri di barisan belakang sana—ada pula yang naik ke atas pohon. Antusias mereka sangat besar pada pertunjukan ini. Sedang aku sama sekali belum pernah melihat seperti apa kiranya pertunjukan wayang kulit yang akan berlangsung beberapa saat lagi. Nagara bercerita padaku bahwa wayang kulit pernah dijadikan media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam. Selama ia bercerita, sesekali aku membagi pandangan antara dirinya dengan panggung di depanku. Perhatianku berhenti padanya, kuamati ia baik-baik, terbawa oleh penjelasannya sebelum aku melihat dengan langsung pertunjukan ini. “Ayahandaku lebih sering mendalang kisah Ramayana. Cerita yang terkenal dengan penculikan Dewi Sinta oleh Dasamuka. Kisah yang berakar dari cinta Dasamuka pada Dewi Widowati yang tak pernah sampai.” Ia mulai bercerita padaku tentang Ramayana. Aku sadar selama ia bercerita, ia tak pernah melepaskan pandangan matanya dariku. Mata itu berpautan dengan mataku bagai menyihirku dan membawaku masuk ke kedalaman jiwanya, entah selama berapa waktu aku tak tahu. “Api yang membakar Sinta dalam upacara pati obong ibarat simbol kesucian seorang perempuan di dalam kisah ini,” lanjutnya. “Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah Sri Rama memang mencintai Sinta dengan tulus. Aku tak pernah yakin.” “Kenapa kamu tidak yakin?” “Pertama kali bertemu dengan Sinta di taman Argasoka, Rama menolaknya karena dia pikir, Sinta ternoda oleh Dasamuka. Bila Rama benar cinta padanya, tak seharusnya dia meragukan kesucian Sinta dan membiarkannya melakukan pati obong. Padahal sewaktu Sinta mendengar bualan Dasamuka bahwa Rama telah mati, Sinta sudah berniat mengakhiri hidupnya. Seandainya bila Anoman tidak datang mengabarkan kalau Rama masih hidup, kiranya Sinta sudah mati gantung diri. Begitu besar cintanya pada Rama sampai tak kuasa menahan kepiluan membayangkan lelaki yang dicintainya mati. Sedangkan Rama dengan seenaknya meragukan kesucian perempuan yang katanya dia cintai. Kadang aku membenarkan ungkapan bahwa perempuan mencintai lelaki menggunakan hati sedangkan lelaki mencintai perempuan menggunakan logika.” Sebelah alisku tertarik ke atas. “Itu artinya kamu membenarkan bahwa kamu mencintai perempuan menggunakan logika?” Seandainya benar begitu, harusnya ia jatuh cinta padaku dengan mudah seperti kebanyakan pria di luar sana. “Kuakui kamu memang cantik, Btari,” katanya sungguh-sungguh. “Doa orang tuamu barangkali diamini oleh malaikat hingga kamu diciptakan sedemikian rupawan. Namun tak akan kubiarkan mata ini yang jatuh cinta padamu hanya karena kamu jelita.” Ia tersenyum kecil, lantas memalingkan wajah dariku menuju lurus ke depan karena pertunjukan telah dimulai. Kukerjapkan mataku berulang kali mencerna kalimatnya. Lantas, perempuan seperti apa yang membikin ia jatuh cinta? Kami dihibur dengan suara sinden yang membawakan lagu Jawa diiringi oleh kelompok gamelan. Kuubah posisi dudukku senyaman mungkin selama pertunjukan berlangsung. Seorang dalang dengan pakaian batik memasuki panggung, duduk di depan layar yang telah diterangi oleh lampu minyak, kemudian memulai jalan cerita. Di sebelah, Nagara bersedia merepotkan dirinya menjelaskan padaku jalan cerita yang diantar Ki Darsono. Cerita dari epos Mahabharata, yang mana terdapat Pandawa Lima sebagai tokoh utama. Srikandi ternyata masuk ke dalam epos ini, sebagai istri Arjuna dalam pewayangan Jawa. Mahabharata bercerita tentang peperangan Bharatayuda yang pecah antara Pandawa Lima dengan saudara sepupu mereka, seratus Kurawa. Pertunjukan berlangsung berjam-jam. Mataku mulai berat, berusaha membujukku terlelap di tengah cerita. Kelopak mataku perlahan-lahan turun. Beberapa kali kepalaku tersentak ke depan. Aku tak terbiasa tidur larut malam, apalagi melihat pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, beginilah jadinya. Kesadaranku menyurut beberapa persen. Aku berada di antara dunia fana dan alam mimpi. Kepalaku rasanya melayang di udara, pening dan ringan. Saat perlahan-lahan kepalaku bergerak ke kiri hampir jatuh, keberadaan tangan seseorang menahannya, lalu menyorongkannya ke arah sebaliknya dan menidurkan aku di atas pundaknya. Bahuku terasa hangat. Aku dibuai oleh rasa nyaman dan aman. Membuatku semakin terlelap dalam hangatnya pelukan yang intens.   *   Ini pertama kalinya aku datang ke sekolah alam yang pernah disebut oleh Bunda. Tempatnya memang terbuka. Seperti namanya, dekat dengan rimbun pepohonan teduh. Anak-anak dari usia sembilan tahun sampai dengan duabelas tahun membentuk lingkaran kecil mendengarkan penjelasan salah satu mentor yang berdiri di tengah lingkaran itu. Aku tak mengenalnya. Tahu tentang dirinya saja baru hari ini saat aku ikut Nagara datang ke tempat ini. Nama perempuan itu Kinara, yang sangat dekat dan pandai bermain kata-kata mengajar peserta sekolah alam. Ia memiliki rambut pendek sebahu. Aku hanya memandang dari tempat dudukku. Sesekali kubagi pandanganku antara bocah-bocah di depan sana dengan biola yang telah berada di genggamanku. Aku bisa menjelma menjadi gadis pemalu jika dihadapkan orang banyak, apalagi jika diminta tampil di depan mereka. Jangankan anak-anak yang jumlahnya sekitar dua puluhan itu, tampil di depan teman-temanku saja rasanya berat. Kini hanya karena kesalahanku yang mengaku bahwa aku dapat memainkan piano serta biola, Nagara memintaku memainkannya di depan peserta sekolah alam. Bukan karena kebetulan, tapi ia sengaja mengatur hari ini mengambil tema tentang musik. Bahkan ia meminta staf pengajar lain menyiapkan alat musik dan diserahkan pada masing-masing anak. Malam lalu aku terlibat obrolan dengan Bunda. Ia bertanya padaku apa hobi serta cita-citaku. Aku mengatakan padanya disaksikan Sam yang mengerjakan PR dan Mega yang menonton televisi—dengan wajah bosan, sesekali melirikku—juga Nagara yang menulis sesuatu di sofa lain. Karena penasaran, sempat kutengok apa yang ditulisnya waktu itu, namun ia menghindar sambil memberikan pandangan memeringatkan, membuat bibirku melengkung ke bawah. Selimut penasaran membentang melingkupiku saat itu. Namun aku tahu sopan santun, jadi aku tidak lagi mengganggunya, alih-alih menceritakan pada Bunda apa kesenanganku. “Bermain musik. Dari kecil saya belajar bermain piano dan biola. Mama saya ingin sekali melihat saya tumbuh sebagai musisi yang handal,” kataku malam itu. “Tapi sayangnya, saya tidak suka menunjukkan bakat di depan umum.” Bunda terkekeh pelan. Diraihnya secangkir teh hangat di atas meja, lalu menyeruput sedikit. Ia letakkan cangkir itu kembali, lantas berkata, “Kenapa harus malu. Bermain musik kan bukan tindakan memalukan, Nak.” Aku mengusap belakang leherku yang sedikit kaku. “Ya… memang. Tapi saya lebih suka bermain untuk diri saya sendiri, Bunda.” “Bagaimana rasanya bermain musik untuk dirimu sendiri?” Aku menerawang ke atas, meraba perasaanku kembali ketika memainkan piano atau biola di waktu lengang, seorang diri. Terkadang di kelas musik jika tidak ada siapa-siapa di dalam sana, kadang pula bermain di rumah saja. “Rasanya menyenangkan. Perasaan saya jadi lega. Tiap saya sedih, senang, atau marah, biasanya saya memainkan biola atau piano. Namun kemudian saya jarang memainkannya. Tugas-tugas sekolah menumpuk menunggu dikerjakan.” “Bermain musik sendiri saja menyenangkan. Apalagi kalau kau memainkannya di depan orang? Berapa banyak orang yang kau bikin senang?” Ucapan itu spontan membuatku tertegun. Bunda mengamati wajahku dari kedua matanya yang menyorot teduh. Mata itu bagaikan dua kejora. Kelap-kelip di tengah kegelapan, berusaha menerobos dinding hatiku yang sedikit kaku, membuatku semakin nyaman berada dekat dengan wanita itu. Seolah aku sedang berdekatan dengan Mama. Aku merindukan Mama. Juga Papa. Juga teman-temanku. “Tapi—” “Kata tapi itu, Nduk, yang suka menghambat seseorang untuk maju,” sambungnya. “Banyak tapi bikin orang malas melangkah makin maju. Pasti stagnan, jalan ditempat, dan begitu-begitu saja. Tak ada kemajuan apa pun. Mau kau tetap jalan di tempat?” “Tidak, Bunda.” “Kalau kau suka bermain musik, kau harus berani semakin maju, menunjukkan kalau kau berbakat. Bakat itu bukan untuk disimpan saja. Harus dikeluarkan. Jangan dierami seperti induk ayam.” Bunda melayangkan senyum menentramkan. Pemberi semangat terbesar buatku, saat ini. “Paham kau?” Kuanggukkan kepalaku. “Di sanggar seni ada biola yang disimpan, biasanya dibuat pertunjukan keroncong di desa ini. Kalau kau mau, kau bisa pinjam di sana, nggak usah sungkan.” Sudut-sudut bibirku bagai ditarik ke atas, melengkung manis membentuk senyum senang. Dari malam itulah aku memberanikan diri memegang biola ini di depan banyak orang. Sekali lagi kuamati biola beserta penggeseknya, memutar-mutarnya, menelisik setiap lekuknya bagai mencermati intan permata dan mendambanya. Kinara menoleh ke arahku. Tangannya melambai di udara seperti nyiur kelapa, memanggil namaku. Kuangkat pantatku dari atas batu besar tempatku duduk tadi, lalu melenggang menghampiri lingkaran kecil itu. Hanya ada Kinara yang berdiri di tengah lingkaran. Ekor mataku melirik Nagara yang berdiri bersedekap di luar lingkaran, mengangguk-angguk padaku, menyuruhku segera bergabung dan mulai berinteraksi dengan anak-anak itu. Begitu aku berdiri di tengah lingkaran, jantungku berdebar lagi, seperti dihadapkan guru killer saat ujian. Aku membuka mulut mulai berinteraksi dengan mereka. Sialan, aku gugup. “Hai,” sapaku. “Namaku Btari. Aku baru pertama mengunjungi tempat ini.” Bola mataku melirik masing-masing anak kecil di sekitarku. Kuputar badanku, meminta bantuan Nagara bagaimana menghadapi anak-anak kecil. Sialnya, ia hanya menanggapi dengan bahu terkedik, pura-pura tak acuh. Kuhela napas panjang dan melanjutkan, “Aku suka musik. Aku diajarkan bermain musik sejak kecil. Ini adalah salah satu instrumen musik yang kukuasai.” Kupamerkan biola pinjaman sanggar seni di tanganku pada bocah-bocah di sekitarku. Badanku berputar-putar seperti kincir angin, kadang aku melangkah ke depan, belakang, samping, sambil menjelaskan pada mereka sedikit pengetahuan tentang biola. Mereka mendengarkan penjelasanku dengan saksama. Seperti murid pada gurunya. Mungkin mereka anggap aku sebagai salah satu pengajar, guru di tempat ini, seperti Kinara yang merupakan guru tetap. Setelah kujelaskan, anak-anak itu mulai kuantar pada satu permainan. Biola berukuran sedang ini kuapit di atas pundak dan leherku, mengambil posisi siap memainkannya. Busur sudah tergenggam di tangan kananku. Mulai kugesekkan busur itu pada dawai biola, seraya menutup mata demi mencari keselarasan. Aku mainkan salah satu musik yang pernah kupelajari—meski kuyakini anak-anak itu belum pernah mendengar lagu ini. Song of the Caged Bird milik Lindsey Stirling. Begitu kutemukan ketenangan dan aku berada di tengah perasaan gembira, kelopak mataku mulai terbuka. Kugerakkan badanku, melenggang-lenggok mengikuti irama, bagaikan menari di udara dan memijak sutra yang lembut. Aku seakan dihempas menuju dunia surealis yang lebih tenang dengan padang bunga, cericit burung bertengger di dahan, gemerisik dedaunan dihela sang bayu, dan air mengalir tenang yang menyatu bersama melodiku. Dan not-not balok bagaikan ikut menari riang, bergandengan, menggerakkan tangkai-tangkai mereka dan melesat lincah mengitariku. Benar kata Bunda, bermain musik untuk membahagiakan orang lain ternyata lebih menyenangkan daripada memainkannya sendiri. Melihat senyum merekah bocah-bocah yang mengelilingiku itulah suntikan penyemangat buatku. Membikin aku semakin menari lincah sampai bawahan bajuku mengembang. Kuputar badanku, berjalan memutari lingkaran sambil terus memainkan lagu ini secara ekspresif. Sekitar tiga setengah menit aku memainkannya. Lagu ini memang tidak sepanjang lagu lain yang pernah kupelajari. Seperti Canon Rock misalnya. Suara tepukan riuh kudengar setelah aku berhenti dan menundukkan badanku rendah tanpa melenyapkan seringai lebarku. Anak-anak itu menikmati permainanku, memujiku sebagai seorang pemain biola yang hebat. “Lagi! Lagi! Lagi!” mereka berseru menggunakan bahasa daerah. Bahuku terkedik, kulirik Nagara di luar lingkaran. “Mereka ingin kamu memainkannya lagi,” katanya. Oh… Memainkan biola ini lagi? Kuketukkan jariku pada bibir. Bola mataku bergerak memandang ke atas seperti menerawang, memikirkan lagu apa yang akan kumainkan. “Bagaimana kalau kita menyanyi bersama saja?” Kinara menginterupsi pikiranku dengan suara nyaringnya. Ia bertepuk tangan meminta perhatian anak-anak kecil itu. Langsung saja sorakan senang terdengar bersahut-sahutan, setuju dengan idenya untuk menyanyi bersama. Ia pandangi aku lagi. “Kamu bisa menyanyi, Btari?” Wah, menyanyi lagu apa? Yang kutahu hanya lagu-lagu beraliran RnB, pop, jazz, blues, aku tak tahu seleranya. Maka, kugelengkan saja kepalaku sebagai jalan aman. “Permainan biolamu baru saja bagus sekali,” seseorang muncul dari arah timur mengalihkan perhatianku. Seorang pemuda tinggi yang tampaknya sebaya denganku—atau dengan Nagara—bergabung bersama kami. Ternyata ia seorang staf pengajar lain, mulai memperkenalkan namanya padaku; Arka. Ia baru bergabung di tengah lingkaran. Dan kutahu dari tempatnya sana, Nagara menegakkan dagunya defensif. “Kamu tidak bisa nyanyi?” Arka bertanya seperti mengharapkan jawaban lain yang sekiranya sesuai dengan yang ia harapkan. Aku menggeleng lagi. “Ya sudah kalau begitu.” Dipandangnya Kinara, menyuruhnya duduk. “Sini, kamu yang menyanyi denganku.” Arka yang membawa gitar duduk bersila bersama Kinara yang telah membagikan beberapa instrumen musik tradisional pada anak-anak yang bisa memainkannya. Kepalanya menengadah ke arahku. Senyumnya tak pernah lepas barang sedetik tiap ia memandangku. Bukan maksud percaya diri, memang begitu adanya. Aku sampai menggaruk tengkukku rikuh dipandang seperti itu. “Duduk sini.” Ditepuknya tempat di sampingnya yang masih kosong. Aku meletakkan biola beserta busurnya di sebelah Arka. “Kalian nyanyikan saja lagunya,” Nagara menyahut tiba-tiba, melangkah mendekat dan akhirnya bergabung ke dalam lingkaran. “Biar aku dan Btari yang berdansa.” Jantungku rasanya jatuh di bawah kakiku mendengar pernyataan seperti itu darinya. Debaran itu datang lagi, lebih keras daripada biasanya, memiliki irama pula. Ia tak menunggu balasanku. Ia raih tanganku dalam genggamannya. Jiwa ini rasanya seperti digetarkan sesuatu, bagai lonceng angin yang terdera. Semua yang tadi berputaran di pikiranku seketika meloncat berhamburan meninggalkan akal sehatku. Aku tak berkedip, mencermatinya dengan mata membulat seperti boneka porselen, membiarkan tanganku digenggam lembut olehnya. Tak lagi kupedulikan keadaan di sekitarku. Kini yang menjadi perhatianku hanyalah dirinya. Entah apakah ada magnet di kedua mata itu, yang tengah memandangku intensif, sampai-sampai bola mataku terasa kaku. Sulit melepaskan diri darinya. Ia tersenyum padaku. Tersenyum padaku, kuulang sekali lagi! Dalam sehari ini, baru kali inilah ia tersenyum padaku. Senyuman yang lebih tulus daripada biasanya. Dan mengundangku balik tersenyum padanya. Dan ini kali pertamanya ia tampak senang bersamaku. Atau aku yang terlalu berlebihan menanggapinya? Awalnya aku canggung. Kaki ini seakan tak dapat dipindah, seperti dibelenggu, enggan membawanya bergerak mengikuti iringan musik. “Kamu bisa berdansa kan, Btari?” tantangnya. “Aku yakin bisa. Ayo.” Baru saat Kinara mulai bernyanyi dengan suara gemerincing merdunya, aku memberanikan diri untuk mengikuti gerakannya. Tanganku yang dingin menyentuh pundaknya, sementara yang satunya digenggam olehnya. Ia melingkarkan tangannya di sekitar pinggangku. Lututku bagaikan jeli, melemas detik itu juga. Detak jantung ini justru mirip hentakan barikade. Aku khawatir Nagara bisa mendengar suara debarannya. “Anyam-anyamanyan Nyaman, Btari. Lagu kesukaanku,” katanya di tengah-tengah gerakan kami. “Belum pernah aku mendengar lagu seperti ini.” Bahkan, sama sepertiku. Matanya tidak beranjak ke mana-mana selain hanya terpaut padaku, bagai merayuku, menyihirku, membuatku terperdaya akan kekuatan sublim nan sakral yang merengkuh jiwaku, hingga menjadi potongan-potongan rapuh. “Musik seperti apa dan milik siapa yang kamu dengarkan? Musik buatan Ludwig van Beethoven? Wolfgang Amadeus Mozart? Johann Sebastian Bach? Atau Les Vieilles Salopes?” “Kamu tahu mereka rupanya.” Ia tertawa kecil. Dan sesuatu seakan menggelitik jantungku mendengar tawanya. “Hanya sebagian komponis ternama dunia sepanjang masa. Siapa yang tidak kenal mereka? Mozart terkenal dengan musik riang gembira sedangkan Beethoven dengan musik laratnya.” “Kurasa, hanya orang-orang yang memiliki minat pada musik yang mengenal mereka,” aku masih belum puas terhadap jawabannya. “Berapa banyak buku yang kamu baca, hah? Aku sungguh ingin melihat koleksi keluargamu.” “Aku punya banyak kawan, Btari. Dan mereka bersedia berbagi pengetahuan denganku. Aku tak memiliki perpustakaan khusus di rumah; hanya satu rak di kamarku yang dimuati berbagai macam buku bacaan. Dan rak buku milik Bunda di kamarnya. Koleksi terbesar keluargaku tidak ada di rumah kami.” “Lantas, di mana?” “Ada di suatu tempat rahasia. Jika suatu saat pemerintah tahu kami menyimpan berbagai ilmu pengetahuan yang jumlahnya sangat banyak tanpa memberikan laporan, mereka akan membakarnya. Kami dilarang menjadi orang cerdas tanpa ikatan. Kami yang cerdas akan dibawa pergi dan tidak pernah kembali.” “Kamu pintar. Bagaimana mungkin masih di sini?” “Aku tak sepintar yang kamu kira.” Aku mengernyit. “Wawasanmu cukup luas. Mustahil mereka tidak membawamu pergi.” “Berarti aku benar tidak pintar, kan? Setidaknya, di depan mereka.” Ia tertawa pendek, sedangkan aku memberengut. “Apakah prajurit-prajurit itu sering datang kemari?” kupelankan nadaku agar tak menarik kecurigaan. “Ya. Mereka hanya akan datang di waktu-waktu tertentu. Untuk mengawasi, memeriksa, dan mencari dalang kerusuhan.” Aku memutar badanku di bawah gandengannya, membuat bawahan bajuku mengembang layaknya bunga mekar. Kujauhkan diriku darinya, berputar mendekat ke arahnya, lantas dijatuhkannya tubuhku ke bawah seraya menahan punggungku dengan sigap. Rambutku yang panjang tersentak ke bawah seperti akar gantung, menyapu tanah dan dedaunan kecil yang kering. Selama beberapa saat itu ia pandangi aku dengan saksama. Seperti mengamati barang berharga dan memastikan tak ada yang cacat. Napasku tercekat di tenggorokan. Sedang darahku seakan tersumbat di arteri. Aku tak berkedip, bersipandang dengannya. Jantungku berdebar laksana gita yang digetarkan. Aku mendengar helaan napasnya yang hangat dan teratur, menyentuh leher dan wajahku. Detik berikutnya baru ia menarikku kembali. Tanganku digenggam lebih erat seolah tidak ingin melepasku pergi. Hampir tak ada jarak di antara kami. Jantungku masih saja menggoda dengan suara menghentak-hentak itu. “Kamu pernah ikut kelas berdansa?” tanyaku, bergerak lagi menyamai irama petikan gitar, seruling, terbang, dan kendang yang ditabuh. “Tidak pernah.” “Lalu ini?” Sebelah alisku terangkat, curiga terhadap jawabannya. “Sudah pernah kubilang, kan? Aku belajar dari mana saja, Btari. Dari siapa saja. Selama aku memiliki banyak kawan yang sering berbagi denganku.” “Berarti kamu pernah diajak berdansa?” Ia bergeming. “Anjani sering mengajakku berdansa.” “Anjani?” “Teman seperjuanganku.” Hanya teman seperjuangan. Jangan terbawa perasaan, Btari. Aku berputar-putar lagi. Bawahan bajuku mengembang seperti tadi, selaras dengan rambut panjangku yang tersibak. Aku mirip boneka penari di dalam kotak musik kalau begini. Napasku sudah terengah-engah. Namun aku belum mengenal lelah. Sampai suara Kinara dan Arka tenggelam dalam iringan musik di sekelilingku. Begitu aku berhenti berputar, aku ditarik lagi lebih dekat hampir menyentuh dadanya. Kukaitkan jari-jemariku padanya hingga berpadu. Sedang tangannya yang lain terangkat, jemarinya menelusuri sebelah wajahku, mengusapnya lembut dan perlahan. Aku seakan menyatu dalam kehangatan yang dibawa olehnya. Darahku mendidih dan mengalir deras dari organ pemompaku, hingga mengisi ruas-ruas jariku yang terkait dengan jemarinya. Waktu seperti tak berputar. Bumi yang kupijak tidak terasa di kakiku, seolah-olah berhenti berotasi. Atau hukum gravitasi sedang tidak berlaku saat ini. Ya Tuhan, manusia macam apa yang Kau kirimkan padaku? Mengapa ia membikin jantungku jumpalitan tidak keruan seperti ini? Seruan bersahut-sahutan dari bocah-bocah di sekitarku spontan membuat mataku berkedip. Nagara melepas tanganku yang terkait dengan jemarinya. Sedang aku berpaling muka sekadar menyembunyikan pipiku yang pasti merona ibarat rembang senja. Kukaitkan rambutku ke belakang telinga. Malu-malu melirik ke arahnya. Menghindari kemunculan senyum berlebihan seperti biasanya, aku menggigit bibir bawahku. Ia berbalik membelakangiku dan menjentikkan jari pertanda kelas bubar. Kinara beranjak dari tempat duduknya, bergabung dengan Nagara dan terlibat obrolan dengannya. Gadis itu menyenggol bahunya samar, sambil sesekali menoleh ke belakang, ke arahku. Sedang Arka mengarak bocah-bocah itu pergi, sambil sesekali melirikku; aku tak terlalu memedulikan lirikan matanya yang penuh damba itu. Diam-diam kuraba dadaku. Mencoba merasakan detak jantungku dengan telapak tanganku sendiri. Ini memang nyata. Bukan seperti dongeng yang diceritakan Mama. Atau drama karangan Shakespeare. Debaran ini nyata untuk seorang perempuan yang tengah jatuh cinta sepertiku. Sungguh nyata.   *   Ternyata tujuan mengapa sebagian warga Pari mengikuti pelatihan bela diri ialah untuk melindungi Pari dari serangan luar, termasuk orang-orang Waluku yang bisa saja menyerang secara membabi-buta. Itulah mengapa sebagian dari mereka dibentuk menjadi pribadi kuat yang bisa diandalkan sebagai pertahanan. Nagara bilang padaku ia mulai menekuni silat sejak kecil, dan sekarang ia diberi kesempatan menjadi pelatih. Seperti biasa, aku mengamatinya berlatih di tengah lapangan. Kali ini bukan hanya Mas Yudhistira yang mengajakku mengobrol. Ada Kinara dan Arka yang ikut menemaniku berbicara, seperti teman yang telah lama mengenal. Teman-teman Nagara banyak yang menggodaku, bertanya ini dan itu, bahkan ada yang menyeletuk memintaku jadi pacarnya. Aku merasa terganggu dengan godaan-godaan seperti itu. Meskipun aku yakin mereka tak bermaksud demikian. Mas Yudhistira saja tertawa melihat muka memberengutku. Saat aku tersenyum malu-malu kucing menanggapi candaan teman-teman Nagara, saat itu pula Ayu datang mendekatiku. Diamatinya aku dari balik matanya, tajam dan seakan mencengkeram ulu hatiku sampai nyeri. Aku menelan ludah dengan susah payah mendapat tatapan membunuh darinya. Pikiran itu tertanam sebagai doktrin di otakku. Aku harus berpikir positif, walaupun tak yakin apakah ia menyukaiku atau malah sebaliknya. Di belakang sana, kulihat Nagara mengamati gesturnya dengan tangan bersedekap; mungkin jaga-jaga kalau Ayu bertindak tak menyenangkan padaku. “Aku belum pernah bertemu denganmu,” katanya. Nadanya begitu arogan, sarkastis, dan mengintimidasi. Sudut mataku berkedut tegang. Kuulurkan tanganku ke depan, mencoba bersahabat dengannya. “Hai,” sapaku. Mungkin bukan sapaan terbaik, sebab dapat kurasakan getaran pada nadaku. “Aku Btari.” “Sudah tahu kok.” Ya ampun, balasannya saja ketus. “Aku mau tahu kemampuanmu di lapangan,” tantangnya. “Hah?” kutanya lagi pertanyaannya, mengira ada yang salah dengan telingaku. “Hah-heh, kamu tidak dengar atau sengaja tak mau dengar?” “Jangan macam-macam, Yu,” Nagara menyahut di belakang sana. “Dia tidak sama seperti kita.” “Tidak sama?” Ayu menoleh ke belakang. Diamatinya diriku seraya menarik ke atas sebelah alisnya. “Tidak sama bagaimana? Apa dia makhluk testral, heh?” “Dia tidak punya fisik sekuat dirimu.” “Ah masa?” Ayu bertanya hiperbolis. Aku tidak suka diremehkan orang. Memang aku tidak pernah belajar sesuatu seperti yang dipelajari Ayu, tapi bukan berarti aku tak mau mencoba! Siapa tahu aku mampu menyamainya. Berbekal ingatan kuat tentang teknik-teknik dalam melakukan bela diri selama mengamati mereka latihan dan sewaktu aku sering berkunjung di arena latihan karate, maka aku berdiri dari atas batu, menyanggupi tantangannya. Sontak saja suara gaduh riuh terdengar bersahut-sahutan. Gelombang suaranya merambat mengisi lapangan. Tepukan keras Mas Yudhistira awal dari perseteruan antara aku dengan Ayu. Namun lain halnya dengan Nagara, ia menggelengkan kepala, meredam seru-seruan di lapangan dengan suara lantang, “Aku bisa menggantikan Btari.” Ayu memutar badannya, berhadap-hadapan dengan Nagara. Gadis itu melipat tangan di depan d**a, berdiri congkak, menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Nagara. “Kenapa?” “Kekuatan digunakan untuk bertahan, bukan untuk menyerang.” “Menyerang? Kamu kira aku berniat menyerang? Artinya sama saja dengan membiarkan gadis itu terus-terusan lemah dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri.” Ayu menoleh lagi ke arahku. “Lihat, bayangkan kalau gadismu itu dijahati orang dan tak ada yang bisa menolongnya. Siapa yang mau menolongnya? Gatotkaca?” Aku menghela napas panjang. Cukup penghinaannya. Ia salah jika menganggapku tak bisa melindungi diriku sendiri. “Baik, kita mulai di tengah lapangan. Ayo,” kataku, lebih berani daripada tadi. Ayu menunjukku, mengangkat sepasang alisnya mencemooh. Ia melangkah lebih dulu menuju lapangan, sementara aku mengekor di belakangnya. Begitu melewati Nagara, lenganku ditarik sampai langkahku terhenti. “Jangan bodoh, Btari.” “Aku tidak suka kalau orang-orang mulai meremehkanku.” Kupandang ia sungguh-sungguh. “Biarkan aku memenuhi tantangannya. Biarkan aku mencari jati diriku. Apakah aku memang dilahirkan hanya sebagai kegagalan atau sebagai harapan untuk mereka yang bernasib sama denganku?” “Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.” Ia menarik lenganku, membawaku lebih merapat di sampingnya dan merendahkan suaranya. Lebih tajam memperingatkan, hingga membuatku merinding mendengar nada tak main-mainnya. “Kamu tidak punya pengalaman apa pun.” “Tolonglah,” aku berbisik memohon, hampir seperti desisan angin. “Jangan buang-buang waktu!” Ayu berteriak tak sabar. Kuhela napas panjang, menarik lenganku dari cengkeraman kuat Nagara. Pada akhirnya, ia membiarkan aku pergi bergabung bersama Ayu di tengah lapangan. Gadis itu telah menungguku, menggosok dan menepuk tangannya. Saat aku memandang Nagara, ia balas tatapanku dengan helaan napas pendek. Kekecewaan tampak di raut wajahnya. Ia berpaling, memandang barisan pohon bambu di depannya. Aku mulai berkonsentrasi pada obyek di depanku. Matilah aku jika tidak dapat bertahan dari gadis macam Ayu. Apalagi aku belum pernah mengaplikasikan pembelajaran tak langsungku di lapangan. Kini aku jadi menyesali diri, mengapa sedari dulu tak ikut ekstra bela diri, secara diam-diam tentunya. Ayu membungkukkan badannya sebagai hormat. Aku mengikuti gerakannya. Begitu menegakkan tubuhnya kembali, ia menggerakkan jari-jemarinya menyuruhku menyerang. Ingat apa yang dikatakan Nagara, Btari… Kekuatan tidak digunakan untuk menyerang, melainkan melindungi diri. Tampaknya Ayu sudah jengah menungguku mulai. Maka ia maju menyerang lebih dulu. Aku menghindarinya dengan bergeser ke samping dan mundur ke belakang. Suara tawa menggelegak memenuhi lapangan. Di tepi sana, kudengar seruan mengelu-elukan namaku. Memberikan semangat padaku. Suara yang paling keras adalah suara Arka. “Apa-apaan ini?” Ayu berbalik badan murka. “Jangan seperti pengecut, ayo.” Ia maju lagi, langsung meninjuku tepat di wajah, membuatku tersungkur ke bawah. Wajahku mencium tanah dengan mulusnya, menanggalkan perih di sudut bibirku. “Ow…” aku meringis kesakitan. “Cukup, Ayu,” Nagara berseru lagi. “Di sini, tidak ada kata cukup sebelum tahu siapa pemenang dan siapa yang menjadi pecundang.” Ayu menepuk tangannya. “Ayo, Btari.” Kuangkat badanku, menyeka setitik darah di sudut bibirku yang perih. Rasanya seperti ada sesendok logam cair yang disorong kasar ke dalam mulutku. Kulihat darah yang melumuri ibu jariku, lantas melirik ke arah Ayu yang memberi kode melalui jari-jarinya. “Ayo, Btari! Tunjukkan kalau kamu bisa! Ayo!” seruan-seruan di lapangan terdengar lagi. Pada akhirnya aku berdiri tegap, berhadapan dengan Ayu lagi. Ia layangkan pukulan lainnya ke arahku, namun dapat kuhindari. Lantas datang pukulan lainnya dan kutangkis sekuat tenaga. “Berengsek,” aku keceplosan mengumpat merasakan panas membara akibat hantaman tanganku dengan tangannya. Untung u*****n itu tak sekeras suara Quinita. Kukibaskan tanganku yang memerah di udara. Menghembuskan napas panjang, aku mengambil sikap kuda-kuda lagi. “Jangan hanya menghindar, kenapa kamu tidak menyerangku?” “Beri aku alasan untuk menyerangmu.” “Baik.” Ayu maju, menghantamkan bogem mentahnya kena tulang pipiku. Aku tersungkur lagi. Sekiranya wajahku bilur-bilur dan lebam parah kena hantaman bertubi-tubi darinya. Belum puas ia memukulku, rusukku ditendang. Tidak terlalu keras, namun sukses membuatku berjengit kesakitan. “Berhenti!!” suara Nagara terdengar lagi. “Sudah, hentikan!” Alih-alih berhenti, Ayu menarik kerah bajuku, membantuku berdiri secara kasar. Kuamati dirinya dengan mata berkunang-kunang. Mulutku seperti dipenuhi oleh darah. Rasa logam memercik sampai di lidahku. Ia amati wajahku baik-baik dengan kedua alis menyatu. “Wajah-wajah sepertimu ini, entah mengapa aku jadi teringat para pengkhianat negeri yang duduk manis di kursinya,” bisiknya. “Aku curiga kamu dari sana.” Kesempatan itu kugunakan dengan baik. Setidaknya, aku mampu melayangkan pukulan ke arahnya, membuat ia terkesiap kaget dan melepas cengkeramannya dari kerahku. Sorak-sorai bergemuruh di lapangan. Menyebut namaku berulang kali dalam euforia. Padahal aku baru berhasil memukulnya sekali. Napasku sudah terengah-engah. Kuseka keringat di dahiku, juga darah yang masih mengalir di sudut bibirku. Perih itu semakin parah kurasakan. Aku menghela napas panjang menenangkan. Ayu menatapku nanar. Rambutnya yang dikuncir ke atas bergoyangan saat ia bergerak lagi menghampiriku. Diraihnya tongkat panjang yang tergeletak tak jauh darinya. Lalu dihantamkannya tongkat itu ke arah tubuhku. Memang hanya satu kali. Tapi sakitnya bertubi-tubi. Aku terjerembab di atas tanah dengan tubuh nyeri. Ketika berguling berniat bangkit, ia berada dekat denganku, hampir menghantamkan pukulan selanjutnya. Tongkat di genggaman Ayu yang hendak dihantamkan ke arahku dapat ditahan oleh tangan Nagara. Matanya menyala berapi-api, tampak murka pada Ayu yang sama nanarnya ketika menatapku. “Kalau saja kamu bukan perempuan—dan sahabatku—aku patahkan lehermu saat ini juga.” Ia lempar tongkat di tangannya kasar ke sembarang tempat. Lalu mendekat padaku dan mengamati keadaanku. Bukannya merasa bersalah, Ayu justru tertawa pendek, tersenyum miring mencemoohku. “Pengecut.” Kemudian berlalu pergi dengan langkah khidmatnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Nagara membantuku berdiri dan hendak memapahku, namun aku menggeleng. “Tak apa,” kataku. “Aku baik-baik saja.” “Baik-baik saja setelah dihajar?” “Sedikit sakit. Tapi tidak apa. Jangan cemaskan aku. Aku tak perlu bantuan...” “Aku tidak menerima perintah darimu.” Hampir saja aku terjatuh. Kakiku terasa lemas. Kuamati memar pada lututku yang berdarah. Mulutku terbuka ingin mengatakan sesuatu—khawatir ia semakin marah dan melakukan tindakan buruk pada Ayu. Belum sempat aku berbicara, kurasakan badanku ringan. Aku sadar bahwa kini aku sudah berada di gendongannya. Tanganku praktis melingkar di lehernya, terkejut. “Hey!” seruku, kehilangan kata-kata. “Sudah kubilang, kan? Aku tidak menerima perintah. Jadi, jangan banyak bicara. Oke?” Aku mendengus. Ia tak mengacuhkanku lagi, alih-alih terus berjalan melintasi lapangan sambil menggendong tubuhku dan diamati berpasang-pasang mata. Termasuk Ayu yang mengerucutkan bibir miring dan Arka yang dilingkupi kecemburuan. Namun di luar semua itu, aku lebih sibuk merasakan geletaran perasaanku. Debaran jantungku. Juga aliran darahku yang seperti tersembur sampai puncak kepala. Kuamati ia selagi membawaku dalam gendongannya. Lantas kusembunyikan wajahku darinya. Menyembunyikan senyumku yang merekah.   *   Selama tinggal di sini, aku mulai disibukkan dengan aktivitas baruku. Bahkan aku mulai mengamati bagaimana Bunda menggambar sketsa baru, menjahit baju, juga melakukan pekerjaan rumah bersama-sama. Aku mulai berlatih tari di sanggar seni. Kesibukan di tempat ini menjauhkanku dari kebosanan. Terkadang aku datang ke tempat ini, lalu ke tempat itu, bergonta-ganti kesibukan sesuai dengan keinginanku. Keberagaman di tempat ini yang sukses membawaku lebih betah untuk tinggal. Hari ini aku berlatih menari di sanggar dengan bimbingan salah seorang penari sanggar, Elfana. Diperkenalkannya padaku seluk-beluk tari Gandrung Banyuwangi seperti tempo hari. Karena aku mudah menyerap informasi dan menerima pelajaran baru, aku tak kesulitan dalam melakukan setiap gerakan-gerakan yang diajarkannya. Meski masih terasa kaku dan kurang luwes. Aku terbiasa menari ballet, bukan tarian tradisional seperti ini. Jadi, gerakanku terasa aneh. Sungguh disayangkan, Nagara tidak melihatku berlatih menari; ia sibuk dengan latihan di lapangan seperti biasa, sebab jadwal latihannya dengan jadwal latihanku bentrokan. Coba ia menemaniku berlatih di sini tiap saat. Aku penasaran seperti apa reaksinya. Masihkah ia diam saja atau mulai menampakkan lebih banyak emosi di kedua matanya? Takjub, misalnya. Haha, untuk ukuran orang sepertinya, kurasa ia sulit dibuat takjub. Latihan berjalan selama dua jam. Keringat telah menganak sungai di tubuhku, napasku terengah-engah, dan badanku terasa lunglai. Aku duduk berselonjor di lantai, menerima air minum dari Elfana dan menenggaknya menyisakan separo. Kami menyempatkan diri mengobrol. Obrolanku dengan Elfana terputus ketika kudengar seruan Nagara. Kuserahkan atribut menariku padanya, lalu berlarian kecil keluar dari pendopo. Tatapan penasaran yang tak terjawab dari Elfana kurasakan hingga menusuk di belakang leherku. Aku menoleh ke arahnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan cepat-cepat. “Mimpi apa kamu datang menjemputku?” tanyaku, berjalan di sampingnya. “Memangnya tidak boleh?” “Bukan tidak boleh, biasanya kamu biarkan aku pulang sendiri dari sanggar sejak pertama aku berlatih dengan temanmu itu.” Ia hanya menjawab pertanyaanku dengan dehaman kecil. Setengah perjalan hampir sampai di rumah, baru ia berkata lagi padaku, “Bagaimana latihanmu?” “Mudah sekali. Aku sudah hampir menyelesaikan semua gerakannya.” Kusunggingkan senyum merekah, memperlihatkan deretan gigiku. Lalu keberadaan senyum itu lenyap begitu teringat pertanyaan Elfana, juga Mas Yudhistira yang akhir-akhir ini malah membikin aku gelisah. “Bagaimana kalau mereka tahu aku orang borjuis dan mengusirku keluar dari sini?” “Aku akan membuatmu tetap tinggal di sini.” “Kalau mereka tetap bersikeras mengusirku?” Kukedikkan bahuku pasrah. “Mereka pasti membenciku kalau tahu aku bagian dari penduduk Waluku, Nagara. Mereka tak akan mau menerimaku. Tidak semua orang di sini sama sepertimu.” “Btari, kamu tetap di sini. Tidak akan ada yang mengusirmu dari sini, oke?” ulangnya, terdengar bersungguh-sungguh. “Tapi—” Ia berhenti, mengejutkanku dengan mendekatkan telunjuknya pada bibirku, membuatku terbungkam. “Kalau kamu pergi, aku juga pergi,” katanya. Aku bergeming. Ia jauhkan jarinya tadi yang sempat menyentuh bibirku. Tidak mengacuhkan aku yang tak berkedip, ia melanjutkan langkahnya. Perlahan-lahan sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk lengkung senyum samar seperti pengait Hook. Melanjutkan langkahku kembali, kuamati ia dari belakang, masih tak mau menyembunyikan keberadaan senyum senang ini. Aku tak pernah mengelak kalau dikatakan tengah kasmaran. Memang begitulah kenyataannya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN