Bab Sembilan

1582 Kata
Semenjak sore itu, aku tak banyak bicara dengannya. Tidak pula menjawab pertanyaan Bunda mengapa aku tampak ingin menjaga jarak dengannya, yang membuat Bunda bingung sekaligus khawatir, mengira ada yang tidak beres. Aku hanya menjawab seperlunya. Mengatakan keinginanku di rumah membantunya mengurus rumah sekali-kali daripada menempel pada anak sulungnya terus, yang malah membikin aku jadi tak enak jika dilihat orang. Berkali-kali Bunda berkata tidak perlu merisaukan apa kata orang, toh ia sudah menganggapku sebagai anak perempuannya sendiri sejak ditemukan hanyut di laut Senin lalu. Seperti hari ini, aku memilih diam saja di rumah bersama Bunda, menemaninya seharian; kadang membantunya memasak, menyapu, membersihkan kaca, dan sebagainya. Bunda tengah duduk di dekat jendela, membaca sebuah buku di tangannya—sesekali ia menatap keluar, mendengar suara kambing tetangga mengembik di lapangan rumput luas samping rumah ini. Aku duduk di dekatnya, ikut-ikutan membuka buku koleksi pribadinya. Aku membuka buku-buku tentang sejarah Nusantara mulai dari masa kerajaan Hindu sampai kemerdekaan. Mataku melirik Bunda yang duduk tenang di kursi kayunya. Buku yang ia pegang merupakan buku desain pakaian yang dikembangkan oleh Eropa. Ia mengamati, sesekali menggeleng dan berdecak, lantas menggambar sesuatu—seperti sketsa—di atas kertas. “Apa yang Bunda kerjakan?” tanyaku, lantaran tidak ingin memendam keingintahuan yang luar biasa ini. Diletakkan pena yang digenggamnya tadi ke atas meja, lalu memandangku dan berkata, “Melihat perkembangan mode di dunia seperti biasa.” Aku teringat ucapan Mas Yudhistira. Bunda adalah desainer, sekaligus pemilik toko pakaian yang besar di kota. Tentu saja di samping menjadi seorang ibu rumah tangga, ia juga memenuhi tugasnya sebagai pemilik usaha serta desainer pakaian. “Mas Yudhistira bilang, Bunda seorang desainer dan memiliki usaha besar di kota. Mengapa tak pernah mengatakannya pada saya?” Bunda terkekeh pelan. “Untuk apa memperbesar sesuatu, Cah ayu?” ia balik bertanya. “Usaha besar tidak untuk dipamerkan. Biar orang lain yang tahu sendiri dan menilainya.” “Bunda mendesain pakaian sesuai tren masa kini juga?” Dahiku mengernyit. Kulihat lagi buku yang tadi dibacanya, tergeletak manis di atas meja masih dalam keadaan terbuka. “Bukankah tren masa kini dianggap masyarakat di sini sebagai tanda bahwa manusia kembali ke masa primitif?” “Mengikuti tren terkini yang sopan tanpa melenyapkan identitas tentunya.” Bunda melambai ke arahku. “Kemari, Bunda tunjukkan desain-desain pakaian yang Bunda buat.” Dengan patuh, kutaruh buku yang k****a ke atas meja tamu, lekas menghampirinya dan duduk di depannya, berdekatan dengan jendela yang menampilkan rimbun serta hijaunya pepohonan dan rumput-rumput tinggi di luar sana. Bunda membuka lembaran kertas yang dijilid jadi satu padaku. Ditunjuknya sketsa-sketsa yang ia buat di sana. Bunda mulai menjelaskan perihal sketsa yang digambarnya itu. Mulai dari pakaian resmi hingga yang dipakai sehari-hari. Semua gambarnya diberi motif batik yang berbeda-beda pula. “Yang ini motif Mega Mendung, motif batik dari Cirebon,” katanya mulai menjelaskan. Aku mendengar dengan saksama penjelasannya tanpa mengalihkan perhatianku dari kertas tersebut. “Batik Cirebon ini, Nduk, terinspirasi dari tradisi Cina. Dulu, kebudayaan Cina berkembang di Cirebon sejak Sunan Gunung Jati menikahi putri Ong Tien.” Bunda bercerita banyak mengenai siapa itu Sunan Gunung Jati dan putri Ong Tien. Dari Mega Mendung, aku digiring pelan-pelan, menambah pengetahuanku tentang Sunan Gunung Jati yang merupakan salah satu dari Wali Songo. Kembali lagi pada sketsa di kertasnya, Bunda menunjukkan gambar lain dengan motif lain pula. Menjelaskan dari mana asal batik itu beserta maknanya. Ia ceritakan pula awal-mula munculnya batik di Indonesia yang sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya nilai tradisi serta budaya di tengah arus globalisasi sekarat ini. Batik Keraton, yang menjadi awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di negeri ini, memiliki makna yang mengandung nilai filosofis. Bunda menyebutkan semua jenis batik itu melalui gambar yang dibuatnya. Otakku kini telah diserobot dengan pengetahuan-pengetahuan baru mengenai keanekaragaman negeri ini, yang sayangnya baru kuketahui setelah hidup selama delapan belas tahun. Desain pakaian yang dibuat Bunda memang mengikuti tren modern, dengan catatan tidak menghilangkan identitas negeri ini yang menambahkan beragam jenis motif-motif batik, juga tak menyalahi norma-norma. Tidak seperti pakaian terbuka yang sering dikenakan oleh kawan-kawanku. Pakaian buatan Bunda terlihat rapi, sopan, dan anggun. Termasuk yang kukenakan ini, ternyata hasil tangan Bunda sendiri. Bukan hanya untuk perempuan, Bunda juga membuat desain untuk laki-laki, bahkan ada pula yang dikhususkan berpasangan. Selain tren masa kini, Bunda juga membuat yang semi-tradisional, diantaranya kebaya modern. Aku mendambakan pakaian-pakaian itu untuk kukenakan setiap hari. Begitu indah dan kreatif rancangan Bunda. Tidak seperti yang dikatakan oleh masyarakat di tempatku yang mengatakan kuno, justru aku melihatnya sebagai perkembangan baru yang lebih maju, tanpa menghilangkan keasliannya. Seperti yang diucapkan Nagara beberapa waktu lalu. Berkepribadian dalam kebudayaan.  “Kalau mau, kau bisa pergi ke kota, ke toko Bunda. Di sana selain menjual pakaian dengan desain sendiri juga ada yang membatiknya langsung.” Aku ingin sekali mengatakan iya, tapi mengingat bahwa aku sedang tak mau menegur putra sulungnya membuatku urung menjawab tawaran Bunda. Alih-alih, bibirku yang memberikan jawaban melalui gesturnya, melengkung ke bawah seperti busur panah. “Kenapa?” tanyanya menyadari ekspresiku. “Ada masalah dengan anak sulung Bunda?” Bunda memang wanita yang peka. Selain hebat dan mandiri, ia juga pandai memahami perasaan di sekitarnya, termasuk perasaanku sekalipun. Belum juga menjawab, Bunda sudah tertawa melihat kediamanku. “Pantas tak ada sapaan tadi pagi sampai dia pergi dari rumah. Marah kau padanya?” “Tidak ada yang marah, Bunda. Hanya sedikit kesal.” “Apa yang diperbuat anakku sampai membuat cah ayu ini kesal?” Bunda memandang menyelidik. “Cinta kau sama anakku?” Ah, Bunda ini. Selalu membuatku bersemu malu. Pipiku terasa panas mendapat pertanyaan itu. Warnanya pasti merona. Laksana mawar merah yang baru tumbuh dan mekar. Senyumku mungkin menjadi jawaban yang mewakili mulutku. Tanpa memerlukan jawabanku, Bunda mengangguk mengerti. “Kalau telanjur suka, pasti lupa pada dunia.” Ia tersenyum padaku, merapikan lagi barang-barang miliknya di atas meja, mengumpulkannya menjadi satu. “Ke mana dia, Bunda?” pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja dari mulut bandel yang tadinya tak bersedia bicara. “Hm, masih kau tanyakan dia? Bunda kira kau tak lagi peduli.” Sebelah alisnya melengkung ke atas. “Mengajari anak-anak yang ikut sekolah alam mungkin. Biasanya tiap dia keluyuran, kalau tidak ke lapangan, ke sanggar, ke kota, ya ngajar.” “Sekolah alam?” “Tempat belajar anak-anak yang kurang beruntung.” Bunda lalu mengangkat buku bacaan beserta gambar desain pakaian miliknya itu. Ia meninggalkanku duduk sendiri, melangkah pergi seraya bersenandung dalam gumaman kecil yang samar; ia pernah berkata itu tembang asmarandana. Bajunya yang panjang sampai mata kaki berkibaran mengikuti langkah kakinya yang anggun. Perhatianku lantas berlabuh pada lapangan hijau di luar jendela. Bersendang dagu dengan mata menyoroti kambing, sapi, domba, dan kuda yang diternak di sana. Siang itu hanya kuhabiskan waktu membosankan ini dengan bertopang dagu memandang ke luar jendela.   *   “Kamu menjauhiku, Btari.” Aku tak menjawabnya. Sore itu aku duduk di selasar; tungkaiku terkatung-katung di udara yang dingin. Di tanganku sudah terdapat salah satu koleksi buku milik Bunda yang dipinjamkan padaku. Masih sama seperti bahan bacaanku di ruang tamu tadi. Nagara pulang beberapa menit yang lalu, melihatku duduk di selasar, lantas menyusul dan menemaniku. Ia pandangi aku dari tempatnya, mengabaikan sikap tak acuh serta keras kepalaku. “Kenapa kamu diam saja?” tanyanya lagi. “Masih kamu bertanya mengapa?” saking gemasnya, aku tak tahan untuk berdiam saja. Kututup buku bersampul tebal di tanganku secara kasar sampai terdengar bunyi debum samar, lalu menoleh ke arahnya. “Apa yang harus kulakukan agar membuatmu tertawa bersamaku?” Sepasang alisnya menyatu keheranan. “Kenapa kamu berkata seperti itu?” “Tiap bersamaku, kamu seperti berhadapan dengan orang asing, berbeda jika bersama teman perempuanmu. Si Ayu itu. Kalian tampak senang bersama-sama, bahkan dia bisa membuatmu tertawa, sedangkan aku tidak bisa melakukannya. Kenapa?” “Cemburu rupanya.” Aku tidak terlalu mengkhawatirkan ucapan terbukaku tadi. Apalagi jawabannya. Sebab aku memang cemburu. “Kamu tidak peduli pada perasaanku?” sambungku, lebih berani daripada sebelumnya. Biar ia tahu bahwa aku bersungguh-sungguh pada ucapanku waktu itu. Mengapa mendapatkan kepercayaan pemuda ini sungguh sulit? Mengapa aku tak bisa menggapainya? Apakah angan-anganku ini terlalu tinggi untuk seseorang sepertinya? Gadis seperti apa yang diinginkannya? “Btari,” ia menyebut namaku, tidak mengacuhkan kecemburuan di dalam nadaku. Ia sodorkan sebuah pot persegi berukuran sedang, berisi tanaman yang baru menampakkan daun serta tangkai berdurinya. Dari daun dan tangkai berduri itu, aku langsung tahu bahwa tanaman yang dibawanya adalah mawar. “Tanaman ini kubawa dari Monsieur Thomas yang datang dari Prancis. Dia tinggal di desa sebelah. Beberapa tahun yang lalu menikah dengan wanita sini dan memilih menghabiskan hidupnya dengan mempelajari kebudayaan negeri ini. Tanaman ini dikembangkannya menggunakan proses bioteknologi sederhana di laboratorium rumahnya.” Disodorkan pot itu padaku. Aku hanya melirik tak tertarik, lalu membuang muka. Menghembuskan napasnya pendek, Nagara melanjutkan, “Aku membawanya untukmu. Untuk memberikan jawaban atas pertanyaanmu.” Karena ia menyebut-nyebut pertanyaanku tempo hari, spontan aku menoleh ke arahnya. Kupandangi pot tanaman mawar tak berbunga itu dengan sorot mata menyelidik dan bertanya-tanya. “Lalu?” “Kita tunggu saja sampai berbunga. Dan kamu pasti tahu jawabannya.” “Mengapa harus kutunggu? Aku tidak suka menunggu lama, Nagara.” “Kamu akan tahu kenapa aku menyuruhmu menunggu tanaman ini sampai berbunga.” Aku terima pot berukuran sedang darinya. Kuamati dengan saksama tanaman itu, masih bertanya-tanya, apa maksudnya memberikan tanaman mawar yang terlalu muda ini padaku. Menunggunya sampai berbunga? Butuh enam minggu sampai tanaman mawar berbunga. Selama itukah ia menyiksaku dengan keraguan dan harapan yang menggeletar di dadaku? Namun bagaimana lagi. Ia yang berkuasa atas perasaannya sendiri. Aku bukanlah siapa-siapa, tak patut memaksakan kehendaknya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN