Bab Delapan

4098 Kata
Kira-kira sejak perbincangan ngawurku di alun-alun kota tadi, aku dan Nagara tidak lagi berbicara banyak. Kami kembali ke rumah sore harinya, lantas berpisah dengan pergi ke lapangan berlatih sedang aku menetap di rumah. Aku tidak mungkin mengekorinya terus-menerus, kan? Kubiarkan saja ia pergi tanpa membawaku seperti biasa. Meski begitu, aku berkeinginan untuk menunggunya tiba. Dengan duduk di atas selasar bermandikan sinar surya yang redup, perlahan-lahan tertelan bumi. Kuamati pemandangan kebiruan di depanku. Langit dan laut seakan saling bersentuhan tanpa cela, menciptakan satu garis lurus tak bertepi. Tak kusangka aku dibawa oleh laut ini sampai kemari. Untung tidak mati. Akibat ceritanya tentang dialog Plato dengan muridnya tadi, aku jadi memikirkan seperti apakah jawabannya nanti. Akankah ia menolakku? Muka ini memang muka dengan urat malu yang sudah putus. Kalau mengingat kembali apa yang kukatakan padanya tadi, ingin rasanya aku menceburkan diri ke dalam laut dan dibawa ombak meninggalkan tempat ini. Sejauh-jauhnya! Tapi benakku justru berbisik menenangkan perasaan gelisahku dengan mengatakan kalau aku tak bersalah telah mengungkapkan perasaanku yang bertalu-talu padanya. Bukankah kejujuran itu perlu? Aku tak mau menunggu lama. Aku tak mau menyesali diri. Waktu bergulir. Sampai kudengar suara Sam dari belakang dan membuat aku memutar kepala menoleh padanya. “Kenapa tidak masuk ke dalam?” “Menunggu abangmu,” jawabku. “Mas pulang malam, sebaiknya menunggu di dalam saja daripada kedinginan.” Bahuku terkedik. “Masuk saja sana, Sam. Jangan pedulikan aku. Aku ingin berada di sini, menikmati pemandangan alam ini.” “Ya sudah.” Ia mengalah pada akhirnya. Sambil menghembuskan napas kasar, Sam meninggalkanku, masuk ke dalam rumahnya yang sudah diterangi lampu. Aku berbaring berbantalan lengan. Mataku tak beranjak dari awan biru gradasi oranye di atas sana. Sambil memikirkan banyak hal yang berputar di dalam kepalaku bagaikan bumi yang berotasi. Sampai senja datang, aku tetap berbaring berbantalan tangan memandang langit petang. Enak sekali dimanjakan alam seperti ini. Tiduran di selasar, menatap langit petang yang mulai dihampiri bintang-gemintang, mendengar suara deburan ombak bergulungan, mendengar tiupan seruling di kejauhan, dalam penantian yang tak melelahkan. Akan kembalikah ia? Atau justru sengaja menghindariku dengan tidak pulang ke rumah? Memangnya aku melakukan kesalahan apa? Aku baru tahu, mengungkapkan perasaan itu termasuk dalam kesalahan fatal. Mungkin ia tidak terbiasa mendengar penuturan seperti itu dari seorang perempuan. Hey, ini era emansipasi wanita! Tiada salahnya aku mengungkapkan perasaanku padanya lebih dulu, kan? Lantas, apa yang membuatnya menjadi sedingin ini padaku? Marahkah ia padaku atas ucapan ngawurku tadi? Ah, siapa yang tahu isi hati manusia kecuali dirinya dan Tuhan. Sementara ini, tidak ada hal lain yang kupikirkan selain beberapa kejadian yang menimpaku belakangan ini. Selain pengusiranku dari Waluku, dibawa ombak Java Sea sampai di Pari, ditemukan dan dirawat oleh sebuah keluarga di pesisiran, mengenal sosok Bunda yang dulunya seorang penari kerajaan—yang ditinggal mati suaminya dan merawat anak-anaknya seorang diri sekaligus menjadi kepala keluarga—, mengenal sosok anak sulung dan dua anak kembarnya. Samudra yang bertingkah kekanak-kanakan meskipun usianya telah menginjak remaja. Mega yang jarang mengajakku bicara dan suka sekali memandangku menyelidik. Nagara yang hanya tamatan SHS namun berwawasan luas. Pikiran-pikiran itu berputar. Dan saling berpagutan satu sama lain bagaikan rantai besi. Dan memukul-mukul kepalaku. Dan menyentuh sukmaku. Tak terasa langit yang semakin petang membuatku kian mengantuk. Jam berapa sekarang ini? Rasa-rasanya aku sudah berbaring lama di luar sini, terbuai dan dimanja, seperti bayi yang ditidurkan dalam buaian. Suara Bunda memanggil namaku terdengar di dalam sana, memintaku masuk untuk bergabung makan malam bersama mereka. Namun aku telanjur menutup mata. Tertidur di luar sini. Bersama angin dan bunyi deburan ombak lautan.   *   Meja makan esok paginya sudah penuh dengan obrolan saat aku bergabung. Aku mengambil tempat duduk, melirik sebentar ke samping menuju Nagara yang tidak membalas lirikanku, lalu menyiapkan makanku sendiri. Aku masih mengingat baik kalau semalam aku tertidur di luar, entah siapa yang membawaku ke dalam—mungkin Bunda. Menjelajahi kota, naik bus serta mobil bak terbuka, aktivitas kemarin memang menguras habis tenagaku. Aku kelelahan. Maka tak heran cepat mengantuk dan tertidur di luar. Sendiri pula! “Itu ayam?” tanyaku, menunjuk sesuatu yang disajikan di atas piring sana. “Iya. Kenapa memangnya?” Bunda menjawab pertanyaanku. “Ayam sungguhan kah?” Suara tawa cekikikan Sam yang ditahan kudengar sampai di tempatku. Dahiku mengernyit ke dalam. “Tentu saja itu ayam sungguhan. Kau tidak pernah makan itu?” Kukedikkan bahuku. “Aku pernah mendengar ayam yang telah dipotong kepalanya masih bisa berlari mengelilingi lapangan sampai benar-benar mati.” Pikiranku membawa bayangan itu, menyelami alam imajinasi, seperti proyektor yang ditanam di dalam otakku. Aku bergidik ngeri membayangkan ayam berlarian itu berubah menjadi makanan di depanku. Tiba-tiba aku merasa jijik. “Coba saja dulu.” Bunda mengambilkan satu potong ayam goreng itu, menaruhnya di piringku. Hanya kupandangi ayam di depanku, menelaah bagaikan mencermati benda purba, lantas mencoba menggigit, mengunyah, serta menelannya hati-hati. Rasanya memang enak, lebih pas di lidah daripada yang biasa kumakan dalam berbagai bentuk dengan olahan gastronomi molekuler, namun membayangkan bentuk ayam nyata yang hidup membuatku langsung mengernyit dan hampir memuntahkannya kembali. Lekas kutekan mulutku menggunakan telapak tangan mencegah memuntahkannya. “Kalau makan, jangan membayangkan yang bukan-bukan,” Nagara membuka suara di sebelahku, tampak prihatin melihatku bertingkah seaneh ini. Kutelan lagi secara paksa makanan itu sampai di kerongkongan dan turun di perutku, lalu meneguk air dengan cepat. Huh, kalau terus-menerus begini, aku bisa semakin kurus dan kelaparan! Usai sarapan aku duduk di atas selasar, mengayun-ayunkan kakiku sambil menundukkan kepala ke bawah, mengamati pergerakan bayanganku di atas air laut; ombaknya menubruk-nubruk batu karang di sekeliling dan menampar kayu selasar pula. Di samping, Nagara sudah duduk dan memandangku setelah itu. “Kenapa kau tidur di luar?” tanyanya. “Karena aku menunggumu,” jawabku jujur, balik memandangnya. “Menungguku? Kenapa?” “Ingin saja.” Bahuku terkedik. Aku berasumsi ialah yang membawaku masuk ke dalam. Aku terdiam selama beberapa detik, menelisik permukaan air di bawah kakiku. Lantas berkata, “Mengapa saat ini manusia saling dibedakan? Aku benci diskriminasi, sejujurnya.” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Ia sepertinya tahu bahwa pertanyaan itu merujuk pada pengasinganku, yang dianggap tak pantas hidup bersama orang-orang normal di Waluku sana. Meski aku manusia genetika, aku tetap makhluk sosial, aku memiliki perasaan. Bukankah ia sendiri yang mengatakan hal itu? “Voltaire berkata, semua manusia itu sama; yang membedakan bukan keturunannya, tapi kebaikannya,” Nagara membalasnya dengan nada tenang. “Kita ini sama, kamu dan aku sama. Tidak ada yang membedakan kecuali kebaikan.” Bagaimana seseorang yang dianggap kaumku sebagai kaum proletar ini mengetahui hal-hal yang dipelajari oleh masyarakat borjuis pula? “Kamu mengetahui banyak hal. Kukira kamu tidak mau membuka diri pada pemikiran asing dan hal-hal di sekitarnya. Bahkan aku kira kamu bersama orang-orang di sini anti asing.” Dipandangnya aku beberapa detik, lantas menjawab, “Aku terbuka pada segala jenis ilmu pengetahuan. Bila terdapat ilmu pengetahuan yang sampai menggunung di sekitarku, mengapa kubiarkan? Bukankah mubazir?” Ia mengambil jeda dengan menghela napas panjang. “Lucu saja jika ada yang mengatakan dirinya anti asing tapi menggunakan dan menikmati hasil pemikiran mereka.” “Tapi kamu membenci orang-orang yang mendewakan ilmu pengetahuan, masyarakatku.” Teringat olehku perkataannya waktu itu. “Aku benci masyarakatmu karena pola berpikir mereka yang aneh. Manusia konsumtif yang tak mau melepaskan diri dari modernitas sampai di tingkat ekstrim. Bahkan sampai melupakan identitasnya sendiri.” Aku berkedip beberapa kali. Kubiarkan saja ia meneruskan kalimatnya tanpa interupsi apa pun.  “Ya... teknologi memang bagian dari kebudayaan. Teknologi muncul dari kebutuhan manusia, tidak bisa dipisah dari keseharian, dan menjadikannya sebagai alat budaya. Hanya saja mereka salah dalam mengambil langkah pembaharuan. Setiap munculnya teknologi, harus diimbangi pula dengan perkembangan kebudayaan. Merevisi secara cerdas, bukan malah menghancurkannya. Mereka terlalu sibuk dengan teknologi. Demi mengikuti arus globalisasi, sejarah telah dilupakan. Mereka tak pernah jadi manusia utuh.” Benar sekali. Era sinting memang membikin orang semakin miring. “Dari mana kamu belajar?” “Belajar bisa dari mana saja, tidak hanya di lembaga formal. Di kamarku ada banyak buku yang sering k****a sebelum tidur. Makin banyak yang kuketahui, makin aku sadar banyak yang belum aku ketahui selama ini.” Ia membaca sebelum tidur? Dalam hati aku berdecak memuji. Apa saja yang ia pelajari? Begitu banyakkah pengetahuan yang dimilikinya? Kukira orang-orang di wilayah ini hanya sibuk dengan satu urusan saja. “Dari mana kamu mendapatkan buku-buku itu?” “Tergantung. Aku pergi ke manapun yang kusuka dan mendapatkannya dari mana saja. Aku suka bepergian, meninggalkan Pari agar dapat melihat dunia yang lain; misalnya Vrischika atau Biduk. Aku belajar dari kehidupan orang lain pula.” Mataku mengerjap beberapa kali. Sekali lagi, ia membuatku terkejut dengan pernyataannya. Rupanya jika disejajarkan dengannya, aku bagaikan manusia tak berpengetahuan. Kini, rasa-rasanya aku seakan melupakan ucapan frontalku kemarin di alun-alun kota. Nagara bahkan seperti menganggapnya sambil lalu saja; ia tidak mengungkit-ungkit kalimatku di taman waktu itu. Lantas, akankah ia masih memenuhi janjinya dengan memberikan jawaban padaku seperti yang dilakukan Plato pada muridnya? Angin menerpa wajahku. Rasa dinginnya meraba dan menggelitikku. Namun aku tidak terlalu peduli pada rasa itu, kecuali merasakan detak jantungku yang lebih lambat dari biasanya. Ngilu itu datang lagi. Tanganku terangkat menyentuh dadaku, merasakan detak jantungku sendiri dan menghitung lambat. Detaknya sekarang lebih lambat dari biasa. Inikah efek sekarat itu? “Ada yang tak beres denganmu,” tegurnya, berhasil menyadari sesuatu yang kusembunyikan darinya. Tentu saja ia menyadarinya! Ia bukan orang asing yang percaya begitu saja jika aku mengucapkan ‘aku baik-baik saja’ padahal tidak. Tersenyum manis madu, aku melepas tanganku dari dadaku, lantas memandangnya lekat, “Sudah kukatakan, aku sering berdebaran dekat denganmu.” Ia melengos. “Kamu berjanji untuk membawaku ke sanggar lagi,” lanjutku. “Baiklah. Sekarang?” “Ya, ya!” Segera aku beranjak berdiri diikuti olehnya. Kami lalu melangkah bersama meninggalkan selasar. Sepanjang jalan menuju sanggar seni, ia bercerita padaku tentang awal-mula mengapa negeri ini berubah menjadi sangat menakutkan dan dikuasai oleh orang-orang oligarkis yang bermula dari kelompok borjuis. Awal-mula di mana yang berduitlah yang selalu berjaya. Awal-mula di mana kaum proletar semakin dimelaratkan dengan pembodohan. Awal-mula di mana perbedaan ideologi yang saling bertentangan justru memecah belah bangsa, hingga membentuk empat wilayah seperti ini. Aku tahu cerita itu—paling tidak sedikit—namun aku dengarkan saja ia bercerita lebih lengkap. “Mendekati pertengahan abad ini, beberapa petinggi negeri saling bertentangan satu sama lain. Mereka berselisih karena perbedaan paradigma, menganggap masing-masing dari mereka benar. Hal itu berakibat pula pada perpecahan antarbangsa sampai membentuk kelompok sendiri. Terjadilah kerusuhan besar-besaran di negeri ini bagaikan kutukan yang mengundang ketakutan, mengubah negeri ini menjadi kelam dan mencekam. Segala jenis senjata ditodongkan. Semua yang dianggap anti pemerintah dan anarkis dilumpuhkan. Beberapa tempat dihancurkan. Merenggut nyawa-nyawa penduduk yang tak tahu apa-apa, bergeletakan di pinggir-pinggir jalan. Kejadian di abad dua puluh seakan terulang lagi. Teror menyelubungi Tanah Air dalam hitungan hari. Demokrasi dan pancasila telah diludahi. “Menghindari perang yang berlarut-larut dan bisa membunuh lebih banyak jiwa manusia yang tak berdosa, sebagian dari petinggi negeri itu mengusul dan merumuskan hal-hal baru, perubahan, sebagai jalan tengah. Raksasa rakus berduitlah yang memenangkan perkara. Negeri ini mulai terbagi menjadi empat wilayah sesuai dengan ideologi yang diputuskan, hanya demi memuaskan kepentingan elit politik yang menggadang-gadang perubahan besar. Pembodohan rakyat. Mereka yang berduit mengusung perubahan dan memenangkan kursi jabatan. Sedangkan orang-orang yang merasa tidak pantas bersanding dengan mereka diusir keluar untuk diibuang. Orang-orang melarat ini digiring ke pelosok negeri, Vrischika, hidup dalam ketakutan dan tak dimerdekakan di Tanah Air yang katanya sudah merdeka ini. Mereka dibiarkan mati secara perlahan-lahan. Kelaparan dan wabah penyakit tak dapat dihindarkan. Beberapa dari mereka yang dinyatakan sehat dan pintar diambil untuk dijadikan b***k bagi kaum borjuis. Sebagian lagi dipekerjakan di tempat itu untuk mengeruk dan mengolah sumber daya alam, dengan imbalan yang tak pantas. “Dan orang-orang yang berkiblat pada norma-norma agama, kedamaian, dan kemanusiaan mulai berbondongan menempati Biduk. Membentuk wilayah sendiri. Tempat itu dihuni oleh para pemuka agama beserta keluarga dan murid-murid mereka. Sebagai salah satu bukti dari ungkapan ‘bhineka tunggal ika’ yang tak akan pernah lepas dari negeri ini. Sementara untuk orang-orang yang masih memiliki nasionalisme tinggi sekaligus bertekad melestarikan kebudayaan negeri ini dari kepunahan seiring perkembangan zaman berkumpul jadi satu membentuk kelompok di Pari. Ya, yang kamu tempati ini, wilayah para budayawan yang peduli pada nasib budaya Nusantara. Belajar dari yang lalu, Btari. Masyarakat negeri ini banyak yang mengaku dialiri darah nasionalisme, berteriak-teriak seperti dikebiri ketika budaya kita dicuri, namun lupa—atau melupakan?—apa penyebabnya. Karena mereka malas melestarikannya. “Sekarang, kami bertekad untuk bersatu melindungi bangsa dan negeri ini dari ketamakan kaum borjuis. Inilah pusat keterbelakangan, kengerian, kegelapan, dan ketakutan yang sebenarnya. Negeri ini dikepung mafia, Btari. Negeri ini pun ketakutan.” Ceritanya tadi merasuk ke dalam kepalaku, bercokol di dalam pikiranku, dan mengalir hangat ke dalam darahku. Selama menceritakan itu, dapat kurasakan nada benci dan marah darinya. Wajahnya menampakkan garis-garis keras. Imajinasi pun terbayang-bayang, merasukiku, seakan aku masih terperdaya begitu kuatnya. Membayangkan seperti apa bentuk kerusuhan itu sebelum masa yang kacau ini. Sesuai janjinya, ia bawa aku ke sanggar seni. Saat itu sekelompok anak kecil tengah menari riang, berlenggak-lenggok sambil menenteng selendang dan kipas. Kepala mereka berputar, ditelengkan ke kanan-kiri, mengayunkan tangan, sambil terus mempertahankan senyum khidmat. Aku duduk di atas karpet menikmati pertunjukan tari saat itu. Sambil menonton pertunjukan tari di depanku dengan iringan gamelan, Nagara memberikan pengetahuan padaku tentang tarian yang tengah jadi pertunjukan di sanggar seni saat ini. Namanya Gandrung Banyuwangi. Dulu, tak sembarangan orang boleh menarikan tarian ini kecuali keturunan penari Gandrung. Namun seiring perkembangan zaman, tarian ini mulai dilestarikan oleh masyarakat luas. “Adakah yang mau melatihku menari?” Dipandangnya aku lekat, tampak terkejut mendengar permintaanku. Akan tetapi pada akhirnya ia menjawab pertanyaan itu, “Tentu saja ada. Di sini ada pelatihnya, dia temanku, Elfana. Kamu ingin mencobanya?” Aku mengangguk. “Ya, sering-seringlah bawa aku kemari untuk belajar menari. Paling tidak, aku bisa mempraktikkan salah satu tarian negeriku ini.” Untuk pertama kalinya dalam sehari, Nagara tertawa lepas. Dahiku mengernyit membentuk garis-garis ke dalam, sedang kedua alisku bertautan. Tawanya terhenti bersamaan dengan berhentinya pula suara gamelan, pertanda bahwa pertunjukan tari Gandrung Banyuwangi telah selesai. “Sore ini aku ada latihan di lapangan. Mau ikut?” Kuanggukkan kepalaku mengiyakan ajakannya. Selama menunggu sore, kami tetap berada di sini. Tidak, bukan di sanggar seni lagi. Nagara berpindah tempat, melambai padaku memberi kode untuk mengikutinya. Diajaknya aku melintasi pendopo tempat berlatih menari, bermain gamelan, serta menyinden. Sampailah kami di tempat lain, pendopo terbuka yang dekat dengan gedung berbahan dasar kayu berpolitur. Pendopo itu ditempati oleh beberapa orang. Mereka yang ada di pendopo tengah bertekur dengan sesuatu yang diletakkan di atas meja, menorehkan tinta ke atas kayu tipis yang dipotong sebesar dan sepanjang penggaris, dijejer rapi ke bawah dengan dijalin benang kuat. Diajaknya aku mendekati aktivitas itu; menulis sesuatu, aksara Jawa, katanya. “Apa yang tengah mereka kerjakan?” tanyaku setengah berbisik pada Nagara. “Mereka menyusun cerita menggunakan aksara Jawa.” “Cerita apa?” “Banyak. Kebanyakan sih, pewayangan.” Lantaran penasaran, aku mendekat, mencondongkan badanku ke depan sekadar mengamati pekerjaan mereka yang sibuk menulis cerita pewayangan. Tulisannya rapi, kecil, tidak terlalu rapat, tidak pula terlalu renggang. Aksara yang indah. “Kalau kamu penasaran dengan cerita pewayangan Jawa, datang saja ke lapangan Sabtu malam. Seperti biasa, pasti ada pertunjukan wayang,” Nagara berkata di tempatnya berdiri. Kuangan-angankan seperti apa pertunjukan wayang nantinya. Aku hanya tahu Srikandi, itupun dari wayang kulit yang diberikan si tuan baik hati penjual di alun-alun kota. Waktu bergulir cepat. Karena mempunyai jadwal latihan di lapangan, maka kami segera pergi dari pendopo, tempat warga desa ini menulis cerita menggunakan aksara Jawa. Tidak seperti kemarin atau lusa, Nagara melangkah santai di sampingku seharian ini. Bahkan ia yang mengikuti langkah lambatku ini, memberi kesempatan bagiku menghela napas tanpa terengah-engah seolah kehabisan stok oksigen. Lapangan sore itu sudah penuh. Kali ini, ia mengajakku mendekat, bertemu dengan guru pelatihnya. Aku menundukkan kepala sebagai salam hormatku. Lelaki paruh baya yang dipanggil Mas Yudhistira itu tersenyum ramah menyambutku. Diam-diam kuselipkan bandul kalung berbentuk bunga lily yang kukenakan di balik kerah tinggi pakaianku, khawatir mereka langsung memandangku sebelah mata begitu mengetahui bahwa aku orang borjuis—meski telah diusir keluar dan dicabut hak kependudukanku dari Waluku. “Pintar sekali kamu mencari perempuan cantik,” celetuknya, memandangku dan tertawa. “Menculik di mana?” Aku menggaruk tengkukku rikuh. Menanggapi candaan itu dengan senyum malu-malu. Mas Yudhistira berbadan besar dan kekar. Kulitnya kecoklatan dengan rambut dipangkas sangat pendek—nyaris plontos. Tatapannya membidik tajam bak mata pisau. Saat ia menyengir, sebelah alisnya selalu ditarik ke atas. Selama beberapa waktu mereka terlibat obrolan dengan bahasa daerah yang tak kupahami. Aku diam saja, seperti patung yang dipahat seniman Eropa, mengamati kedua lelaki itu berbicara sementara murid-muridnya sibuk berlatih di tengah lapangan. Lagi-lagi kutemukan sosok gadis berkuncir tinggi itu; kali ini ia tidak lagi menguncir tinggi rambutnya, melainkan mengepangnya. Rambutnya berjuntai sampai di punggungnya. Matanya menelanjangiku dari sana. Bahunya naik-turun, mengatur napasnya yang ngos-ngosan usai latihan. Ia meraih botol minuman di samping pohon pisang. Diteguknya air mineral di dalam botol itu, lantas mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan. Tatapannya masih mengunciku. Rasa-rasanya, ada sesuatu yang menggesek-gesek ulu hatiku hanya karena mendapatkan pandangan menghakimi seperti itu. Tak berselang lama, Nagara berlari menuju tengah lapangan, bergabung dengan kawan-kawannya. Ia melakukan pemanasan sejenak, sambil sesekali memandangku, lalu mengalihkan perhatiannya pada gadis berkepang tadi, diajak bicara berdua. Kupandangi keduanya sibuk mengobrol. Terlihat akrab. “Benar kamu bukan dari sini?” suara Mas Yudhistira sontak menarik kepalaku untuk menatap ke arahnya. “Hm,” balasku berbisik. Akankah ia bertanya macam-macam padaku? Kutelan ludah dengan susah payah menuruni kerongkonganku yang kering. “Gara tidak mau menyebutkan tempat asalmu.” Matanya menelisikku kembali. Sekarang aku seperti berada di ujung tebing yang siap dijorok ke depan kapan pun. “Hm, tidak usah takut. Kita menerima pendatang baru, asal mereka bisa menjaga kesopanan dan tak berbuat rusuh di sini.” Mas Yudhistira terkekeh. Tangannya menepuk pundakku yang mungil, membuatku bergoyang seperti boneka kecil yang disenggol. Begitu ringkih. “Lama Mas melatih di sini?” aku memberanikan diri bertanya. Paling tidak, aku bisa mengenal orang lain, selain keluarga Nagara. “Lumayan lama. Kira-kira, sejak sepuluh tahun lalu.” Ia bertepuk tangan satu kali. “Oh! Hampir lupa. Siapa namamu?” “Btari.” “Bidari. Cocok dengan wajahmu.” Nah selama Nagara sibuk melatih di lapangan, aku ajak bicara saja Mas Yudhistira ini. Sekadar basa-basi, mencari lebih banyak cerita tentang keluarga Nagara. Hanya segelintir saja yang kutahu, dan aku belum puas! “Kenal lama, Mas, dengan keluarga Nagara?” Mas Yudhistira bersedekap di depan d**a. Kepalanya menoleh kepadaku, lalu dialihkan menuju lapangan. “Sudah lama sekali. Meskipun bukan tetangga dekat, keluarga Mas kenal dengan keluarga Ki Panembrama.” Ki Panembrama pasti panggilan ayahanda Nagara. “Berarti tahu betul kehidupan mereka?” tanyaku. Dan Mas Yudhistira mengangguk mengiyakan. “Sejak Ki Panembrama dituduh sebagai provokator, revolusioner berbahaya, dan otak di balik peyelundupan pemberontak hingga terjadi kerusuhan di kota J beberapa tahun silam,” lanjutnya, “dia dibawa pergi, dieksekusi mati tanpa keadilan. Sejak itu, Nyi Candrakanti menghidupi anak-anaknya seorang diri. Nyi Candrakanti bekerja menjahit pakaian, desain miliknya sendiri, dan dijual ke kota. Dari sana dia belajar berdagang secara mandiri. Usahanya di kota lancar dan semakin maju. Sampai dia membangun toko besar dan memperkerjakan banyak orang. Usahanya bahkan sampai diekspor ke luar negeri loh.” Bagaimana aku baru mengetahui cerita itu? Bodoh dan tak peka sekali diriku ini. Cerita Bunda saja aku tak tahu. Selama tinggal bersamanya, aku hanya mendapatinya mengerjakan pekerjaan rumah, kadang duduk sambil menyulam dan menyanyi tembang Jawa, kadang pula mengajari anak-anaknya. Tidak tampak olehku aktivitas Bunda seperti yang diceritakan Mas Yudhistira. Tidak seperti bos besar yang tinggal tunjuk saja langsung dikerjakan abdi. Di sini, Bunda seperti wanita lainnya, mengurus rumah tangga. “Kenapa Bunda tidak pernah ke kota mengecek tokonya?” “Nyi Candrakanti selalu memercayakan segalanya pada para karyawan. Dari kepercayaan itu, para karyawannya giat bekerja, semakin menyukseskan usahanya pula.” Mas Yudhistira mengusap dagunya saat memandangku. “Dia menyetorkan desain terbarunya ke bagian Kepala Penjahit di tokonya melalui Gara.” “Bagaimana caranya?” Alisku bertautan penasaran. “Duh Gusti, tentu saja lewat internet, Btari.” Lewat internet ia bilang! Mana pernah kutahu ada komputer di rumah Bunda! Bahkan televisi saja jarang dinyalakan kalau bukan karena Mega yang mencari hiburan. Aku kira tidak ada internet atau komputer di sini. Ingin kutanyakan lebih banyak lagi, tapi aku harus hati-hati, jangan sampai mempertaruhkan diriku dengan membawaku ke dalam lubang kesalahan. “Semua warga di sini punya internet?” “Tidak semuanya punya sih.” Kali ini Mas Yudhistira mulai mencurigaiku. Aku menyilangkan jari di belakang punggung, berharap ia tidak berpikir macam-macam padaku. “Penggunaan internet dibatasi. Anak-anak kecil bisa saja terjerumus ke arah penyimpangan. Apa sih yang tidak ada di internet? Semua sudah tersedia, tinggal ketik sana, ketik sini, langsung muncul. Boleh jadi kalau yang muncul sesuatu yang baik. Nah, kalau yang buruk? Mereka dibiasakan agar tak bergantung pada internet yang justru memalaskan otak mereka. Kalau terlalu bergantung pada internet, bisa lenyap fungsi buku yang malah memberikan pengetahuan secara eksplisit dan melatih mereka agar mandiri, giat membaca, tidak melulu copy-paste. Mereka akan diajari ilmu komputer dan internet kalau sudah benar-benar siap. Nah, Cah ayu, yang punya internet di sini hanya kalangan tertentu. Misalnya tetua desa, orang-orang yang punya kedudukan penting di desa, dan…” Sudut mata Mas Yudhistira mengekor ke arahku. “Pokoknya orang yang penting dan benar-benar membutuhkan.” “Dan apa, Mas?” ‘Dan’ yang sempat kudengar tadi menarik perhatianku. Mas Yudhistira pasti menyembunyikan sesuatu dariku. “Sudahlah, kamu kalau mau tanya banyak, kenapa tidak tanya langsung saja sama pacarmu?” “Pacar yang mana?” Dahiku mengernyit. “Loh, memangnya Gara itu bukan pacarmu?” “Ah, Mas ini bisa saja.” Aku menyembunyikan muka merona malu-malu. “Bercanda.” Disenggolnya bahuku dengan lengannya yang besar itu. Aku bagaikan kertas ringan yang ditiup. “Tapi suka padanya kan, Cah ayu?” Aku tertawa lagi. Kami tak lagi saling berbicara. Hari hampir petang. Saat kutanya jam berapa sekarang, Mas Yudhistira menjawab jam lima lebih duapuluh, sebentar lagi latihan selesai katanya. Sehingga mereka semua bisa bersembahyang di surau tak jauh dari lapangan. Ketika kutanya apa itu surau, Mas Yudhistira malah balik bertanya bagaimana mungkin aku tidak tahu yang namanya surau. “Surau, tempat ibadah buat orang muslim,” katanya sambil mengernyit heran. Kuusap saja tengkukku yang berkeringat. Tanganku terlipat di depan d**a. Kali ini, Nagara melatih gadis berkepang itu. Ia berulang kali mengoreksi gerakan yang salah dari gadis berkepang tersebut, bahkan dengan cara intens, seperti menggerakkan tangannya hati-hati dari belakang—di mataku mereka tampak seperti berpelukan. Hal itu membuatku langsung memberengut. “Ck, mulailah modus,” Mas Yudhistira mencibir. “Sempat-sempatnya latihan dibuat modus. Awas nanti.” “Siapa sih yang perempuan itu?” aku tak tahan dirajam keingintahuan yang besar. “Itu? Perempuan yang paling ditakuti di sini. Namanya Ayu.” Seakan mendengar leluconnya sendiri, Mas Yudhistira terbahak. Gadis macam mana yang ditakuti di desa ini, namun masih salah dalam melakukan gerakan ilmu bela diri? “Ah, masa gadis yang ditakuti seperti itu tidak mampu berlatih sendiri?” Bisa dikatakan, itu merupakan kalimat sarkasme. Ayu si gadis berkepang itu membuatku cemburu!  “Ya itulah yang namanya modus. Tidak yang laki, tidak yang perempuan, sama saja.” Tahu ekspresiku seperti apa di sebelahnya, Mas Yudhistira mencibir masam. “Kamu suka dia, kan? Sanggup bersaing dengan gadis-gadis di sini? Apalagi melawan Ayu. Bisa remuk tulang-belulangmu ini.” Hahaha. Yang remuk bukan tulang-belulangku, melainkan hatiku. Kupandangi Nagara yang mengayun-ayunkan tongkat panjang di tangannya, lantas dilempar pada Ayu, diterima gadis berkepang itu dengan tangkas. Entah apa yang mereka obrolkan bersama. Namun dadaku terasa panas dengan golakan aneh yang bergemuruh, melihat keduanya tertawa bersama. Tawa yang benar-benar lepas. Sungguh sial, aku serasa dibakar dalam api yang besar. “Ah, tidak usah kuatir,” lanjut Mas Yudhistira. “Kamu ini cantik dan seksi loh. Seperti sosok Dewi Srikandi, bedanya mungkin kamu terlalu mungil untuk ukuran wanita perkasa. Sudah pasti pesaingmu nanti kalah denganmu. Kalau disuruh baris pun, kamu pasti yang paling mencolok ayunya.” “Ah, Mas ini bisa saja.” Lagi-lagi aku bersemu, memerah malu. Namun tetap saja, bayangan mereka tertawa tadi justru melunturkan kesenanganku mendapat pujian dari Mas Yudhistira. Latihan selesai beberapa menit selanjutnya. Nagara dan Ayu tak berhenti mengobrol, sambil berjalan pelan seakan dunia menjadi milik mereka berdua. Ayu menyodorkan air mineral miliknya tadi dan diterima Nagara dengan baik, lalu ia meminumnya. Apa pula itu, mereka minum dari botol yang sama! Hatiku benar-benar diremukkan. Begitu menyakitkan. Seolah ditohok berkali-kali dengan pisau daging. Sesampainya mereka di tempatku, aku tak berkata-kata. Tidak pula menyapa atau tersenyum. Tak mengacuhkan pandangan Nagara begitu ia berhenti di sebelahku, aku melangkah pergi. Mempercepat jalanku meninggalkannya di belakang sana. Biar tahu rasa ia kudiamkan beberapa waktu ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN