Bruk. Raga terakhir yang baru saja tercabut nyawanya secara tragis itu akhirnya ambruk ke tanah. Marmer coklat pasir yang ada di Ruang Tahta seketika menjadi warna merah tua yang hampir menyelimuti keseluruhan. Pedang berselimut darah ia kibaskan seraya melihat kepada tiga orang yang ada di dekatnya. “Jadi, hanya kalian yang tersisa, huh?” Tiga orang itu berlutut serentak. “Beri aku alasan untuk tidak membuat kalian bernasib sama dengan mantan pengikutku yang lain.” “Kekuatan, Tuan.” “Kekuasaan.” “Dan, pengakuan.” Cahaya matahari yang perlahan meredup membentuk bayangan yang menghalangi wajah mereka. Meski begitu, di manik kemerahan sang pemuda, ia bisa melihat jelas senyum lebar dan sorot penuh keyakinan di sana. Melihat itu sudah cukup untuk membuat Daren menyeringai lebar. Ban

