Lilac 4

1042 Kata
 ~~***~~ Valmera tidak menjawab. Ia memalingkan wajah. Dia memang sudah terbiasa. Namun, ada saat di mana nada bicara sang Pangeran benar-benar tak tertahankan. Penuh penekanan dan itu membuat jantung Valmera berdetak cemas. “Hey, Putri Cantik. Aku sedang bicara padamu.” “Saya rasa sudah cukup sampai di sini saja, Pangeran Daren Caecillius.” Suara seorang wanita terdengar dari arah masuk taman—di belakang Daren. Nampak dua wanita berambut coklat menghampiri mereka. “Maafkan kelancangan saya, tapi sudah waktunya makan siang. Nona Valmera harus kembali menemui Yang Mulia Raja di meja makan,” terang Dara penuh kehati-hatian. Air muka tak senang seketika tergambar di wajah si Pangeran Muda. Tatapannya seakan berkata, “Beraninya kau menggangguku?” Dan itu membuat Nera yang berdiri di samping Dara bergidik. Valmera tiba-tiba bangkit. Membuat Daren mengembalikan perhatiannya pada sang Putri. Gadis kecil itu menatap dua dayangnya, “Terima kasih, Dara, Nera.” Ia kemudian melirik lelaki berambut abu. “Sampai nanti, Pangeran. Kita bertemu lagi di Pesta Tahun Baru lusa.” Ia melangkah meninggalkan tamunya. Namun, baru dua langkah, ia berhenti. Valmera berbalik. Dengan senyum terulas di bibir tipisnya ia berkata, “Pangeran mau ikut makan siang dengan kami?” Daren memincing sejenak. Ia mendengus seraya terkekeh pelan. “Tidak, Cantik. Terima kasih. Aku akan langsung kembali ke Xologon.” Bukannya kecewa apalagi sedih ataupun merasa tersinggung, sang gadis justru melebarkan senyumnya. Sangat lebar sampai-sampai kedua matanya tertutup karena tekanan dari pipi. Ya, yang ia lakukan hanya sekedar basa-basi. Sopan santun dan tata karma ketika kedatangan seorang tamu. Tentu saja aslinya dia tidak ingin berada daam satu meja makan bersama monster ini. Tidak sudi! Yang ada malah dirinya yang akan jadi santapan nanti. Valmera membungkukkan badan sedikit, kemudian memutar badan meninggalkan Daren yang membuka portal dengan senyum memudar. ~~***~~ “Wooah! Nona! Aku hampir saja jantungan mendengar ucapan Anda!” seru gadis dua puluh tahunan di sisi kanan Valmera dengan kesal. “Mengajak Pangeran Daren untuk makan siang di sini? Apa yang Nona pikirkan!?” “Nera. Jangan berteriak pada Nona Valmera,” tegur Dera di sisi lainnya. Valmera tertawa kecil menanggapi dayangnya yang ketakutan setengah mati. Tekanan berat yang sedari tadi singgah di badannya telah lepas seutuhnya. Keluar dari tempat tadi rasanya sama seperti setelah keluar dari jam belajar di ruangannya. Dua kali lipat, bisa dibilang. Meski sejuk dan menyegarkan mata, kehadiran Pangeran Daren membuat Taman tersebut bak gurun pasir. Panas. Gersang. Kering. Dan mematikan.                “Aku harap Nona tidak perlu bertemu dengannya di Pesta Tahun Baru nanti. Aku harap aku juga tidak akan melihatnya di sana. Pangeran Daren seperti mimpi buruk.” Valmera menyetujui perkataan Nera dalam hati.. “Ah. Putri Valmera?” Pria berambut pirang berdiri di ujung lorong dan langsung menghampiri Valmera. “Pangeran Neal?” Sang gadis balas membungkuk ketika Neal memberi salam hormat. Entah mengapa ia merasa wajahnya mulai menghangat. Ia bertanya, “Sedang apa Pangeran di sini? Ada perlu dengan Ayah?” Neal menggeleng. “Tidak, Putri. Ayahku yang ada perlu dengan Yang Mulia Raja Arther, bukan aku.” Valmera ber-oh. “Jadi, Pangeran menemani Yang Mulia Raja Varnard, ya?” Sekali lagi sang Pangeran menggeleng. “Tidak, Putri Valmera. Aku ada urusan sendiri datang kemari.” “Urusan apa??” “Bertemu denganmu.” Kehangatan yang hinggap di sekitaran pipinya, kini menjalar ke seluruh wajah hingga ke telinga. Valmera juga bisa merasakan debaran aneh di dadanya. Senyum Pangeran Neal seperti sihir yang membuat sang gadis salah tingkah. Ia tidak bisa menahan senyum malunya, karena itu Valmera membuang muka, sedangkan Nera dan Dara menahan tawa di belakangnya. “Ka—Kalau begitu … mau makan siang bersama di sini, Pangeran Neal Astagnon?” Gelengan ketiga kalinya cukup mengejutkan Valmera. Pikiran negatif menyergap kepala secepat angin bergerak. Sebelum sang gadis salah paham, Neal segera meneruskan ucapan. “Maafkan aku, Putri. Tapi, sepertinya Ayahku sudah selesai dengan urusannya, dan aku harus segera kembali bersamanya.” Binar di mata Valmera meredup. Kepalanya menunduk dengan sudut bibir yang tertarik ke bawah. Melihat itu Neal hanya bisa tersimpul kecil. Sang pemuda mendekat lalu menepuk pelan pucuk kepala sang gadis. Dia kemudian bersuara lembut. “Tenang saja, Putri. Aku masih punya banyak waktu untuk bertemu lagi denganmu. Di saat itu, mari kita berbincang lebih lama. Bagaimana?” Valmera mengangguk kecil. Ada rasa bersalah ketika melihat gadis kecil itu menekukkan wajah. Seandainya memang bisa, Neal ingin lebih lama di sini. Namun, beberapa jadwal yang ia tinggal di Vorenia sana membuatnya harus segera kembali. Neal menurunkan tangannya. “Aku ijin pamit, Putri Valmera.” Ia melirik pada dua wanita yang lebih tinggi dari sang Putri. Tersenyum sambil menggerakkan kepalanya sedikit, lalu kembali menatap Valmera. “Sampai bertemu lagi di Pesta Tahun Baru Kerajaan nanti, Putri.” ~~***~~ Mentari yang semakin tinggi itu perlahan mulai kehilangan cahaya. Ditelan oleh kegelapan yang mulai naik dan memenuhi cakrawala. Aktifitas di Kastil Springgleam pun semakin surut dan menyisakan ketenangan. Valmera telah menggati gaun sore biru tuanya dengan piyama putih. Badannya yang lelah telah bersih dari segala debu dan kotoran. Ia sudah siap menaiki ranjang yang mengumbar keempukannya sedari tadi. “Nona, Anda masih kesal dengan Pangeran Neal?” Dara bertanya penasaran. Bagaimana pun juga, mau diucapkan atau tidak pun ekspresi yang dipasang tuannya itu tidak berubah sejak penolakan Pangeran dari Vorenia tadi. Hanya di depan Raja Arther saja dia tersenyum, meski tidak banyak bicara. Sisanya wajah manis itu tertekuk begitu dalam. Valmera memoncongkan mulut. “Pangeran Neal menyebalkan!” serunya sambil menghentakkan selimut. “Tapi tetap saja itu menyebalkan!” “Mau bagaimana lagi? Sebagai penerus tahta, Pangeran Neal pasti punya banyak hal yang harus dipelajari di istana.” Bukannya menenangkan, perkataan Nera justru membuat Valmera semakin cemberut. Dara menyikut saudari kembarnya tersebut. “Maafkanlah Pangeran, Nona. Lagipula, dia sudah berjanji padamu. Besok pun kalian akan kembali bertemu.” Valmera tidak memberi respon. Dara melanjutkan, “Sudah malam, Nona. Sebaiknya Anda segera tidur. Besok akan cukup sibuk dalam persiapan acara lusa. “Dan, satu hal, Nona,” sambung Nera lagi. “Tidur cukup sama dengan kebahagiaan. Nona tidak ingin hadir di acara dengan penampilan menyedihkan, bukan?” Si gadis kecil sempat terdiam. Sebelum akhirnya dia mengangguk. Dara dan Nera pun pamit meninggalkan gadis yang menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Valmera tenggelam ke dalam mimpinya. …oOo…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN