Lilac 3

1123 Kata
~~***~~ Tubuh sang gadis kecil yang condong ke depan tertarik kuat oleh gravitasi. Rambut putih yang diurai panjang melambai. Mata magenta itu memantulkan sebuah teratai kecil yang makin besar seiring semakin dekatnya ia dengan permukaan air. Aku akan jatuh! Sudah jelas. Gadis kecil itu akan segera menyentuh kolam dengan air kehijauannya yang dingin. Valmera baru saja akan bersuara, ketika tiba-tiba pinggangnya dirangkul dan ditarik menjauh dari pagar pembaras oleh seseorang. “Awas jatuh.” Sang putri mematung sesaat. Telapak kakinya sudah bertemu dengan daratan kembali. Ia kemudian menatap manusia yang sepertinya baru saja menolongnya. Memasang tatapan kosong cukup lama, sebelum akhirnya api amarah mencuat di sana. “Kau bilang begitu setelah aku HAMPIR jatuh?! Terima kasih banyak, Pangeran Daren Caecillius!” Seakan rasa takut terhadap Daren lenyap seutuhnya, Valmera berteriak marah. Mukanya memerah. Alisnya menukik tajam dan suara nyaringnya menusuk telinga si pendengar. Meski begitu, pipi yang menggembung membuatnya jadi terlihat  menggemaskan daripada menakutkan. Aargh! Apa-apaan itu? Pangeran Daren malah tertawa keras! Memangnya ada yang lucu!? Memangnya seorang anak kecil yang hampir masuk ke kolam Taman Istana yang cukup dalam itu lucu— Eh. Tunggu. Taman? Valmera baru menyadari ada sesuatu yang berbeda di sekelilingnya. Langit biru yang bersih dan halaman istana yang luas, mendadak menyempit. Kaca bening menaungi kepala dan mengelilingi mereka. Tanah mulus yang tadi dipijak menjadi berbatu dan sedikit lembab. Hawanya pun lebih sejuk dan warna hijau memenuhi manik magenta Valmera dibanding beberapa saat lalu. “Eh? Ini … taman dalam kastil…?”Aku berpindah tempat!? Diliriknya Daren dengan mata melotot. “Aku hanya ingin tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol. Apa salahnya?” katanya, “Tenanglah, Putri Cantik. Aku tidak menculikmu. Kita masih di Kastil Springgleam. Rumahmu.” “Ta—Tapi, bagaimana?” Daren menarik sudut bibirnya. Lagi-lagi orang itu menampakkan seringai yang menyebalkan! Senyum yang meremehkan dia! “Kau mau tahu?” Valmera mengangguk cepat. “Bagaimana kalau kita mengobrol sambil duduk?” “Tidak. Beritahu aku. Sekarang!” “Apa kau baru saja menolakku?” Deg! Valmera tidak bisa bergerak! Kenapa ini? Apa Daren baru saja menyihirnya hanya dengan tatapan? Membuat sang Putri mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menjagal napasnya tepat pada tenggorokan. Menyebabkan Valmera kesulitan mengeluarkan barang sepatah kata. Bulu kuduknya berdiri. Semakin lama ia terjebak dalam iris menyalang itu, semakin lemas tubuh Valmera. Sang gadis menjauhkan tubuh ketika Daren secara perlahan mendekat. Ia tersentak kala jalan kabur di balik punggung terhalang pagar pembatas kolam. “Me—me—menjauh!” seru si Putri, tetapi diacuhkan Daren. Valmera tak bisa menahan suaranya yang bergetar ketika berkali-kali meneriakkan sang Pangeran untuk mundur. Matanya turut berkaca-kaca menahan bulir bening yang bisa lolos dari bendungan kapan saja. Bohong! Ayah bohong! Mana ada Pangeran Daren tidak jahat! Orang ini benar-benar AKAN memakannya sekarang juga! Di antara ketegangan dan keringat dingin yang membanjiri kening Valmera, mendadak Daren tertawa. “Kenapa, Putri Cantik?” Ia melangkah mundur, lalu lanjut berkata, “Kemana keberanianmu satu detik lalu?” Valmera membisu. Ia tengah mencoba menenangkan dirinya dengan menghirup oksigen yang kesulitan keluar-masuk paru-paru banyak-banyak. Seakan mengerti akan kondisi perempuan di hadapannya, Daren pun sengaja menutup mulut sampai sang Putri benar-benar tenang. “Kau mau tahu cara kita sampai di sini?” tanyanya setelah Valmera mengusap matanya yang basah dan menarik napas panjang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sang gadis kecil mengangguk kecil. Ragu-ragu bercampur takut, tetapi rasa penasarannya tak surut sedikit pun. Daren mengangkat tangan kanan. Cahaya berpendar tipis dari sana. Sesuatu pun mendadak muncul ketika lelaki itu mengulurkannya ke samping. Api kecil melayang, membesar, dan berputar cepat. Membentuk sebuah lingkaran yang lebih besar dari tubuh Daren dengan pusaran di dalamnya. “Tahu apa ini?” Valmera menggeleng. “Ini adalah portal. Mantra sihir penghubung tempat satu dengan yang lain. Kau tahu? Jalan pintas.” Mata Valmera berbinar. Daren sudah bisa membuat portal dan bisa menampung dua orang sekaligus? Kalau ia tidak salah dengar, gurunya pernah bilang kalau membuat portal memang mudah. Itu termasuk pelajaran dasar sihir yang harus bisa dikuasai. Namun, Energi Semesta yang digunakan bisa dibilang tidak sedikit. Semakin banyak orang yang melalui, maka energi si pembuat portal akan lebih banyak terpakai. Dan, Energi Semesta bagi orang yang belum cukup dewasa biasanya hanya cukup untuk dilalui seorang. Ah, jadi itu alasan Ayah hanya memberitahukanku teori dan belum mengajarkan praktek secara langsung? Tapi, Pangeran Daren bisa membuat portal untuk dilalui orang itu dan dirinya sekaligus? Valmera takjub. “Dan, aku menjnadikan portal ini sebagai jalan dari Xologon menuju istanamu.” “Ya, tentu saja Pangeran melakukannya—“ “Sejak kecil.” Gadis itu menoleh cepat ke arah Daren. “Lebih tepatnya sejak aku pertama kali menyapamu.” Kini, Valmera membeliak tak percaya. Bukankah itu berarti Daren sudah bisa membuat portal ini sejak umurnya belum menyentuh tujuh tahun!? Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa membuat sihir sebesar portal ini?! Mustahil! “Apa? Kau tidak percaya kalau aku berlatih keras melakukan satu mantra itu demi bertemu denganmu?” Orang ini benar-benar tidak masuk akal! Sorot mata penuh pertanyaan itu membuat Daren berujar, “Ya sudahlah. Lagipula aku tidak butuh Putri Cantik percaya untuk aku datang ke Llaeca tiap hari.” “T—Tidak bisa begitu!” “Sssh.” Daren mengacungkan jari telunjuk. “Sudah kubilang, aku tidak butuh pendapatmu untuk memutuskan sesuatu.” “Tapi, bagaimana dengan orang-orang di Kerajaan Xologon? Yang Mulia Raja Qei? Beliau tidak mencarimu, Pangeran Daren?” “Kau tidak perlu tahu dan tidak perlu khawatir, Putri Cantik. Aku tidak akan membiarkan urusan-urusan remeh itu mengganggu waktu berharga ini.” Dan, begitulah. Daren benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Di setiap jadwal jalan pagi Valmera, tidak peduli dia tengah sendirian atau sedang ditemani Nera dan Dara, Pangeran dari Xologon itu selalu muncul dengan seringai menyebalkannya. Si gadis kecil bersurai seputih salju dan semengkilap perak pun mulai terbiasa. Satu bulan sepertinya waktu yang terbilang sangat pendek. Namun, dengan rutinitas tidak biasa lelaki negeri seberang itu, rasarasanya 30 hari—kurang lebihnya—cukup untuk menggantikan bertahun-tahun yang diperlukan seseorang untuk dekat dan terbiasa dengan orang asing. Valmera sedikit kagum dengan dirinya sendiri. Mengingat sikap Pangeran Daren yang cukup meresahkan. “Oh, ya, Putri Cantik. Pesta Tahun Baru Kerajaan dua hari lagi, bukan?” “Berapa kali aku bilang, Pangeran Daren. Namaku Valmera Springgleam. Bukan Cantik!” Daren tak peduli, ia melanjutkan, “Pasti akan sangat ramai nanti, ya. Aku minta kau untuk tampil sempurna dan cantik, Putri.” “Berkata seperti itu, memangnya kau Ayahku? Tanpa Pangeran beritahu pun sudah pasti aku akan hadir dengan penampilan yang layak.” “Tidak, Cantik. Tidak.” Daren yang duduk di pagar tepi kolam berdiri mendekati gadis yang duduk di kursi panjang tak jauh darinya. “Layak saja tidak cukup. Aku benar-benar ingin kau SEMPURNA. Tanpa cacat SEDIKIT PUN. Paham?” ...oOo...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN