Lilac 2

1177 Kata
~~***~~ Lelaki yang sepertinya sepantaran dengan Pangeran Neal yang ditemuinya tadi memang tersneyum, tapi hanya satu sudut bibirnya saja yang tertarik. Membuatnya lebih mirip menyeringai. Apalagi dengan sorot mata yang masih tidak berubah. Valmera menyahut dnegan nada kesal. “Namaku Valmera Springgleam! Bukan Cantik!” Dipanggil cantik oleh Daren sama sekali tidak membuatnya senang! Karena orang itu bukan bermaksud memuji, tetapi meledeknya! Wajah sang gadis menekuk dalam. Mulutnya melengkung ke bawah dengan sempurna, dan manik magentanya terlihat mencoba mengintimidasi Daren. Dan itu benar-benar menggelitiknya. Terutama karena fakta bahwa Valmera hanya sedang menutupi ketakutannya. “Cantik, kakimu gemetar.” “Tidak! Aku tidak gemetar!” “Kau takut denganku, ya?” Seringai Daren semakin lebar. “Ti—tidak!” Suara Valmera mulai bergetar. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Meski begitu ia tetap bertahan pada tempatnya. Berharap dengan begini pangeran yang entah mengapa sering kemari sendirian itu akan menghilang. Whoos! Berubah menjadi debu sehingga Valmera bisa menginjak-injaknya sebagai bentuk balas dendam karena selalu menggangu dia. “A … Aku tidak takut padamu! U—untuk apa … aku takut …!” lanjutnya. Tentu saja. Bukannya mundur, Daren malah terbahak. Tawa puas bercampur gemas. Lirikan selepas tawa singkat itu benar-benar mendorong Valmera untuk bersembunyi di balik kedua dayangnya. Rengekan kecil pun terdengar bersamaan dengan bulir bening yang bergulir pada pipi merahnya. Orang ini …. Orang ini mau memakannya! “Tuan Daren …. Saya mohon jangan goda Nona Valmera terus.” Dara memperingati dengan sopan. Daren Caecillius. Putra tunggal dari Raja Qei asal Xologon. Entah sejak kapan lelaki seumuran Neal ini menjadikan Kerajaan Llaeca—spesifiknya Valmera—sebagai kunjungan rutin mingguan. Dara hanya ingat kalau pertemuan pertama mereka membuat Valmera merengek habis-habisan. Pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya Valmera masih menangis dan bersembunyi setiap berpapasan dengannya. Tidak heran dia ketakutan begitu. Lihat saja bagaimana cara sang Pangeran menatap dan berbicara, juga sikapnya. Tengoklah macam mana dia mengacuhkan Dara dan Nera yang menasehatinya dan tetap melanjutkan aksinya. Kedua dayang itu sempat ragu kalau si lelaki adalah calon penerus tahta kerajaan tetangga, kalau saja aura dan wibawa yang dibawanya tak menampakkan keabsolutan seorang pemimpin yang khas. Namun, akhir-akhir ini, sang Putri agaknya mulai merasa kesal. Dia memilih untuk menghadapi monster tersebut. Walau akhirnya tetap sama. “Tuan Daren …!” Nera nampak mulai kesal. Namun, seketika lenyap ketika Daren meliriknya. Sang dayang sontak mematung dengan wajah kaku. Sungguh, sulit dipercaya orang ini masih berusia sepuluh tahun! Aura yang dikeluarkannya bagai raja hutan dengan seluruh kekuasaan dalam genggaman. Ia bisa menundukkan siapapun hanya dengan manik mencoloknya itu! “Aku cukup terkejut kau tidak langsung lari seperti dulu,” katanya, lalu mengukir senyum penuh makna kepada Valmera. “Terima kasih, Putri. Berkatmu aku jadi semakin yakin dengan sesuatu.” “A—Apa?” “Aku akan menemuimu setiap hari mulai dari sekarang.” *** Mimpi buruk! Ini mimpi buruk! “Ayaah! Aku mohon! Lakukanlah sesuatu!” Pria tua itu membalas santai. “Apa salahnya, Val, Putriku. Pangeran Daren bukan orang jahat.” “Tidak! Ayah! Dia monster!” Valmera masih tidak mau kalah. Berkali-kali ia mencoba menjelaskan kalau Daren itu sesuatu yang tidak seharusnya masuk ke Istana Springgleam. “Pangeran itu menyeramkan! Dia ingin memakanku, Ayah. Aku tahu itu!” “Memang tidak salah, sih. Putri Ayah terlalu manis. Siapa yang tidak ingin memakannya?” “Ayaaah!!!” Valmera cemberut. Lelaki yang merupakan pemimpin dari Kerajaan Llaeca itu sekali lagi tertawa. “Val, Sayang, tidak perlu khawatir. Daren hanya ingin berteman denganmu. Ayah bisa jamin kalau dia anak baik. Kau bisa minta Ayah lakukan apapun kalau dia menyakitimu. Bagaimana?” Perempuan kecil itu berpikir sejenak. “Apapun?” “Apapun.” “Jalan-jalan? Liburan satu bulan?” Arther mengangguk. “Gaun baru? Perhiasan baru?” Jawaban sama kembali terlempar, dan kini sang gadis tak lagi berceloteh tentang Daren dan apa yang dikatakan pemuda itu. Raja Arther hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri satu-satunya. Situasi meja makan kembali tenang dan sunyi. Dua insan tersebut kembali asyik menikmati hidangan-hidangan penggugah selera hasil olah tangan koki kerajaan.Selang beberapa saat, barulah terdengar lagi suara. Lagi-lagi dari Valmera. Hanya saja kali ini menanyakan perihal tamu pagi-pagi butanya tadi.  “Tadi Ayah ada sedikit urusan dengan Raja Varnard dari Vorenia. Pangeran Neal itu anak pertama beliau. Tadi Val mengobrol dengannya?” Sang bocah mengangguk cepat. “Dia bilang aku cantik!” katanya dengan senyum lebar. Arther terkekeh melihat tingkah anaknya. “Pangeran Neal pintar menilai, ya. Ayah setuju. Putri ayah memang sangaat-sangat cantik!” pujinya. “Oh ya, Val. Persiapkan dirimu untuk acara Tahun Baru bulan depan. Akan banyak tamu penting dan acaranya akan sangat meriah. Seorang putri raja harus tampil maksimal, mengerti?” “Mengerti Ayah!” Makan malam hari itu berakhir dengan satu buah anggur terakhir yang masuk ke dalam mulut. Valmera kemudian pamit kepada Arther sambil mengucapkan selamat malam. Beranjak ke kamar dan mengganti gaun kuningnya dengan pajama berbahan ringan yang nyaman. Si gadis kecil kemudian terlelap dengan cepat. ~~***~~ “Selamat pagi, Putri Cantik.” Hari pertama kunjungan rutin pangeran dari kerajaan tetangga sepertinya dimulai hari ini. Mentari agaknya belum terlalu lama menyinari daratan—meski sudah cukup terasa panas. Namun, sosok yang paling diharapkan Valmera agar tidak muncul malah menampakkan batang hidungnya tepat di waktu jalan pagi sebelum jam makan siang. Sialnya, sekarang ia sendirian. Berdua jika lelaki bermanik merah itu dihitung. Ya, memang dia sendiri yang meminta Nera dan Dara tidak perlu menemaninya, karena ia pikir taka da salahnya menikmati pagi hari seorang diri. Namun, perhitungannya salah. S Sangat. Sangat. Salah. “Oh, sepertinya kau sudah tidak masalah dengan nama Cantik, ya?” “Tidak! Na—namaku Valmera. Valmera Springgleam! Bukan Cantik.” “Tapi kurasa nama Cantik lebih cocok untukmu,” kata Daren. “Yang Mulia Raja Arther juga pasti setuju, ya, ‘kan?” Valmera berlagak acuh. “Te—terserah!” Ia memalingkan wajah seraya melalui Daren. Tadinya dia kira dengan meninggalkannya, monster itu akan menghilang dengan sendirinya—seperti yang sudah-sudah. Namun, kali ini tidak. Daren tiba-tiba berada di sampingnya. Berjalan dalam langkah yang sama. “Kau mau kabur?” Valmera megindahkan pertanyaan tersebut dan mencoba mempercepat langkah, tapi kesenjangan fisik yang jauh menjadikan usahanya sia-sia. Kaki Pangeran Daren lebih panjang dan langkahnya lebih lebar. Tentu saja ia bisa mengejar si Putri dengan mudah. Aku mohon hilanglah! Hilang! Hilang! Sang gadis mencoba agar tetap tenang meski getaran-getaran kecil tetap terlihat di tangannya yang saling bertautan di depan tubuh. Valmera merutuk dalam hati mengapa ayah dan gurunya masih mengurungnya dalam pelajaran dasar sihir. Belajar memang memuakkan, melelahkan, dan membosankan! Terjebak berjam-jam sendirian di sebuah ruangan dengan celotehan dari seseorang yang dipanggilkan oleh Arther bagai siksaan manis untuknya. Namun saat ini Valmera menarik kembali kata-kata dan keluhan tersebut. Ia ingin belajar. Ia butuh belajar! Setidaknya mantra atau suatu teknik yang bisa membuat orang di hadapannya menghilang. Hilanglah. Aku mohon! Hilang. Hilang! Hi— Dug. “Eh—“ Mendadak, Valmera merasa tubuhnya melayang. Kedua kaki yang baru saja menghantam sesuatu tak lagi menapak tanah. Gaun biru mudanya bergerak mengikuti tubuh yang mengarah ke sebuah kolam kecil berhiaskan teratai merah muda. …oOo…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN