~~***~~
Kejadian itu terjadi secepat kilat. Bahkan sebelum Neal sempat meraih uluran tangan tersebut, sang gadis telah lenyap ditelan kegelapan, bersama iblis yang memeluk erat tubuh sucinya.
Valmera tidak berhenti meronta dan berteriak meminta untuk dilepaskan. Sejak keluar dari portal dan tiba di tempat antah berantah ini, lelaki yang mengaku sebagai raja dari Kerajaan Xologon itu sama sekali tidak menggubris pemberontakannya. Dia seakan menikmati pemandangan itu, sembari memasang seringai menyeramkan.
“Suara yang indah. Tidak peduli kata apapun yang keluar dari mulut ini …” Daren memiringkan kepala. Dengan posisi merangkul sang gadis dari belakang, ia mencengkram dagu Valmera dan memaksa si gadis untuk menatap padanya. Kata-kata berikutnya keluar, “suaramu tetap terdengar seperti nyanyian burung di pagi hari.”
Sang putri mendengus. “Nyanyian burung, katamu? Aku bahkan tidak yakin di tempat terkutuk ini ada makhluk seindah itu untuk bernyanyi di hadapanmu!”
Kalimat itu membuat senyum yang terkembang di wajah tegas Daren luntur. Sorot mata semerah darah terlihat begitu marah. Sampai-sampai membuat Valmera kesulitan untuk bernapas. Seluruh tubuhnya seperti disihir agar tak dapat bergerak, dan matanya terkunci pada pandangan yang haus akan jiwa sang lelaki.
Gadis berambut seputih salju itu menjerit kesakitan ketika Daren menarik tangan kuat-kuat, hingga tubuh Valmera terpental. Kepalanya membentur sisi tajam ranjang—yang seketika menjalarkan rasa perih dan pening di sana. Rasa hangat mengalir bersamaan dengan cairan merah yang m*****i hingga ke pipi.
“Ah--!” Sebuah rantai tiba-tiba muncul lantas menjerat kedua pergelangan tangan putri Springgleam tersebut. Begitu erat dengan rasa membakar. Rintih kesakitan pun tak dapat lagi ia tahan untuk keluar dari mulutnya. “A—Apa yang kau lakukan …!? Lepaskan aku!” teriak Valmera.
Daren tidak mempedulikan teriakan sang putri. Sebuah lingkaran kecil melayang beberapa sentimeter dari telapak tangannya yang terbuka. Dari portal tersebut, terlihat sesuatu muncul dan nampak benderang di tempat yang begitu suram ini.
Valmera tak dapat mengalihkan perhatiannya. Meski benci, apa yang dia lihat terlalu indah dan memukau. Terlalu kontras dengan sosok yang tengah menggenggamnya sekarang.
“Terkejut, Sayang? Tidak menyangka aku bisa memilikinya di tempat ini?” kekehnya. “Lilac ungu. Aku tahu kau menyukainya, Valmera.” Daren menyodorkan tabung bersi sebuket lilac ungu di dalamnya. Tatapan dan aura membunuh yang tak hilang dari raganya membuat senyum yang terukir terkesan begitu dipaksakan dan semakin menyeramkan—meskipun sang pemuda mencoba bertindak selembut mungkin pada Valmera. Ia bahkan berusaha keras menjaga nada suaranya agar tidak meninggi dan tetap membuat sang gadis tenang di posisinya.
“Perwujudan dari perasaan bernama cinta, huh ….” Daren memandangi sejenak benda penuh kecantikan tersebut, kemudian melangkah mendekati Valmera yang terus meronta dengan ketakutan yang memenuhi air mukanya. Perlahan, kedua bola mata itu menyusuri tubuh terbalut gaun yang sobek sana-sini dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas dan berhenti tepat di matanya. Seringai semakin lebar. Melihat itu membuat jantung sang gadis berdegup tak karuan. “Kau tadi bilang apa? Tempat terkutuk?” Ia terkekeh. “Kalau kau bilang begitu, Tuan Putri, maka, ya! Ini memang tempat terkutuk! Tapi, ini adalah kerajaanku. Kerajaan yang akan segera menjadi rumahmu juga.”
“Rumah!? “
“Seorang raja dari kerajaan hebat pun, takkan bisa memerintah sendiri tanpa seorang ratu yang menemani dirinya.” Daren semakin mendekat. Lilac ungu yang berada di antara mereka tidak cukup memberi ruang bagi Valmera untuk berhenti gemetar, sedangkan Daren masih dengan seringainya berkata, “tinggallah di sini bersamaku, Valmera.”
“A—Apa!? Jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda.” Perubahan nada bicara Daren yang begitu tiba-tiba membuat tubuh sang Putri semakin kaku. Bulu kuduknya meremang. Atmosfer di sekeliling Valmera terasa semakin menyesakkan. “Aku rasa lilac ungu ini sudah jelas mewakilkannya. Kau juga mengerti, bukan?” Daren berbalik. Melangkah menuju lemari kecil terdekat lantas meletakkan tabung kaca di atasnya. Tangan dengan telapak yang terbuka ia ulurkan kala menghadap kembali pada Valmera. Memunculkan sebuah lingkaran hitam berukuran sedang berputar dengan tulisan-tulisan yang tak dapat dibaca Valmera. “Karena itu … tidak akan kubiarkan siapapun menghentikanku untuk memilikimu!”
“Asvres o neixl.”
Sedetik kemudian lingkaran mantra itu berpendar, bersamaan dengan rasa sakit yang menghujam dadanya. Api kecil terbentuk di atas dadanya. Meliak-liuk tengah mengukir sesuatu untuk beberapa detik.
Bekas seperti tato pun tertinggal begitu api itu menghilang. Kulit putih, kini menjadi kemerahan, dan dihiasi oleh bentuk aneh serupa bintang—namun dengan bentuk yang agak berantakan. Perih …. Valmera bernapas pendek-pendek, meringis kesakitan karena tubuh yang rasanya bak dirajam oleh pemuda itu.
Ia tidak bisa bergerak, bahkan untuk membuka mulut pun tak kuasa. Valmera telah sepenuhnya dibuat bungkam dalam keadaan sadar oleh lelaki b******n yang ada di depannya.
“Mulai detik ini juga, akan kujadikan kau sebagai milikku seorang, Putri Valmera.”
Pupil mata sang putri mengecil dan bergetar ketakutan saat Daren dengan berani mulai menyentuh dirinya. Mulai dari membelai pucuk kepala, dia menyusuri surai rambut yang lembut itu sampai ke ujung. Menghirup semerbak khas bunga yang membuat ia mabuk seketika.
Valmera bergidik. Sekeras apapun ia berusaha untuk terlepas dari Daren, hasilnya tetaplah nihil. Ia tidak bisa menghentikan orang gila yang mulai mendekatkan wajahnya. Semakin dekat hingga jarak mereka tersisa nol sentimeter.
Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi, sang gadis terkesiap. Tubuh dia semakin mati rasa ketika Daren menjepit kencang dagu dan menariknya hingga gumpalan daging itu bersentuhan. Melumatnya, menikmati rasa manis yang dimiliki bibir tipis itu.
Daren mencengkeram belakang kepala Valmera, dan semakin mengeratkan tautan. Lidahnya turut bermain dengan menelusup tatkala ruang kecil terbuka di antara mereka. Sentuhan kasar di dalam sana membuat Valmera merinding geli, sekaligus sesak.
Tidak!
Air mata menetes di sudut mata. Daren sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Pemuda itu hanya menjauhkan diri beberapa detik sebelum kembali menciumnya.
Tidak! Tidak! Berhenti….
Kumohon berhenti!
Seperti mendengar permintaannya, Daren menjauhkan diri. Kini tidak sekedar memberi jalan Valmera untuk mengembalikan oksigen milik paru-parunya, tapi benar-benar melangkah mundur dan membiarkan sang gadis terengah-engah di posisinya. Sang pemuda menjentikkan jari, dan seketika mulut kelu perempuan itu dapat dikendalikan lagi.
“Ba—b******n!”
“Sshhs. Tutup mulutmu, Sayang, atau….”
Valmera menggigit bibir bawah saat rantai itu lagi-lagi memberi ia sengatan panas pada lengannya. Dia mencoba untuk tidak berteriak dan menutupi rasa sakitnya—walau tentu saja ia tahu kalau itu sia-sia. Sorot mata orang di depannya begitu menikmati raut penderitaan itu. “Valmera, menikahlah denganku.”
“Apa!? Jangan bercanda! Aku tidak akan—“ Kalimat Valmera terpotong, mulutnya terbuka dengan mata membuka lebar.
A … aku tidak bisa bernapas…!
Ada apa ini?! Tenggorokannya seperti terhalang oleh sesuatu hingga menghambar oksigen yang harusnya masuk ke dalam paru-paru. Valmera mulai tak tahan. Bola matanya bergulir ke atas, mulut mengap-mengap, dengan bibir yang perlahan kehilangan warna segarnya.
Valmera merasa nyawanya perlahan ditarik melalui mulutnya.
Namun, semua itu lenyap kemudian kala Daren mengedipkan matanya sekali. Menghilangkan rasa mencekik di leher, dan memeberi jalan untuk bernapas.
“Maaf, Sayang, aku tidak mendengarmu tadi. Bisa kau katakan lagi?” ucap Daren dengan nada menggoda.
Masih dengan terengah-engah, Valmera menyahut, “Kubilang … aku tidak akan mau menikah denganmu!”
“Ups. Jawabanmu salah, Tuan Putri.” Daren mengacungkan telunjuknya ke d**a gadis tersebut. Menciptakan jerit yang tidak lagi bisa ditahan.
Sa—Sakit!
Sesuatu…. Sesuatu menembus dadanya! Daren memang tidak melakukan apa-apa, tapi Valmera bisa merasakan sebuah tangan yang mencengkram kencang jantungnya. Menyiksanya perlahan dengan berangsur mengeratkan kepalan dalam hitungan detik.
Satu….
Dua….
Tiga….
Valmera berteriak semakin keras. Tenggorokannya sampai serak karena suara yang tidak bisa terkontrol itu. Buliran bening tanpa sadar juga telah membasahi pipinya, beserta keringat dingin yang semakin membuat wajah cantik itu kehilangan pancaran indahnya.
“Aku tidak lagi menerima penolakan, Putri Valmera Springgleam. Kau tahu sekarang akibatnya kalau menjawab seperti itu, kan?” Daren menurunkan tangan, lalu melangkah mendekati gadis itu. Mencengkram kedua pipinya dan memaksa iris magenta letih untuk mendongan menatapnya.
“Aku tidak meminta, aku memerintahkanmu. Menikahlah dengaku, Valmera Springgleam. Dan abdikan dirimu sebagai istri dan ratu dari Xologon untuk selamanya.”
…o0o…