Lilac 18

1076 Kata
~~***~~ Pasrah. Valmera tak lagi berdaya dengan semua perlakuan Daren padanya. Gaun yang membalut tubuh sudah tidak karuan lagi bentuknya. Rambut putihnya juga berantakan akibat jambakan dari Raja kejam tersebut. Jeritan terdengar lagi saat rantai yang menjerat menariknya. Meregangkan otot dan tulang-tulang Valmera, sampai rasanya bagian tubuhnya itu akan putus karenanya. Sudah berapa lama ia di kondisi begini? Satu—dua jam? Valmera tidak tahu lagi. Ia tidak peduli. Pikirannya telah porak poranda—dikacaukan oleh penyiksaan luar-dalam oleh sosok yang bahkan sudah kabur di penglihatan. Hanya satu cahaya keunguan yang bisa ditangkap oleh retinanya. Dan itu berasal dari lilac milik Daren. Valmera tidak punya tenaga untuk sekedar membuka kelopak mata. Ia sungguh lelah. Ingin rasanya ia terlelap, mnghilangkan semua visual yang memenuhi pandangan dan pikirannya. Meski begitu, tanaman itu adalah satu-satunya benda yang entah mengapa masih mampu ia lihat dengan sangat jelas di antara kegelapan, rasa perih, dan suara menjijikkan di sekeilingnya. “Hoya? Apa calon ratuku sudah lelah dengan semua kesenangan ini?” tanya Daren kala mendapati gadis di depannya mulai terpejam. Tak ada gubrisan dari sang lawan bicara, membuat Daren semakin lebar menyunggingkan seringai. Valmera benar-benar tidak berdaya menangani tubuh dan pikiran yang berada dalam kendali segelnya. Sungguh saat-saat yang bagus! Untuk kesekian kali, dia menikmati lagi leher jenjang milik sang gadis. m*****i dengan jejak-jejak gigitannya. Bungkamnya putri dari Llaeca membuat Daren semakin leluasa untuk menjelajahi tubuh molek itu. Menggrilya tiap lekukan dan bagian-bagian yang beberapa saat lalu melahirkan desah indah dari mulutnya. Seluruh tubuh perempuan itu seakan kehilangan kemampuan untuk menerima rangsangan, bahkan ia tidak merespon saat tubuhnya oleh jari-jemari nakal Daren. Mati rasa. Tenggelam dalam kesunyian dan keburaman. Ditelan kegelapan tak dikenal di dalam pikirannya. Untuk beberapa lama ia terjebak dalam kondisi yang nyaman tersebut. Sampai sesuatu membawa sang gadis kembali pada kesadaran. Satu sabetan panjang meluncur tepat ke atas kepalanya. Memutus rantai yang memborgol kedua lengan Valmera. Ia tersungkur ke atas ubin coklat gelap, tepat sebelum Daren lebih buruk memperlakukannya. Pemuda itu pun melompat menjauh demi menghindari serangan sama yang terarah kepadanya. Namun, serangan beruntun itu tetap berhasil mengenai pinggang kiri. Merobek pakaian serta kulit kecoklatan pemuda itu. Baik Valmera maupun Daren, keduanya terkejut dengan serangan sihir misterius tersebut. Mereka menatap sumber yang ternyata adalah seorang pemuda berambut pirang—ditemani lelaki tua dan pedang agungnya. “Kau …!” Daren menggeram. “Dasar hama tak berguna! Beraninya kau mengganggu kesenangan kami berdua!” Dia mengangakat tangannya dan mengeluarkan api hitam. Bola panas tersebut terarah pada Neal yang sudah berjongkok di tempat Valmera. Namun, sebelum berhasil mengenainya, api tersebut menghantam bongkahan tanah yang muncul tiba-tiba dari bawah. Neal memanfaatkan sihir Arther itu untuk segera membopong Valmera dan membawanya ke belakang. Sesaat ia memandang gadis dengan wajah pucatnya itu. Tidak ada sepasang mata magenta yang menyambutnya senang. Gejolak emosi semakin menjadi kala melihat bercak-bercak peninggalan Raja Xologon di kulitnya. “Kurang ajar …!” d**a Neal naik turun, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia kemudian berdiri, memutar badan sembari menghunus pedang dari sarungnya. Melihat sosok penuh aura kegelapan itu membuat api kecil di dadanya semakin lama semakin berkembang. Memunculkan dendam yang rasanya tak dapat lagi dibendung. Daren pun tak kalah kesal dengan para tamu tak diundang ini. Padahal sedikit lagi, setelah ia berhasil menaklukkan kesadaran Valmera, gadis itu akan benar-benar menjadi miliknya. “Berani kau mengacaukan kesenanganku ….”  Ia mengambil pedang yang masih terselempang di balik punggungnya. “Kubunuh  …. Akan kubunuh kau, Neal Astagnon!” “Bersenang-senanglah dengan lawan yang sepadan, Daren Caecillius!” “Sepadan? Sepadan katamu?” Ia tergelak. “Jangan bercanda. Kau jauh lebih lemah dariku, Raja Arther, dan mengalahkanku akan menjadi hal tersulit bagimu. “Atau jika kau memaksa … maka ini akan menjadi pertarungan terakhir di sisa hidupmu.” Arther mengacuhkannya dan tetap melesat maju. Pedang agung bergerak horizontal dari bawah, dan dengan cepat ditangkis Daren sebelum berhasil mengenai tubuhnya. Arah geraknya berganti vertikal, tetapi lagi-lagi digagalkan oleh si lawan. “Yang Mulia Arther tidak sendirian.” Neal sudah berdiri di samping pria tersebut. “Pertarungan ini tidak hanya antara kau dan Raja Arther, Daren, tapi antara Xologon dan Llaeca.” Pemuda itu memasang posisi. “Walau belum sah, tapi aku sudah resmi menjadi belahan hati dari kerajaan Llaeca.” Kalimat itu seakan menjadi pemicu akan apa yang terjadi selanjutnya. Ketiga orang itu bergerak cepat. Dua lawan satu, tidak menyulutkan sedikitpun rasa gentar di diri Daren. Ia malah semakin brutal. Gerakannya membabi buta dan sulit untuk diprediksi. Pemuda itu bahkan sanggup menghalau serangan yang datang bersamaan dari dua arah yang berbeda. “Ayolah, Pak Tua! Kau tidak harus membuang-buang tenagamu sebanyak ini untuk bertarung dengan seseorang yang tak bisa kau kalahkan! Cukup relakan putrimu dan serahkan tahta Llaeca kepadaku, dan kau bisa melanjutkan hidupmu yang menyedihkan dengan tenang.” Arther berseru lantang. Suara semi seraknya menggema di ruangan luas itu. “Sampai hembusan terakhir napasku pun tak akan kubiarkan tanah suci dikuasai oleh orang yang bekerjasama dengan Narak sepertimu!” Arther menerjang kembali. Berusaha mencegah Daren mengambil kesempatan untuk menyerang balik. Daren melompat mundur mencegah Arther semakin mendominasi. Namun, lagi-lagi ia tak bisa mempertahankan posisi karena serangan dari orang lain datang dari belakang. Pedang bermata dua tajam tiba-tiba saja berada di atas kepalanya, bersama dengan pemiliknya yang melayang. Sialnya untuk Neal sebab Daren memiliki refleks yang sangat-sangat bagus. Dan untung bagi pemuda bersurai biru-kehitaman itu yang bisa menghindari serangan dengan mulus. Pertarungan terus berlangsung dengan Arther dan Neal yang sempat terpojokkan beberapa kali. Raja dari Xologon sendiri tidak terlihat kelelahan sama sekali—berbanding terbalik dengan mereka berdua. Malahan rasanya kekuatan orang itu kian bertambah seiring serangan yang diterima. Pedang agung kehitaman di tangannya serta merta menyebarkan aura yang menekan atmosfer di tempat ini. Setelah jeda beberapa detik itu, ketiganya kembali berusaha melumpuhkan lawan—atau mungkin lebih tepat membunuhnya. Tidak ada satupun darinya yang sadar, bahwa gadis yang tadi terkapar tak berdaya, kini telah sadar dan memperhatikan semua pemandangan di depannya. Neal…. Ayah…. Tidak. Valmera tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Ia harus membantu ayah dan tunangannya! Tapi, bagaimana? Dia tidak punya senjata. Kekuatan semesta tidak bisa langsung digunakan dengan tangan kosong, kecuali sang pemimpin yang sudah menjadi sang wakil alam. Tombaknya itu menjadi perantara yang ia gunakan untuk mengerahkan semua kemampuan yang dipunya. Sesungguhnya, bisa saja ia memaksakan diri menggunakan sihirnya secara langsung, tapi jika ia ingin mati karena tidak mampu menahan kuatnya energi semesta. Ditambah lagi kondisinya yang untuk sekedar duduk tegap pun masih belum kuasa. Siaal! ....  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN