~~***~~
Berpikirlah, Valmera! Berpikir! Pasti ada cara yang bisa digunakannya untuk membantu dua orang itu. Pasti ada yang bisa ia lakukan dengan sihirnya.
Cara lain yang bisa terpikirkan olehnya kemudian adalah membuat senjata alernatif. Ya, replika dari tombaknya, misal. Mungkin tidak akan sepenuhnya persis, terutama kekuatannya, tetapi setidaknya kuat untuk menahan energi dari tubuhnya.
Namun, sekali lagi kegiatan iu membutuhkan tenaga besar. Ia juga baru sadar energi semesta di sini terasa sangat terbatas. Jika memaksa, Valmera harus menggunakan energi semesta yang sedkitnya tersimpan di dalam tubuh—tanpa bantuan dari luar.
Apakah bisa?
Ah, masa bodo dengan hal itu! Setidaknya dia harus mencoba, atau jika tidak, bukan cuman dirinya, tapi Neal dan ayahnya juga akan menderita.
Valmera mencoba bangkit. Agak sempoyongan, tapi akhirnya bisa menyeimbangkan diri kembali. Kedua tangan gadis itu diulurkan ke depan. Dengan mata tertutup, ia mulai fokus mengalirkan sisa energi untuk membentuk lingkaran sihir di depannya.
Rasa nyeri mulai menusuknya dari berbagai sisi, tetapi Valmera berusaha mengabaikan dan tetap berkonsentrasi. Keadaan tubuhnya sudah cukup membuat pembentukan menjadi sangat lambat, ia tidak bisa membagi perhatian lagi untuk luka-luka tak terlihat yang semakin bertambah linu.
“Ayo Valmera …. Kerahkan semuanya…!”
Lingkaran sihir itu mulai mengurai dan berkumpul menjadi sebuah gumpalan cahaya di tengah. Mulai melebar dan membentuk sesuatu di sana. Namun, seketika semuanya buyar dan kembali ambruk ke atas tanah.
Valmera berhenti tiba-tiba tepat saat tubuhnya berusaha menggunakan kekuatan semesta untuk membentuk senjata. Tenggorokannya tercekat, ia kesulitan untuk menghirup oksigen ke dalam paru-paru. Semakin dia berusaha, rasa perih, sesak, dan panas semakin menjalar di dalam tubuh.
Gadis itu berteriak kencang dengan suara yang enggan keluar.
“Heh, mencoba untuk mengeluarkan kekuatan semesta, Tuan Putri?” Ia mencibir. “Kau tidak akan bisa. Tubuhmu masih menjadi milikku, Valmera. Dan selamanya akan tetap seperti itu!” Tangannya yang terbebas diarahkan kepada sang gadis. Di saat yang sama, Valmera berteriak lebih keras. Tanda yang ada di dadanya berpendar, memberi rasa panas yang lebih daripada beberapa saat lalu. Bahkan sekarang rasanya lebih menghujam dan mengalir ke jantungnya. Memperlambat detaknya, mempersulit tubuhnya dalam mengalirkan darah dan oksigen, hingga sang gadis tak mampu lagi untuk mempertahankan keseimbangan.
Kandas sudah usahanya. Ia sungguh tak bisa melakukan apapun sekarang. Rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya yang tertunduk dalam.
Neal naik pitam melihat Daren yang menyihir kekasihnya. “k*****t, kau! Apa yang lakukan pada Valmera!?”
“Kau ini memang tidak tahu, atau menolak tahu?” kata Daren. “Sudah jelas aku menjadikan Valmera milikku seorang. Tanda di dadanya akan sealu melekat, ikatannya denganku takkan pudar sekeras apapun semesta berusaha membebaskannya—“
Pemuda berambut pirang tak dapa lagi menahan emosinya. Tubuhnya bergerak sendiri menghunuskan pedang bangsawannya tepat ke d**a pangeran Xologon. Namun, refleks yang bagus berhasil menyelamatkan Daren dari serangan penuh nafsu itu. Ia terkekeh melihat lawannya yang ternyata mudah sekali terpancing hanya karena seorang gadis.
“Putri Valmera bahkan sudah menerima lilac ungu pemberianku! Kau tidak perlu lagi repot-repot mengambil apa yang sudah bukan menjadi milikmu, Pangeran Neal.”
Ayunan Neal semakin tak beraturan. Suara kedua besi yang saling beradu menusuk pendengaran Valmera dengan tak nyamannya. Ia memperhatikan pertarungan antar dua orang itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengalihkan pandangan pada ayahnya yang berusaha bangkit setelah terkena sihir Daren.
Mata yang terasa hangat kembali bergulir kepada kekasih yang ternyata tengah menatapnya sedari tadi dengan napas memburu. Iris magenta beradu pandang beberapa detik dengan manik biru Neal. Keduanya sama-sama memancarkan perasaan yang tak dapat diungkap oleh perkataan untuk saat ini.
Khawatir.
Namun, perasaan mereka tidak bertahan untuk waktu yang lama. Walau begitu, waktu serasa berhenti bergerak, dan semua yang ada di sekitar gadis itu seperti melambat sepersekian detik. Menayangkan dengan jelas apa yang terjadi di depan bola mata yang terbuka lebar.
Pupil biru langit Neal mengecil, dan darah mengalir di sudut bibirnya. Tak hanya di sana, tetapi juga di dadanya. Bagian yang dengan mulusnya ditembus tangan pemuda berzirah hitam—tepat di benda lunak yang berdetak konstan di dalam sana.
Tidak ada suara yang sempat keluar dari tenggorokan. Tak ada jerit kesakitan yang menggema karenanya. Neal hanya bisa membeliakkan mata dan tergagap dengan mulut bermuntahkan cairan pekat.
“NEAAAL!!!”
Daren menarik keluar tangannya. Darah yang terciprat dari senjata itu mengenai wajahnya dan wajah Valmera, serta membentuk genangan di bawah tubuh Neal yang telah tersungkur tanpa nyawa.
Satu-satunya perempuan yang ada di sana berulang kali meneriakkan nama pemuda yang ia tahu tidak akan pernah bisa mendengar maupun meresponnya. Namun, ia tidak peduli. Mengabaikan rasa sakit yang terus menusuk bak jarum-jarum panas, ia memaksakan diri untuk bangkit dan mendekat pada kekasihnya.
Daren memincing tajam pada gadis tersebut. “Kau membuatku muak, Valmera. Kalau kau memang segitunya ingin menyusul kekasihmu, maka katakan saja. Aku akan melakukannya dengan senang hati.”
Valmera menyadari nada bicara yang sangat berbeda dari Daren. Ia mendongak pada pangeran yang sudah berdiri di depan dengan pedang siap menebas lehernya. Namun, sebelum hal itu terjadi, dengan cepat sang ayah berteriak, “Terbuka!”
Dan Valmera merasa tubuhnya terjun bebas dengan kesadaran yang perlahan mulai hilang.
***