~~***~~
Angin yang berhembus terdengar bak lantunan irama yang begitu merdu di telinga. Gadis yang berdiri di antara bunga-bunga lilac masih memejamkan mata. Merasakan dengan seksama belaian alam terhadap raganya.
Menyatu dengan Semesta, kekuatan yang memberkatinya selama ini. Memberkati semua keluarga kerajaan dengan Nishati—Energi Semesta.
Sang gadis membuka mata. Tepat di depannya, sebuah lilac putih dan ungu terjulur dari tangan seseorang. Tangan yang sangat ia kenali besar, bentuk, dan warna kulitnya. Senyum terkembang lebar, dan tercermin di wajah pemuda itu saat keduanya bertatapan. Manik magenta memandang lagi dua kembang tersebut.
Lilac putih, lambang kesucian. Simbol yang ada di kerajaan Llaeca, dan perantara Semesta memberikan kekuatannya kepada raja dan negerinya.
Yang satu lagi, lilac ungu, lambang cinta—cinta pertama. Simbol yang banyak orang gunakan untuk mengungkapkan perasaan pada yang dikasihi, terutama jika ia adalah sosok pertama yang membuatnya jatuh hati.
Perempuan bergaun tidur warna putih tulang selutut mengangkat tangan kanannya untuk menerima pemberian sang kekasih. Namun, tepat tinggal satu senti lagi ia menyentuh tangkainya, sesuatu terjadi.
Mahkota lilac yang putih bersih, mendadak ternodai oleh bercak merah kehitaman. Membuat setengah darinya jadi pekat, sedangkan bunga satu lagi—lilac ungu—mendadak layu dan mongering kecoklatan. Gagang keduanya terbakar hingga merubahnya menjadi abu.
Cahaya rembulan menghilang. Perlahan taman bunga kerajaan diselimuti kegelapan yang sangat pekat. Refleks, kakinya bergerak pelan ke belakang. Napasnya tersenggal, dan jantungnya berdegup kencang. Putri cantik itu takut-takut mengadahkan kepala—melihat kembali pemuda yang kini balik memandangnya dengan tatapan kosong.
Sedetik kemudian, bak rekaman video yang dialog, sebuah tangan hitam menembus d**a si Pangeran. Kejadiannya begitu cepat. Sekarang, Valmera dapat melihat benda seukuran kepalan tangan orang dewasa yang masih segar dengan baluran darah itu berdetak cukup lama.
Mengembang.
Mengempis.
Berulang kali ia melihatnya dengan mata terbuka sempurna.
Yang bisa ia ingat selanjutnya adalah tenggorokan perih, lengkingan di telinga, dan seulas seringai lebar di balik kegelapan yang perlahan menyelimuti segalanya
***
Beberapa bulan setelah p*********n oleh Daren Caecillus di Kerajaan Llaeca, warga-warga sibuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan mahkluk-makhluk bawaan si Raja Xologon. Rumah-rmah, kios-kios dagangan, dan lahan-lahan sumber penghasilan mereka pulihkan bersama-sama. Gotong royong agar Llaeca yang terkenal damai dan sejahtera bisa kembali seperti sedia kala.
Namun, semua itu tidalah mudah—setidanya untuk sekarang. Pemimpin hebat mereka, orang yang paling disegani di kerajaan itu tengah terbaring lemah di atas ranjang king size-nya. Tabib kerajaan berkata, kalau sang raja telah mengidap penyakit misterius yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Maaf, Tuan Putri, karena belum pernah melihat gejala penyakit yang diderita Yang Mulia Raja, saya belum bisa memulihkan keadaannya,” katanya keapda seorang gadis di atas tempat tidur. “Tapi, saya bisa mendeteksi energi asing dari raga Raja Arther—seperti energi hitam. Saya khawatir Pangeran—maksud saya—Raja Xologonlah yang menjadi peynebab kondisi Yang Mulia seperti itu.”
Pria 40 tahun yang diberi kepercayaan oleh Arther membisu. Dia tak lagi berani berucap apapun, karena orang yang diajaknya bicara sedari tadi tak kunjung merespon. Ia hanya diam menatap kosong kedua tangan di atas kain tebal yang menyelimuti setengah tubuhnya. Rambut indahnya terlihat terurai berantakan. Menghalangi wajah yang sudah tak secerah dulu lagi. Bukan senyum lebar yang menghiai paras cantik itu, melainkan bibir pucat yang sampai sekarang belum menyunggikan senyum terbaiknya.
Raja sakit, putri muram, rakyatpun tengah merana. Apalagi yang bisa lebih buruk daripada ini?
Seseorang yang berdiri di dekat sang putri akhirnya mempersilahkan sang tabib pergi. Pria tua berpakaian serba coklat itu pun pamit meninggalkan ruangan. Hela napas lantas terdengar dari pemuda itu. “Nona Valmera….” Ia menahan kalimat selanjutnya. Berpikir dua kali lagi untuk berbicara pada gadis yang mentalnya tengah terganggu tersebut. Khawatir dirinya malah akan memperburuk keadaan.
Pemuda berambut merah gelap membuka mulut untuk kembali berucap, namun diurungkannya kala sang gadis tiba-tiba bersuara pelan.
“Pergi.”
Diam beberapa saat, sebelum akhirnya sosok itu berbalik dan menghilang di balik pintu putih besar. Menyisakan gadis di antara rasa sepi dan kesendirian, serta rasa sakit dari memori yang tertanam bak mimpi buruk di kepala.
Matanya bergulir pelan dari tempat awal dengan sendirinya. Entah karena dorongan apa, manik magenta itu mengarah pada sesuatu yang menghiasi jendela kamar. Di dalam sebuah vas bening berisi air, dua tangkai bunga berbeda warna berpendar tipis dengan serbuk sari yang lebih mirip kerlip cahaya.
Indah—baik bunganya, maupun kenangan di baliknya. Meski begitu, Valmera tidak bisa ingat siapa yang meletakkan kembang ungu dan putih yang saling berdampingan itu. Dia memandang cukup lama barang yang rasanya mengeluarkan energi magis itu. Energi yang merayap ke tubuhnya. Membuat sebuah memori di Taman Abadi mencuat tiba-tiba dari ingatan terdalamnya.
“Putih. Kesucian dan kemurnian, aura dari Nishati yang dimiliki kerajaan Llaeca. Lilac putih juga menjadi perantara Semesta untuk keluarga Springgleam, bukan? Itulah mengapa aku memilih bunga ini untuk menghormatimu dan negaramu.”
“Ungu…. Mungkin kau sudah menduganya, Valmera, apa maksudku memberimu warna ini.”
“Itu karena aku jatuh cinta padamu, Putri, sebagai Lilac Ungu—cinta pertamaku.”
Neal tersenyum. Saat itu dia benar-benar menunjukkan ketulusan yang penuh pengharapan di wajahnya. Berbinar begitu indahnya di mata magenta yang menangkap sosok itu. Hingga tak sediktpun ia mampu untuk mengalihkan pandangan.
Ah, bukan. Bukannya Valmera tidak mampu, tapi ia tak ingin. Ia sengaja memakan habis detik demi detik yang berjalan untuk merekam semuanya. Mengulang perkataan Pangeran beribu kali di kepala agar semakin tercetak jelas dalam memorinya.
Merekam semuanya agar ia bisa kembali mengenangnya di lain hari.
Di lain hari, tapi tidak untuk saat ini.
“Kau tahu, aku belum lama ini mencuri dengar dari Ayah dan Raja Arther.Kita tidak akan lagi bertunangan. Satu minggu lagi, kau dan aku akan resmi menikah. Menjadi pasangan hidup semati selamanya.”
Valmera mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Sekarang semua memori di kepalanya becampur aduk. Antara kenangan lama, kebahagiaan, dan … bayang-bayang mimpi buruk yang akhir-akhir ini sering menghantuinya. Tangan dan jari-jemari tiba-tiba menyentuh seluruh tubuhnya. Iris semerah darah itu mendadak muncul di hadapan mata setiap kali kenangan indah mendatanginya. Menghantarkan kembali rasa dingin dan perih yang menusuk beserta segala gema yang membekas dari sosok lilac di hadapannya. Bersahut-sahutan mengucapkan banyak hal yang mebuat gendang telinga serasa akan pecah.
Bunga, darah, rembulan yang kehilangan sinarnya, dan sosok yang membuat Valmera menjerit keras. Sosok dengan seringai di wajah, penuh kepuasan setelah dengan kejinya mencabut nyawa si pemuda berambut pirang—tepat di depan wajah si putri Llaeca.
Kejadian itu terus berulang. Menciptakan loop yang menyiksanya dari dalam. Siang, malam, bahkan saat berkedip semua itu kembali datang. Dan, di saat yang sama, Valmera akan berteriak kencang.
Sangat keras dan memilukan. Hingga para penjaga dan pelayan yang ada di luar kamar bisa turut merasakan apa yang diderita Tuan mereka itu.Begitu menusuk ke dalam benak. Tak dapat membayangkan bagaimana jadinya bila mereka yang berada di posisinya.
Orang-orang itu merasa kasihan dengan Valmera, tapi tak ada satupun dari mereka yang membuka pintu untuk menenangkan perempuan itu. Walau ingin, mereka tidak dinijinkan untuk masuk oleh si pemilik ruangan, kecuali orang-orang tertentu saja. Jika keras kepala, mereka hanya akan berakhir dengan pengusiran kasar oleh gadis yang emosinya tengah tidak stabil tersebut.
Valmera masih meraung di tempatnya. Cahaya di balik vas bening terasa seperti bara api yang membakar tubuhnya. Membentuk kabut hitam yang membuat atmosfer semakin menyesakkan. Melenyapkan oksigen yang ada, sehingga ia tak mampu untuk bernapas dengan benar.
Kenapa … kenapa ini harus terjadi!?
Mimpi indah ang seharusnya memenuhi bunga tidurnya, kini berganti menjadi sosok berdarah dingin yang m*****i taman bunga miliknya. Entah sampai kapan Valmera harus terjebak dalam kondisi seprti ini.
Terperangkap dalam kegelapan
Tanpa ada yang bisa menyembuhkan.
****